• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.4 Pengertian Keluarga

2.4.4 Pola Komunikasi Dalam Keluarga

Menurut Yusuf (2001:51) terdapat tiga pola komunikasi hubungan

orangtua dan anak, yaitu :

a. Authoritarian (cenderung bersifat bermusuhan)

Dalam pola hubungan ini sikap acceptance (penerimaan) rendah, namun

kontrolnya tinggi, suka menghukum secara fisik, bersikap mengkomando

(mengharuskan atau memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa

kompromi), bersikap kaku (keras), cenderung emosional dan bersikap

menolak.

b. Permissive (cenderung berperilaku bebas)

Dalam hal ini sikap acceptance (penerimaan) orang tua tinggi, namun

kontrolnya rendah, memberi kebebasan kepada anak untuk menyatakan

kurang memiliki rasa percaya diri, suka mendominasi, tidak jelas arah

hidupnya, prestasinya rendah.

c. Authoritative (cenderung terhindar dari kegelisahan dan kekacauan)

Dalam hal ini sikap acceptance (penerimaan) dan kontrolnya tinggi, sikap

responsif terhadap kebutuhan anak mendorong untuk menyatakan pendapat

atau pertanyaan, memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan yang baik

dan yang buruk. Sedangkan anak bersifat sahabat, memiliki rasa percaya diri

mampu mengendalikan diri (self control), bersikap sopan dan bekerjasama,

memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mempunyai tujuan atau arah hidup yang

jelas dan berorientasi terhadap prestasi.

Begitu pentingnya faktor komunikasi dalam keluarga ini sehingga Wright

(1991:93) mengatakan bahwa salah satu cara yang terpenting untuk membantu

anak- anak menjadi orang dewasa yang berarti adalah dengan belajar

berkomunikasi kepada mereka yang positif. Pertumbuhan dan perkembangan

seorang anak dipengaruhi oleh urutan kelahiran dalam keluarga, struktur

syaraf dan lain sebagainya tetapi komunikasi dan hubungan orang tua dan

anggota keluarga menjadi peran penting dalam pemebentukan kepribadian dan

tingkah laku anak.

Pendapat ini diperkuat oleh Ahmadi (1999:248) mengatakan bahwa

suasana rumah yang hangat dan adanya perhatian, pengakuan, pengertian,

penghargaan, kasih sayang dan saling percaya, akan melahirkan anak- anak

Suatu proses komunikasi dapat berjalan dengan baik jika antara

komunikator dan komunikan ada rasa percaya, terbuka dan sportif untuk

saling menerima satu sama lain (Rahmat, 2002:129). Adapun sikap yang dapat

mendukung kelancaran komunikasi dengan anak-anak adalah :

a. Mau mendengarkan sehingga anak- anak lebih berani membagi perasaan

sesering mungkin sampai pasa perasaan dan permasalahan yang mendalam

dan mendasar.

b. Menggunakan empati untuk pandangan- pandangan yang berbeda dengan

menunjukkan perhatian melalui isyarat- isyarat verbal dan nonverbal saat

komunikasi berlangsung.

c. Memberikan kebebasan dan dorongan sepenuhnya pada anak untuk

mengutarakan pikiran atau perasaanya dan kebebasan untuk menunjukkan

reaksi atau tingkah laku tertentu sehingga anak dapat menanggapi positif

tanpa adanya unsur keterpaksaan.

Menurut Hastuto (dalam 1994:154) akibat dari pola komunikasi ini adalah :

a. Pikiran anak berkembang karena anak dapat mengungkapkan isi hatinya atau

pikirannya dan dapat memberikan usul- usul serta berpendapat berdasarkan

penalarannya.

b. Orang tua atau anggota keluarga lainnya akan mengetahui dan mengikuti

2.5 Pengertian Remaja

Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat

penting, diawali matangnya organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi.

Adolescentia berasal dari istilah Latin, adolescentia yang berarti masa muda yang terjadi antara 17- 30 tahun. Yulia dan Singgih D. Gunarsa, akhirnya

menyimpulkan bahwa proses perkembangan psikis remaja dimulai antara 12- 22

tahun. Jadi, remaja (adolescence) adalah masa transisi/ peralihan dari masa kanak-

kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik,

psikis, dan psikososial.

