Usia 1- 3 tahun Usia 4- 6 tahun
5. Pola Makan Balita
Gambar 1 adalah contoh KMS balita di I ndonesia.
Gambar 1. KMS Balita
5. Pola Makan Balita
a. Pengertian Pola Makan Balita
Pola makan adalah cara yang ditempuh seseorang/ sekelompok orang untuk memilih makanan dan mengkonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologis, psikologis, budaya dan sosial (Suhardjo, 1986: 35). Pengertian pola makan menurut Sri Kerjati (1985) adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang di makan tiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu (Santoso, 2004: 89).
Menurut Dwi Laelatul (2011: 67) pola makan adalah cara seseorang atau sekelompok orang dalam memilih makanan dan mengkonsumsi makanan
55
tersebut sebagai reaksi fisiologis, psikologis, budaya, dan sosial. Pola makanan ini disebut juga pola pangan atau kebiasaan makan. Kebiasaan makan merupakan suatu istilah untuk menggambarkan kebiasaan dalam perilaku yang berhubungan dengan makanan seperti tata krama makan, frekuensi makan seseorang, pola makanan yang dimakan, kepercayaan tentang makanan, distribusi makanan di antara anggota keluarga, penerimaan terhadap makanan (suka dan tidak suka), dan memilih bahan makanan yang akan dimakan. Jadi pola makan merupakan suatu kebiasaan makan yang ada dalam suatu kelompok masyarakat tertentu atau suatu keluarga dalam hal macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan setiap hari.
Jadi dapat disimpulkan, pola makan balita adalah gambaran mengenai kebiasaan makan balita. Pola makan balita biasanya dibedakan menurut umur. Untuk balita di bawah umur satu tahun berbeda dengan balita di atas satu tahun. Balita usia 0-1 tahun masih disebut sebagai bayi, dengan makanan utamanya adalah ASI / PASI dan makanan pendamping ASI atau makanan pelengkap, sedangkan balita usia 1-5 tahun membutuhkan makanan lebih bervariasi. Menurut usia 1-5 tahun pola makan balita dapat dikelompokan sebagai berikut: 1) Pola Makan Bayi 0-1 Tahun
Makanan yang sehat yang harus diberikan kepada balita dibagi 2 golongan, pertama adalah makanan utama Air susu ibu (ASI ) atau penganti susu ibu (PASI ). Penganti susu ibu biasanya digunakan apabila air susu ibu kurang atau tidak ada sama sekali. Bayi usia 1-6 bulan harus diberikan makanan berupa ASI , sedangkan bayi usia 7-12 bulan sudah diberikan
56
makanan tambahan berupa buah-buahan segar, makanan lumat, dan akhirnya makanan lembek.
2) Pola makan balita 1-3 tahun
Pola makan balita usia 1-3 tahun tergantung pada apa makanan yang disediakan oleh ibu, karena pada usia tersebut balita termasuk konsumsi pasif. Gigi geligi susu telah tumbuh, namun belum bisa digunakan untuk mengunyah makanan yang terlalu keras. Sebaiknya anak sudah diarahkan untuk mengikuti pola makan orang dewasa.
3) Pola makan balita 4-5 tahun
Menurut Persatuan Ahli Gizi I ndonesia (2010: 19), pada usia 4-6 tahun anak bersifat konsumen aktif, yaitu mereka telah dapat memilih makanan yang disukai. Anak-anak usia tersebut sudah bisa diberikan pendidikan gizi baik di rumah ataupun di sekolah. Kebiasaan yang baik harus sudah ditanamkan untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka, sehingga anak menyukai makanan yang bergizi. Apabila anak tidak suka, ibu harus lebih kreatif mengolah bahan makanan menjadi sebuah makanan yang menarik bagi anaknya.
b. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Pola Makan Balita
Faktor-faktor yang mempengaruhi pola makan balita menurut Ari I stiany, (2013: 141-144), yaitu ritual makan, nafsu makan, kesukaan makan, frekuensi makan, jenis makan, kemudahan menangani, karakteristik makan, dan keterampilan makan.
