• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola Perjalanan Wisata dan Motivasi Perjalanan

BAB II KAJIAN TEORI DAN KONSEPTUAL

2.3 Wisatawan dan Produk Wisata

2.3.6 Pola Perjalanan Wisata dan Motivasi Perjalanan

Pada umummya, pola perjalanan wisata dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain:

a. Berdasarkan Cara Melakukan

Secara rombongan, dalam ikatan dengan paket wisata tertentu, dikenal sebagai GIT (Grouped Inclusive Travel) yaitu seluruh kebutuhan perjalanan (jadual, destinasi, tiket, hotel dan lain-lain)

BAB 2 – KAJIAN TEORI DAN KONSEPTUAL 27

diatur sesuai program (itinerary) paket yang dipilihnya. Perjalanan perorangan, baik sendiri maupun kelompok kecil mandiri. Wisatawan mengatur sendiri seluruh kebutuhan perjalanannya, baik jadwal maupun destinasinya, dan bebas dari ikatan paket wisata. Pola perjalanan ini dikenal dengan FIT (Free Individual Travel). Meskipun demikian, kelompok ini juga sering menggunakan jasa biro perjalanan dalam hal pemesanan tiket atau kamar hotel.

b. Jarak Perjalanan

Jarak dekat (short-haul), pada umumnya dinilai dari lamanya penerbangan yang ditempuh. Pada pola perjalanan ini memiliki jarak yang dekat yaitu tidak lebih dari 3 jam. Berbeda dengan ketentuan yang berlaku secara internasional, short-haul untuk penerbangan domestik pada umumnya ditetapkan tidak lebih dari 1,5 jam yaitu dengan jarak sekitar 500 mil (± 800 Km). Jarak menengah (medium-haul), dinilai dari lama penerbangan antara 3-6 jam. Jarak jauh (long-haul), meliputi penerbangan lebih dari 6 jam, yang umunya menggunakan pesawat berbadan lebar, yang mampu terbang minimal 6-7 jam. Saat ini, banyak pesawat yang dioperasikan oleh airlines secara non-stop dalam waktu 11-13 jam penerbangan.

BAB 2 – KAJIAN TEORI DAN KONSEPTUAL 28

c. Moda Transportasi

Transportasi di permukaan bumi (surface transport), baik di darat maupun di laut dan/atau kombinasi antara laut (kapal pesiar/cruise) dan darat, serta transportasi udara (air transport)

Motivasi perjalanan seseorang terbentuk karena adanya kebutuhan dan/ atau keinginan manusia itu sendiri, sesuai dengan teori hierarki kebutuhan Maslow. Kebutuhan tersebut dimulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan prestige dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang terbentuknya dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, seperti norma sosial, pengaruh atau tekanan keluarga dan situasi kerja yang terinternalisasi dan kemudian berkembang menjadi kebutuhan psikologis.

McKercher, B. and H. du Cros (2003) mengajukan model tipologi wisatawan menggunakan sentralitas tujuan dan banyaknya pengalaman. Model tipologi pariwisata ini lebih lanjut meng-identifikasi variasi variabel perjalanan, demografi, pengalaman, motivasi, sikap dan pembelajaran yang lebih luas.

BAB 2 – KAJIAN TEORI DAN KONSEPTUAL 29

Gambar 2.3 Tipologi Wisatawan

Sumber: McKercher, B. and H. du Cros (2003)

Wisatawan dapat melakukan perjalanan karena berbagai alasan selain untuk rekreasi dan olahraga. Orang yang bepergian ke kota terdekat untuk perawatan medis dan wisatawan bisnis di luar negeri negara adalah wisatawan. Mereka dapat mengambil bagian dalam kegiatan karakteristik pariwisata selama kunjungan misalnya: mereka akan membutuhkan akomodasi dan makanan. Mereka dapat mengunjungi tempat-tempat menarik atau sampel budaya lokal. Mereka mungkin bahkan membeli kenang-kenangan untuk mengingatkan dari perjalanannya. Semua ini kegiatan dapat digambarkan sebagai perilaku wisatawan, meskipun alasan untuk perjalanan mungkin agak berbeda.

BAB 2 – KAJIAN TEORI DAN KONSEPTUAL 30

Menurut Honner & Swarbrooke (2007) faktor-faktor yang menentukan pengambilan keputusan destinasi wisata dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor-faktor yang menentukan apakah konsumen akan bisa mengambil liburan atau tidak dan faktor-faktor yang menentukan jenis tipe perjalanan dan pengalaman apabila liburan wisata diambil oleh mereka. Kemudian dari dua jenis faktor tersebut mereka membagi lagi menjadi faktor-faktor yang bersifat personal bagi seorang wisatawan dan faktor-faktor yang bersifat eksternal bagi wisatawan.

