Mahkamah Agung Republik Indonesia
V. POKOK PERKARA:
Judex Facti Menabrak Ketentuan Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase Dengan Cara Judex Facti Membatalkan Putusan Arbitrase Dengan Alasan Di Luar Aturan Pasal 70 Yang Bersifat Limitatif.
31. Kami menolak dengan tegas pertimbangan hukum dari Judex Facti PN. Jakarta Pusat di dalam halaman 164 s.d 166 Putusannya yang pada intinya menyatakan bahwa Putusan Arbitrase BANI bertentangan dengan ketertiban umum, karena amar putusannya bertentangan dengan Putusan Peradilan Umum, sehingga tidak dapat dibenarkan oleh hukum dan harus dinyatakan batal;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 119 dari 172 hal. Put. No. 97 B/Pdt.Sus-Arbt/2016
32. Berdasarkan pertimbangan tersebut Judex Facti telah melakukan kekeliruan penerapan hukum karena sesuai dengan ketentuan Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase, alasan untuk membatalkan Putusan Arbitrase adalah limitatif sebagaimana diatur dalam Pasal 70 UU Arbitrase tersebut, yakni: adanya dokumen palsu, adanya dokumen yang disembunyikan oleh pihak lawan; dan adanya tipu muslihat. Sedangkan alasan bertentangan dengan ketertiban umum bukan merupakan alasan untuk pembatalan Putusan Arbitrase;
33. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Dr. Frans Hendra Winarta dan Dr. Suparji di hadapan persidangan perkara a quo, yang keterangannya adalah sebagai berikut:
Keterangan Dr. Frans Hendra Winarta di dalam persidangan: Kuasa Pemohon
Banding:
Mengenai ketertiban umum, apakah menurut pendapat ahli bertentangan dengan ketertiban umum merupakan salah satu alasan untuk membatalkan putusan Arbitrase ataukah alasan bertentangan dengan ketertiban umum hanya berkaitan dengan pelaksanaan atau eksekuatur dari suatu putusan Arbitrase?
Dr. Frans Hendra Winarta:
Baik saudara advokat, sepengetahuan saya alasan suatu putusan bertentangan dengan ketertiban umum itu hanya dipergunakan untuk katakanlah mengadakan hak ingkar atau perintah dari undang-undang itu terhambat oleh karena ada hal-hal yang bertentangan atau putusan atau award itu bertentangan dengan ketertiban umum dan atau kesuliaan. Barulah kemudian itu baru dipergunakan untuk menghambat pelaksanaan atau ekesekuatur atau perintah untuk melaksanakan putusan pengadilan, namun hal ini tidak bisa dipakai untuk alasan membatalan putusan Arbitrase itu sendiri karena seperti saya bilang tadi pasal 70 Undang-Undang Arbitrase adalah pasal yang sifatnya limitatif.
Kuasa Pemohon Banding:
Jadi alasan bertentangan dengan ketertiban umum itu lebih kepada alasan eksekuatur dan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 120 dari 172 hal. Put. No. 97 B/Pdt.Sus-Arbt/2016
bukan alasan pembatalan ya? Dr. Frans Hendra
Winarta:
Betul
Dr. Suparji keterangannya di hadapan persidangan adalah sebagai berikut:
Kuasa Hukum
Pemohon Banding:
Mengenai bertentangan dengan ketertiban umum. Tadi saudara ahli mengatakan bahwa alasan pembatalan itu sifatnya limitatif pasal 70 huruf a, b, c. Sepanjang pengetahuan saudara ahli itu konteksnya apa dalam Undang-Undang Arbitrase. Apakah konteksnya dalam upaya membatalkan putusan Arbitrase ataukah konteks bertentangan umum dan kesusilaan konteksnya adalah pelaksanaan atau eksekuatur? Konteksnya yang mana.
Dr. Suparji: Berkaitan dengan alasan ketertiban umum bahwa di dalam Undang-Undang Arbitrase menjadi alasan untuk tidak dilaksanakannya putusan Arbitrase ...