Beberapa tokoh psikologi memberikan beberapa definisi tentang remaja,

antara lain (Yusuf,2001:185-186):

1. G. Stenley Hall mengartikan remaja sebagai masa yang berada dalam dua

situasi antara kegoncangan, penderitaan, asmara dan pemberontakan dengan

otoritas orang dewasa. Selain itu pengalaman sosial selama remaja dapat

mengarahkannya untuk menginternalisasi sifat- sifat yang diwariskan oleh

generasi sebelumnya.

2. Roger Barker memberikan penekanan orientasi remaja kepada masalah sosial

psikologis. Hal ini dikarenakan bahwa remaja merupakan periode

pertumbuhan fisik yang sangat cepat dan peningkatan dalam koordinasi, maka

remaja merupakan masa transisi antara masa anak dan masa remaja oleh

karena pertumbuhan fisik berkaitan erat dengan perolehan sifat- sifat yang

diterima anak, maka pertumbuhan fisik seseorang menentukan pengalaman

3. George Levinger berpendapat bahwa remaja mulai mengenal minatnya

terhadap lawan jenisnya, yang biasanya terjadi saat kontak dengan kelompok.

Dalam interaksi dengan kelompok remaja mulai tertarik pada kelompoknya.

Perasaan tertarik atau sifat positif terhadap teman dalam kelompoknya

merupakan dasar bagi perkembangan pribadi yang akrab diantara anggota

kelompok tersebut. Untuk mencapai hubungan yang akrab, maka ada tiga fase

antara lain :

a. Kesadaran untuk berhubungan (uniterally sware)

Kesadaran ini hanya terbatas pada informasi dan impresi (kesan umum)

tentang hal ini berdasarkan penampilan fisik, seperti: wajah, postur tubuh,

dan cara berpakaian.

b. Kontak Permulaan (surface contact)

Pada tahap ini hubungan diantara anggota kelompok frekuensinya rendah

begitu sering dan diantara mereka sudah terjalin komunikasi meskipun

belum intensif.

c. Saling berhubungan

Pada tahap ini terjadi tahap interdependensi diantara dua orang yang

berlainan jenis. Hubungan diantara mereka menjadi akrab melalui saling

tukar pengetahuan, pengalaman, perasaan dan membantu satu sama lain.

Masa remaja dapat ditinjau sejak dimulai seseorang menunjukkan tanda-

tanda pubertas dan berlanjut sehingga dicapainya kematangan seksual, hingga

Ciri- ciri remaja menurut (Sarwono, 2002:15) :

1. Masa remaja sebagai periode yang penting karena akibatnya yang langsung

terhadap sikap dan perilaku. Semua adalah karena perkembangan fisik yang

cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental yang cepat,

terutama pada awal masa remaja.

2. Masa remaja sebagai periode peralihan, artinya apa yang telah terjadi

sebelmnya akan meninggalkan bekasnya pada apa yang terjadi sekarang dan

yang akan datang.

3. Masa remaja sebagai masa identitas. Identitas diri yang dicari remaja berupa

usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat.

4. Masa remaja sebagai periode pertumbuhan, artinya tingkat perubahan dalam

sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik.

5. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa. Dengan semakin mendekatnya

usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan

belasan tahun dan untuk memberikan kesan, bahwa mereka sudah hampir

dewasa.

Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama remaja sejajar dengan

tingkat perubahan fisik. Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi

dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Kalau

perubahan fisik menurun maka perubahan sikap dan perilaku menurun juga. Ada

empat perubahan :

1. Meningginya emosi, yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan

2. Perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial

untuk dipesankan, menimbulkan masalah baru..

3. Dengan berubahnya minat dan pola perilaku, maka nila- nilai juga berubah.

Sebagian besar remaja ambivalen terhadap setip perubahan.

2.5.1 Perilaku Remaja

Remaja sebagai individu yang telah mengalami perkembangan kognitif,

maka cenderung akan merubah perilakunya menuju kematangan pola berfikir.

Pada masa ini remaja cenderung memunculkan tokoh- tokoh panutan dan idola.