Gambar 2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Wisata

BAB 2 – KAJIAN TEORI DAN KONSEPTUAL 31

Goeldner & Ritchie (2012) juga menambahkan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pemilihan destinasi wisata dengan memasukkan elemen-elemen fasilitas utama dan pendukung pariwisata, seperti akomodasi, makanan dan minuman, hotel dan lain sebagainya. Mereka juga menambahkan bahwa transportasi serta akses jalan juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pemilihan destinasi wisata, karena beberapa segmen ada yang tidak menyukai tempat-tempat yang sulit untuk ditempuh, walaupun beberapa dari mereka juga ada yang menyukai tantangan. Selain faktor-faktor diatas harga paket wisata dan event-event/hiburan-hiburan berbasis pariwisata dan teknologi pendukung semisal internet dan teknologi informasi juga mendapat perhatian dari wisatawan dalam penentuan destinasi wisata.

METODOLOGI

3.1. Alur Pikir

Dalam kajian ini menggunakan pendekatan dengan alur pikir sebagai berikut:

Diagram 3.1 Alur Pikir Analisis Belanja Wisatawan DIY

Berdasarkan diagram tersebut input dari kajian ini adalah berasal struktur dan pola pengeluaran wisatawan nusantara, struktur dan pola

BAB

III

BAB 3 – METODOLOGI 33

pengeluaran wisatawan mancanegara serta tinjauan RIPPARDA DIY tahun 2012–2025. Dari input tersebut akan dilakukan analisis menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan data melalui survey, studi literatur dan hasil olah data cross tab. Adapun output dari kegiatan ini ialah pola belanja wisatawan, analisis permintaan dan rekomendasi strategi dan program dalam rangka meningkatkan volume pembelanjaan wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara.

Untuk mendapatkan data tersebut tentunya menggunakan kuesioner dengan ruang lingkup pada tabel berikut.

Tabel 3.1 Ruang Lingkup Dimensi Kuesioner Analisis Belanja Wisatawan DIY

No Kebutuhan Data

Lingkup Kebutuhan Data

Wisatawan Nusantara Wisatawan Mancanegara

1 Profil 1. Asal daerah 2. Jenis Kelamin 3. Usia 4. Pendidikan 5. Pekerjaan 6. Jumlah pendapatan 7. Tujuan berwisata 1. Kebangsaan 2. Jenis Kelamin 3. Usia 4. Pendidikan 5. Pekerjaan 6. Jumlah pendapatan 7. Tujuan berwisata 2 Psikografis 1. Total pengeluaran

selama berwisata 2. Jenis pengeluaran Pembelanjaan harian 3. Pengeluaran produk/barang/jasa 4. Bentuk transaksi pembayaran 5. Tempat pembelian produk/barang/jasa 6. Lama tinggal

7. Kegiatan wisata yang dilakukan

8. Kualitas produk 9. Kesesuaian harga

1. Total pengeluaran selama berwisata 2. Jenis pengeluaran Pembelanjaan harian 3. Pengeluaran produk/barang/jasa yang dibeli 4. Bentuk transaksi pembayaran 5. Tempat pembelian produk/barang/jasa 6. Lama tinggal

7. Kegiatan wisata yang dilakukan

8. Kualitas produk 9. Kesesuaian harga 3 Saran dan

masukan

Saran dan masukan terkait dengan pengembangan produk wisata.

Saran dan masukan terkait dengan pengembangan produk wisata.

BAB 3 – METODOLOGI 34

3.2. Definisi Operasional

Definisi operasional dirumuskan untuk menghindari kesalahan pemahaman dan perbedaan penafsiran yang berkaitan dengan istilah-istilah dalam kajian ini. Diantaranya:

1. Pengeluaran wisatawan yang dimaksud dalam kajian ini adalah pengeluaran wisatawan saat melakukan kunjungan wisata di DIY. 2. Wisatawan mancanegara adalah setiap orang yang melakukan

perjalanan ke suatu negara di luar negara tempat tinggalnya, kurang dari satu tahun, didorong oleh suatu tujuan utama (bisnis, berlibur, atau tujuan pribadi lainnya), selain untuk bekerja dengan penduduk negara yang dikunjungi (Badan Pusat Statistik, 2016).

3. Wisatawan nusantara adalah seseorang yang melakukan perjalanan di wilayah teritori suatu negara, dalam hal ini adalah Indonesia, dengan lama perjalanan kurang dari 6 bulan dan bukan bertujuan untuk memperoleh penghasilan di tempat yang dikunjungi serta bukan merupakan perjalanan rutin (sekolah atau bekerja), dengan mengunjungi objek wisata komersial, dan atau menginap di akomodasi komersial, dan atau jarak perjalanan lebih besar atau sama dengan 100 (seratus) kilometer pergi-pulang (Badan Pusat Statistik, 2016). 4. Analisis belanja wisatawan adalah analisis tingkat pengeluaran

wisatawan untuk mengetahui pola konsumsi wisatawan selama perjalanan wisata serta berapa jumlah uang yang dibelanjakan untuk keperluan akomodasi, makan dan minum, cinderamata, transport lokal, paket wisata lokal, hiburan, dan lain-lain.