Jadi bukan sebagai suatu syarat atau alasan untuk permohonan pembatalan, demikian yang mulia.
Demikian pula Prof. Erman Rajagukguk dalam artikel Arbitrase dan Kepastian Hukum dan Pendapat Hukum tentang Undang-Undang Arbitrase (vide Bukti T.2 – 33 dan Bukti T.2 -34.B) menyatakan dan menegaskan hal yang sama sebagai berikut:
“Bertentangan dengan ketertiban umum tidak dapat menjadi alasan untuk mengajukan permohonan pembatalan putusan Arbitrase dalam negeri, karena alasan untuk mengajukan permohonan pembatalan putusan Arbitrase dalam negeri sudah limitatif diatur dalam Pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999;
Menurut pendapat hukum saya, alasan bertentangan dengan ketertiban umum tersebut hanya untuk menolak pelaksanaan (eksekuatur) putusan Arbitrase luar negeri dan dalam negeri sebagaimana diatur dalam Pasal 62 ayat (2) dan Pasal 66 huruf c
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 121 dari 172 hal. Put. No. 97 B/Pdt.Sus-Arbt/2016
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999, sehingga alasan bertentangan dengan ketertiban umum tidak dapat menjadi alasan untuk mengajukan permohonan pembatalan putusan Arbitrase, karena sudah diatur secara limitatif dalam Pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999.”;
34. Sehubungan dengan adanya frasa “antara lain” di dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Arbitrase, hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk pembatalan Putusan Arbitrase karena alasan untuk pembatalan putusan Arbitrase sudah limitatif diatur di dalam Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase. Salah satu pihak tidak dapat mengajukan permohonan pembatalan berdasarkan Penjelasan Umum dari Undang-Undang tersebut, karena ketentuan yang disebutkan dalam suatu pasal (batang tubuh) lebih kuat dari Penjelasan Umum. Selain itu sesuai dengan butir 178 Lampiran II Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang menyatakan, penjelasan tidak menggunakan rumusan yang isinya memuat perubahan terselubung terhadap ketentuan Peraturan Perundang-undangan. Kata-kata antara lain seolah-olah telah mengubah secara terselubung ketentuan yang diatur oleh Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase. Oleh karena itu maka yang berlaku adalah Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase yang merupakan batang tubuh undang-undang tersebut dan bukan Penjelasan Umum;
35. Hal ini didukung dan dikuatkan oleh ahli-ahli yang diajukan di dalam persidangan sebagai berikut:
Dr. Frans Hendra Winarta di dalam persidangan menjelaskan sebagai berikut:
Kuasa Pemohon Banding:
Jadi tadi di dalam pasal 70 batang tubuh saudara ahli katakan limitatif ada 3 hal, tapi di dalam penjelasan umum ada kalimat begini: Bab VII mengatur tentang pembatalan putusan Arbitrase, hal ini dimungkinkan karena beberapa hal antara lain, lalu a, b, dan c ... Bagaimana penjelasan saudara ahli tentang penggunaan antara lain di dalam penjelasan umum, sementara tadi di dalam Pasal 70 saudara ahli katakan bersifat limitatif?
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 122 dari 172 hal. Put. No. 97 B/Pdt.Sus-Arbt/2016
Dr. Frans Hendra Winarta :
Begini ya saudara advokat, kalau ada pertentangan antara undang-undang dalam hal ini batang tubuh dengan penjelasan umumnya maka saya anggap yang dianggap berlaku adalah pasal-pasal yang ada di dalam undang-undangnya atau batang tubuhnya ...
Kuasa Pemohon Banding:
Jadi yang berlaku yang ada di dalam batang tubuhnya? Limitatif tadi itu?
Dr. Frans Hendra Winarta:
Betul, betul..
