Ketika kita memperhatikan beragam hasil ciptaan Allah swt., nyatalah bahwa manusia merupakan sosok makhluk yang paling sempurna sekaligus unik ketimbang makhluk lainnya. Apa yang ada dalam diri manusia, baik secara fisik maupun psikis, senantiasa menarik untuk dikaji. (QS.Fussilat/41:53)
Satu di antara fenomena anfus yang tersirat dalam QS.Fussilat/41:53 tersebut adalah “menangis”. Dengan demikian, menangis (al-bukâ) merupakan salah satu sunnatullah (law of nature) terhadap kejiwaan manusia.1
Jika selama ini dalam pandangan mayoritas masyarakat, menangis selalu diidentikkan dengan “kecengengan” atau “keputusasaan”, sebuah predikat negatif di mata umum, ternyata tidaklah demikian dalam perspektif al-Qur’an dan Hadis. Sungguh menarik, ternyata dalam beberapa ayat al-Qur’an, Allah SWT. menegaskan bahwa di antara karakteristik orang-orang yang beriman adalah mereka yang senantiasa menyungkurkan muka untuk bersujud sambil menangis setiap kali mendengar ayat-ayat al-Qur’an. Allah menyatakan bahwa para nabi serta orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan terpilih, apabila mendengar ayat-ayat Allah swt., mereka menyungkur dengan bersujud sambil menangis (QS.al-Isrâ/17:109 & QS.Maryam/19:58)
Menurut Syeikh Muh. ‘Ali al-Sâbûnî, hal ini terjadi karena dalam diri mereka timbul rasa takut (khasy-yah) kepada Allah. Begitulah keadaan orang-orang yang mempunyai derajat yang tinggi dan kebersihan jiwa (nafs) di sisi Allah swt. Pernyataan Allah tersebut, ungkap al-Qurtubî, sekaligus menjadi
1
petunjuk (dalâlah) bahwa ayat-ayat al-Qur’an mampu memberikan pengaruh kepada kalbu manusia.2
Jika demikian gambaran umum (deskripsi global) al-Qur’an tentang menangis, lalu bagaimana pula gambaran atau konsep hadis yang merupakan penjelas (mubayyin) terhadap ayat-ayat al-Qur’an dalam masalah ini: memerintah, melarang, atau membiarkan begitu saja? Bagaimana realitas kehidupan Rasulullah saw. yang dikenal sebagai manusia paripurna (insan kâmil) dalam perilakunya sehari-hari?
Kajian tangisan-tangisan Rasulullah saw. menjadi menarik karena beliau tidak sekedar sebagai tokoh bagi dunia Arab atau tokoh bagi umat Islam saja, tetapi juga tokoh berpengaruh yang menjadi sorotan dunia sejak beliau dilahirkan hingga dunia berakhir. Segala tindak-tanduknya menjadi pusat perhatian kawan maupun lawan, muslim ataupun nonmuslim. Segenap sisi kehidupan beliau dicatat dan diingat untuk dijadikan pelajaran sebagai teladan hidup manusia.
Umat Islam periode awal (sahabat) telah menjadikan Rasulullah saw. sebagai pusat keagamaan dan keduniawian mereka sejak Allah swt. memberi petunjuk kepada mereka dan menyelamatkan mereka dari kesesatan dan kegelapan menuju hidayah dan cahaya. Perkataan, perbuatan, dan segala gerak-gerik beliau adalah pusat perhatian dan kekaguman mereka (QS. al-Ahzâb/33:21).3
Sikap seperti ini selanjutnya diestafetkan kepada generasi-generasi berikutnya sehingga tercatatlah dalam sejarah berpuluh-puluh, bahkan ratusan
2
Muh. ‘Ali al-Sâbûnî Safwah al-Tafâsîr, (Jakarta: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, 1999/1420), Jilid 2, h. 221
3
Mustafâ al-Sibâ’î, Sunnah dan Peranannya dalam Penetapan Hukum Islam. Penerjemah Dr. Nurcholis Madjid (Jakarta:Pustaka Firdaus,1991), h. 13
riwayat yang menerangkan sifat dan pribadi beliau. Sifat anggota badan Nabi, keringat Nabi, rambut Nabi, janggut Nabi, sorban Nabi, jubah Nabi, senyuman Nabi, sifat pemaaf Nabi, termasuk dalam hal ini adalah tangisan Nabi, serta sifat-sifat lainnya, baik yang berhubungan dengan perangai (khuluq) ataupun yang berhubungan dengan gambaran fisik (khalq), dicatat dan menjadi pusat pembahasan umat.4
Sebagai teladan yang telah dibakukan dan dilegalkan keabsahannya melalui firman Ilahi yang tidak diragukan kebenarannya, maka dapat pula dipastikan kualitas (mâhiyah) kepribadian hidup beliau. Beliau adalah orang pertama yang mengimplementasikan segala titah al-Qur’an. Beliau adalah sosok manusia yang perangainya, sebagaimana pernyataan ‘Aisyah r.a., adalah al-Qur’an.5 Apabila beliau memerintah, maka beliaulah orang pertama yang melakukannya. Apabila beliau melarang untuk mengerjakan sesuatu, maka beliau pula orang pertama yang meninggalkannya. Demikian pula halnya dengan menangis.
