BAB II STUDI KEPUSTAKAAN
2.2 Landasan Teori
2.2.1.3 Pola Kalimat
Harimurti Kridalaksana (dalam Kamus Linguistik, 2008:196) mengatakan bahwa pola kalimat merupakan konsep sintaksis yang mencakup konstruksi-konstruksi pembentuk kalimat itu. Adanya pola kalimat itu memudahkan penulis dalam membuat kalimat yang benar secara gramatikal. Selain itu, pola kalimat dapat menyederhanakan berbagai kalimat agar mudah dipahami.
Hasan Alwi, dkk (dalam TBBBI, 2010: 326) mengatakan bahwa kalimat dasar adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa, unsur-unsurnya lengkap, susunan unsur-unsurnya menurut urutan paling umum dan tidak mengandung pertanyaan atau pengingkaran. Dengan kata lain, kalimat dasar tersebut identik dengan kalimat tunggal deklaratif afirmatif yang urutan unsur-unsurnya paling
lazim. Urutan unsur-unsur tersebut adalah S-P-(O)-(Pel)-(K) dengan catatan bahwa unsur objek, pelengkap, dan keterangan yang ditulis di antara tanda kurung tidak selalu hadir. Hasan Alwi, dkk (2010: 329) memaparkan bahwa umumnya ada enam pola kalimat dasar yang dapat diturunkan dari pola S-P-(O)-(Pel)-(K). Pola kalimat dasar tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2. Pola-Pola Kalimat Dasar Fungsi
Tipe
Subjek Predikat Objek Pelengkap Keterangan
S-P Dina Mandi - - -
S-P-O Tito Membeli Bola - -
S-P-Pel Dia Menjadi - ketua kelas -
S-P-Ket Saya Bermain - - di halaman
S-P-O-Pel Ibu membelikan Adik Baju -
S-P-O-Ket Ayah menjemput Tono - di sekolah
Dalam pengembangannya, suatu kalimat dasar itu dapat berubah sesuai dengan konteksnya, sehingga dapat berubah bentuk menjadi kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, ataupun kalimat majemuk campuran. Ada pula kalimat yang unsur-unsurnya atau fungsi sintaksinya tidak selalu hadir bersamaan, paling tidak ada konstituen subjek dan predikat. Konstituen lainnya banyak ditentukan oleh konstituen pengisi predikat.
Pada umumnya, banyak dari kalimat yang ditemukan urutan unsurnya berbeda dengan urutan kelima fungsi sintaksis di atas, terutama yang menyangkut
letak keterangan dan letak predikat terhadap subjek kalimat. Keterangan memiliki banyak jenis dan letaknya dapat berpindah-pindah di dalam kalimat, baik di awal, tengah maupun di akhir kalimat. Banyak juga kalimat yang predikatnya mendahului subjek kalimat.
Urutan fungsi dalam bahasa Indonesia bisa dikatakan mengikuti pola S-P-(O)-(Pel)-(K). Namun, ada satu pola kalimat dalam bahasa Indonesia yang predikatnya selalu mendahului subjek. Perhatikan contoh di bawah ini.
(34) Ada pencuri di halaman itu. (35) Demikianlah hasil rapat hari ini.
Verba ada dan demikianlah pada kalimat (34) dan (35) terletak di depan nomina. Dengan kata lain, urutan fungsinya adalah P-S-(O)-(Pel)-(Ket). Namun, susunan itu dapat diubah kembali menjadi urutan fungsi biasa yakni subjek mendahului predikat. Kalimat-kalimat yang predikatnya mendahului subjek tersebut disebut kalimat inversi (TBBBI, 2010: 372).
2.2.1.4 Jenis Kalimat
Menurut Hasan Alwi (dalam TBBBI 2010: 343), jenis kalimat dapat digolongkan menjadi empat, yaitu 1) jenis kalimat berdasar jumlah klausa, 2) jenis kalimat berdasar bentuk sintaksis, 3) jenis kalimat berdasar kelengkapan unsur, dan juga 4) jenis kalimat berdasar urutan fungsi sintaksis. Dari keempat jenis kalimat di atas, hanya akan dibahas dua jenis kalimat, yakni kalimat berdasarkan jumlah klausanya dan berdasarkan bentuk atau kategori sintaksisnya.
