BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
ANALISIS PENGARUH KEBERADAAN JALAN LINGKAR
5.4 Pola Perembetan Fisik Kota Padangsidimpuan
Pola perembetan fisik kota (urban development pattern) di Kota Padangsidimpuan terjadi secara linear memanjang Utara-Selatan kota. Pola ini menunjukkan tidak meratanya pengembangan kota ke semua bagian sisi-sisi luar pusat kota. Setidaknya pola ideal pengembangan kota Padangsidimpuan dapat berupa
“kipas” karena bagian Utara kota merupakan daerah pegunungan/berbukit. Saat ini perembetan paling cepat terjadi di sepanjang jalur transportasi utama yang
Faktor
memanjang Utara-Selatan kota. Kawasan-kawasan di sepanjang rute transportasi utama merupakan tekanan paling berat dari perkembangan kota. Hal ini menimbulkan disparitas harga lahan pada kawasan-kawasan tersebut dengan kawasan lain yang terletak jauh dari poros jalur transportasi/jalan utama tersebut. Ketidakseimbangan ini pada gilirannya akan memojokkan petani akibat kegiatan konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian.
Semakin banyak penduduk yang berorientasi pada sektor non agraris, maka mengurangi potensi lahan untuk berproduksi maksimal, serta makin mendorong petani untuk menjual lahan dan meninggalkan kegiatan pertanian, atau membeli lahan yang lebih luas ke arah pinggiran kota.
Selain itu di kota Padangsidimpuan juga terjadi pola perkembangan kota yang meloncat (leap frog development). Hal ini ditandai banyaknya muncul kawasan-kawasan permukiman skala besar yaitu Perumahan Nasional (Perumnas) Pijor Koling, Perumahan Sopo Indah, Perumahan Batunadua Indah, Perumahan Sidimpuan Indah, Perumahan Sidimpuan Baru, Perumahan Griya Sarina Regency, Perumahan Arya Gundi, Perumahan Sidimpuan Lestari, Perumahan Polisi Republik Indonsia (POLRI), Perumahan Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Darat (TNI-AD), serta terdapat juga Perumahan Kredit Perumahan Rakyat-Bank Tabungan Negara (KPR-BTN).
Pada Gambar 5.19, dan 5.20 dapat dilihat perkembangan horizontal Kota Padangsidimpuan pada Jalan Abdul Haris Nasution. Pada Gambar 5.21 dapat dilihat lokasi Komplek Perumahan di Kota Padangsidimpuan.
Gambar 5.19 Perkembangan Horizontal Kota Padangsidimpuan pada Jalan Abdul Haris Nasution Tahun 2000-2010
Sumber: Hasil Analisa, Wawancara dan Pengamatan Lapangan Tahun 2010
Gambar 5.20 Perkembangan Horizontal Kota Padangsidimpuan Pada Jln. Abdul Haris Nasution Kondisi Tahun 2010
Sumber: Hasil Analisa, Wawancara dan Pengamatan Lapangan Tahun 2010
Gambar 5.21 Lokasi Komplek Perumahan di Kota Padangsidimpuan Kondisi 2010 Sumber: Hasil Analisa Tahun 2010
PERUMAHA
Dapat diindikasikan penyebab dari hal ini adalah pola penguasaan lahan yang tidak merata, serta kegiatan spekulasi lahan pada kawasan-kawasan kosong untuk keperluan pembangunan fisik bagi developer baik itu pemerintah maupun swasta.
Kondisi seperti ini dinilai sangat merugikan, tidak efisien dari sudut ekonomi, dan tidak mempunyai nilai estetika.
Perkembangan lahan kota yang berpencaran secara sporadis dan tumbuh ditengah-tengah lahan non terbangun (pertanian) ini menyulitkan pemerintah kota dalam membangun utilitas dan fasilitas yang dibutuhkan penduduk kota pada kawasan-kawasan tersebut. Pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur sangat tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang akan dilayani.
Pertumbuhan penduduk ke arah Utara dan Timur kota Padangsidimpuan yang relatif lebih besar dibanding kawasan lainnya mengindikasikan terjadinya pertumbuhan fisik kota secara ekstensifikasi (menjalar ke arah luar pusat kota).