Sebagaimana dinyatakan oleh Agoes Dariyo (2004: 68-69),

Mereka umumnya, mengidentifikasi diri pada seorang tokoh yang dianggap idola, maka mereka berupaya bagaimana dirinya mampu menyerupai dengan idolanya. Umumnya tokoh idola yang diidentifikasi merupakan orang- orang terkenal, pandai dan ahli dibidangnya.

Dari kecenderungan untuk meniru idola maka remaja cenderung membentuk

komunitas berdasarkan minat dan kesamaan dengan remaja lain. Sedangkan

faktor- faktor pendorong remaja untuk memiliki tokoh idola adalah sebagai

berikut (Dariyo, 2004:70-71) :

1. Masa remaja sebagai transisi

2. Remaja ingin mengidentifikasi karakteristik tersebut dalam pribadinya

3. Sebagai pelarian dari kehidupan kondisi keluarga (orang tua)

Sedangkan jika ditinjau dari pola perilaku pemikiran, maka aspek pemikiran

1. Remaja cenderung dan dituntut untuk bersikap mandiri dalam tindakannya

di masyarakat.

2. Remaja cenderung kritis.

3. Remaja sering mengajukan argumentasi (argumentativeness).

4. Remaja bersikap ragu- ragu dalam bertindak (indivieness).

5. Remaja sering bersikap munafik (hypocrisy).

6. Remaja memiliki kesadaran diri (self counciousness).

7. Remaja menganggap dirinya kebal terhadap segala sesuatu (assumption of

invulnerability).

2.6 Pengertian Rokok

Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana Tabacum, Nicotiana

Rustica dan spesies lainnya atau sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan.

(www.indonesia.go.id/produk_uu/produk2003/pp19’03.htm)

Selanjutnya Irianto (1996:25) menyebutkan bahwa rokok mengandung  400 senyawa kimia, diantaranya terdapat tiga racun yang paling berbahaya yaitu:

Nikotin, Tar dan Karbon Monoksida.

1.Nikotin

Nikotin merupakan racun yang mempunyai sionida dalam kecepatan kerja, dan

dapat diserap pada semua organ tubuh termasuk kulit. Nikotin ini juga yang

mengurangi nafsu makan dan meningkatkan tekanan darah serta kenaikan

denyut jantung.

2.Tar

Merupakan bentuk dari berbagai campuran bahan kimia dan gas yang

membentuk cairan dan berubah menjadi massa lengket berwarna kecoklatan.

(Soedoko, 1993:19) Bahan tersebut tergolong korsinogen dan dapat

menyebabkan perokok sukar untuk bernafas.

3.Karbon Monoksida (CO)

Karbon monoksida adalah gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berasa

dan gejala keracunannya yaitu: sakit kepala, koma, depresi, dan shock.

Pada saat asap tembakau dihisap karbon monoksida dan nikotin mengalir ke

dalam aliran darah cara yang sama seperti oksigen dan segera dialirkan ke seluruh

tubuh. Unsur- unsur asap tembakau yang tidak dihisap membentuk tar, yang akan

berkumpul didalam alur udara, paru- paru dan gigi.

2.6.1 Perilaku Merokok

Notoatmojo (1993) menjelaskan perilaku manusia merupakan hasil dari berbagai pengalaman dan interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud

dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan kongkrit. Perilaku baru bias terjadi

apabila ada rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu

pula. Oleh karena itu, dapat dijelaskan perilaku adalah merupakan respon individu

Lawrence green dalam Notoatmojo (1993) menyebutkan bahwa perilaku

terbentuk dari tiga faktor:

a) Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi antara lain: pengetahuan (tentang rokok dan bahayanya,

penyakit- penyakit akibat rokok, jenis- jenis rokok, dan batasan perokok

pasif), sikap terhadap orang yang merokok, kepercayaan (berhubungan

dengan agama dan pandangan tentang rokok), dan keyakinan akan

kebenaran informasi yang ada.

b) Faktor Pemungkin

Adanya peluang merokok lebih besar karena mudahnya orang untuk

mendapatkan rokok.

c) Faktor Pendorong

Sikap dan perilaku guru, orang tua, teman dan model yang ada di televisi

terhadap rokok dapat menjadi factor pendorong orang untuk merokok.

(Notoatmojo, 1993:16).