Berdasarkan jumlah klausanya, kalimat dapat digolongkan menjadi kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Hasan Alwi,dkk (2010: 343) menuturkan bahwa kalimat tunggal dapat dibeda-bedakan lagi berdasarkan kategori predikatnya menjadi lima golongan yakni 1) kalimat berpredikat verba, 2) kalimat berpredikat adjektiva, 3) kalimat berpredikat nomina dan pronomina, 4) kalimat berpredikat numeral, dan 5) kalimat berpredikat frasa preposisional.
Kalimat majemuk juga dapat dibedakan lagi menjadi kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Menurut bentuknya atau kategori sintaksisnya, kalimat dapat pula digolongkan menjadi kalimat deklaratif, kalimat imperatif, kalimat interogatif , dan kalimat ekslamatif (Alwi, dkk, 2010: 344).
Bagan 1. Jenis-jenis Kalimat
\ Jenis Kalimat Jumlah Klausa Tunggal Majemuk Bentuk/Kategori Sintaksis Deklaratif Imperatif Interogatif Eksklamatif
A. Kalimat berdasarkan Jumlah Klausa
Jenis kalimat dapat digolongkan berdasarkan jumlah klausanya. Berdasarkan jumlah klausanya, kalimat dapat dibagi atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk.
1) Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa. Hal itu berarti bahwa konstituen untuk setiap unsur kalimat, seperti S dan P hanya ada satu. Dalam kalimat tunggal tentu ada unsur wajib yang diperlukan. Di samping itu, tidak menutup kemungkinan jika ada unsur-unsur manasuka yang ditambahkan di dalamnya, seperti keterangan, pelengkap, dan objek. Dengan demikian, kalimat tunggal tidak selalu berwujud pendek. Perhatikanlah contoh berikut!
(36) Toni akan pergi.
(37) Mereka akan membentuk kelompok belajar.
(38) Guru Bahasa Indonesia kami akan dikirim ke luar negeri. (39) Pekerjaan Anwar mengurus tanaman di kebun raya Bogor.
Contoh kalimat (36) hanya memiliki satu unsur subjek (Toni) dan satu unsur predikat (akan pergi). Kalimat (37) lebih lengkap karena ada unsur objek. Meskipun demikian, setiap unsurnya hanya ada satu. Kalimat (38) dan (39) juga hanya memiliki unsur wajib, yakni S dan P dan disertai unsur manasuka seperti O, Pel dan K, tetapi semua unsurnya hanya ada satu, baik berupa kata maupun frasa.
Berdasarkan predikatnya kalimat tunggal dapat dibagi menjadi kalimat berpredikat verba, kalimat berpredikat adjektiva, kalimat berpredikat nomina,
kalimat berpredikat numeral, dan kalimat berpredikat frasa preposisional. Di bawah ini akan dijelaskan jenis-jenis kalimat berdasarkan jumlah klausa itu.
a.Kalimat Berpredikat Verba
Menurut TBBBI (2010 : 345), kalimat berpredikat verba dapat dibagi pula menjadi kalimat taktransitif, kalimat ekatransitif, dan kalimat dwitransitif. Kalimat ekatransitif dan kalimat dwitransitif merupakan bagian dari kalimat transitif.
Kalimat tidak transitif adalah kalimat yang tidak memiliki objek dan tidak memiliki pelengkap. Kalimat tersebut hanya memiliki dua unsur wajib, yaitu S dan P. Biasanya predikatnya dengan prefiks ber- atau meng-. Namun, kalimat itu dapat dilengkapi oleh unsur keterangan tempat, waktu, cara ataupun alat. Contoh-contoh kalimat yang menggunakan predikat tak transitif dapat dilihat pada kutipan (40), (41), serta (42) ini.
(40) Bu Dina sedang berbelanja. (41) Padi itu telah menguning.
(42) Samiun belum datang sejak tadi pagi.
Kalimat ekatransitif adalah kalimat yang berobjek tetapi tidak berpelengkap. Kalimat tersebut memiliki tiga unsur wajib yaitu subjek, predikat, dan objek. Dari segi makna semua verba ekatransitif memiliki makna perbuatan. Di bawah ini merupakan contoh-contoh kalimat yang menggunakan predikat ekatransitif.