57 1) Ritual Makan
Pada usia balita (3-5 tahun) umumnya anak mengalami masalah makanan. Pada usia 9-18 bulan, anak biasanya tidak teratur pada makanan selama beberapa bulan sampai beberapa tahun. Kesukaan khusus terhadap makanan tertentu merupakan hal yang biasa. Suka dan tidak suka terhadap makanan dapat berubah dari hari ke hari atau dari minggu ke minggu. Sebagai contoh anak hanya menyukai makanan tertentu seperti telur rebus sebagai snack selama 1 minggu kemudian sama sekali menolaknya.
2) Nafsu Makan
Selama periode balita, nafsu makan anak tidak menentukan dan tidak bisa diduga. Anak dapat makan dengan lahap pada suatu waktu, tetapi menolak pada waktu makan berikutnya. Makan malam pada umumnya paling banyak ditolak anak. Walaupun napsu makan menurut dan konsumsi makanan tidak menentu, namun anak usia balita menyukai makanan yang disiapkan dan dihidangkan secara menarik, sehingga anak mengonsumsi makanan yang mengandung zat-zat gizi sesuai kebutuhanya.
3) Kesukaan Makan
Pada umunya anak balita menyukai makanan kaya karbohidrat yang mudah dikunyah, seperti sereal, roti, biskuit, kreker, kue kecil (cookies), susu dan hasil olahannya, buah, sari buah, dan makanan–makanan manis. Anak– anak menunjukkan kegembiraannya apabila dalam keadaan tenang dan lapar diberi makanan dengan suhu, bentuk dan ukuran yang sesuai tanpa tekanan orang tua atau pengasuh.
58 4) Frekuensi Makan
Sebagian besar anak usia 3-5 tahun makan lebih dari tiga kali sehari. Frekuensi makan kelihatannya tidak berhubungan dengan asupan zat gizi, kecuali apabila anak mengkonsumsi makanan kurang dari empat kali atau lebih dari empat kali sehari. Asupan energi kalsium, protein, vitamin C dan anak balita yang makan kurang dari empat kali sehari, lebih sedikit asupan zat gizinya dibandingkan rata-rata asupan anak lain sebaya yang makan empat kali sehari atau lebih.
5) Jenis Makan
Balita lebih menyukai makanan dalam bentuk sederhana, tidak banyak bumbu, dan diberikan pada suhu ruang. Makanan yang baik untuk balita antara lain dalam bentuk sup, telur dadar, atau telur ceplok, semur, dan pudding. Berikan makanan dengan warna menarik misalnya wortel dan tomat. 6) Kemudahan Menangani
Makanan hendaknya mudah dimakan dengan tangan anak balita yang belum yang belum terlatih dan masih kaku. Makanan dapat disajikan sedemikian rupa sehingga anak dapat memakanya dengan tangan, misalnya telur rebus dibagi empat , daging dipotong kecil dan wortel rebus dipotong sedemikian rupa sehingga dapat dipegang anak, contohnya pepaya, pisang, dan mangga dipotong-potong dalam ukuran yang dapat dipegang anak. Sebagian besar makanan hendaknya disajikan dalam bentuk potongan sekali gigit.
59 7) Karakteristik Makanan
Ada tiga karakteristik makanan yang mempengaruhi pengembangan rasa, penerimaan, dan keterampilan makan sendiri. Ketiga aspek ini adalah tekstur, aroma (flavour), dan berat porsi.
a) Tekstur
Sebaiknya anak balita diberi makanan lunak yang mudah dikunyah, dan makanan renyah yang memberi kenikmatan pada anak saat mendengarnya bunyi sewaktu mengunyah. Sebaiknya daging diberikan dalam bentuk digiling, seperti dalam semur bola-bola daging.
b) Aroma
Pada umumnya anak menolak makanan yang diberikan oleh ibu. Sebaiknya makanan yang disajikan diberikan beberapa aroma untuk menarik peratian balita.
c) Besar Porsi
Anak biasanya menolak makanan dalam porsi besar. Lebih baik makanan diberikan dalam porsi kecil, yang kemudian dapat ditambah bila anak menginginkanya.
8) Keterampilan Makan
Laju pertumbuhan fisik anak juga terefleksi pada perkembangan keterampilannya untuk makan sendiri.