Melalui sabda-sabda mulianya, beliau hendak mengajarkan umatnya
membiasakan menangis dalam mengisi saat-saat keberagamaan, bukan dengan canda dan gelak tawa.
Suatu ketika, sebagaimana diriwayatkan Imam al-Bukhârî (w. 256 H.) dari Abdullâh bin Mas’ûd (w. 32 H.), bahwa Rasulullah saw. meminta kepada Abdullâh bin Mas’ûd r.a. untuk membacakan al-Qur’an baginya. Iapun memenuhi permintaan tersebut dengan membacakan surat al-Nisâ. Ketika sampai pada ayat,
4
Moenawar Khalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1994), Jilid 7, hal.211-321
5
“Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka (sebagai umatmu).” (QS.4:41), beliau berkata: “Tahanlah!” Ketika itu, tampaklah kedua mata beliau mencucurkan air mata.6 Pada kesempatan yang lain, tatkala putra beliau (Ibrâhîm) meninggal dunia, beliau menitikkan air mata.7
Rasulullah saw. adalah manusia yang paling empati dan paling mudah menangis saat melihat penderitaan orang lain. Suatu hari seorang sahabat menginformasikan kepada beliau bahwa ada seorang sahabat lain yang anaknya sedang mengalami sakaratul maut. Lalu anak itu diserahkan dan diletakkan di atas pangkuan beliau. Melihat penderitaan anak tersebut, Rasulullah saw. menangis.8
Siti ‘Aisyah r.a., istri tercinta beliau, pernah pula menyaksikan suami tercintanya tersebut menangis terisak-isak saat menegakkan qiyamulail, yang oleh Siti ‘Aisyah, kejadian malam tersebut dianggap sebagai kejadian yang mempesona.9
Tangisan-tangisan yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad saw. bukanlah lambang keputusasaan dan kecengengan. Tangisan-tangisan tersebut adalah tangisan yang terjadi karena kelembutan dan kebeningan hati beliau. Tangisan Nabi yang terjadi di tengah masyarakat adalah tangisan kasih sayang (tangisan empati). Dan tangisan Nabi saat shalat adalah karena kekhusyuan merasakan
6
al-Bukhârî, Sahîh al-Bukhârî, Juz 4, Kitab Fadâ’il Qur’ân Bab Qaul Muqri li al-Qâri hasbuk, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1986), h. 114
7
Ibid, Juz 2, Kitâb al-Janâ’iz Bab Qaul al-Nabi saw. Innâ bik lamahzûnûn, h. 85
8
Ibn Mâjah, Sunan Ibn Mâjah., Juz 1, Kitâb al-Janâ’iz Bâb Mâ Jâ fî Bukâ ‘alâ
al-Mayyit, no. hadis1588, (Indonesia: Maktabah Dahlân, tth) , h. 506
9
Ibn Katsîr, op.cit., Juz 1, h. 440; Jalaluddin Rakhmat, Renungan-renungan Sufistik, (Bandung: Penerbit Mizan, 1999), h. 20
keagungan Allah swt. Keduanya adalah tangisan bermakna yang berkualitas dan dapat mendekatkan diri kepada Allah. Keharmonisan hubungan vertikal dengan Sang Khaliq (silah billâh) dan hubungan horizontal dengan sesama manusia (sila bin nâs) merupakan wujud dari kesalihan pribadi, dan ini secara tegas dan jelas tergambar dalam pribadi Nabi Muhammad saw. Tangisan-tangisan beliau adalah tangisan ibadah yang sarat muatan makna. Tangisan-tangisan beliau adalah tangisan ‘abdun sâlih yang dekat dengan Rabb-nya. Tangisan-tangisan beliau adalah tangisan yang memberikan implikasi positif dalam kehidupan, tangisan spiritual yang menimbulkan sikap optimis (rajâ) menghadapi hidup, dan memberikan kesehatan mental beliau.