(43) Pemerintah akan memasok semua kebutuhan Lebaran. (44) Nilai UAN menentukan kelulusan para siswa kelas IX.
Kalimat dwitransitif adalah kalimat yang predikatnya dapat mengungkapkan hubungan tiga wujud. Maksudnya adalah satu predikat dapat menentukan unsur-unsur yang mengikutinya dengan makna yang berbeda pula. Contoh-contoh kalimat yang menggunakan predikat dwitransitif dapat dilihat pada kalimat (45), (46), dan (47) ini.
(45) Ida sedang mencari pekerjaan. (46) Ida sedang mencarikan pekerjaan.
(47) Ida sedang mencarikan adiknya pekerjaan.
Dari kalimat (45), dapat dijelaskan yang mencari pekerjaan adalah Ida. jika ditambahkannya sufiks –kan pada predikat mencari, kalimat (46) berubah makna menjadi Ida mencari pekerjaan untuk orang lain. Kalimat (47) terdapat objek dan pelengkap yang berdiri di belakang verba dan semakin jelas bahwa makna yang dimaksud adalah Ida mencari pekerjaan untuk adiknya.
b. Kalimat Berpredikat Ajektiva
Menurut TBBBI (2010, 357), kalimat berpredikat adjektiva adalah kalimat statif. Kalimat statif kadang menggunakan verba untuk memisahkan subjek dengan predikatnya apabila subjek atau predikatnya sama-sama panjang. Perhatikan contoh berikut!
(48) Gerakan badan penari pendet itu adalah anggun dan mempesona.
Kata adalah dalam kalimat (48) dapat digunakan untuk memisahkan subjek, yakni gerakan badan penari pendet itu dan predikat yang berupa anggun
dan mempesona. Kata adalah dapat digunakan jika subjek atau predikat atau keduanya sama-sama panjang.
c.Kalimat Berpredikat Nomina
Dua nomina yang dijejerkan atau frasa nomina dapat menjadi kalimat apabila syarat untuk subjek dan predikatnya terpenuhi (TBBBI, 2010: 358). Syarat untuk kedua unsur itu penting. Jika tidak terpenuhi, jejeran nomina tadi tidak dapat membentuk kalimat. Perhatikan contoh berikut!
(49)Buku cetakan Bandung itu. . . (50)Buku itu cetakan Bandung.
Urutan kata seperti pada contoh (49) tersebut membentuk satu frasa dan bukan kalimat, karena cetakan Bandung merupakan pewatas (pembatas) dan bukan predikat. Sebaliknya, contoh (50) dapat disebut kalimat karena penanda batas itu memisahkan kalimat menjadi dua frasa, yakni buku itu sebagai subjek dan cetakan Bandung sebagai predikat.
d.Kalimat Berpredikat Numeralia
Selain macam-macam kalimat berpredikat verbal, adjektival, nominal, ada pula kalimat yang berpredikat numeral atau frasa numeral. Perhatikanlah contoh berikut!
(51)Anaknya banyak. (52)Bekalnya hanya sedikit.
(53)Tinggi pohon itu lebih dari tiga meter.
Contoh (51) dan (52) menunjukkan bahwa kalimat dengan predikat numeralia (kata bilangan) tak tentu (banyak dan sedikit) tidak dapat diikuti kata
penggolongan. Sebaliknya, kalimat (53) menunjukkan predikat yang berupa numeralia tentu dapat diikuti penggolongan seperti orang, ekor, buah, dan wajib diikuti ukuran seperti meter (TBBBI, 2010: 360).
e. Kalimat Berpredikat Frasa Preposisional
Predikat kalimat dalam bahasa Indonesia juga dapat berupa frasa preposisional. Contoh-contoh kalimat di bawah ini menggunakan predikat berfrasa preposisi.
(54)Ibu sedang ke pasar. (55)Andi sedang di sekolah. (56)Kue itu untuk Bagus.
(57)Rumah saya di antara rumah Bela dan Ani.
Tidak semua frasa preposisi dapat dijadikan sebagai predikat kalimat. Kalimat-kalimat di bawah ini terasa tidak pas jika tidak disertai verba.