Dr. Suparji di dalam persidangan menyampaikan pendapatnya sebagai berikut:
Kuasa Pemohon Banding:
Apakah menurut pendapat ahli alasan-alasan permohonan pembatalan putusan Arbitrase yang diatur dalam Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase yaitu a. Tentang dokumen palsu; b.
Tentang adanya dokumen yang
disembunyikan; c. Tentang tipu muslihat. Apakah itu alasan-alasan yang menurut pendapat ahli sifatnya limitatif ataukah masih diperbolehkan alasan lain untuk mengajukan permohonan pembatalan Arbitrase? Dan mohon dikaitkan dengan penjelasan umum Undang-Undang Arbitrase yang mengatur frasa antara lain dalam menjelaskan alasan tersebut;
Dr. Suparji : Berkaitan dengan syarat-syarat yang ada di dalam pasal 70 saya mengatakan sifatnya adalah limitatif karena memang antara satu, dua, dan tiga itu adalah menjadi sebuah keharusan dan tidak ada syarat-syarat yang lain yang dapat diajukan sebagai alasan permohonan pembatalan. Kalau kemudian dikaitkan dengan penjelasan umum tentang penjelasan umum Bab VII bahwa kemudian dimungkinkan ada kata-kata antara lain, saya
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 123 dari 172 hal. Put. No. 97 B/Pdt.Sus-Arbt/2016
katakan bahwa bersifat limitatif fakultatif berdasarkan 3 alasan tersebut.
Dan ketentuan itu sudah diikuti oleh berbagai putusan Mahkamah Agung, misalnya dalam sengketa PT. Perumahan dengan PT. Pajajaran yang dalam putusannya tidak membuka peluang alasan lain digugat dengan alasan di luar pasal 70 tersebut. Kemudian yang kedua Surat Edaran dari Mahkamah Agung, meskipun hanya surat edaran tapi itu melalui proses pengambilan putusan rapat kamar perdata Mahkamah Agung yang kemudian diedarkan lewat SEMA Nomor 7 Tahun 2012 yang pada intinya adalah alasan dalam Pasal 70 bersifat limitatif;
36. Dengan demikian maka jelas bahwa Putusan PN. Jakarta Pusat yang membatalkan Putusan Arbitrase BANI dengan alasan bertentangan dengan ketertiban umum adalah putusan yang melanggar ketentuan Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase, sehingga oleh karena itu sudah sepatutnya dibatalkan oleh Majelis Hakim Agung yang memeriksa dan mengadili perkara ini.
VI. Pokok Perkara:
Judex Facti Menabrak Ketentuan Surat Edaran Mahkamah Agung RI Nomor 7 Tahun 2012 Yang Menegaskan Bahwa Alasan Pembatalan Putusan Arbitrase Dalam Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase Adalah Bersifat Limitatif.
37. Selain itu Putusan PN. Jakarta Pusat tersebut juga bertentangan dengan Surat Edaran Mahkamah Agung RI Nomor 7 Tahun 2012 tentang Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung sebagai pedoman pelaksanaan tugas bagi Pengadilan (SEMA Nomor 7/2012). Di dalam surat edaran tersebut Hakim-Hakim Mahkamah Agung telah memutuskan pedoman untuk dituruti oleh pengadilan bahwa alasan-alasan untuk pembatalan Putusan Arbitrase sebagaimana diatur dalam Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase adalah limitatif dan tidak dapat disimpangi;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 124 dari 172 hal. Put. No. 97 B/Pdt.Sus-Arbt/2016
38. SEMA Nomor 7/2012, Bagian Rapat Kamar Perdata Khusus, Tentang Arbitrase, Angka 2, halaman 17 (vide Bukti T.2-36) menyatakan sebagai berikut:
“2. Apakah ketentuan Pasal 70 (dengan Penjelasan) tentang alasan pembatalan putusan Arbitrase domestik yang bersifat limitatif bisa disimpangi?;
Menurut Yurisprudensi Mahkamah Agung tidak dapat disimpangi;” 39. Berdasarkan hal tersebut Judex Facti dalam menjatuhkan Putusan PN.
