• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

3. Pola Penyebaran Informasi

tingkat nasional dan lokal sebagaimana yang disebutkan dalam Sendai Framework For Disaster Risk Reduction Tahun 2015 – 2030 point c yang berbunyi :

“Develop, update periodically anddisseminate, as appropriate, location -based disaster risk information, including risk maps, to decision makers, the general public and communities at risk to disaster in an appropriate format by using, as applicable, geospatial information technology”

Yang maksudnya bahwa salah satu yang harus diprioritaskan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam kegiatan penanggulangan bencana adalah mengembangkan, memperbaharui dan menyebarluaskan secara berkala, informasi risiko bencana berdasarkan lokasi, termasuk peta risiko kepada pembuat kebijakan, masyarakat umum dan komunitas terkait risiko bencana. Hal ini dimaksudkan agar tujuan utama kegiatan pengurangan resiko bencana yaitu membangun ketangguhan bangsa dapat tercapai.

Diseminasi merupakan sinonim dari kata penyebaran. Jadi pengertian diseminasi informasi adalah penyebaran informasi kepada masyarakat yang dapat dilakukan melalui berbagai jenis media, baik media cetak maupun media lainnya. Kegiatan ini juga dapat dilakukan melalui pelatihan, seminar, simulasi dan lain sebagainya.

Wilson (2010) mengatakan “ dissemination is a planned process that involves consideration of target audience and the setting in which research finding are tobe received”. Dari pengertian Wilson ini dapat dikatakan bahwa desiminasi berarti proses penyebaran yang direncanakan, diarahkan dan dikelola. Proses penyebaran informasi yang direncanakan bertujuan agar penyebaran informasi yang dilakukan berjalan efektif.

Berlangsungnya penyebaran informasi yang efektif memerlukan syarat-syarat yang harus dipenuhi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Sastropoetro (1990) yaitu :

1. Pesan yang disebarluaskan haruslah disusun secara jelas, mantap dan singkat agar mudah ditangkap. Perlu dipahami bahwa tiap orang memiliki daya tangkap yang berbeda, dengan demikian penyebar pesan haruslah menyusun pesan menurut perhitungan yang dapat ditangkap oleh orang lain atau sebagian besar orang yang berkepentingan.

2. Lambang-lambang yang digunakan haruslah dapat dipahami, dimengerti oleh mereka yang menjadi sasaran.

3. Pesan yang disampaikan atau disebarkan hendaknya dapat menimbulkan minat, perhatian, dan keinginan pada sipenerima pesan untuk melakukan sesuatu.

4. Pesan-pesan yang disampaikan atau disebarkan hendaknya menimbulkan keinginan untuk memecahkan masalah, sekiranya ada masalah..

Penyebarluasan informasi mempunyai tujuan penting bahwa program pembangunan yang disampaikan dapat diterima oleh kelompok sasaran yang dituju. Oleh karena itu penyebaran informasi harus memperhatikan hal-hal yang mempengaruhi penerimaan suatu informasi.

Menurut Ruben dalam Cangara (2014) ada empat faktor yang mempengaruhi khalayak dalam menerima suatu informasi, yaitu:

1. Penerima:

a. keterampiIan berkomunikasi b. kebutuhan

c. tujuan yang diinginkan

d. sikap, nilai, kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan e. kemampuan untuk menerima

f. kegunaan pesan 2. Pesan:

a. tipe dan model pesan

b. karakteristik dan fungsi pesan c. struktur pengelolaan pesan d. kebaharuan (aktualitas) pesan 3. Sumber:

a. kredibilitas dan kompensasi dalam bidang yang disampaikan b. kedekatan dengan penerima

c. motivasi dan perhatian

d. kesamaan dengan penerima (homopily) e. cara penyampaiannya

f. daya tarik 4. Media:

a. tersedianya media

b. kehandalan (daya liput) media c. kebiasaan menggunakan media d. tempat dan situasi

Titik awal dari penyebaran informasi terletak pada pihak pengirim.

Suatu kelaziman adalah bahwa awal suatu proses penyebaran ditandai pada saat pembuatan publikasi mulai dilakukan, ketika informasi itu mulai bisa diperoleh setiap orang melalui saluran-saluran komunikasi yang ada

Proses aliran informasi dalam komunikasi adalah merupakan proses yang rumit. Apa yang dikemukakan dalam struktur dapat saja bukan yang sebenarnya terjadi. Efisiensi bahkan dapat tergantung pada aliran informasi, tapi bukan satu-satunya pertimbangan. Sekalipun demikian, aliran informasi dalam penyebaran informasi melalui pola komunikasi yang tepat dipastikan dapat membantu dalam penyebaran informasi tersebut.

