• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLA ASUH SINGLE PARENT DALAM MEMBENTUK KEMATANGAN

EMOSI REMAJA A. PolaAsuhSingle Parent

1. PengertianPolaAsuh

Pola asuh adalah merupakan suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwuju dan dari rasa tanggung jawab kepada anak. Dimana tanggung jawab untuk mendidik anak ini adalah merupakan tanggung jawab primer, karena anaka dalah hasil dari buah kasih sayang yang diikat dalam tal iperkawinan antara suami istri dalam keluarga.1

Pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berhubungan dengan anaknya, sikap ini dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain dari cara orang tua memberikan peraturan kepada anak, cara memberikan hadiah dan hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritas dan cara orang tua memberikan perhatian atau tanggapan terhadap keinginan anak.2

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang di maksud dalam penelitian ini adalah bagaimana cara mendidik orangtua terhadap anak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Cara mendidik secara langsung artinya bentuk-bentuk asuhan orang tua yang berkaitan dengan pembentukan kepribadian, kecerdasan, dan keterampilan yan gdilakukan secara sengaja baik berupa perintah, larangan, hukuman,

1

M.ChabibThoha,KapitaSelektaPendidikanIslam, ( PustakaPelajar,Yogyakarta,1996), h. 109.

2

penciptaan situasi maupun pemberian hadiah sebagai alat pendidikan. Pendidikan secara tidak langsung adalah berupa contoh kehidupan sehari-hari baik tutur kata sampai kepada adat kebiasaan dan pola hidup, hubungan antara orang tua dengan keluarga, masyarakat, hubungan suami istri. Semua ini secara tidak sengaja telah membentuk situasi dimana anak selalu bercermin terhadap kehidupan sehari-hari dari orang tuanya.3

2. Jenis-jenis Pola Asuh

Ada tiga jenis pola asuh orang tua terhadap anaknya, yakni: (1)pola asuh otoriter, (2)pola asuh demokratis, dan(3)pola asuh permisif.

a. Pola asuh otoriter

Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang ditandai dengan cara mengasuh anak dengan aturan-aturan yang ketat, sering kali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya (orangtua), kebebasan untuk bertindak atas namadiri sendiri dibatasi. Anak jarang diajak berkomunikas idan bertuka rpikiran dengan orang tua, orang tua menganggap bahwa semua sikapnya sudah benar sehingga tidak perlu dipertimbangkan dengan anak.4 pola asuh otoriter ditandai dengan pemberian hadiah dan hukuman, hadiah dan hukuman merupakan produk dari sistemotoriter yang memperkokoh superioritas tradisional segolongan orang tua terhadap golongan lain. 3 Ibid,. h.110. 4 Ibid.,h.111.

b. Pola asuh demokratis

Pola asuh demokratis artinya orangtua memberikan kesempatan kepada setiap anaknya untuk menyatakan pendapat, keluhan, kegelisahan, dan oleh orang tuanya ditanggapi secara wajar dan bimbingan seperlunya. Pola asuh ini memberikan kesempatan anak boleh mengungkapkan pendapat sendiri, mendiskusikan pandangan mereka dengan orang tua.5 c. Pola asuh permisif

Pola asuh ini ditandai dengan cara orang tua mendidik anak secara bebas, anak dianggap sebagai orang dewasa/muda, ia diberi kelonggaran seluas-luasnya untuk melakukan apa saja yang dikehendaki. Kontrol orang tua terhadap anaks angat lemah, juga tidak memberikan bimbingan yang cukup berarti bagi anaknya. Semua apa yang telah dilakukan oleh anak adalah benar dan tidak perlu mendapatkan teguran, arahan atau bimbingan.6

3. Pengertian Single parent

Single parent yaitu orang yang mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka sendiri tanpa bantuan dari pasangannya.

bersama seluruh anggota keluarganya, atau ibu meninggal dunia sehin Orang tua tunggal / Single Parent yaitu orang tua dalam satu keluarga yang tinggal sendiri yaitu ayah atau ibu saja. Single parent dapat terjadi

5

SinggihD.Gunarsa,Psikologi PerkembanganAnakdanRemaja,BPK (GunungMulia,Jakarta,1986) ,h.116.