Diketahui rata-rata pertumbuhan penduduk di kawasan pusat kota (Kecamatan Padangsidimpuan Utara dan Selatan 1,54%) adalah jauh lebih besar bila dibandingkan dengan kecamatan lainnya.
Sedangkan pertumbuhan penduduk di kawasan pinggiran (fringe areas) yakni Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua (1,16%), Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru (1,17%) dan Kecamatan Padangsidimpuan Angkola Julu (1,17%) jauh dibawah rata-rata pertumbuhan penduduk kota Padangsidimpuan sebesar 1,54%.
Penyebaran penduduk saat ini mencerminkan bahwa distribusi penduduk tidak merata, yakni terkonsentrasi pada pusat kota yaitu pada Kecamatan Padangsidimpuan
Utara dan Padangsidimpuan Selatan. Sehingga menimbulkan ketidak seimbangan perkembangan wilayah dan ketidakmerataan pelayanan fasilitas. Keadaan ini ditambah dengan pola menjari dari pola pemukiman yang ada (yaitu mengikuti jaringan jalan utama).
Pada Tabel 5.2 terlihat jumlah penduduk Kota Padangsidimpuan menurut kecamatan yang dapat didata pada tahun 2004 sampai dengan 2008.
Tabel 5.2 Penduduk Kota Padangsidimpuan Menurut Kecamatan Tahun 2004-2008
2 PADANGSIDIMPUAN SELATAN 56.079 57.205 58.612 59.660 60.746 3 PADANGSIDIMPUAN
BATUNADUA 18.266 15.983 16.376 16.668 16.971
4 PADANGSIDIMPUAN UTARA 53.995 55.080 56.435 57.447 58.492 5 PADANGSIDIMPUAN
HUTAIMBARU 19.122 15.121 15.493 15.771 16.058
6 PADANGSIDIMPUAN ANGKOLA
JULU - 7.035 7.208 7.339 7.472
KOTA PADANGSIDIMPUAN 174.004 177.499 181.595 185.132 188.499
Sumber: BPS Kota Padangsidimpuan
Oleh karena itu kebijaksanaan kependudukan perlu diatur sesuai dengan tujuan penataan ruang dengan mempertimbangkan kondisi eksisting dan kondisi yang akan dicapai pada masa mendatang.
Pemerintah Kota Padangsidimpuan dalam hal ini telah melakukan rencana pendistribusian penduduk sebagaimana terdapat pada RTRW Kota Padangsidimpuan tahun 2004.
Rencana Distribusi kepadatan Penduduk Kota Padangsidimpuan dapat dilihat pada Gambar 5.22.
Gambar 5.22 Rencana Distribusi Kepadatan Penduduk Kota Padangsidimpuan Sumber: RTRW Kota Padangsidimpuan, 2004
5.5 Analisis Faktor-Faktor Perkembangan Fisik Kota 5.5.1 Analisis perkembangan kota
Untuk menciptakan suatu kota yang baik dan serasi, salah satu factor yang harus diperhatikan adalah kondisi fisik wilayahnya. Kendala-kendala fisik wilayah kota perlu mendapat perhatian sehingga terjadi keserasian antara lingkungan binaan dan alam. Permasalahan perkembangan fisik yang dihadapi oleh Kota Padangsidimpuan tentunya dipengaruhi oleh kondisi fisik internal dan eksternal kawasan tersebut.
Adapun hasil identifikasi permasalahan fisik di Kota Padangsidimpuan diperlihatkan pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3 Permasalan Fisik Kota Padangsidimpuan
FAKTOR PERMASALAHAN
Internal (Kelemahan)
- Keberadaan kawasan pertanian/sawah yang tidak dapat dialihfungsikan (terutama sawah beririgasi teknis).
- Kawasan sempadan sungai,mata air,dan hutan lindung (gunung) yang tidak dapat dikembangkan sebagai kawasan budidaya.
- Daerah yang berada pada kemiringan lereng di atas 15%
membatasi perkembangan pembangunan kota.
Eksternal (Tantangan)
- Dekat dengan Kota Sibolga sebagai Pusat Kegiatan Kawasan Pantai Barat.