BAB 3 – METODOLOGI 35

5. Maksud utama perjalanan ialah motif atau tujuan utama dilakukannya perjalanan tersebut. Maksud utama perjalanan terdiri dari (Badan Pusat Statistik, 2016):

a. Berlibur/rekreasi (Holiday/leisure) - apabila seseorang melakukan perjalanan dengan tujuan untuk mendapatkan kesenangan atau kesegaran, seperti berkunjung ke daya tarik wisata dan berburu di hutan;

b. Pekerjaan/bisnis (Business) - apabila seseorang melakukan perjalanan dengan tujuan pekerjaan/bisnis, misalnya melakukan inspeksi ke daerah-daerah, mengikuti rapat kerja, dan berdagang; c. Misi/pertemuan/kongres (Mission/meeting/congress) – apabila

seseorang melakukan perjalanan dengan tujuan misi/pertemuan/ kongres, misalnya melakukan misi kebudayaan, pertemuan, kongres, seminar, dan lokakarya;

d. Pendidikan (Education) - apabila seseorang melakukan perjalanan dengan tujuan mengikuti pendidikan, misalnya kuliah kerja nyata, tugas belajar, kursus, dan penataran;

e. Kesehatan (Health) - apabila seseorang melakukan perjalanan dengan tujuan pemeliharaan atau pemulihan kesehatan dan atau mencari obat (baik untuk diri sendiri maupun orang lain);

f. Berziarah (Visit a sacred place) - apabila seseorang melakukan perjalanan dengan tujuan berkunjung ke tempat yang dianggap keramat atau mulia (makam dan sebagainya) untuk berkirim doa;

BAB 3 – METODOLOGI 36

g. Mengunjungi teman/keluarga (Visiting friends/relatives) - apabila seseorang melakukan perjalanan dengan tujuan mengunjungi teman atau famili;

h. Keagamaan (Religion) - apabila seseorang melakukan perjalanan dengan tujuan mengemban tugas agama, seperti memberikan ceramah agama, baik dibayar maupun tidak dibayar, dan menghadiri upacara agama;

i. Olahraga/kesenian (sport/art) - apabila seseorang melakukan perjalanan dengan tujuan untuk kegiatan yang berkaitan dengan olahraga atau kesenian, termasuk pendukung pertandingan (supporter);

j. Lainnya (Others) - bila seseorang melakukan perjalanan dengan tujuan selain yang disebut di atas, seperti berbelanja.

6. Pengeluaran wisatawan menurut Yoeti (2008), adalah barang dan jasa (goods and services) yang dibeli oleh wisatawan dalam rangka memenuhi kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan harapan (expectations) selama berada di daya tarik wisata yang dikunjunginya. a. Akomodasi adalah semua pengeluaran yang dikeluarkan untuk

akomodasi dan pengeluaran makan dan minum yang tidak dapat dipisahkan dengan akomodasi.

b. Makan dan minum adalah semua pengeluaran makan dan minum selama melakukan perjalanan.

BAB 3 – METODOLOGI 37

c. Penerbangan domestik adalah pengeluaran penerbangan di dalam kawasan negara tujuan yang digunakan selama melakukan perjalanan.

d. Transportasi lokal adalah pengeluaran untuk transportasi lokal yang digunakan selama berada di negara tujuan, dalam hal ini transportasi yang digunakan adalah transportasi darat, laut/ penyeberangan.

e. Belanja adalah pengeluaran yang dikeluarkan untuk keperluan belanja kebutuhan selama berada di negara tujuan wisata.

f. Souvenir adalah pengeluaran untuk cinderamata yang dibeli di negara tujuan untuk dibawa pulang ke negaranya.

g. Hiburan adalah pengeluaran untuk hiburan yang dilakukan selama di negara tujuan, seperti ke cafe, karaoke, dan lainnya.

h. Kesehatan dan kecantikan adalah pengeluaran yang dikeluarakan untuk keperluan kesehatan dan kecantikan, dalam hal ini pengeluaran spa termasuk di dalamnya.

i. Pendidikan adalah pengeluaran untuk biaya pendidikan atau kursus di negara tujuan.

j. Paket tour lokal adalah pengeluaran untuk paket tour yang dibeli di negara tujuan.

k. Guide service adalah pengeluaran untuk tip guide.

l. Homestay adalah usaha penyediaan akomodasi berupa bangunan rumah tinggal yang dihuni oleh pemiliknya dan dimanfaatkan sebagian untuk disewakan dengan memberikan kesempatan

BAB 3 – METODOLOGI 38

kepada wisatawan untuk berinteraksi dalam kehidupan seharihari pemiliknya, yang dimiliki oleh masyarakat setempat dalam rangka pemberdayaan ekonomi lokal.

Dokumen terkait