6

karena perceraian, atau karena salah satu meninggal dunia. Kejadian ini dapat menimpa siapa saja baik muda maupun tua dalam kondisi ayah meninggal dunia. Sehingga ibu menyendiri gga ayah menyendiri bersama dengan keluarganya.7

4. Tipe-tipe Single Parent

Dalam menghadapi masalah-masalah keluarga tunggal, setiap orang tua akan mempunyai cara-cara dan kiat yang berbeda satu dan yang lainnya bergantung kepada kondisi-kondisi masing-masing Ada yang mampu bertahan secara mandiri sehingga menjadi sukses dan mungkin lebih sukses jika dibandingkan dengan keluarga utuh. Ada yang menyerah sama sekali kepada keadaan tanpa mampu berbuat apa-apa sehingga berlanjut dengan kehancuran keluarga, kalau memperhatikan berbagai gejala dan pengalaman dari berbagai keluarga tunggal dalamm enghadapi tantangan hidupnya. Maka sekurang-kurangnya ada 3 tipe orang tua tunggal yaitu tipe mandiri, tipe tergantung,tipe takberdaya.8

a. Tipe Mandiri

Yaitu mereka yang mampu menghadapi kenyataan situasi sebagai orang tua tunggal dan mampu mengatasi masalah-masalahnya dengan sukses. Tipe ini biasanya melanjutkan perjalanan hidup keluarga dengan sukses. Ia menyadari kenyataan yang dihadapinya, sega lamasalah keluarga dapat teratas

7

MohammadSurya,BinaKeluarga,(AnekaIlmu,Semarang,2003),h.230.

8

SyamsyuYusuf,PsikologiPerkembanganAnakdanRemaja, (PT.RemajaRosdakarya, Bandung,2003),h.36.

idengan berbagai cara sebaik-baiknya. Anak-anak dan anggota keluarganya diberi pengertian dan kesadaran akan kenyataan, serta keterampilan menghadapinya.

b. TipeTergantung

Yaitu orang tu tunggal yang tergolong tipe ini hampir mampu mengatasi berbagai masalah dan tantangan yang timbul akan tetapi kurang memiliki kemandirian. Dalam hal ini menghadap iberbagai masalah ia hanya bergantung kepada berbagai pihak diluar dirinya, seperti kakak-kakaknya, saudara-saudaranya, kawan-kawannya atau relasi suaminya dan sebagainya. Ia kurang yakin akan kemampuan dirinya, ia menganggap kenyataan ini bukan tanggung jawabnya sendiri, sehingga senantiasa meminta bantuan orang lain, misalnya dalam mendidik anak-anaknya, mungkin yang satu diserahkan kepada neneknya yang satu diserahkan kepada kakaknya.

c. Tipe Tak Berdaya

Yaitu tipe ini berada dalam keadaan tak berdaya dalam menghadapi berbagai tantangan dan masalah yang ditimbulkan oleh kenyataan orang tua tunggal. Ia tidak tahu ap ayang harus dilakukan, ia terlalu menyerah dengan keadaan tanpa berbuat apa-apa, iaputus asa dan pesimis menghadapi masa depannya. Biasanya tipe ini cenderung akan mengalami berbagai kegagalan, seperti terputusnya anak-anak untuk sekolah, berkurangnya penghasilan, makin berkurangnya masa kesejahteraan ,makin menurunnya kondisi kesehatan, munculnya berbagai masalah-masalah hambatan psikologis seperti

curiga, putus asa, frustasi ,konflik, dan sebagainya. Mereka yang tergolong tipe tak berdaya biasanyaadalah mereka yang kurang siap menghadapi kenyataan, terlalu besar ketergantungan kepada suami atau istri, kurang memiliki kompetensi hidup, kurang memiliki keterampilan sosial, sikap rendah diri, ketahanan diri yang rendah, kurang mampu mengendalikan diri, terlalu emosional.