Sedangkan menurut para ahli dari WHO, perilaku seseorang dipengaruhi

beberapa faktor, yakni:

a. Tought and Feeling (pemikiran dan perasaan)

Pemikiran dan perasaan ini meliputi pengetahuan, sikap, persepsi,

kepercayaan- kepercayaan dan penilaian terhadap suatu obyek.

b. Personal References (orang penting sebagai referensi)

Orang penting ini sering disebut dengan kelompok referensi (references

Orang penting ini sering kali membentuk opini dari pengikutnya dan dapat

menjadi contoh bagi seseorang dalam melakukan suatu tindakan tertentu.

c. Resourcess (sumber- sumber)

Sumber- sumber ini meliputi dana, fasilitas, waktu, tenaga, dan sebagainya.

Adanya sumber daya ini biasanya berpengaruh secara positif atau negatif

terhadap tindakan seseorang.

d. Cultur Budaya

Budaya suatu masyarakat sering kali secara patuh akan diikuti oleh anggota

masyarakat tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa menurut WHO, perilaku kesehatan seseorang atau

masyarakat ditentukan atau fungsi dari pemikiran dan perasaan, adanya orang lain

yang dijadikan referensi dan sumber- sumber daya atau fasilitas yang dapat

mendukung perilaku dan kebudayaan masyarakat (Sulistyowati Muji, 2001:8).

Perilaku merokok adalah sesuatu yang fenomenal, meskipun sudah diketahui

dampak negatif yang disebabkan oleh rokok, tapi jumlah perokok bukannya

menurun malah semakin bertambah. Hasil riset Lembaga Menanggulangi Masalah

Merokok melaporkan bahwa anak-anak di Indonesia sudah ada yang merokok

pada usia 9 tahun. Selain itu data dipertegas oleh data WHO yang menyatakan

30% perokok di dunia adalah para remaja.

Menurut Erickson (dalam Gatchel) bahwa remaja mulai merokok karena

berkaitan dengan adanya krisis aspek psikososial yang dialami pada masa

merupakan simbol dari kematangan, kekuatan, kepemimpinan, dan daya tarik

terhadap lawan jenis.

Pada awalnya saat pertama kali merokok, gejala- gejala yang mungkin

terjadi adalah batuk-batuk, lidah terasa getir, perut terasa mual, dan kepala pusing.

Namun, para remaja mengabaikannya, sehingga berlanjut menjadi kebiasaan, dan

akhirnya ketergantungan. Setelah fase ketergantungan, remaja tidak lagi merasa

batuk, lidah terasa getir, perut mual, dan pusing , akan tetapi yang mereka rasakan

adalah sebuah kenikmatan yang memberikan kepuasan pada psikologis. Hal ini

disebabkan adanya nikotin yang bersifat adiktif, sehingga jika dihentikan secara

tiba-tiba akan menimbulkan stres.

Jenis-jenis perokok :

1. Pemula / iseng

adalah mereka yang masih sekedar mencoba-coba atau karena merasa tidak

enak melihat teman-temannya merokok, sehingga ikut-ikutan. Biasanya kelompok

ini adalah ABG. Perilaku merokok hanya untuk menambah atau meningkatkan

kenikmatan yang sudah didapat.

2. Nyambi / musiman

adalah kelompok yang merokok pada waktu-waktu tertentu saja. Hal ini

disebabkan karena faktor pribadi yang sulit mendapat jalan keluar. Perilaku

merokok ini hanya dilakukan sekedarnya untuk menyenangkan perasaan.

3. Menengah

adalah kelanjutan dari pemula, ingin berhenti nanggung karena belajarnya

orang menggunakan rokok untuk mengurangi perasaan negatif, misalnya bila

marah, cemas ataupun gelisah, rokok dianggap sebagai penyelamat.

4. Berat

mempunyai anggapan tiada hari tanpa merokok. Perilaku merokok ini sudah

menjadi kebiasaan karena mereka menggunakan rokok sama sekali bukan karena

untuk mengendalikan perasaan mereka, tetapi karena benar-benar sudah kebiasaan

rutin. Pada tipe orang seperti ini merokok merupakan suatu perilaku yang bersifat

otomatis.