(58)Toko itu sepanjang malam. (59)Toni dengan Andi.
(60)Tas itu kepada Aji.
Kalimat (58), (59), dan (60) di atas menunjukkan bahwa tidak semua frasa preposisi dapat menduduki fungsi predikat. Frasa sepanjang malam, dengan Andi, kepada Aji meskipun merupakan frasa preposisi tetapi tidak dapat menjadi predikat, sehingga kalimat-kalimat tersebut tidak memiliki makna.
2)Kalimat Majemuk
Menurut Ramlan (2005: 43), kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari dua klausa atau lebih antara klausa yang satu dan yang lain saling berhubungan. Umumnya, ahli bahasa membagi hubungan dua klausa itu ke dalam
dua jenis, yakni koordinasi (majemuk setara) dan subordinasi (majemuk bertingkat).
a.Kalimat Majemuk Setara
Hubungan koordinasi dalam suatu kalimat biasa disebut dengan kalimat majemuk setara. Hubungan koordinasi menggabungkan dua klausa atau lebih yang masing-masing mempunyai kedudukan yang setara dalam struktur konstituen kalimat (Alwi dalam TBBBI, 2010: 392). Maksudnya di sini adalah hubungan antarklausa tersebut tidak saling terikat atau bergantung satu sama lain. Klausa yang satu tidak bergantung dengan klausa yang lain, karena klausa yang satu bukanlah bagian dari klausa yang lain. Hubungan koordinasi dalam suatu kalimat tersebut dapat dilihat pada contoh di bawah ini.
(61) Stres akan memicu ketegangan di otak. (62) Stres membuat energi otak habis
(63) Stres akan memicu ketegangan di otak dan membuat energi otak habis.
Kalimat (63) di atas terdiri dari dua klausa yang tidak saling terikat, yakni klausa (61) dan klausa (62) dan dihubungkan dengan konjungsi dan. Kalimat (62) juga terjadi pelesapan (penghilangan salah satu unsur kalimat) yakni unsur subjek pada klausa kedua setelah digabungkan, agar kalimat lebih efektif. Untuk lebih jelas, di bawah ini terdapat bagan tentang hubungan koordinasi kalimat.
Bagan 2. Hubungan Koordinasi Kalimat
Bagan di atas menunjukkan bahwa konjungtor tidak termasuk ke dalam klausa mana pun, tetapi merupakan konstituen tersendiri. Kedudukan klausa yang satu dengan klausa yang lain juga terlihat sejajar. Hal itu berarti klausa yang satu tidak menjadi bagian dari klausa yang lain. Alwi, dkk (2010: 398), menjelaskan bahwa ada beberapa konjungtor untuk menyusun hubungan koordinasi, yaitu sebagai berikut.
“dan, atau, tetapi, serta, lalu, kemudian lagipula, hanya, padahal, sedangkan, baik... maupun..., tidak... tetapi..., bukan(nya)... melainkan...” Ramlan (2008: 40) membagi beberapa konjungtor koordinasi dalam beberapa golongan berdasarkan sifat hubungannya. Ada lima golongan konjungtor koordinatif jika dilihat dari hubungan semantisnya.
(a) Konjungsi yang menandai pertalian semantik penjumlahan: dan, dan lagi, lagi pula, dan serta.
(b) Konjungsi yang menandai pertalian semantik pemilihan: atau. (c) Konjungsi yang menandai pertalian semantikperurutan: kemudian
dan lalu.
(d) Konjungsi yang menandai pertalian semantik lebih: bahkan.
Kalimat
(e) Konjungsi yang menandai pertalian semantik perlawanan: tetapi. akan tetapi, melainkan, namun, padahal, sebalikmya, sedangkan, dan sedang.
b.Kalimat Majemuk Bertingkat
Hubungan subordinasi dalam suatu kalimat biasa disebut kalimat majemuk bertingkat. Hubungan subordinasi menggabungkan dua klausa atau lebih secara bertingkat (TBBBI, 2010: 398). Maksudnya, salah satu klausanya menjadi bagian dari klausa yang lain. Jadi, klausa-klausa yang disusun dalam kalimat majemuk dengan cara subordinasi itu tidak memiliki kedudukan yang setara atau dengan kata lain hubungan subordinasi menunjukkan hubungan yang hierarkis. Hubungan subordinasi dalam suatu kalimat tersebut dapat dilihat pada contoh di bawah ini.