Dari ketiga tipe diatas sudah tentu harus dihindari munculnya tipe ketiga dan harus diupayakan munculnya tipe pertama. Apabila orangtua tunggal mampu mengatasi masalah-masalah dalam tipe pertama maka dimasa akan datang akan berkembang keluarga-keluarga yang baik dan sejahtera. Peristiwa ketunggalan bukan menjadi sumber kegagalan akan tetapi sebagai pemacuun tuk mencapai sukses keluarga di masa yang akan datang. Dengan keluargay ang sejahtera, pada gilirannya akan mendorong timbulnya masyarakat bangsa yang kuat dan sejahtera. Sebaliknya apa bila ketunggalan itu merupakansuatu kegagalan, maka pada gilirannya akan menimbulkan suasana kegagalan kehidupan dimasyarakat secara luas.

5. Sebab – Sebab Terjadinya Orangtua Tunggal ( single parent ) a. Perceraian

Adanya ketidakharmonisa dalam keluarga yang disebabkan adanya perbedaan persepsi atau perselisihan yang tidak mungkin adanya jalan keluar, masalah ekonomi atau perkerjaan, perbedaan agama, aktivitas suami/istri yang tinggi diluar rumah sehingga kurang komunikasi, problem seksual dapat

merupakan faktor timbulnya perceraian. b. Orang Tua Meninggal

Takdir hidup dan manusia ditangan tuhan, manusi hanya bisa berdoa dan berupaya. Adaapun sebab kematian ada berbagai macam diantaranya karena kecelakaan, bunuh diri, pembunuhan, musibah bencana alam, kecelakaan kerja, keracunan, penyakit dan lain – lain .

c. Orang Tua Masuk penjara

d. Kerja diluar daerah atau luar negeri9

B. Kematangan Emosi Remaja

1. Pengertian a. Emosi

Dari segi etimologi, emosi berasal dari akar kata bahasa Latin “movere” yang berarti “menggerakkan, bergerak”. Kemudian ditambah dengan awalan “e” untuk memberi arti “bergerak menjauh”. Makna ini menyiratkan kesan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Orang yang takut akan berusaha melakukan sesuatu untuk melindungi dirinya, misalnya lari terbirit-birit. Seseorang ketika malu akan menutup muka sebagai ekspresi rasa tak ingin dilihat orang, dan ketika jijik muncul rasa mual lalu menjauh dari sumber yang menjijikkan itu. Orang ketika senang pun cenderung melakukan tindakan, misalnya mendekat, mendekap, mengisyaratkan penerimaan seperti tersenyum, mengulangi hal yang memberi kepuasan. Namun, predisposisi bertindak

sebagai salah satu ciri pada emosi tidak serta merta menjadikannya mudah untuk didefinisikan secara terminologis.10

Meskipun para ahli menganggap definisi emosi tak pernah memuaskan, namun penulis tetap mencoba mendefinisikannya secara general. Ini sekedar sebagai gambaran selintas menuju pembahasan lebih lanjut dan mendalam, kendati tak akan sampai pada pembahasan yang komprehensif.

Emosi adalah suatu gejala psiko-fisiologis yang menimbulkan efek pada persepsi, sikap, dan tingkah laku, serta dalam bentuk eksperi tertentu.Emosi dirasakan secara psiko-fisik karena terkait langsung dengan jiwa dan fisik. Ketika emosi bahagia meledak-ledak, iasecara psikis memberi kepuasan, tapi secara fisiologis membuat jantung berdebar-debar atau langkah kaki terasa ringan, juga tak terasa ketika berteriak puas kegirangan. Namun, hal-hal yang disebutkan ini tidak spesifik terjadi pada semua orang dalam seluruh kesempatan. Kadangkala orang bahagia, tetapi justru meneteskan air mata, atau kesedihan yang sama tidak membawa kepedihan yang serupa.