Di sisi lain ditemukan banyak Hadis (menurut hitungan penulis berjumlah 71 riwayat) yang secara tegas menyebutkan bahwa tangisan orang yang masih hidup terhadap mayit akan menambah siksaan mayit tersebut. Padahal ditemukan pula ayat yang secara zâhiriyah menegaskan bahwa seseorang tidak memikul dosa orang lain (QS al-An’âm:164; al-Isrâ:15; Fatir:18; al-Zumar:7; al-Najm:38; al-Zalzalah:7-8)
Oleh karena itu, jumhur ulama, di antaranya Muzannî, Ibrâhîm al-Harbi dari kalangan ulama bermazhab Syâfi’î, termasuk Imam al-Nawawî (w.675 H.) mentakwilkan bahwa siksaan itu berlaku bagi orang yang berwasiat kepada keluarganya agar mayatnya diratapi. Sedangkan jika keluarga yang menangisinya tanpa wasiat sebelumnya, hal ini tidaklah terlarang,10 karena hal ini merupakan rahmat Allah. Imam al-Nawawî menambahkan bahwa ulama sepakat yang dimaksud dengan tangisan yang melahirkan siksaan adalah “Tangisan yang
10
al-Nawawî, Sahîh Muslim bi Syarh al-Nawawî, (Kairo: Dâr al-Hadîts, 1994), Juz 3, h. 506
disertai dengan suara keras dan teriakan”, bukan semata-mata deraian air mata.11 Inilah sebagian dari tradisi jahiliyah yang tercela.
Ada pula yang memahami bahwa hadis-hadis tersebut berlaku bagi orang-orang kafir, Yahudi, atau pelaku dosa lainnya sebagaimana yang terdapat dalam riwayat Ibn ‘Abbâs (w.68 H.) dan ‘Aisyah (w.57 H.). Sedang huruf “ba” sendiri tidak dipahami sebagai bermakna “sebab”, tetapi musahabah” (berbarengan/menyertai) sehingga maknanya adalah bahwa orang-orang kafir, Yahudi, atau pelaku dosa lainnya disiksa pada saat keluarganya menangisi kematiannya, bukan ia disiksa karena tangisan keluarganya. Demikian ungkap Imam al-Suyûtî (w. 911 H.).12
Dengan demikian, Rasulullah saw. melalui hadis-hadisnya tidak memandang sama terhadap semua tangisan yang dilakukan atau dialami oleh seseorang. Motif atau niat serta tujuan seseorang melakukan tangisan merupakan landasan untuk menyatakan nilai tangisan seseorang. Islam tidak menginginkan seseorang melakukan tangisan “apa adanya”, tetapi juga “bagaimana seharusnya” sehingga, sebagaimana yang disebutkan di atas, tangisan seseorang menjadi bernilai ibadah yang mendapatkan ridha Allah.
Berdasarkan hal tersebut, maka masalah pokok yang akan dibahas dalam tesis ini adalah bagaimana sesungguhnya menangis dalam konsep hadis. Lebih khusus lagi, tesis ini akan mengkaji tangisan Rasulullah saw. selama hidupnya.
Pembatasan dan Perumusan Masalah
11 Ibid 12
al-Suyûtî, Syarh Sunan al-Nasâ’î, (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tth), Juz 4, h. 18; al-Nawawî, loc.cit.