(64) Candi Gedung Songo itu menjadi mutiara kehidupan (klausa bawahan).
(65) Candi Gedung Songo menjadi sumber nafkah bagi masyarakat sekitarnya.
(66) Candi Gedung Songo menjadi mutiara kehidupan karena menjadi sumber nafkah bagi masyarakat sekitarnya.
Kalimat (66) di atas terlihat ada penggabungan dua klausa yang saling terikat, yakni klausa (64) dan klausa (65), di mana klausa (64) menjadi klausa utama dan klausa (65) menjadi klausa bawahan dengan konjungtor karena. Berikut bagan tentang hubungan antarklausa dalam hubungan subordinasi.
Bagan 3. Hubungan Subordinasi Kalimat
Pada bagan di atas, dapat dilihat bahwa klausa 2 berkedudukan sebagai konstituen klausa 1 atau bagian dari klausa 1. Klausa 2 yang berkedudukan sebagai konstituen klausa 1 disebut klausa subordinatif, sedangkan klausa 1 meru-pakan tempat dilekatkannya klausa, disebut juga klausa utama.
Menurut Alwi, dkk (2010: 400), ada sepuluh jenis konjungtor subordinatif dalam kalimat majemuk bertingkat. Kesepuluh klausa itu akan dijabarkan pada uraian di bawah ini.
(a) Konjungsi waktu : setelah, sesudah, sebelum, sehabis, sejak, selesai, ketika, tatkala, sewaktu, sementara, seraya, selagi, selama, sehingga, sampai.
(b) Konjungsi syarat : jika, kalau, asalkan, bila, manakala.
(c) Konjungsi pengandaian : andaikan, seandainya, andaikata, sekiranya. (d) Konjungsi tujuan : agar, supaya.
(e) Konsesif: biar(pun), meski(pun), sungguh(pun), sekalipun, walau(pun), kendati(pun).
(f) Konjungsi pembandingan atau kemiripan: seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, bagaikan, laksana, daripada, alih-alih, ibarat.
(g) Konjungsi sebab atau alasan: sebab, karena, oleh karena. (h) Konjungsi hasil atau akibat : sehingga, sampai(-sampai). (i) Konjungsi cara: dengan, tanpa.
(j) Konjungsi alat: dengan, tanpa. Kalimat
Klausa 1
Ramlan (2008: 45) menambahkan tiga konjungtor subordinatif yang belum dijelaskan dalam TBBBI (2010) tersebut. Ketiga konjungtor subordinatif itu dapat dilihat pada uraian di bawah ini.
(a) Konjungsi isi atau komplemen: bahwa. (b) Konjungsi perkecualian: kecuali.
(c) Konjungsi penjumlahan: selain dan di samping. c. Kalimat Majemuk Kompleks (Campuran)
Selain kedua bentuk kalimat majemuk di atas, masih ada satu bentuk kalimat majemuk, yakni kalimat majemuk kompleks. Menurut Chaer (2011: 347), kalimat majemuk kompleks adalah kalimat yang terdiri dari tiga atau lebih klausa. Kalimat tersebut ada yang berhubungan secara koordinatif (setara) dan ada yang berhubungan secara subordinatif (bertingkat). Penggabungannya biasanya dibantu dengan berbagai kata penghubung baik koordinatif maupun subordinatif. Kalimat majemuk kompleks ini biasa disebut dengan kalimat majemuk campuran. Perhatikan contoh berikut!
(66) Untuk pendakian gunung besok pagi, hal pertama yang harus diperhatikan adalah kondisi fisik dan hal kedua adalah bekal makanan. Kalimat (66) di atas merupakan kalimat majemuk kompleks karena tersusun dari klausa bertingkat dan klausa setara. Klausa bertingkat pada kalimat di atas menduduki fungsi subjek, yakni pada klausa hal pertama yang harus diperhatikan. Frasa hal pertama diperluas dengan konjungsi yang lalu diikuti dengan fungsi predikat harus diperhatikan. Klausa setara pada kalimat di atas, yakni ditandai dengan konjungsi dan lalu dilanjutkan dengan fungsi subjek pada
frasa hal kedua, predikat pada kata adalah, dan pelengkap pada frasa bekal makanan. Bagan di bawah ini menunjukkan hubungan antarkalimat majemuk campuran.
