• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola 10 Penyakit Terbanyak di Rumah Sakit

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN

INDIKATOR DERAJAT KESEHATAN

2. Pola 10 Penyakit Terbanyak di Rumah Sakit

3 4 5 6 7 8 9 10 Ispa

Rheumatik Arthritis Akut Gastritis Akut

Penyakit Kulit Alergi Myalgia

Diare

Penyakit Tekanan Darah Tinggi Penyakit Kulit Infeksi

Penyakit Infeksi Usus Malaria Klinis 661.441 103.772 94.973 70.456 70.084 57.799 56.559 54.470 44.017 37.543 52,87 8,29 7,59 5,63 5,60 4,62 4,52 4,35 3,52 3,00 T O T A L 1.251.114 100,0

Sumber : Profil Kabupaten/kota Tahun 2012

2. Pola 10 Penyakit Terbanyak di Rumah Sakit

Sedangkan pola 10 (sepuluh) penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit tahun 2012 dapat dilihat pada Tabel 3.3 berikut ini.

TABEL 3.3

POLA 10 PENYAKIT TERBANYAK DI RUMAH SAKIT PADA PASIEN RAWAT JALAN PROVINSI NUSA TENGARA TIMUR

TAHUN 2012

NO GOLONGAN SEBAB SAKIT JUMLAH KASUS %

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Diare Gastritis Malaria Falsiparum TB Paru Klinis Pneumonia Febris Konvulsi Hypertensi TB Paru BTA (+) Dispepsia Typhoid 3.221 2.120 1.774 1.234 1.200 779 587 556 414 357 26,31 17,32 14,49 10,08 9,80 6,36 4,79 4,54 3,38 2,92 T O T A L 12.242 100,0

Sumber : Profil Kabupaten/kota dan Laporan Bidang Yanmedik tahun 2012

Data dari tabel 3.2 di atas menunjukkan bahwa penyakit Diare masih merupakan penyakit terbanyak yang ditemukan pada pasien rawat jalan baik di puskesmas maupun rumah sakit.

Berikut ini akan diuraikan situasi beberapa penyakit menular yang perlu mendapatkan perhatian, termasuk situasi penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), penyakit potensial KLB/wabah dan situasi penyakit menular.

REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai 39 3. Penyakit Menular

Penyakit menular yang disajikan dalam bagian ini antara lain AFP, TB Paru, Pneumoni, HIV/AIDS, Diare, Kusta, Dipteri, Pertusis, Tetanus Neonatorum (TN), Campak, Polio, Hepatitis B, DBD, Malaria dan Filariasis.

a. Penyakit TBC/TB Paru

TBC atau dikenal juga dengan Tuberkulosis adalah merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh basil tahan asam disingkat BTA nama lengkapnya Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitment global dalam MDGs.

Hampir 10 tahun lamanya Indonesia menempati urutan ke-3 dunia dalam hal jumlah penderita tuberkulosis (TB). Baru pada tahun 2009 turun ke peringkat ke-5 dan masuk dalam

milestone atau pencapaian kinerja 1 tahun Kementerian Kesehatan. Berdasarkan Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2007 menyatakan jumlah penderita Tuberkulosis di Indonesia sekitar 528 ribu atau berada di posisi tiga di dunia setelah India dan Cina. Dan laporan WHO pada tahun 2009, mencatat peringkat Indonesia menurun ke posisi lima dengan jumlah penderita TBC sebesar 429 ribu orang. Lima negara dengan jumlah terbesar kasus insiden pada tahun 2009 adalah India, Cina, Afrika Selatan, Nigeria dan Indonesia (sumber WHO Global Tuberculosis Control 2010). "Tentu saja kasus TB masih banyak, tapi perbaikan peringkat ini merupakan sebuah pencapaian,"

ungkap Menkes (Alm.) Endang Rahayu Sedyaningsih dalam evaluasi kinerja 1 tahun Kementerian Kesehatan di gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat (22/10/2010). Dan pada Global Report WHO 2010, didapat data TB Indonesia, Total seluruh kasus TB tahun 2009 sebanyak 294.731 kasus, dimana 169.213 adalah kasus TB baru BTA positif, 108.616 adalah kasus TB BTA negatif, 11.215 adalah kasus TB Extra Paru, 3.709 adalah kasus TB Kambuh, dan 1.978 adalah kasus pengobatan ulang diluar kasus kambuh (retreatment, excl relaps). Sementara itu, untuk keberhasilan pengobatan dari tahun 2003 sampai tahun 2008 (dalam %), tahun 2003 (87%), tahun 2004 (90%), tahun 2005 sampai 2008 semuanya sama (91%).

Pada tawal tahun 1995 WHO telah merekomendasikan strategi DOTS (Derectly Observed

Treatment Short-course) sebagai strategi penanggulangan secara ekonomis paling efektif (cost

efective), yang terdiri dari 5 (lima) elemen kunci : 1) Komitmen politis; 2)Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya; 3) Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan; 4) Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu; 5) Sistem Pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan.

Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR), yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah. Kementerian Kesehatan menetapkan target tersebut sebesar 73%.

REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai 41

Berdasarkan data yang masuk dari Kab/Kota pada tahun 2011 jumlah kasus TB Paru dengan BTA (+) sebanyak 4.173 kasus, diobati sebanyak 886 kasus dengan kesembuhan mencapai 719 atau 81,2% berarti angka kesembuhan TB Paru BTA (+) masih di bawah target,dimana target yang ingin dicapai tahun 2011 adalah sebesar 85%, dan Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate) Prov. NTT Tahun 2011 sebesar 41,5%. Sedangkan pada tahun 2012 jumlah kasus TB paru BTA (+) sebanyak 3.961 kasus, yang diobati selama tahun 2012 tercatat sebanyak 4.295 kasus dengan kesembuhan sebesar 2.806 atau 65,3% dan ini artinya angka kesembuhan TB Paru BTA (+) berada di bawah target yang ingin dicapai tahun 2012 yakni sebesar 86%. Di bawah ini dapat dilihat gambaran per Kab/Kota, sedangkan jumlah Kasus TB Paru (+) per Kab/Kota pada tahun 2012 dapat dilihat pada lampiran tabel 11 dan Gambar 3.6.

0 20 40 60 80 100 GAMBAR 3.6

CAKUPAN CASE DETECTION RATE (CDR) TB DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2012

Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2012

Dari gambar 3.6 di atas dapat dilihat bahwa CDR tertinggi ada di Kabupaten Belu yaitu sebesar 84,8% sedangkan terendah adalah Kab. Sumba Barat Daya yaitu sebesar 3,2%. Terdapat 3 (tiga) kabupaten yang mencapai target persentase angka penemuan penderita TB Paru BTA (+) tahun 2012 Provinsi NTT (62%) yakni Kab. Belu (84,8%), Sumba Timur (66,2%) dan Sumba Tengah (66,1%).

REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai 43

Dalam mengukur keberhasilan pengobatan TB digunakan indikator persentase sembuh dan angka keberhasilan pengobatan (SR=Success Rate) dengan target 86%. Pada tahun 2012 SR sebesar 82,0%, dengan persentase sembuh sebesar 65,3% dan persentase pengobatan lengkap sebesar 16,7%. Succes Rate ini mengindikasikan persentase pasien baru TB paru BTA + yang menyelesaikan pengobatan, baik yang sembuh maupun yang menjalani pengobatan lengkap diantara pasien baru TB paru BTA (+) yang tercatat. Gambar 3.7 menampilkan SR tahun 2012.

GAMBAR 3.7

SUCCESS RATE (SR) TB DI PROVINSI NTT TAHUN 2012

Berdasarkan gambar 3.7 di atas, Kabupaten dengan SR mencapai 100% adalah Kab. Sumba Tengah, Nagekeo dan TTS.

b. Penyakit Pneumonia

Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia juga Case Rate AIDS dapat terjadi akibat kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).

Pola 10 (sepuluh) penyakit terbanyak di rumah sakit umum daerah maupun data survei (SDKI dan Surkesnas) menunjukkan tingginya kasus ISPA. Penyakit ISPA juga masih merupakan penyebab utama pada kematian bayi dan balita di Nusa Tenggara Timur (Surkesnas 2001). Diketahui bahwa (80% - 90%) dari seluruh kasus kematian ISPA disebabkan Pneumoni dan merupakan penyakit yang akut dan kualitas penatalaksanaannya belum memadai.

Sementara laporan dari Profil Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT menunjukkan cakupan penemuan Pneumonia pada Balita mengalami fluktuasi dari tahun 2007 – 2012. Pada tahun 2007 sebanyak 16.159 kasus dan pada tahun 2008 sebanyak 11.248 dan meningkat lagi pada tahun 2009 menjadi 11.886 kasus, pada tahun 2010 meningkat menjadi 13.131, dan pada tahun 2011 sebesar 7.048 kasus, sedangkan pada tahun 2012 meningkat menjadi 8.554 kasus (19,2%). Gambaran

REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai 45 Cakupan Penemuan dan Penangan Pneumonia pada balita ini dapat dilihat pada Lampiran Tabel 13 dan Gambar 3.8 berikut ini :

GAMBAR 3.8

CAKUPAN PENEMUAN DAN PENANGANAN PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT KAB/KOTA DI PROVINSI NTT TAHUN 2012

Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2012

Dari gambar tersebut di atas Kabupaten/Kota dengan jumlah penderita pneumonia balita yang ditemukan dan ditangani tertinggi di Kabupaten Flores Timur sebanyak 1.455 kasus (90,0%) sedangkan terendah di Kabupaten Sabu Raijua sebanyak 13 kasus (1,6%) dan Kab. Manggarai Barat.

c. Penyakit Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS)

HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Human

Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dahulu dinyatakan sebagai HIV positif. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode, yaitu pada layanan

Voluntary, Counseling and Testing (VCT).

HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai 47

Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang

hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

Perkembangan penyakit HIV/AIDS terus menunjukkan peningkatan meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan. Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah, menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di Provinsi NTT, meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman dan meningkatnya penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) melalui suntikan, secara simultan telah memperbesar tingkat risiko penyebaran HIV/AIDS.

Jumlah penderita HIV/AIDS dapat digambarkan sebagai fenomena gunung es (iceberg

phenomena) yaitu jumlah penderita yang dilaporkan jauh lebih kecil daripada jumlah penderita yang sebenarnya. Di Provinsi NTT jumlah penderita HIV/AIDS yang sebenarnya belum diketahui dengan pasti.

Jumlah kasus AIDS mengalami fluktuasi dari tahun 2006 sebanyak 123 kasus, meningkat pada tahun 2007 sebanyak 323 dan menurun pada tahun 2008 sebanyak 178 kasus dan meningkat lagi pada tahun 2009 sebanyak 475 kasus, sedangkan tahun 2010 meningkat lagi menjadi 702 kasus. Pada tahun 2011 kasus baru HIV sebanyak 247 kasus dan AIDS sebanyak 234. Sedangkan

0 20 40 60 80 100

pada tahun 2012 kasus baru HIV sebanyak 261 kasus dan kasus baru AIDS sebanyak 257 kasus, dengan jumlah kematian sebanyak 84 kasus. Kasus baru terbanyak ada di Kab. Belu, menyusul Lembata dan Sikka. Gambaran kasus baru AIDS pada tahun 2012 dapat dilihat pada Lampiran Tabel 14 dan Gambar 3.9 di bawah ini.

GAMBAR 3.9

JUMLAH KASUS BARU AIDS DI PROVINSI NTT TAHUN 2012

Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2012

d. Diare

Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Seseorang dikatakan menderita Diare bila jumlah feses lebih besar dari

REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai 49 biasanya, atau bila buang air besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar yang berair tetapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam.

Berdasarkan laporan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota perkiraan kasus Diare Provinsi NTT tahun 2011 berjumlah 200.721 kasus, yang ditangani sebanyak 111.046 kasus atau sebesar 55,3%. Pada tahun 2012, perkiraan kasus diare berjumlah 206.216 kasus, yang ditangani sebanyak 106.193 kasus atau sebesar 51,5%. Gambaran kasus diare yang ditangani dapat dilihat pada lampiran tabel 16.

e. Penyakit Kusta

Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan Kusta menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf dan anggota gerak dan mata. Diagnosa kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut : a) Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa; b) Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan kelemahan/kelumpuhan otot; c) Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA positif).

Pada tahun tahun 2008-2012 dilaporkan bahwa kasus Kusta ini mengalami fluktuasi, pada tahun 2008 sebanyak 193 kasus, tahun 2009 meningkat menjadi 476 kasus, tahun 2010 sedikit menurun menjadi 442 kasus, pada tahun 2011 kembali menurun menjadi 343 kasus dan pada tahun 2012 mengalami peningkatan menjadi 486 kasus seperti yang terlihat pada tabel di bawah.

TABEL 3.4

JUMLAH PENDERITA BARU KUSTA MENURUT TIPE

DAN ANGKA PENEMUAN PENDERITA (CDR) PER 100.000 PENDUDUK DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR, TAHUN 2008 – 2012

Tahun Jumlah penderita kusta CDR/100.000

Penduduk Tipe MB Tipe PB Semua Tipe

2008 159 34 193 4,4

2009 337 139 476 10,3

2010 330 112 442 9,4

2011 243 100 343 7,2

2012 402 84 486 9,9

CDR=Case Detection Rate, MB=Multi Basiler, PB=Pausi Basiler Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2012

Berikut ini disajikan kecenderungan kasus baru Kusta tipe PB dan MB menurut Kabupaten Kota dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

REVOLUSI KIA NTT : Semua Ibu Hamil Melahirkan di Fasilitas Kesehatan yang Memadai 51 0 20 40 60 80 100 GAMBAR 3.10 PENDERITA BARU KUSTA

MENURUT KAB/KOTA DI PROVINSI NTT TAHUN 2012

Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2012

Dari gambar tersebut dapat kita lihat bahwa penderita baru Kusta yang paling banyak di Kab. Flores Timur yaitu sebesar 75 kasus, menyusul Kupang 74 kasus. Perincian data jumlah penderita baru kusta dapat dilihat pada lampiran Tabel 17, dan kusta selesai berobat pada lampiran Tabel 20.

Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan menetapkan 2 (dua) kelompok beban Kusta yaitu Provinsi dengan beban Kusta tinggi (high endemic) jika Newly

Case Detection Rate (NCDR) ≥ 10 per 100.000 penduduk dan Kusta rendah (low endemic) jika NCDR ≤ 10 per 100.000 penduduk. NTT NCDR nya sebesar 7,13 berarti masuk kriteria low

endemic.

4. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

Dokumen terkait