10

b. Remaja

Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata Latin (adolescere) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa.” Istilah adolescence, seperti yang dipergunakan saat ini, mempunyai arti yang lebih luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik.

Masa remaja merupakan saat berkembangnyajati diri(identity). Perkembanganini merupakansentralperkembangannyamenujudasarbagi masa dewasa.11

c. Kematangan Emosi

Pola emosi masa remaja adalah sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Perbedaannya terletak pada rangsangan yang membangkitkan emosi dan derajat, dan khususnya pada pengendalian latihan individu terhadap ungkapan emosi mereka. Misalnya, perlakuan sebagai “anak kecil” atau secara “tidak adil” membuat remaja sangat marah dibandingkan dengan hal-hal lain.12

Remaja tidak lagi mengungkapkan amarahnya yang meledak-leda, melainkan dengan menggerutu, tidak mau berbicara, atau dengan suara keras mengkritik orang-orang yang menyebabkan amarah. Remaja juga iri hati terhadap orang yang memiliki benda lebih banyak. Ia tidak

11

Moh.Ali,Moh.Asrori,PsikologiRemaja(RemajaPesertaDidik),(PT.BumiAksara, Jakarta,2004),h.9.

12

mengeluh dan menyesali diri sendiri, seperti yang dilakukan anak-anak. Remaja suka bekerja sambilan agar dapat memperoleh uang untuk membeli barang yang diinginkan atau bila perlu berhenti sekolah untuk mendapatkannya.13Anak laki-laki dan perempuan dikatakan sudah mencapai kematangan emosi bila pada akhir masa remaja tidak “meledakkan” emosinya di hadapan orang lain, melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih dapat diterima. Petunjuk kematangan emosi yang lain adalah bahwa individu menilai situasi secara kritis terlebih dulu sebelum bereaksi secara emosional, tidak lagi bereaksi tanpa berpikir sebelumnya seperti anak-anak atau orang yang tidak matang. Dengan demikian, remaja mengabaikan banyak rangsangan yang tadinya dapat menimbulkan ledakan emosi. Akhirnya, remaja yang emosinya matang memberikan reaksi emosional yang stabil, tidak berubah-ubah dari satu emosi atau suasana hati ke suasana hati yang lain, seperti dalam periode sebelumnya.

Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi-situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya adalah dengan membicarakan berbagai masalah pribadinya dengan orang lain. Keterbukaan, perasaan dan masalah pribadi dipengaruhi sebagian oleh rasa aman dalam hubungan sosial dan sebagian oleh tingkat kesukaannya pada “orang sasaran”

13

(yaitu orang yang kepadanya remaja mau mengutarakan berbagai kesulitannya, dan oleh tingkat penerimaan orang sasaran itu.

Bila remaja ingin mencapai kematangan emosi. Adapun cara yang dapat dilakukan adalah latihan fisik yang berat, bermain atau bekerja, tertawa atau menangis. Meskipun cara-cara ini dapat menyalurkan gejolak emosi yang timbul karena usaha pengendalian ungkapan emosi, namun sikap sosial terhadap perilaku menangis adalah kurang baik dibandingkan dengan sikap sosial terhadap perilaku tertawa, kecuali bila tertawa hanya dilakukan bilamana memperoleh dukungan sosial.14

Menurut Murray, aspek-aspek yang terkandung dalam kematangan emosi remaja antara lain:

1. Pemberian dan penerimaan cinta, yaitu mampu mengekspresikan cintanya sebagaimana remaja dapat menerima cinta dan kasih sayang dari orang-orang yang mencintainya.

2. Pengendalian emosi, yaitu individu yang matang secara emosi dapat menggunakan amarahnya sebagai sumber energi untuk meningkatkan usahanya dalam mencari solusi.

3. Toleransi terhadap frustrasi, yaitu ketika hal yang diinginkan tidak berjalan sesuai dengan keinginan, individu yang matang secara emosi mempertimbangkan untuk menggunakan cara atau pendekatan lain.

