BAB II KERANGKA TEORI
A. Pola Pembinaan Supervisor
Magelang pada tahun 2017?
b. Bagaimana cara supervisor menilai kinerja guru PAI SD di Kota
Magelang pada tahun 2017?
c. Apa saja metode pembelajaran yang sering dipakai oleh guru PAI SD di
Kota Magelang pada tahun 2017?
C. Signifikansi Penelitian
Penelitian tentang pola pembinaan dan penilaian supervisor terhadap kinerja guru PAI SD dan penggunaan metode pembelajaran oleh guru PAI SD ini sangat penting dilakukan karena sejumlah tujuan dan kegunaan yaitu:
1. Tujuan penelitian
Adapun tujuan penelitian ini mengacu pada rumusan masalah yaitu untuk mengetahui:
a. Pola pembinaan supervisor terhadap guru PAI di Kota Magelang pada
tahun 2017.
b. Cara supervisor dalam menilai kinerja guru PAI SD di Kota Magelang
pada tahun 2017.
c. Metode pembelajaran yang dipakai oleh guru PAI SD di Kota Magelang
pada tahun 2017.
2. Kegunaan Penelitian
Kegunaan atau manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
Penelitian ini diharapkan mampu menambah khasanah ilmu pendidikan khususnya yang berkaitan dengan pembinaan dan penilaian supervisor terhadap kinerja guru PAI SD serta macam-macam metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PAI SD.
b. Kegunaan praktis
1) Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi yang
positif bagi guru PAI SD se-Kota Magelang dalam upaya meningkatkan kinerja guru agar guru lebih memahami pola pembinaan pengawas sehingga guru menjadi lebih kreatif dalam menggunakan metode pembelajaran.
2) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan
supervisor/pengawas dalam mengadakan pembinaan dan penilaian terhadap kinerja guru sehingga pengawas dapat meningkatkan mutu pembinaannya.
D. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka berisikan penelitian terdahulu. Penelitian terdahulu dimaksudkan sebagai salah satu kebutuhan ilmiah yang berfungsi untuk membatasi dan membedakan dengan penelitian sebelumnya serta menghindari terjadinya pengulangan. Pembahasan yang pokok dalam penelitian ini adalah mengenai Pola Pembinaan dan Penilaian Supervisor terhadap Kinerja Guru PAI SD dalam Menerapkan Metode Pembelajaran (Studi Kasus Guru PAI SD
Se-Kota Magelang Tahun 2017) ditemukan beberapa penelitian yang relevan antara lain:
Muhammad Abdullah dengan tesisnya yang berjudul Peran Pengawas
Pendidikan Agama Islam (PPAI) dalam Pembinaan Guru Di Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Hasil penelitian bahwa terdapat peran positif yang signifikan antara Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI) Dalam Pembinaan Guru di Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan, semakin sering
pengawas mengadakan pembinaan maka akan semakin baik kinerja guru PAI.9
Sukanti dalam tesisnya yang berjudul Peran Penilaian Kinerja Guru dalam Pengembangan Profesi Pendidik berpendapat bahwa tujuan utama penilaian kinerja guru adalah untuk menguji kompetensi dan untuk mengembangkan profesi. Pengawas menilai kinerja guru berdasarkan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial dengan indikator: (1) ketaatan dalam menjalankan ajaran agama, (2) tanggungjawab, (3) kejujuran, (4) kedisiplinan, (5) keteladanan, (6) etos kerja, (7) inovasi dan kreativitas, (8) kemampuan menerima kritik dan saran, (9) kemampuan berkomunikasi, (10)
kemampuan bekerja sama.10
Diana Elviya dan Desi Nurhikmayanti dalam jurnal Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol.4 yang berjudul Peran Pengawas Sekolah dalam Penilaian Kinerja Guru di SDN Sukowati Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik. Hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa peran pengawas sekolah dalam
9 Muhammad Abdullah, “Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI) Dalam Pembinaan Guru Di Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan”, Tesis, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2012, 60.
