• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. STUDI PUSTAKA

2.2. Pola Tata Ruang Tradisional Bali

Tata ruang tradisional Bali menyangkut berbagai wujud ruang luar yang diungkapkan dalam suatu wilayah (palemahan) baik antar wilayah dengan wilayah serta antara bangunan dengan wilayah/ruang terbuka. Fokusnya menguraikan ruang-ruang dengan radius-radius tertentu dalam hubungannya dengan keberadaan pura/tempat pemujaaan, ruang terbuka, maupun pola pemanfaatan dalam hubungannya dengan pengembangan desa dan wilayah untuk tujuan-tujuan tertentu seperti kepariwisataan, perekonomian, pemerintahan, pertanian, penyangga, kawasan konservasi dan lain sebagainya.

Penataan pola ruang arsitektur Bali dilandasi oleh konsep-konsep dan kaidah tradisional seperti orientasi, tingggi rendah suatu tempat, dan hirarki tata nilai ruang. Orientasi kearah gunung (kaja) memiliki nilai utama, daerah dataran (tengah) memiliki nilai madya, kearah laut (kelod) memiliki, nilai nista. Secara hirarkis membentuk segmen : utama, madya,

7 nista. Kombinasi susunan segmen utama, madya, nista pada arah utara-selatan (kaja-kelod) dengan arah timur-barat (kangin-kauh) akan membentuk sembilan segmen yang disebut Sanga Mandala. Pola perletakannya mempertimbangkan daerah ruang terbuka/palemahan, sehingga diperlukan jarak-jarak bangunan terhadap lingkungan sekitar. Jarak ini menggunakan modul dari ukuran antropometri manusia dari ajengkal, amusti, atapak, adepa, apenimpugan apeneleng alit sampai apeneleng agung. Implementasi tata ruang akan memperhitungkan secara cermat ruang-ruang luar sebagai ruang antara bangunan satu dengan bangunan lainnya, terutama bangunan suci yang sakral seperti : Pura Kahyangan Jagat, Pura Kahyangan Tiga, Pura Swagina dan sebagainya.

2.3. Konsep Arstektur Tradisional Bali

Konsep Arsitektur Tradisional Bali dijiwai oleh Agama Hindu dan dilandasi oleh beberapa filosofis. Makna menjadi landasan filosofis untuk menciptakan sebuah bentuk. Dalam Arsitektur Tradisional Bali terdapat empat landasan yang mendasari suatu konsep yaitu : (1) Landasan keagamaan : pustaka suci Agama Hindu, penjiwaan agama dalam arsitektur tradisional Bali, hubungan arsitektur tradisional Bali dengan tujuan hidup orang Bali, hubunngan arsitektur tradisional Bali dengan perkembangan Agama Hindu ; (2) Landasan filosofis : filsafat manik ring cecupu, filsafat Tri Hita Karana, filsafat Undagi, filsafat bahan bangunan ; (3) Landasan etik : menjaga dasar-dasar hubungan manusia-arsitektur-alam, landasan berpikir dan bersikap dalam proses pembangunan tradisional ; (4) Landasan ritual : penggunaan unsur-unsur ritual dalam ATB, menyesuaikan Jenis dan Makna Ritual dalam ATB, memilih pedewasan dalam proses pembangunan secara tradisional Bali.

Penjiwaan Agama Hindu yang dijabarkan dalam filsafat-filsafat untuk ditransformasikan ke dalam konsep. Terdapat beberapa konsep dalam Arsitektur Tradisional Bali, yaitu : (1) Konsep keseimbangan kosmos ; (2) Konsep Rwabhineda ; (3) Konsep Tribhuana-Triangga

; (4) Konsep keserasian dengan lingkungan ; (5) Dan lain-lain. Konsep ini menjadi dasar dan pedoman dalam perencanaan dan perancangan Arsitektur Tradisional Bali, di tataran wilayah Bali, tataran lingkungan teritoral desa, di lingkungan rumah tinggal maupun pada unit-unit bangunan.

8 2.3.1. Konsep Keseimbangan Kosmos

Konsep keseimbangan kosmos merupakan suatu konsep yang didasarkan atas kondisi geografi alam Bali dengan dua sumbunya yaitu sumbu kosmos dan sumbu ritual/prosesi.