Dalam sepuluh tahun terakhir, konsumsi rokok di Indonesia mengalami

peningkatan sebesar 44,1% dan jumlah perokok mencapai 70% penduduk

Indonesia (Fatmawati, 2006). Kebiasaan merokok dan generasi muda telah banyak

dibicarakan oleh para ahli dari berbagai dunia. Harapan para remaja agar dapat

dianggap dewasa oleh lingkungan sekitarnya melalui merokok perlu mendapat

perhatian yang serius. Remaja merupakan generasi penerus bangsa yang memiliki

potensi untuk berkembang sesuai dengan harapan masyarakat, remaja perlu untuk

memiliki nilai yang tepat bagaimana mereka seharusnya berperilaku (Sarafino

1994). Bertitik tolak dari teori yang dikemukakan Lawrence Green (1980)

perilaku merokok pada remaja khususnya siswa SMA dipengaruhi oleh tingkat

pengetahuan tentang merokok, sikap tentang merokok, peraturan sekolah,

2.7 Kerangka Berpikir

Fenomena merokok di kalangan remaja saat ini merupakan dampak dari

ketidakharmonisan dalam keluarga, pada intinya penyebab ketidakharmonisan

dalam keluarga adalah lemahnya komunikasi interpersonal dalam keluarga

sehingga merusak kekokohan konsentrasi serta keutuhan keluarga tersebut.

Keluarga adalah unit sosial terkecil yang berfungsi untuk membentuk

pribadi serta menanamkan nilai- nilai dan moral- moral yang berlaku pada

masyarakat umum terhadap anak. Selain itu, keluarga juga berfungsi sebagai

penanaman nilai- nilai agama kepada anak agar mereka memiliki pedoman hidup

yang benar.

Fungsi utama keluarga yaitu sosialisasi menempatkan keluarga sebagai

benteng utama penjaga budaya suatu komunitas atau kelompok. Keluarga menjadi

simpul utama untuk mengajarkan nilai dan norma pada anak. Dalam hal ini peran

orangtua sebagai pihak yang seharusnya melindungi anak ternyata tidak berjaalan

dengan semestinya.

Lemahnya komunikasi interpersonal dalam keluarga tidak hanya disebabkan

oleh sikap orangtua terhadap anak, selain faktor dari orangtua remaja juga

mempengaruhi hubungan komunikasi antara orangtua dengan anak. Remaja

merupakan masa “Storm and Drag” yaitu sebagai periode yang berada ditandai

dengan rasa pemberontakan otoritas orangtua.

Merokok merupakan suatu perilaku yang kompleks karena merupakan hasil

interaksi dari aspek kognitif, lingkungan sosial, kondisi psikologis dan fisiologis.

bahaya yang didapat dari merokok. Dari aspek sosial, para perokok mengatakan

bahwa mereka terpengaruh orang-orang lain di sekitarnya. Secara psikologis, perilaku

merokok dilakukan untuk mengurangi ketegangan dan melupakan sejenak masalah

yang dihadapi. Nikotin yang terkandung di dalam rokok dapat bereaksi terhadap

jaringan otak sehingga mampu mengubah perasaan, selera, alertness yang dapat

membuat orang merasa senang (Husin dalam Suara Pembaharuan, Rabu 22 Mei

2002).

Peneliti berusaha memberikan informasi ini secara umum bagi remaja untuk

mencapai seluruh aspek psikologis dapat dilakukan dengan tidak merokok melainkan

dengan hal lain seperti berprestasi. Tetapi perlu diperhatikan pada kepercayan diri dan

pengaruh teman. Untuk meningkatkan kepercayaan diri yang dapat diperoleh melalui

prestasi dalam bidang lain yang lebih baik seperti dalam bidang olah raga dan lebih

mengendalikan diri saat berkumpul dengan teman yang merokok, jika perlu “Say no

to Smoking” serta memiliki ketegasan untuk tidak merokok. Bagi pihak sekolah dapat

memberikan pengetahuan dan pembinaan tentang perilaku merokok serta dampak dari

merokok, sehingga remaja dapat memikirkan kembali jika ingin berparilaku merokok.

Peneliti juga berusaha melihat bagaimana pola komunikasi orangtua dengan

anak perokok di Surabaya, sehingga dapat mengakibatkan permasalahan dalam

Dokumen terkait