10 Sukanti, “Peran Penilaian Kinerja Guru Dalam Pengembangan Profesi Pendidik”, Jurnal Pendidikan, Volume 3, Nomor 1 (2010), 5-7.
penilaian kinerja guru di SDN Sukowati Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik yaitu memantau, melakukan penilaian, yang melakukan penilaian terhadap guru adalah kepala sekolah. Pengawas juga memotivasi guru untuk
meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dalam merencanakan,
melaksanakan, dan membuat evaluasi program kegiatan pembelajaran untuk
menjadi lebih baik lagi dan profesional saat proses pembelajaran.11
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Ikhsan Santosa tentang kinerja guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut: (a) Pengaruh dan kontribusi pengawasan pengawas sekolah terhadap kinerja guru.; (b) Pengaruh dan kontribusi motivasi berprestasi guru terhadap kinerja guru.; (c) Hubungan pengawasan pengawas dan motivasi berprestasi guru.; (d) Pengaruh dan kontribusi pengawasan pengawas sekolah dan motivasi berprestasi guru secara bersama-sama terhadap kinerja guru. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey, analisis korelasi dan analisis regresi linear. Penelitian ini dilakukan di Madrasah Aliyah Negeri yang berada di Kabupaten Kuningan antara lain MAN Cigugur, MAN Ciawigebang dan MAN Luragung. Penarikan sample sebanyak 52 guru dilakukan dengan teknik acak proporsional serta pengajuan hipotesis dilakukan pada taraf signifikansi (kepercayaan) 0,05. Implikasi penelitian ini adalah untuk memperbaiki kinerja guru Madrasah Aliyah Negeri di Kabupaten Kuningan dapat dilakukan dengan cara meningkatkan pengawasan pengawas sekolah dan menumbuhkan motivasi
11 Diana Elviya dan Desi Nurhikmayanti, “Peran Pengawas Sekolah dalam Penilaian Kinerja Guru di SDN Sukowati Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik”, Jurnal Inspirasi Manajemen Pendidikan, Volume 4, Nomor 2 (2014), 49-60.
berprestasi guru.12 Perbedaan dengan penelitian ini adalah pada variabel pengawas, adapun penulis meneliti tentang pembinaan supervisor. Selain itu, satuan tingkat pendidikan penelitian ini adalah Madrasah Aliyah, sedang penulis meneliti pada tingkat Sekolah Dasar.
Penelitian tentang metode pembelajaran dilakukan oleh Erny Susilowati dalam tulisannya yang berjudul Penggunaan Metode Pembelajaran Drill Sebagai Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Akuntansi. Pengujian validitas data yang diperoleh menggunakan triangulasi data dan triangulasi metode, sedangkan analisis data menggunakan analisis deskriptif komparatif, analisis kuantitatif-kualitatif. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran drill dapat meningkatkan prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS 1 SMA
Negeri Kebakkramat.13
Dari kelima penelitian di atas terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang penulis susun. Persamaannya adalah pada bagian pembinaan dan penilaian kinerja guru. Perbedaannya penelitian yang penulis lakukan bukan untuk mengetahui seberapa sering pengawas/supervisor melakukan pembinaan namun untuk mengetahui bagaimana pola pembinaan yang supervisor lakukan terhadap guru PAI SD di Kota Magelang untuk meningkatkan kemampuan guru dalam penguasaan metode pembelajaran.
12Ikhsan Santosa, “Pengaruh Pengawasan Pengawas dan Motivasi Berprestasi Guru terhadap Kinerja Guru Madrasah Aliyah Negeri di Kabupaten Kuningan”, Tesis pada Program Pascasarjana
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Cirebon Tahun 2009.
13 Erny Susilowati, “Penggunaan Metode Pembelajaran Drill Sebagai Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Akuntansi”,Jurnal Pendidikan UNS, Volume 1, Nomor 1 (2013), 1-3.
Penulis juga ingin mengetahui setelah dibina, bagaimana penilaian supervisor terhadap kinerja guru dan guru dalam menggunakan metode pembelajaran sudahkah bervariasi dan sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran yang diajarkannya.
E. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (Field Reseach).
Penelitian lapangan merupakan penelitian kualitatif, dimana peneliti mengamati dan berpartisipasi secara langsung dalam penelitian.
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan Deskriptif
Naturalistik karena penelitiannya dilakukan dalam kondisi alamiah (Natural
Setting). Sumber datanya adalah situasi wajar sebagaimana adanya. Peneliti menurut Sugiyono adalah instrument kunci yang mampu menggali data
dengan observasi partisipan dan wawancara.14
3. Lokasi dan Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi seluruh SD negeri dan swasta di Kota Magelang. Pelaksanaan penelitian adalah mulai tanggal 15 Mei 2017 sampai dengan 30 Agustus 2017.
14 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), Bandung: Alfabeta, 2014, 41.
4. Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data adalah dengan melalui dokumentasi,
observasi, dan wawancara dengan para partisipan.15 Adapun teknik/strategi
penelitian kualitatif yang peneliti lakukan adalah dengan studi kasus yang merupakan strategi penelitian dimana di dalamnya peneliti menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu.16
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:
a. Teknik wawancara
Wawancara dilakukan kepada pengawas PAI SD untuk memperoleh data tentang pembinaan dan penilaian kinerja guru. Wawancara juga dilakukan kepada guru PAI SD untuk mengetahui metode pembelajaran yang guru gunakan dalam mengajar.
b. Teknik pengamatan/observasi
Observasi dilakukan untuk mengamati kegiatan pembinaan supervisor dan kegiatan guru dalam penggunaan metode pembelajaran.
c. Teknik Dokumentasi
Dokumentasi menurut Sugiyono merupakan pelengkap dalam penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian
kualitatif.17 Dokumentasi dalam penelitian ini adalah program kerja
15John W. Creswell, Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, 261.
16John W. Creswell, Research…, 20.
kegiatan pembinaan supervisor dan penilaian kinerja guru serta foto-foto dalam kegiatan pembelajaran guru.
5. Sampel sumber data
Sampel adalah bagian dari populasi yang diambil sebagai sumber
data yang dapat mewakili seluruh populasi.18 Dalam penelitian kualitatif,
sampel sumber data dipilih secara purposive dan bersifat snowball sampling.
Penentuan sampel sumber data, pada proposal masih bersifat sementara, dan
akan berkembang kemudian setelah peneliti di lapangan.19 Sampel sumber
data pada tahap awal memasuki lapangan dipilih orang yang memiliki power dan otoritas pada situasi sosial atau obyek yang diteliti, sehingga mampu “membukakan pintu” kemana saja peneliti akan melakukan pengumpulan data.
Dengan demikian sampel pada penelitian ini adalah 3 (tiga) orang pengawas guru PAI SD dari 3 kecamatan yang ada di Kota Magelang dan guru-guru PAI SD yang ada di Kota Magelang yang pengambilan sampelnya dengan teknik snowball sampling. Peneliti mewawancarai 35 guru yang terdiri dari 25 guru negeri dan 10 guru swasta atau wiyata bakti yang berasal dari 35 sekolah yang ada di Kota Magelang, jadi jika guru yang diwawancarai belum menggunakan metode yang bervariasi maka akan berpindah ke guru lain sampai menemukan guru yang menggunakan.
18 Riduan, Metode dan Teknik Menyusun Proposal Penelitian, Bandung : Alfabeta, 2015, 95.
F. Metode Analisis Data
Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis hasil observasi dan wawancara untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang fenomena yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi yang
lain.20 Adapun analisis data pada penelitian ini mengikuti model Miles dan
Huberman yang dikutip oleh Sugiyono.21 Analisis data dalam penelitian ini
dilakukan saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Aktifitas dalam analisis data ini dilakukan secara terus menerus sampai tuntas sehingga datanya sudah jenuh.
Langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Menelaah data yang berhasil dikumpulkan dari hasil observasi, wawancara
dan dokumentasi.
b. Mengadakan reduksi data dengan cara mengambil data yang dapat diolah
lebih lanjut.
c. Menyusun data dalam satuan-satuan yang relevan.
d. Melakukan kategorisasi sambil melakukan pengkodean (coding)
e. Mengadakan pemeriksaan keabsahan data
20Noeng Muhadjir, Metode Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996, 71.
f. Menafsirkan data dan mengambil kesimpulan secara induktif dengan cara berfikir berdasarkan fakta-fakta khusus, kemudian diarahkan kepada
penarikan kesimpulan yang bersifat umum.22
G. Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan tesis ini agar mudah dipahami maka penulis menyusun sistematika penulisan yang terdiri dari 5 bab. Setiap bab terdiri dari beberapa sub bab. Untuk lebih jelasnya penulis kemukakan garis besar dari masing-masing bab sebagai berikut :
1. Bagian Awal
Bagian awal ini terdiri dari: Halaman Judul, Abstrak, Halaman Pengesahan, Pernyataan Keaslian Tesis, Halaman Persembahan, Motto, Kata Pengantar, Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar, dan Daftar Lampiran.
2. Bagian Isi
Bab I, Pendahuluan, yang terdiri atas: Latar Belakang, Rumusan Masalah, Signifikansi Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian, Metode Analisis Data dan Sistematika Penulisan.
Bab II Kerangka Teori, yang terdiri atas: (a) Pola Pembinaan supervisor (b) Penilaian kinerja guru (c) Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PAI SD
Bab III Hasil Penelitian yang terdiri atas: profil wilayah Kota Magelang dan gambaran umum pengawas PAI SD dan Guru PAI SD yang ada di
Kota Magelang serta program-program pembinaan supervisor, penilaian kinerja guru, dan metode-metode yang digunakan oleh guru PAI SD di Kota Magelang
Bab IV Analisis Data yang terdiri atas jawaban bagaimana pola pembinaan
dan penilaian supervisor terhadap kinerja guru dalam menggunakan
metode pembelajaran.
Bab V Penutup. Dalam bab ini penulis mengemukakan beberapa kesimpulan dan saran-saran dari hasil penelitian.
3. Bagian Akhir
Pada bagian akhir berisi tentang: Daftar Pustaka, Lampiran-lampiran, Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian, dan Daftar Riwayat Hidup.
BAB II
KERANGKA TEORI
A. Pola Pembinaan Supervisor
Menurut Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, pembinaan adalah usaha yang dijalankan untuk memajukan dan meningkatkan mutu tenaga personalia yang berada dalam lingkungan sekolah baik tenaga edukatif maupun tenaga
administrative.23
Pembinaan guru dimaksudkan untuk merangsang, memelihara, dan
meningkatkan kualitas staf dengan memecahkan masalah-masalah
keorganisasian. Substansi kajian dan konteks pembelajaran selalu berubah menurut dimensi ruang dan waktu, maka guru dituntut untuk selalu
meningkatkan kompetensinya.24
Inovasi dalam pendidikan juga berdampak pada pengembangan guru. Ada beberapa pola pembinaan atau model pengembangan guru yang sengaja dirancang untuk menghadapi pembaharuan pendidikan. Candall mengemukakan model-model efektif pengembangan kemampuan profesional guru, yaitu model mentoring, model ilmu terapan, atau model “dari ke praktek”, dan model inkuiri atau model reflektif. Berikut penjelasan model-model tersebut antara lain:
23 Suharsimi Arikunto & Lia Yuliana, Manajemen…, 179.
24 M. Hosnan, Etika Profesi Pendidik Pembinaan dan Pemantapan Kinerja Guuru, Kepala Sekolah, serta Pengawas Sekolah, Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2016, 237.
1) Model mentoring adalah model dimana berpengalaman merilis pengetahuannya atau melakukan aktifitas mentor pada guru yang kurang berpengalaman.
2) Model ilmu terapan berupa perpaduan antara hasil-hasil riset yang relevan
dengan kebutuhan-kebutuhan praktis.
3) Model inkuiri yaitu pendekatan yang berbasis pada guru-guru, para guru
harus aktif menjadi peneliti, seperti membaca, bertukar pendapat, melakukan observasi, melakukan analisis kritis, dan merefleksikan pengalaman praktis
mereka sekaligus meningkatkannya. 25
Supervisi dibidang pendidikan adalah suatu proses bimbingan dari pihak yang berkompeten kepada guru-guru dan personalia sekolah lainnya yang langsung menangani belajar siswa untuk memperbaiki situasi belajar mengajar
agar siswa dapat belajar secara efektif untuk meningkatkan prestasi belajar.26
Menurut Carl Glickman, Supervision is the function in schools that draws
together the discrete elements of instructional effectiveness into whole-school action.27 Pengawasan yang dilakukan oleh supervisor merupakan tindakan untuk mengetahui efektifitas pembelajaran yang dilakukan guru di sekolah-sekolah.
Menurut Allan A. Glatthorn, supervision is a comprehensive set of services
provided and processes used to help teachers facilitate their own professional development so that the goals of the school district or the school might be better
25 M. Hosnan, Etika…, 238.
26 Ahmad Azhari, Supervisi, Rencana Program Pembelajaran, Jakarta : Rian Putra, 2004, 1.
27 Carl D. Glickman, Stephen P. Gordon, Jovita M., & Ross-Gordon, The Basic Guide to Supervision and Instructional Leadership, Second Edition, Boston: Pearson Education, Inc, 2009, 8.
attained.28 Pengawasan merupakan seperangkat layanan yang diberikan kepada guru dan proses yang digunakan untuk membantu guru mengembangkan diri menjadi guru yang profesional sehingga tujuan dari pendidikan di sekolah dapat tercapai.
Supervisi merupakan pengawasan terhadap kegiatan akademik yang berupa proses belajar mengajar, pengawasan terhadap guru dalam mengajar, pengawasan terhadap siswa yang belajar, dan pengawasan terhadap situasi yang menyebabkannya. Aktivitasnya dilakukan dengan mengidentifikasi kelemahan-kelemahan pembelajaran untuk diperbaiki. Apa yang menjadi penyebabnya dan mengapa guru tidak berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Berdasarkan hal tersebut kemudian diadakan tindak lanjut yang berupa perbaikan dalam bentuk pembinaan. Pembinaan merupakan sebuah pelayanan terhadap guru
dalam rangka memperbaiki kinerjanya.29
Supervisi pendidikan adalah segala bantuan dari supervisor dan atau pemimpin/kepala sekolah untuk memperbaiki manajemen pengelolaan sekolah dan meningkatkan kinerja guru dalam menjalankan tugas, fungsi dan
kewajibannya sehingga tujuan pendidikan dapat dicapai dengan optimal.30
Orang yang berada di balik kegiatan supervisi disebut supervisor. Tugas utamanya adalah menyediakan bantuan dan dukungan bagi pertumbuhan
28 Allan A. Glatthorn, Supervisory Leadership Introduction to Instructional Supervision, New York: Harper Collins Publisers, 1990, 84.