Sumbu kosmos berupa gunung yang terletak di tengah-tengah Pulau Bali, sehingga membentuk sumbu dengan dua arah yaitu menuju=ka, gunung=ja dan menuju=ka, laut=lod, dengan demikian akan terbentuk arah kaja-kalod. Orientasi kearah gunung (kaja) memiliki nilai utama, daerah dataran (tengah) memiliki nilai madya, kearah laut (kalod) memiliki nilai nista. Secara hirarkis membentuk segmen : utama, madya, nista. Sumbu ritual/prosesi terbit-terbenam matahari yang berulang yaitu: endag (terbit) surya di Timur - tajeg (tengah hari) surya di tengah - engseb (terbenam) surya di Barat, sehingga terbentuk arah Timur (kangin)-Barat (kauh). Orientasi kearah Timur (kangin) memiliki nilai utama, bagian tengah bernilai madya dan kearah Barat (kauh) memiliki nilai nista. Secara hirarkis membentuk segmen : utama, madya, nista. Kombinasi susunan segmen utama, madya, nista pada arah utara-selatan (kaja-kalod) dengan arah timur-barat (kangin-kauh), memmbetuk pola papan catur yang terdiri dari sembilan petak. Eksistensi ini mendasari dan membentuk konsepsi keseimbngan kosmos Bali yang dapat dibedakan menjadi dua bagian dasar yaitu: (a) Keseimbangan vertical: alam dewa, alam manusia dan alam butha;

(b) Keseimbangan horizontal: catur lokapala, sad winayaka dan dewata nawa sanga.

Konsep keseimbangan alam dewa, alam manusia dan alam butha, didasarkan atas filosofi Tri Hita Karana melalui penciptaan hubungan yang harmonis dan seimbang antara manusia dangan Tuhan, antara sesama manusia dan antara manusia dengan lingkungannya. Sikap manusia berbakti kepada Tuhan diwujudkan dengan bagaimana manusia berprilaku baik

kepada sesama dan menghormati seluruh ciptaan Tuhan melalui sikap kasih dan menjaga lingkungan. Transformasi ini menyebabkan setiap Arsitektur Tradisional Bali memiliki ruang dan bagian yang merupakan manifestasi dari konsep tersebut.

Gambar 1. Konsep keseimbangan tiga alam: dewa-manusia-butha Sumber : Modifikasi penulis 2016 dari Putra

9 Konsep catur lokapala: merupakan konsep dengan membentuk empat titik penyeimbang alam dengan pendirian pura di keempat penjuru Bali yang posisinya di gunung. Keempat pura itu adalah: (a) Pura Lempuyang Luhur, arah Timur, di Kabupaten Karangasem; (b) Pura Andakasa, arah Selatan, di Kabupaten Karangasem; (c) Pura Batukaru, arah Barat, di Kabupaten Tabanan ; (d) Pura Pucak Mangu, arah Utara, di Kabupaten Badung (Budaarsa, dkk. 2012 : 5). Konsep ini dapat diterapkan pada tataran regional, wilayah lingkungan, desa dan rumah tinggal. Sumbu kosmis Kaja-Pelod dan Kangin-Kauh merupakan arah utama yang yang membentuk persilangan yang disebut dengan konsep catuspatha, dan perputarannya akibat fungsi dapat menjadi konsep swastika sana dapat diaplikasikan pada sebidang tapak.

Konsep Sad Winayaka: merupakan konsep dengan membentuk enam titik penyeimbang alam dengan pendirian pura dienam tempat Bali yang posisinya pada komponen-komponen alam yang dimuliakan. Keenam pura itu adalah : (1) Pura Besakih di Kabupaten

Karangasem; (2) Pura Lempuyang Luhur di Kabupaten Karangasem ; (3) Pura Goa Lawah di Kabupaten Klungkung ; (4) Pura Uluwatu di Kabupaten Badung ; (5) Pura Luhur Batukaru di Kabupaten Tabanan ; (6) Pura Puser Tasik (Pura Pusering Jagat di Pejeng) di Kabupaten Gianyar (Budaarsa, dkk. 2012 : 5).

Gambar 2. Konsep catur lokapala

Sumber : Modifikasi penulis 2016 dari Putra dan Budaarsa

Gambar 3. Konsep sad winayaka Sumber : Putra, 2009

10 Konsepsi Dewata Nawa Sanga /Konsepsi Padma Bhuana: merupakan konsep dengan membentuk Sembilantitik penyeimbang alam dengan pendirian pura disembilan penjuru Bali, sebagai simbul bahwa Tuhan itu ada dimana-mana. Tidak ada bagian dari alam semesta ini atau Bali, tanpa kehadiran Tuhan. