Abstrak
Potensi inokulum adalah kemampuan inokulan untuk mengkolonisasi akar pada suatu kondisi tertentu. Setiap jenis FMA memiliki tingkat keefektifan yang bervariasi terhadap tanaman inangnya, demikian juga dengan tanamannya memberikan tanggap yang berbeda terhadap FMA. Dalam usaha mendapatkan hasil yang optimal dan infeksi yang efektif, maka perlu adanya isolat yang mampu hidup dan dapat beradaptasi dengan kondisi setempat sesuai dengan tanaman lokal tersebut Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan sebaiknya digunakan isolat-isolat lokal terseleksi yang dapat dikembangkan sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji keefektifan inokulum FMA indigenous campuran dan inokulum FMA Mycofer dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.
Penelitian dilaksanakan di laboratorium Bioteknologi Hutan dan Lingkungan, Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi IPB, Bogor, rumah kaca PPPPTK Pertanian Cianjur. Rancangan percobaan menggunakan rancangan Petak Terbagi (Split Plot), dalam pola Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Petak utama adalah kultivar cabai: Laris dan Tegar. Anak petak adalah inokulasi FMA: tanpa inokulasi, inokulasi FMA Mycofer, dan inokulasi FMA indegenous campuran (Glomus sp, Gigaspora sp dan Acaulospora sp). Hasil penelitian menunjukkan bahwa FMA indigenous campuran dan FMA Mycofer berpengaruh nyata terhadap peningkatan pertumbuhan (tinggi tanaman, diameter batang) dan produksi (jumlah buah, bobot buah, bobot benih) dan kedua menunjukkan potensi yang sama.
Kata kunci: Kultivar cabai
Abstract
Inoculum potential is the ability of inoculants to colonize the roots at a certain condition. Each type of FMA has a varied level of effectiveness of the host plant, as well as the plants provide a different response to the FMA. In an attempt to obtain optimal results and an effective infection, it is necessary to isolate that is
able to live and be able to adapt to local conditions in accordance with local plants is to obtain satisfactory results should be used locally selected isolates that can be developed. The purpose of this study was to assess the effectiveness of mixed inoculum of indigenous AMF and AMF inoculum Mycofer in promoting growth and crop yield.
The experiment was conducted in laboratory Forestry and envirument IPB and geenhouses Centre for Development and Empowerment of Teachers and Education Personne, Cianjur. Experiment was arranged in Divided/Split plots in the pattern of Randomized Block Design, with two treatments and three replications factor. The main plot is cultivare hot peppers: Laris and Tegar. Sub plot is AMF inoculant: without inoculation, AMF inoculation Mycofer 100 spores /seeds (M2), and AMF inoculation mix indigenous.
The results show that inoculation of Mycofer AMF and mixed indigenous AMF increased the number of fruit, fruit weight and seed weight on Laris and Tegar. Both of AMF have same effectiveness.
Key words: hot pepper cultivare
Pendahuluan
Pengujian FMA indigenous Glomus sp, Acaulospora sp, Gigaspora sp dan Mycofer pada percobaan sebelumnya (percobaan 2) menunjukkan bahwa keempat FMA tersebut mampu mengkolonisasi akar cabai dan meningkatkan pertumbuhan tanaman secara nyata dibanding tanpa inokulasi Pada peubah derajat kolonisasi dan berat kering FMA Mycofer menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding dengan ketiga FMA indigenous. Kefektifan FMA Mycofer kemungkinan disebabkan karena FMA Mycofer merupakan FMA campuran dari Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Glomus etunicatum dan Acaulospora tuberculata. Oleh karena itu pada percobaan ini (percobaan 4) FMA indigenous tunggal Glomus sp, Gigaspora sp dan Acaulospora sp dicampur untuk mengetahui keefektifannya dibanding dengan FMA Mycofer.
Simanungkalit (2004), menyatakan bahwa potensi inokulum adalah kemampuan inokulan untuk mengkolonisasi akar pada suatu kondisi tertentu. Potensi inokulum pada inokulan campuran sering dinyatakan sebagai jumlah spora per satuan bobot inokulan tersebut. Setiap jenis FMA memiliki tingkat keefektifan yang bervariasi terhadap tanaman inangnya. Demikian juga dengan tanamannya memberikan tanggap yang berbeda terhadap FMA. Dalam usaha mendapatkan hasil optimal dan infeksi yang efektif maka perlu adanya suatu isolat yang mampu hidup dan dapat beradaptasi dengan kondisi setempat sesuai dengan
tanaman lokal tersebut. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan sebaiknya digunakan isolat-isolat lokal terseleksi yang dapat dikembangkan sendiri. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan penggunaan inokulum mikroba di dalam tanah untuk dapat hidup dan berkembang yaitu: faktor inokulum, tanah, vegetasi, iklim dan kompetensi di lingkungannya.
Percobaan ini bertujuan untuk menguji keefektifan FMA indigenous campuran dan FMA Mycofer dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi cabai.
Bahan dan Metode Tempat dan Waktu
Penelian ini dilaksanakan di laboratorium Bioteknologi Hutan dan Lingkungan, Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi IPB, Bogor, rumah kaca PPPPTK Pertanian Cianjur. Penelitian berlangsung dari bulan Oktober 2009 hingga Maret 2010
Rancangan Percobaan
Percobaan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot), dalam pola Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Petak utama adalah kultivar cabai yaitu cabai keriting Laris (K1), cabai keriting Tegar (K2). Anak petak adalah inokulasi FMA yaitu: tanpa inokulasi (M0), inokulasi FMA Mycofer (M1), inokulasi FMA indigenous campuran (Glomus sp, Gigaspora sp dan Acaulospora sp). Percobaan terdiri atas 2x3x3 =18 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan 5 polibag. Data yang diperoleh diuji secara statistik dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji beda nyata.
Pelaksanaan Percobaan
Perbanyakan FMA indigenous
Perbanyakan FMA indigenous dimaksudkan untuk memperoleh spora dalam jumlah yang banyak yaitu dengan cara mencampur spora tunggal hasil dari percobaan I. Prosedur perbanyakan sama dengan prosedur perbanyakan spora
tunggal pada percobaaan I yaitu media perbanyakan menggunakan zeolit, tanaman inang menggunakan Pueraria javanica, tanaman dipupuk dengan pupuk Hyponex dengan konsentrasi 1 g/2 l air, dilakukan satu minggu sekali.
Penyiapan bibit
Pembibitan cabai menggunakan pot plastik (ukuran 250 ml). Pot diisi media campuran tanah dengan kascing (kotoran cacing) dengan perbandingan 4:1. Media dibasahi dan dibuat lubang dengan kedalaman ± 3 cm. Inokulum FMA sebanyak 10 gram (100 spora) dimasukan kedalam lubang tersebut, kemudian di atas inokulum tersebut ditanami benih yang sebelumnya telah dikecambahkan terlebih dahulu. Pemeliharaan bibit meliputi penyiraman, pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit.
Persiapan media tanam
Media tanam merupakan campuran dari tanah lokasi penanaman cabai yang telah disterilkan dengan metode basah dengan cascing dengan perbandingan 9:1. Polibag yang digunakan untuk penanaman ukuran panjang 55 cm, lebar 40 cm dan tebal 0,12 mm. Volume media tanam per polibag ±10 kg tanah
Penanaman
Bibit yang telah memiliki empat sampai dengan enam helai daun atau sudah berumur 30 hari setelah semai siap ditanam. Langkah-langkah penanaman adalah; membuat lubang tanam pada media tanam yang telah disiapkan, permukaan media pembibitan sedikit dipadatkan, kemudian bibit dicabut berserta seluruh medianya dan selanjutnya ditanamkan pada lubang tanam yang telah disiapkan.
Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman, pemupukan serta pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman menggunakan air bersih, dilakukan setiap pagi sesuai dengan kapasitas lapang. Pupuk yang diberikan berupa pupuk N, P dan K dengan dosis 250 kg pupuk N, 125 kg pupuk P2O5, dan 200 kg pupuk
K2O. Pupuk P diberikan pada saat tanam, sedangkan pupuk N dan K diberikan pada tanaman berumur 50 HST dan 90 HST. Penyendalian hama dan penyakit dilakukan secara mekanis, sedangkan pengendalian dengan pestisida dilakukan satu bulan sekali.