Menurut Guetzkow (1965) dalam Wayne (2005) aliran informasi (penyebaran pesan) dalam organisasi dapat terjadi dalam tiga cara :

1. Serempak, yaitu proses penyebaran informasi (pesan) yang disampaikan secara bersamaan dalam suatu waktu dengan objek sasaran yang banyak. Hanya melibatkan sumber pesan dan penerima pesan sebagai tujuan akhir. Biasanya berupa kegiatan tatap muka diruang dan waktu yang sama. Proses penyebaran informasi secara serentak dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 2. Penyebaran Pesan Serentak Sumber : Wayne (2005)

2. Berurutan yaitu informasi disampaikan secara berurutan dari satu orang ke orang lain secara tidak bersamaan. Haney (1962) dalam Wayne (2005) mengemukakan bahwa penyampaian pesan berurutan merupakan bentuk komunikasi yang utama, yang pasti terjadi dalam organisasi, meliputi perluasan bentuk penyebaran diadik. Dalam hal ini setiap individu penerima pesan pertama mula-mula menginterpretasikan pesan pesan yang diterimanya dan kemudian meneruskan hasil interpretasinya kepada orang berikutnya dalam rangkaian tersebut. Prosesnya dapat dilihat pada gambar berikut :

SUMBER

PESAN

TUJUAN

Gambar 3. Penyebaran Pesan Berurutan Sumber : Wayne (2005)

3. Serentak-berurutan yaitu kombinasi kedua pola aliran yang telah disebutkan sebelumnya.

SUMBER

PESAN

TUJUAN

0

Dan adapula model penyebaran informasi yang dikemukakan oleh Katz dan Lazarsfeld yang lazim disebut dengan two step flow model of communication (model komunikasi dua tahap), menjelaskan tentang proses pengaruh penyebaran informasi melalui media massa kepada khalayak (Sendjaja,1998). Menurut model ini, penyebaran dan pengaruh informasi yang disampaikan melalui media massa kepada khalayaknya tidak terjadi secara langsung (satu tahap), melainkan melalui perantara seperti misalnya pemuka pendapat (opinion leaders). Dengan demikian proses pengaruh penyebaran informasi melalui media massa terjadi dalam dua tahap: pertama, informasi mengalir dari media massa kepada pemuka pendapat; kedua, dari pemuka pendapat ke sejumlah orang yang menjadi pengikutnya. ModeI ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Keterangan: 1,2,3,4 Pemuka pendapat 0 = Para individu yang mempunyai pendapat

Gambar 4. Model Komunikasi Dua Tahap (Sumber :Sendjaja,1998)

Asumsi-asumsi yang mendasari model komunikasi dua tahap ini adalah:

1. Warga masyarakat pada dasarnya tidak hidup terisolasi, melainkan aktif berinteraksi satu sama lainnya dan menjadi anggota dari satu atau beberapakelompok sosial.

2. Tanggapan dan reaksi terhadap pesan-pesan media massa tidak terjadi secara langsung dan segera, tetapi melalui perantara yakni hubungan-hubungan sosial.

3. Para pemuka pendapat umumnya merupakan sekelompok orang yang aktif menggunakan media massa serta berperan sebagai sumber dan rujukan informasi yang berpengaruh.

Studi-studi yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa di kebanyakan negara berkembang, proses penyebaran informasi melalui media massa ke khalayak luas memang cenderung mengikuti pola komunikasi dua tahap. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, para ahli menemukan bahwa terdapat variasi dalam proses penyebaran informasi. Pola penyebaran informasi tidak selamanya berjalan secara dua tahap, tetapi dapat juga hanya satu tahap, atau lebih dan dua tahap, tergantung dan kondisi individu khalayaknya. Model ini kemudian disebut sebagai multi step flow communications atau komunikasi banyak tahap (Schramm (1973) dalam Sendjaja,1998).

Bagi kebanyakan orang di kota-kota besar dan berlatar belakang sosial dan ekonomi relatif tinggi, penyebaran informasi dari media massa kepada mereka umumnya berjalan secara langsung atau satu tahap (one step flow communications). Sementara bagi orang-orang yang berada di daerah pedesaan dengan latar belakang sosial dan ekonomi yang relatif rendah, proses penyebaran informasi dan media massa tidak berjalan secara langsung, tetapi mengalami beberapa tahap. Misalnya dari media massa, kepada teman dan tetangga yang punya akses terhadap media, baru kepada dirinya, kemudian dikonfirmasikan kepada pemuka pendapat.

Atau, dari media massa, ke pemuka pendapat, kepada teman atau tetangga, baru ke dirinya. Dengan demikian, dalam hal pengaruh penyebaran informasi melalui media massa banyak faktor yang menjadi

“perantara” (intervening variables).