Sebagai penjelas (mubayyin) al-Qur’an, posisi hadis sangat strategis dalam membicarakan dan memecahkan sebuah persoalan yang terjadi, termasuk dalam masalah menangis ini. Sebagai sebuah fenomena kejiwaan, banyak persoalan yang muncul di seputar menangis ini. Disebabkan kesempatan dan kemampuan yang terbatas, tesis ini secara khusus akan menjawab persoalan berikut ini:
Bagaimana hukum dan macam-macam menangis
Bagaimanakah keterkaitan antara menangis dengan kesalihan atau kesucian hati seseorang?
Selain itu, dalam mengkaji masalah menangis dalam pandangan hadis ini, penulis akan menggunakan sumber rujukan (al-kutub al-asliyyah) kepada al-kutub al-tis’ah, yaitu: Sahîh al-Bukhârî, Sahîh Muslim, Sunan al-Tirmidzî, Sunan Abî Dâwûd, Sunan al-Nasâ’î, Sunan Ibn Mâjah, al-Muwatta Mâlik, Musnad Ahmad bin Hanbal, dan Musnad al-Dârimî, serta beberapa kitab Zuhud dan Raqâ’iq. Penambahan dua jenis kitab yang terakhir ini dilakukan karena masalah menangis sangat terkait dengan persoalan hati. Sementara masalah hati ini banyak dibahas dalam keduanya.
C. Kajian Pustaka
Rasulullah saw. dengan hadis-hadisnya akan selalu menarik perhatian banyak pemerhati untuk melakukan kajian terhadapnya. Berbagai sisi kehidupan beliau: cara berpakaian, cara makan, cara berjalan, sorban yang dikenakan, keringat yang dikucurkan, senyum-senyum yang dihadirkan, canda-canda beliau, dan sebagainya, selalu menarik untuk dicermati dan dihayati.
Sejauh pelacakan penulis, belum ada suatu buku atau karya ilmiah yang mengungkap persoalan ini secara khusus. Beberapa tulisan yang memiliki keterkaitan dengan pembahasan ini adalah:
1. Buku berjudul “Apa Arti Tangisan Anda” karya Drs. Abdul Mujib, M.Ag. yang dalam pembahasannya juga menyitir beberapa hadis masyhur tentang menangis.
2. Jalaluddin Rakhmat dalam beberapa bukunya:
a. Reformasi Sufistik dalam sub pembahasan “Tobat Nasional dan Tabaki”;
b. Meraih Cinta Ilahi dalam sub pembahasan “Menghidupkan Kembali Tradisi Menangis”;
c. Renungan-renungan Sufistik dalam sub pembahasan “Mencari Kenikmatan Shalat”.
Selain itu, penulis juga menemukan sebuah buku karya Nasy’at al-Masri yang secara khusus membahas tentang senyuman-senyuman Rasulullah saw. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam edisi Indonesia dengan judul “Senyum-senyum Rasulullah” itu diterbitkan oleh Penerbit Gema Insani Press. Sementara tentang tangisan-tangisan beliau, belum penulis temukan.
Oleh karena itu, penulis akan mencoba untuk mengkaji persoalan menangis ini dengan merujuk kepada kitab-kitab di atas. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, penulis akan menggunakan kitab-kitab syarh (penjelas) atas kitab-kitab hadis tersebut, selebihnya tentu akan digunakan penalaran penulis sendiri. Pembahasan juga akan disempurnakan dengan berbagai kitab tafsir yang menjelaskan beberapa buah ayat tentang menangis.
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Penelitian ini bertujuan menghimpun berbagai informasi dalam hadis tentang menangis. Dari informasi yang terhimpun diharapkan akan menghasilkan nilai guna sebagai berikut:
1. Hasil kajian tentang menangis dalam konsep hadis diharapkan menjadi pengetahuan yang memperkaya khazanah keislaman, khususnya di bidang hadis dan juga sejarah (târîkh).
2. Diharapkan umat Islam dapat membedakan antara menangis yang berkualitas sehingga dianjurkan atau bahkan diperintahkan untuk dilakukan dengan menangis yang tidak berkualitas atau bahkan menyesatkan sehingga harus ditinggalkan.
3. Melalui penelitian ini diharapkan umat Islam dapat mengikuti dan membiasakan menangis yang dianjurkan sebagaimana gambaran di atas dengan melakukan penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs). Sebagai kelanjutan dari poin ketiga di atas, diharapkan agar umat Islam yang bersih jiwanya akan mampu memberikan manfaat dan kebaikan kepada orang lain sehingga akan terwujud Islam sebagai rahmah li al-‘âlamîn.