Pengamatan
Peubah yang diamati adalah parameter pertumbuhan dan parameter produksi. Parameter pertumbuhan meliputi tinggi tanaman dan diameter batang diamati pada tanaman 10 minggu setelah tanam dan jumlah tanaman contoh lima tanaman. Parameter produksi meliputi jumlah buah, bobot buah dan bobot benih. 1. Tinggi tanaman (cm). Pengukuran dilakukan dari permukaan tanah sampai pucuk dari cabang yang tertinggi pada saat tanaman berumur 10 minggu setelah bibit ditanam dalam polibag
2. Diameter batang (cm). Pengamatan dilakukan pada saat tanaman berumur 10 minggu setelah bibit ditanam dalam polibag
3. Jumlah buah per tanaman. Jumlah buah diperoleh dari beberapa tahapan pemanenan yaitu 6 – 8 kali pemetikan
4. Bobot buah per tanaman. Buah diperoleh dari beberapa tahapan pemanenan yaitu 6 – 8 kali kali pemetikan
5. Bobot benih. Benih diambil dari buah yang sehat, dan panjang buah lebih dari 10 cm
Hasil
Rekapitulasi hasil percobaan menunjukkan bahwa FMA berpengaruh nyata terhadap peningkatan pertumbuhan dan produksi cabai keriting baik pada kultivar Laris maupun Tegar. Tidak terjadi interaksi antara kultivar dengan FMA baik pada paremeter pertumbuhan (tinggi tanaman dan diameter batang) maupun terhadap parameter produksi (jumlah buah, bobot buah, bobot benih), dapat dilihat pada Lampiran 7.
Fungi mikoriza arbuskula Mycofer dan indigenous berpengaruh nyata dalam meningkatkan tinggi tanaman dan diameter batang kultivar Laris dan Tegar dibanding tanpa inokulasi, namun antara FMA Mycofer dan FMA indigenous campuran baik pada peubah tinggi tanaman maupun diameter batang tidak berbeda nyata. Inokulasi FMA Mycofer meningkatkan tinggi tanaman sebesar 27.9%, diameter batang sebesar 33%, sedangkan FMA indigenous campuran meningkatkan tinggi tanaman sebesar 27.2%, diameter batang sebesar 40%.
Tabel 30. Respon tinggi tanaman dan diameter batang kultivar Laris dan Tegar akibat pengaruh inokulasi FMA Mycofer dan FMA indigenous campuran Perlakuan kultivar FMA Rataan kultivar Tanpa FMA (M0) FMA Mycofer (M1) FMA indigenous (M2) Tinggi Tanaman (cm) Laris 81.9 106.9 107.2 98.6 a Tegar 85.7 107.6 106.1 100.1 a Rataan FMA 83.8 a 107.2 b 106.6 b Diameter Batang Laris 1.0 1.3 1.4 1.2 a Tegar 1.0 1.4 1.4 1.3 a Rataan FMA 1.0 a 1.3 b 1.4 b
Keterangan: Angka-angka diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT 5%.
Parameter produksi (jumlah buah, bobot buah, bobot benih)
Hasil analisis ragam nenunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara perlakuan kultivar dengan inokulasi FMA, pengaruh perlakuan bersifat tunggal. Inokulasi FMA berpengaruh nyata terhadap semua parameter produksi (jumlah buah, bobot buah, bobot benih) sedangkan perlakuan kultivar tidak berpengaruh nyata. Fungi mikoriza arbuskula indigenous berpotensi lebih baik dibanding FMA Mycofer, hal ini ditunjukkan dengan peningkatan hasil yang lebih tinggi
dibanding FMA Mycofer. Inokulasi FMA indigenous mampu meningkatkan jumlah buah 65.3%, bobot buah 73.8%, bobot benih 65.2%, sedangkan FMA Mycofer meningkatkan jumlah buah 62.3%, bobot buah 70.4% dan bobot benih 61.7%.
Tabel 31. Respon jumlah buah, bobot buah dan bobot benih per tanaman kultivar Laris dan Tegar akibat pengaruh inokulasi FMA Mycofer dan FMA indigenous campuran Perlakuan kultivar FMA Rataan kultivar Tanpa FMA (M0) FMA Mycofer (M1) FMA indigenous (M2) Jumlah Buah Laris 63.2 103.9 105,7 90.9 a Tegar 69.2 110.5 113.1 97.6 a Rataan FMA 66.2 a 107.2 b 109.4 b Bobot Buah (gram)
Laris 133.9 231.7 235.6 200.4 a
Tegar 146.8 246.4 252.2 215.1 a
Rataan FMA 140.3 a 239.1 b 243.9 b Bobot Benih (gram)
Laris 15.0 24.7 25.1 21.6 b
Tegar 16.4 26.2 26.8 23.2 b
15.7 a 25.4 b 25.9 b
Keterangan: Angka-angka diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT 5%.