Penyebaran informasi merupakan bagian dari komunikasi. Dan sebagai sebuah sistem, maka gangguan komunikasi bisa terjadi pada semua elemen atau unsur-unsur yang membangunnya. Menurut Shannon dan Weaver dalam Cangara (2014) gangguan komunikasi terjadi jika terdapat intervensi terhadap salah satu komponen komunikasi, sehingga proses komuniksi tidak dapat berlangsung secara efektif. Sedangkan rintangan komunikasi dimaksudkan yakni adanya hambatan yang membuat proses komunikasi tidak berlangsung sebagaimana harapan komunikator dan penerima.

Meski gangguan dan rintangan komunikasi dapat dibedakan tapi sebenarnya rintangan komunikasi bisa juga terjadi disebabkan adanya gangguan. Gangguan atau rintangan komunikasi pada dasarnya dapat dibedakan atas delapan macam (Cangara,2014:40-41), yakni:

a. Gangguan teknis

Gangguan teknis terjadi jika salah satu alat yang digunakan dalam berkomunikasi mengalami gangguan sehingga informasi yang ditransmisi melalui saluran mengalami kerusakan (chanel noise).

Misalnya gangguan pada radio dan televisi, gangguan jaringan telepon, sound system radio yang terganggu sehingga suaranya tidak jelas dan sebagainya.

b. Gangguan semantik

Gangguan semantik adalah gangguan komunikasi yang disebabkan karena adaanya kesalahan pada bahasa yang digunakan (Blake, 1979) dalam Cangara (2014)), gangguan semantik sering terjadi karena:

1. Kata kata yang digunakan terlalu banyak memakai jargon bahasa asing sehingga sulit dimengerti oleh masyarakat tertentu

2. Bahasa yang digunakan pembicara berbeda dengan bahasa yang digunakan penerima.

3. Struktur bahasa yang digunakan tidak sebagaimana mestinya, sehingga membingungkan penerima.

4. Latar belakang budaya yang menyebabkan terjadinya salah persepsi terhadap simbol simbol bahasa yang digunakan.

c. Gangguan psikologis

Gangguan psikologi adalah gangguan yang terjadi karena adanya persoalan yang timbul dalam diri individu. Misalnya perasaan curiga penerima kepada sumber, situasi berduka atau karena gangguan kejiwaan sehingga dalam pengiriman dan penerimaan informasi tidak sempurna.

d. Rintangan fisik dan organik

Rintangan fisik adalah rintangan yang disebabkan oleh kondisi geografis. Misalnya tempat yang dan terpencil sehingga susah dijangkau, tidak ada signal, jalur transfortasi yang sulit dan semacamnya. Dalam komunikasi antarmanusia rintangan fisik juga bisa diartikan adanya gangguan organik pada fisik manusia.

Misalnya salah satu panca indera si penerima tidak berfungsi karena buta, tuli atau bisu.

e. Rintangan status

Rintangan status adalah rintangan yang disebabkan oleh jarak sosial peserta komunikasi. Misalnya perbedaan status antara senior dan junior atau antara bawahan dan atasan. Perbedaan seperti ini biasanya menuntut perilaku komunikasi yang selalu memperhitungkan kondisi dan etika yang sudah membudaya dalam

masyarakat, yakni bawahan cenderung hormat pada atasannya, atau rakyat pada raja yang memimpinnya.

f. Rintangan kerangka berfikir

Rintangan kerangka berfikir adalah rintangan yang disebabkan adanya perbedaan persepsi antara komunikator dan khalayak. Ini disebabkan karena latar belakang pengalaman dan pendidikan yang berbeda.

g. Rintangan budaya

Rintangan budaya adalah rintangan yang terjadi disebabkan oleh adanya perbedaan norma, nilai dan kebudayaan yang dianut oleh pihak pihak yang berkomunikasi. Di negara-negara sedang berkembang orang cenderung menerima informasi dari sumber yang banyak memiliki kesamaan dengan dirinya seperti kesamaan bahasa, agama dan kebiasaan kebiasaan lainnya.

h. Rintangan birokrasi

Rintangan birokrasi adalah terhambatnya suatu proses kominikasi yang disebabkan oleh struktur organisasi. Dalam organisasi pemerintahan atau perusahaan yang begitu besar seringkali terjadi kendala, yakni penyampaian informasi dari pimpinan puncak (top manager) tidak sampai pada karyawan ditingkat eselon bawah hal ini bisa disebabkan karena proses penyampaiannya melalui jenjang birokrasi yang terlalu panjang.

Dokumen terkait