14

4. Kemampuan mengatasi ketegangan, yaitu pemahaman yang baik akan kehidupan menjadikan individu yang matang secara emosi; yakin akan kemampuannya untuk memperoleh apa yang diinginkannya sehingga remaja dapat mengatasi ketegangan.15

d. Batasan Usia Remaja 1. Remaja Awal (12 – 15)

Pada masa ini, remaja mengalami perubahan jasmani yang sangat pesat dan perkembangan intelektual yang intensif sehingga minat anak pada dunia luar sangat besar dan pada saat ini remaja tidak mau dianggap anak- anak lagi namun sebelum bisa meninggalkan pola kanak – kanaknya. Selain itu pada masa ini remaja sering merasa sunyi, agu – ragu, tidak stabil, tidak puas dan merasa kecewa.

2. Remaja Pertengahan ( 15 – 18 tahun )

Kepribadian remaja pada saat ini masih kekanak – kanakan tetapi pada masa remaja ini timbul unsur baru yaitu kesadaran dan kepribadian dan kehidupan badaniah sendiri. Remaja mulai menentukan nilai- nilai tertentu dan melakukan perenungan terhadap

15

Mahmoudi, A. (2012). Emotional Maturity and Adjustment Level of College Students. Education Research Journal, 2 (1), 18 -19. Diakses dari http://www.resjournals.com pada 16 Februari 2017.

pemikiran filosofis dan etis. Maka dari perasaan yang penuh keraguan pada masa remaja awal maka pada rentan usia ini mulai timbul kemantapan pada diri sendiri. Rasa percaya diri pada remaja menimbulkan kesanggupan pada dirinya untuk melakukan penilaian terhadap tinggkah laku yang dilakukannnya. Selain itu pada masa ini remaja menemukan diri sendiri atau jati dirinya.

3. Remaja Akhir ( 18 – 21 tahun )

Pada masa ini remaja sudah mantap dan stabil. Remaja sudah mengenal dirinya dan ingin hidup dengan pola hidup yang digariskan sendiri dengan keberanian. Remaja mulai memahami arah hidupnya dan menyadari tujuan hidupnya , Remaja sudah mempunyai pendirian tertentu berdasarkan satu pola yang jelas yang baru ditemukan nya.16 e. Karakteristik kematangan emosi

Individu yang matang emosinya akan menunjukkan pola tingkah laku tertentu yang berbeda dengan individu – individu yang tidak matang emosinya. Kesimpulan mengenai kematangan emosi seseorang dapat dibuat berdasarkan tingkah laku yang ditampilkan dan berdasarkan seberapa sering seseorang menampilkan tingkah laku tersebut.

16

Tingkah laku seringditampilkan dapat dijadikan ciri atau karakteristik kematangan emosi seseorang. Adapun beberapa ahli yang berusaha menjabarkan karakteristik kematangan emosi mengemukakan tujuh kriteria kematangan emosi, yaitu:

a. Berkembang kearah kemandirian (toward independent)

Kemandirian merupakan kapasitas seseorang untuk mengatur kehidupannya sendiri, individu lahir ke dunia dalam keadaan tergantung pada orang lain namun dalam perkembangannya mereka belajar untuk mandiri dan mengendalikan dorongan yang bersifat pleasure –oriented artinya mereka mampu memutuskan apa yang dikehendaki dan bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut. b. Mampu meneriman kenyataan ( ability to accept reality )

Seseorang yang matang bisa menerima kenyataan hidup yang positif maupun yang negatiftidak menyangkal atau lari darinya. Ia menggunakan apa yang ada pada dirinya untuk menghadapikenyataan tersebut dan secara efektif mengembangkan pola tingkah laku dan pola hubungan dengan orang lain.

c. Mampu beradaptasi (adaptability)