Jakarta Pusat telah melanggar SEMA Nomor 7/2012 yang merupakan pedoman pelaksanaan tugas bagi Pengadilan, karena membatalkan Putusan Arbitrase BANI dengan alasan melanggar ketertiban umum. Padahal SEMA Nomor 7/2012 telah menyatakan secara tegas bahwa alasan pembatalan Putusan Arbitrase sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase adalah limitatif dan tidak dapat disimpangi. Oleh karena itu sudah sepatutnya Putusan PN. Jakarta Pusat tersebut dibatalkan;
VII. Pokok Perkara:
Judex Facti Menabrak Yurisprudensi Tetap MA RI (Konsisten Diterapkan MA Sejak Tahun 2009 Sampai Saat Ini) Sebagaimana Putusan MA Nomor 893 K/PDT.SUS/2012 Tertanggal 16 April 2013, Putusan MA Nomor 146 K/PDT.SUS/2012, Tertanggal 23 Mei 2012, Putusan MA Nomor 396 K/PDT.SUS/2010, Tertanggal 9 Juni 2010, Putusan MA Nomor 126 PK/PDT.SUS/2010, Tertanggal 29 November 2010, Putusan MA Nomor 729 K/PDT.SUS/2008, Tertanggal 30 Maret 2009, Yang Menegaskan Bahwa Alasan Pembatalan Putusan Arbitrase Dalam Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase Adalah Bersifat Limitatif.
40. Di dalam menjatuhkan Putusan PN. Jakarta Pusat, Judex Facti juga telah menabrak yurisprudensi tetap MA RI yang menegaskan bahwa alasan pembatalan Putusan Arbitrase dalam Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase adalah bersifat limitatif dan tidak dapat disimpangi. Terhitung sejak tahun 2009 sampai dengan saat ini Mahkamah Agung RI juga secara konsisten menerapkan norma atau kaidah hukum tersebut di dalam berbagai Putusan Mahkamah Agung bahwa alasan untuk pembatalan Putusan Arbitrase adalah limitatif sebagaimana diatur dalam Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase dan tidak dapat disimpangi. Setidaknya ada 1 Putusan MA di Tahun 2009; 2 Putusan MA di Tahun 2010; 1 Putusan MA di Tahun 2012; dan 1 Putusan MA di Tahun 2013
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 125 dari 172 hal. Put. No. 97 B/Pdt.Sus-Arbt/2016
sebagaimana diuraikan di atas. Oleh karena itu maka hal ini sudah menjadi Yurisprudensi Tetap Mahkamah Agung RI bahwa alasan pembatalan putusan Arbitrase di dalam Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase Limitatif dan tidak dapat disimpangi sebagaimana kami uraikan di atas;
41. Meskipun Para Termohon Banding dalam perkara a quo menyatakan pernah ada putusan Mahkamah Agung yang berpendapat demikian pada tahun 2006 (vide Bukti PP – 69), namun pada kenyataannya sejak tahun 2009 sampai dengan saat ini Mahkamah Agung secara konsisten membatasi alasan untuk pembatalan Putusan Arbitrase hanya limitiatif sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase dan tidak dapat disimpangi;
Hal ini sebagaimana terbukti berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 893 K/Pdt.Sus/2012, tertanggal 16 April 2013, Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 146 K/Pdt.Sus/2012, tertanggal 23 Mei 2012, Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 396 K/Pdt.Sus/2010, tertanggal 9 Juni 2010, Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 126 PK/Pdt.Sus/2010, tertanggal 29 November 2010, Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 729 K/PDT.SUS/2008, tertanggal 30 Maret 2009 (vide Bukti T.2 – 37 s.d Bukti T.2 – 40 dan Bukti T.2 – 13). Selain itu ternyata Mahkamah Agung juga menegaskan hal tersebut di dalam SEMA Nomor 7/2012 (vide Bukti T.2 - 36) dengan menyatakan bahwa alasan pembatalan Putusan Arbitrase sebagaimana diatur dalam Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase adalah limitatif dan tidak dapat disimpangi;