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi FMA Mycofer maupun FMA indigenous campuran berpengaruh nyata terhadap peningkatan pertumbuhan maupun produksi buah dan benih cabai. Fungi mikoriza arbuskula indigenous campuran menunjukkan potensi yang lebih baik dibanding FMA Mycofer
walaupun secara statistik tidak berbeda nyata. Berbeda dengan hasil percobaan 2 yang menunjukkan FMA Mycofer lebih baik dibanding FMA indigenous tungggal (Glomus sp, Gigaspora sp, Acaulospora sp). Hal ini membuktikan bahwa FMA campuran baik dari Mycofer maupun indigenous lebih baik dari inokulasi FMA tunggal. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian peneliti-peneliti sebelumnya yaitu aplikasi inokulum campuran dapat meningkatkan hasil berbagai tanaman (jagung, kedele, kacang tanah, tomat, padi dan tanaman lainnya) dan ketersediaan hara bagi tanaman antara 20% hingga 100% (Simarmata dan Herdiani 2004) dengan signifikan. Hal ini diduga disebabkan dalam isolat campuran, masing-masing isolat bekerja secara sinergi dalam membantu pertumbuhan tanaman. Inokulasi lebih dari satu jenis mikoriza meningkatkan penyerapan P lebih tinggi dibandingkan dengan inokulasi tunggal (Jonh 2000; Jansa et al. 2004). Mansur (2002) mengemukakan bahwa isolasi FMA dari tanaman lokal akan lebih efektif untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman lokal tersebut dari pada digunakan isolat dari luar daerah tersebut. Hal ini disebabkan karena FMA adalah mahluk hidup dengan daya adaptasi terhadap inang dan lingkungan yang relatif spesifik, sehingga untuk mendapatkan hasil yang memuaskan sebaiknya digunakan isolat-isolat lokal terseleksi yang dapat dikembangkan sendiri.
Kemampuan beradaptasi inokulum FMA indigenous terhadap lingkungannya tidak diragukan lagi, karena FMA tersebut telah menunjukkan kemampuannya untuk bertahan hidup pada lingkungan tersebut, hanya saja keefektifannya dalam mendukung pertumbuhan terkadang belum optimal. Untuk mendapatkan FMA indigenous campuran yang efektif perlu screening. Beberapa kriteria yang dipakai dalam pemilihan isolat unggul adalah selain efektif, isolat tersebut dapat beradaptasi dengan lingkungan setempat dimana progam inokulasi akan dilakukan, dapat berkompetisi dengan mikroba tanah, mudah diproduksi secara masal dan dapat tinggal persisten di lingkungan perakaran tanaman inang (Dodd dan Thompson 1994).
Keefektifan FMA berkaitan erat dengan berbagai faktor lingkungan tanah abiotik (konsentrasi hara, pH, kadar air, temperatur, pengolahan tanah, dan penggunaan pupuk atau pestisida), faktor biotik (interaksi mikroba, spesies fungi, tanaman inang, tipe perakaran tanaman inang, dan kompetensi antar fungi mikoriza). Dalam upaya untuk menghasilkan/mempertahankan inokulan bermutu
perlu memperhatikan hal-hal berikut: 1) Spesies-spesies FMA yang digunakan dalam formulasi inokulan tersebut harusnya sudah merupakan hasil seleksi dan murni, 2) inokulan multispesies/multistrain haruslah diformulasikan segar pada setiap kali produksi inokulan, 3) medium tumbuh/bahan pembawa inokulan haruslah disterilisasi, untuk menghindari terjadinya kontaminasi, 4) ruang kultur dan alat-alat yang dipakai dalam pembuatan inokulan harus tetap dijaga steril, 5) tanaman yang digunakan sebagai tanaman inang haruslah tanaman yang ketergantungannya kepada mikoriza tinggi dan memiliki sistem perakaran yang halus dan biomasa yang besar, 6) kultur perbanyakan harus dihindari dari kontaminasi setelah tajuk tanaman inang dipanen, 7) jumlah propagul ditetapkan setiap kali produksi inokulan, karena jumlah ini dapat berubah-ubah sesuai dengan pertumbuhan tanaman inang, dan kondisi lingkungan. Jumlah inokulan yang diberikan setiap kali disesuaikan dengan jumlah propagul inokulan yang bersangkutan, sehingga dosis yang diberikan bisa berubah sesuai dengan jumlah propagul yang terkandung pada inokulan tersebut, 8) pemurnian spesies FMA yang digunakan untuk inokulan tersebut perlu dilakukan secara periodik, agar inokulan tersebut tetap mengandung spesies yang dimaksud, 9) mutu inokulan FMA cepat menurun, karena itu sebaiknya disimpan pada suhu 50 C (Simanungkalit 2004).
Simpulan
1. Inokulasi FMA indigenous campuran dan FMA Mycofer mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi buah dan benih.
2. Potensi FMA indigenous campuran cenderung lebih baik dari FMA Mycofer.