29Dadang Suhardan, Supervisi Profesional. Layanan dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otonomi Daerah, Bandung : Alfabeta, 2014, 36.
30 Jasmani Asf & Syaiful Mustofa, Supervisi Pendidikan Terobosan Baru dalam Peningkatan Kinerja Pengawas Sekolah dan Guru, Jakarta: Ar Ruzz Media, 2013, 27.
profesional guru.31 “The job of supervisor is to provide assistance, support, and profesional development opportunities. Teacher respond to professional norms, and their performance becomes more expansive.”32 Jadi tugas supervisor adalah untuk membantu guru, mengadakan pembinaan, memberikan dukungan kepada guru supaya guru lebih profesional dalam bekerja.
Menurut Sally J. Zepeda, supervisors are teachers of teachers-of adult
professionals with learning needs as varied as those of students in their classrooms.33 Jadi supervisor adalah gurunya guru yang akan membantu guru dalam meningkatkan kemampuan mengajar guru di kelas.
“Supervisor yaitu orang yang melakukan kegiatan supervisi. Ia mungkin seorang pengawas umum pendidikan, atau kepala sekolah yang karena peranannya sebagai pemimpin mempunyai tanggung jawab tentang mutu program pengajaran di sekolahnya, atau seorang petugas khusus yang diangkat untuk memimpin perbaikan suatu bidang pengajaran tertentu.”34
Menurut Matt Modrcin dalam buku karya Dadang, Supervisor memiliki empat fungsi penting yang harus diperankan dalam setiap tugasnya yaitu:
(1) Administratif function merupakan fungsi pengawasan umum terhadap kualitas kinerja guru dalam membelajarkan peserta didiknya.
(2) Evaluation process merupakan usaha para supervisor “menilai” siapa dan guru mana yang ketika menjalankan tugasnya memiliki benih keunggulan
31 Dadang Suhardan, Supervisi…, 53.
32 Sergiovanni Thomas, & Starratt, R, Supervision A Redefinition, New York: Mc Graw Hill, 1993, 31.
33 Sally J. Zepeda, Instructional Supervision Applying Tools and Concept, New York: Richard H. Adin Freelance Editorial Services, 2003, 1.
34 Oteng Sutisna, Administrasi Pendidikan, Dasar Teoritis Untuk Praktek Profesional, Bandung: Angkasa, 1983, 237.
yang dapat dikembangkan. Data dan informasi hasil evaluasi berguna untuk pembinaan mutu pendidikan selanjutnya.
(3) The Teaching Function menyediakan informasi baru yang relevan dengan tugas dan kebutuhan baru yang harus dilaksanakan guru kemudian menyampaikan dalam pembinaan.
(4) The Role of Consultant merupakan bagian terpenting dari fungsi seorang supervisor. Sebagai seorang konsultan ia harus cakap dan trampil dalam memberikan bantuan dalam memecahkan berbagai kesulitan yang dihadapi
guru dalam menjalankan tugas utamanya.35
Berdasarkan teori-teori di atas pembinaan kepada guru perlu dilakukan oleh supervisor supaya dapat memajukan dan meningkatkan mutu guru serta dapat meningkatkan kompetensi guru. Adapun pola pembinaan yang dapat dilakukan oleh supervisor dapat menggunakan berbagai model yang ada yaitu model mentoring, model ilmu terapan, dan model inkuiri. Dengan digunakannya berbagai model pembinaan oleh supervisor tersebut, diharapkan guru dapat memahami materi yang disampaikan oleh supervisor. Jadi seorang supervisor berperan penting dalam meningkatkan profesionalisme guru karena tugas dan fungsi supervisor adalah mengadakan pembinaan, memberikan bantuan dan dukungan untuk guru supaya guru dapat meningkat kemampuan dan kompetensinya. Maka seorang supervisor dalam melakukan pembinaan kepada guru dapat menggunakan berbagai pola/model yang ada. Model-model tersebut dapat digunakan supervisor sesuai dengan kebutuhan.