Bagan 4. Hubungan Antarklausa dalam Kalimat Majemuk Campuran
B.Kalimat berdasar Bentuk Sintaksis
Berdasarkan bentuk sintaksis, kalimat dibagi atas 1) kalimat deklaratif atau kalimat berita, 2) kalimat imperatif atau kalimat perintah, 3) kalimat interogatif atau kalimat tanya, dan 4) kalimat eksklamatif atau kalimat seru (TBBBI, 2010: 360). Keempat jenis kalimat tersebut akan dipaparkan pada uraian berikut ini.
1) Kalimat Berita (Deklaratif)
Menurut Alwi, dkk (2010: 284), kalimat berita berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain sehingga tanggapan yang diharapkan
berupa perhatian dari mitra tutur. Kadang respons atau bentuk dari perhatian itu jawaban “ya” dari mitra tutur. Di samping itu, dalam kalimat berita tidak terdapat kata-kata tanya seperti apa, siapa, di mana, mengapa, dan kata-kata ajakan seperti mari, ayo, kata persilakan silakan, serta kata larangang jangan. Dalam bentuk tulisan, kalimat berita diakhiri dengan tanda titik (.) sedangkan dalam bentuk lisan diakhiri dengan nada menurun.
2) Kalimat Perintah (Imperatif)
Menurut Chaer (2011:356), kalimat perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan. Dalam bentuk tulisnya, kalimat perintah atau kalimat imperatif biasanya diakhiri dengan tanda seru (!). Sementara itu, dalam bentuk lisan, intonasi ditandai dengan nada rendah diakhir tuturan. Ada tiga jenis kalimat imperatif, yaitu kalimat perintah, kalimat larangan, dan kalimat seruan. Pada TBBBI (2010), kalimat seruan tergolong pada kalimat eksklamatif.
3) Kalimat Tanya (Interogatif)
Kalimat tanya adalah kalimat yang berfungsi untuk mengharapkan reaksi atau jawaban dari seseorang (Chaer, 2011: 350). Kalimat ini secara formal ditandai dengan kehadiran kata tanya seperti apa, siapa, kapan, bagaimana, dan mengapa. Kalimat ini memiliki pola intonasi yang berbeda dengan pola intonasi kalimat berita. Perbedaan pola intonasi itu terutama terletak pada nada akhirnya.
Pada intonasi kalimat berita, bernada akhir turun, sedangkan pada kalimat tanya bernada akhir naik.
4) Kalimat Eksklamatif
Kalimat eksklamatif atau kalimat seru, secara formal ditandai dengan kata alangkah, betapa atau bukan main pada kalimat berpredikat adjektiva. Kalimat eksklamatif ini berfungsi untuk menyatakaan perasaan kagum atau heran. Menurut TBBBI (2010: 371), cara pembentukan kalimat eksklamatif sebagai berikut.
a)Balikkan urutan unsur kalimat dari S-P ke P-S. b)Tambahkan partikel –nya pada (adjektiva) P.
c)Tambahkan kata (seru) alangkah, betapa, bukan main di depan P jika dianggap perlu.
Agar lebih jelas, di bawah ini terdapat beberapa contoh kalimat eksklamatif. Perhatikan contoh di bawah ini!
(67) Pergaulan mereka bebas. (68) a. Bebas pergaulan mereka
b. Bebasnya pergaulan mereka!
c. Alangkah bebasnya pergaulan mereka!
Kalimat (67) di atas merupakan kalimat deklaratif, tetapi dapat dikembangkan menjadi kalimat eksklamatif (68)a, (68)b, dan (68)c. Contoh kalimat (68)a di atas menggunakan cara membalik urutan fungsi S-P menjadi P-S, sehingga predikat bebas berada di awal kalimat. Contoh kalimat (68)b menggunakan cara menambahkan partikel–nya di belakang predikat adjektif bebas. Kalimat (68)c menggunakan cara menambahkan kata seru alangkah di depan predikat bebasnya.