Menurut Smitson aspek ini merupakan yang terpenting dalam kematangan emosi, yang matang emosinya mampu beradaptasi dan menerima beragam karakteristik orang serta mampu menghadapi situasi apapun maksudnya, ia dapat dengan fleksibel berhubungan

dengan orang atau situasi tertentu secara produktif. Namun mereka yang tidak matang lebih kaku (rigid ), mudah menjatuhkan penilaian (judmental),dan menolak (rejecting). Keadaan ini dapat disebabkan karena meraka terlalu sibuk dengan diri sendiri atau adanya konflik internal maupun eksternal yang berkepanjangan.

d. Mampu merespon dengan tepat ( readiness to responed)

Individu yang matang emosinya memiliki kepekaan untuk berespon terhadap kebutuhan emosi oranglain, baik yang diekspresikan maupunyang tidak diekspresikan. Hal ini melibatkan kesadaran bahwa setiap individu unik, memeliki hak dan perasaan. e. Kapasitas untuk seimbang ( capacity to balance )

Sesorang yang kurang matang memandang segala sesuatu dengan pertimbangan apa yang akan ia dapatkandari situasi atau individu, sedangkan pada individu yang matang emosinya mereka akan menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan sendiri dan orang lain. Mereka mempertimbangkan pula hal–halapa yang mampu mereka berikan. Orang yang tingkat emosinya cukup tinggi menyadari bahwa sebagai makhluk sosial ia memiliki ketergantungan pada orang lain.

f. Mampu berempati (empatic understanding)

Empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami apa yang mereka pikir atau rasakan. Dengan kemampuan ini, individu tidak hanya mengetahui apa yang dirasakan orang lain tetapi juga memahami hal –hal dibalik munculnya perasaan tersebut. Empati dapat dikembangkan jika individu tidak lagi perhatian pada diri sendiri.

g. Mampu menguasai amarah (controlling anger)

Menerima rasa marah serta kesadaran akan adanya perasaan – perasaan lain yang mendasari kemarahan tersebut akan membantu mengetahui rasa marah dan menyalurkan dengan cara konstruktif. Individu yang matang emosinya dapat mengetahui hal –hal apa saja yang dapat membuatnya marah maka ia dapat mengendalikan perasaan marahnya.17

Saat individu mengalami proses perkembangan emosi menuju kematangan emosi, ada beberapa aspek yang biasanya berubah pada diri setiap individu tersebut sebagai hasil dari perkembangan kematangan emosi diantaranya adalah:

1. Sikap untuk belajar Bersikap terbuka untuk menambah pengetahuan, jujur, mempunyai keterbukaan, serta motivasi diri yang tinggi, bisa memahami agar bermakna bagi dirinya.

17

https://dokumen.tips/documents/aspek-kematangan-emosi.html pada tanggal 5 Agustus 2017, pukul 20.30

2. Memiliki rasa untuk tanggung jawab Memiliki rasa tanggung jawab untuk mengambil keputusan atau melakukan suatu tindakan dan berani untuk menanggung resikonya. Individu yang matang tidak menggantungkan hidup sepenuhnya kepada individu lain karena individu yang matang tahu bahwa setiap orang bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri-sendiri.

3. Memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan efektif Memiliki kemampuan untuk mengekspresikan perasaan, memilih apa yang akan dilakukan, mengemukakan pendapat, meningkatkan penghargaan pada diri merupakan bentuk komunikasi secara efektif dimana individu sudah matang dan mampu menyesuaikan diri dengan orang lain.

4. Memiliki kemampuan untuk menjalin hubungan social Individu yang matang, mampu melihat kebutuhan individu yang lain dan memberikan potensi dirinya. Hal ini dikarenakan individu yang matang mampu menunjukkan ekspresi cintanya kepada individu lain. Jadi secara emosional individu mampu menyesuaikan diri dan hubungan sosial antar individu. 18

18

Paramitasari, Radhitia., Alfian, Ilham N. (2012). Hubungan Antara Kematangan Emosi Dengan Kecenderungan Memaafkan Pada Remaja Akhir. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan

Dokumen terkait