E. Metodologi
Dalam membahas permasalahan menangis ini, penulis sepenuhnya melakukan studi kepustakaan (library research) dengan sumber utama al-kutub al-tis’ah, yaitu: Sahîh al-Bukhârî, Sahîh Muslim, Sunan al-Tirmidzî, Sunan Abî Dâwûd, Sunan al-Nasâ’î, Sunan Ibn Mâjah, al-Muwatta Mâlik, Musnad Ahmad bin Hanbal, dan Musnad al-Dârimî, serta beberapa kitab Zuhud dan Raqâ’iq.
1. Penulis akan mengumpulkan seluruh hadis yang yang menggunakan term menangis, seperti: al-bukâ, dama’at ‘ainâh, fâdat ‘ainâh, dzarafa, ‘abara, inhamala, dan anîn, serta derivasi dari kata-kata tersebut; dari penelusuran penulis terhadap kitab-kitab di atas, penulis berhasil menemukan kurang lebih 484 hadis yang terkait dengan menangis;
2. Langkah selanjutnya, penulis akan mengklasifikasikan Hadis-hadis tersebut sesuai dengan temanya; Dan dari 484 Hadis yang ada, penulis menemukan 173 Hadis yang menjadi pokok pembahasan, baik yang berbentuk verbal (qaul) ataupun praktis (fi’il);
3. Khusus untuk Hadis-hadis menangis yang terkait langsung dengan kepribadian Nabi Muhammad saw., penulis akan mengkajinya secara khusus dan lebih mendalam, karena di sinilah inti pembahasan tesis ini; 4. Dan terakhir, penulis akan mengkorelasikan antara menangis dengan
kesalehan pribadi. Tentunya pada langkah ini, akan dipaparkan juga beberapa kiat untuk menyucikan hati sebagai sebuah upaya untuk dapat melakukan tangisan yang bermakna yang biasa dilakukan oleh Rasulullah saw., para sahabat, dan orang-orang salih.
Dalam tesis ini penulis tidak memberikan penilaian kualitas setiap Hadis yang dicantumkan. Jika yang dicantumkan adalah riwayat Imam al-Bukhârî dan Imam Muslim, maka hadis itu telah dianggap sahih. Namun, jika bersumber dari kitab lain, maka penulis hanya akan menyampaikan penilaian dari ulama, dan itupun tidak semuanya.
Untuk mendapatkan pemahaman yang dapat dipertanggungjawabkan dari Hadis-hadis yang terdapat dalam kitab-kitab di atas, penulis akan merujuk kepada
kitab-kitab syarh. Selain dari itu, ada sumber-sumber lain yang digunakan sebagai referensi penunjang, terutama yang langsung terkait dengan pembahasan tesis ini, seperti kitab-kitab tafsir, tasauf, dan sejarah.
F. Sistematika Pembahasan
Penulisan tesis ini dibagi menjadi lima bab yang semuanya berisi hal-hal pentingyang berhubungan dengan menangis.
Bab pertama adalah Pendahuluan yang berisi tentang penjelasan umum seputar tesis. Bab ini terdiri dari: Pokok Permasalahan, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Kajian Pustaka, Tujuan dan Kegunaan Penelitian, Metodologi, dan Sistematika Pembahasan.
Bab kedua membahas menangis dalam pandangan Islam. Pada bab ini akan dijelaskan pengertian menangis, macam-macam menangis, menangis dalam perspektif Al-Quran, dan antara menangis dan tertawa.
Bab ketiga akan membahas menangis dalam konsep Hadis. Dalam pembahasan ini penulis akan menjelaskan Berbagai tangisan yang pernah terjadi pada diri Rasulullah saw., macam-macam tangisan dilihat dari sisi hukum, dan keutamaan menangis.
Bab keempat berjudul menangis dengan kesalehan pribadi. Bab ini terdiri dari pengertian dan karakterisitik kesalehan serta menyucikan hati sebagai upaya membiasakan menangis.
Sedangkan bab kelima sebagai bab terakhir adalah penutup yang berisi kesimpulan dari pembahasan tesis ini dan saran.
BAB II
MENANGIS DALAM PANDANGAN ISLAM