- Kemungkinan terjadinya alih fungsi guna lahan cukup tinggi (pertanian ke peruntukan non pertanian, permukiman ke peruntukan non permukiman.
Sumber: RTRW Kota Padangsidimpuan Tahun 2004
Perubahan dan perkembangan kota, terutama disebabkan oleh pertambahan penduduk, alam, dan budaya, sehingga akibat faktor-faktor ini terjadi perubahan dan perkembangan fisik kota Padangsidimpuan. Perubahan dan perkembangan kota tentu
saja mempunyai cara atau mekanisme perkembangan, sehingga berkembangnya ke suatu arah apakah akibat dari prasarana dasar perkotaan atau ada faktor lain yang menjadikan daerah tersebut sebagai daerah pengembangan.
Berikut ini dapat diuraikan 1 (satu) titik amatan sebagai gambaran terjadinya perkembangan fisik kota Padangsidimpuan sejak tahun 2000 sampai dengan tahun 2010. Adapun titik amatan dimaksud adalah yang terdapat disepanjang Jalan Abdul Haris Nasution (Outer ring road) sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 5.23.
Gambar 5.23 Jalan Lingkar Luar (Outer Ring Road) Kota Padangsidimpuan Yang diberi nama Jalan Jend. Abdul Haris Nasution
Sumber: Screen clipping taken: 18/02/2010; 22:10
Potensi fisik tata ruang Kota Padangsidimpuan dapat ditinjau dari factor internal dan eksternal. Factor Internal adalah hal-hal yang berasal dari dalam yang menguntungkan dalam pengembangan wilayah, sedangkan faktor eksternal sifatnya datang dari luar wilayah yang menguntungkan. Untuk lebih jelasnya mengenai potensi fisik tata ruang Kota Padangsidimpuan (Tabel 5.4).
Tabel 5.4 Potensi Fisik Tata Ruang Kota Padangsidimpuan
FAKTOR POTENSI
Internal (Kekuatan)
- Ketersediaan Infrastruktur yang sudah memadai.
- Fasilitas jasa dan perdagangan sekala regional.
- Ketersediaan lahan untuk kawasan pengembangan masih luas.
- Perkembangan kawasan Permukiman dan Perkotaan yang sangat pesat.
- Fasilitas Sosial seperti Pendidikan, Kesehatan dan Peribadatan sudah memadai.
Eksternal (Peluang)
- Berada pada jalur Lintas Nasional
- Merupakan salah satu Kota terbesar yang terdapat pada kawasan Pantai Barat Sumatera Utara.
- Merupakan Kota terseluas yang terdapat pada kawasan andalan Tapanuli dan sekitarnya.
Sumber: RTRW Kota Padangsidimpuan Tahun 2004
5.5.2 Faktor penduduk
Penduduk sebagai salah satu komponen pembangunan memiliki dua sisi yang sangat penting, di satu sisi sebagai subyek pembangunan dan di sisi lain sebagai obyek pembangunan. Pertumbuhan penduduk Kota Padangsidimpuan secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh daerah sekitarnya. Kota Padangsidimpuan mengalami pertumbuhan penduduk rata-rata 1,54% pertahun selama periode 2000–2009 (Gambar 5.24).
Gambar 5.24 Pertumbuhan Penduduk Kota Tahun 2000 – 2009 Sumber: BPS Kota Padangsidimpuan
Peningkatan jumlah penduduk akan berpengaruh terhadap perubahan penggunaan lahan baik untuk permukiman, kawasan hijau kota ataupun peruntukan lainnya. Juga jumlah penduduk di suatu wilayah pada dasarnya merupakan faktor utama pembangkit kebutuhan perjalanan sehingga konsekuensinya prasarana dan sarana transportasi yang ada perlu ditambah. Seringkali permasalahan tidak selesai hanya dengan penambahan terhadap sistem yang ada, sebab setiap pembangunan prasarana transportasi baru biasanya memberi dampak terhadap komponen- komponen perkotaan. Kebijaksanaan kepadatan penduduk ini lebih rendah klasifikasinya dibandingkan dengan kepadatan penduduk kota pada umumnya. Hal ini didasarkan pada luasnya lahan non terbangun dan kepadatan bangunan yang masih tergolong rendah untuk sebagian besar wilayah kota.