42. Hal yang sama juga dikuatkan oleh Prof. Erman Rajagukguk dalam Pendapat Hukumnya dan Artikel Arbitrase dan Kepastian Hukum serta Pendapat Hukum terhadap ketentuan dalam Undang-Undang Arbitrase (vide Bukti T.2-33 dan Bukti T.2 - 34B); serta keterangan dari Dr. Frans Hendra Winarta dan Dr. Suparji di hadapan persidangan di bawah sumpah yang pada intinya menyatakan alasan permohonan pembatalan Putusan Arbitrase sudah diatur secara limitatif di dalam ketentuan Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase dan tidak dapat disimpangi;
43. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka jelas bahwa Judex Facti telah menjatuhkan Putusan PN. Jakarta Pusat yang bertentangan dengan yurisprudensi tetap MA RI dan telah diikuti oleh berbagai Putusan MA.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 126 dari 172 hal. Put. No. 97 B/Pdt.Sus-Arbt/2016
Dengan demikian maka sudah sepatutnya dan kami mohon Majelis Hakim Agung yang memeriksa dan mengadili perkara ini berkenan membatalkan Putusan PN. Jakarta Pusat dan menolak Permohonan Para Termohon Banding dalam perkara ini untuk seluruhnya;
VIII. POKOK PERKARA:
Judex Facti Keliru Mencampuradukkan Perkara Wanprestasi Dengan Perkara PMH. Judex Facti Membatalkan Putusan BANI Tentang Wanprestasi Dengan Dalih Adanya Putusan Pengadilan Tentang PMH. Hakim Pengadilan Perkara PMH Secara Tegas Menyatakan Materi Gugatan PMH Tersebut Berbeda Dengan Materi Pelaksanaan Invesment Agreement Dan Juga Dengan Tegas Menyatakan Bukan Merupakan Sengketa Mengenai Hak Berdasarkan Investment Agrement.
Ternyata Sebaliknya Dan Secara Bertentangan Dengan Hal Tersebut, Judex Facti Malah Menyatakan Materi Putusan BANI Yang Jelas Jelas Merupakan Perkara Materi Pelaksanaan Investment Agreement Dan Merupakan Sengketa Mengenai Hak Berdasarkan Investment Merupakan Perkara Yang Sama Dengan Perkara PMH Di Pengadilan Namun Memutus Bertentangan Dengan Putusan PMH Di Pengadilan.
44. Di dalam Putusan PN. Jakarta Pusat halaman 158 s.d 161, Judex Facti telah mempertimbangkan dan mengakui suatu fakta hukum bahwa perkara di Peradilan Umum adalah perkara Perbuatan Melawan Hukum tentang penyelenggaraan RUPSLB CTPI 18 Maret 2005 dan prosedur pencatatannya di Kemenkumham. Fakta hukum ini juga didukung oleh Putusan-Putusan Peradilan Umum yang menyatakan bahwa perkara di Peradilan Umum adalah tentang hal-hal di luar pelaksanaan Investment Agreement, sebagai berikut:
Pertimbangan Putusan Sela PN. Jakarta Pusat di dalam Perkara Peradilan Umum dalam Bukti T.2 – 26 halaman 192 s.d 194 adalah sebagai berikut:
“Menimbang bahwa suatu gugatan perbuatan melawan hukum sama sekali berbeda dengan gugatan wanprestasi; gugatan perbuatan melawan hukum tidak terkait dengan pada adanya suatu perjanjian melainkan merujuk pada Kriteria dari suatu perbuatan melawan hukum hal ini berbeda dengan gugatan wanprestasi yang terkait dengan pihak-pihak yang melakukan suatu perjanjian;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.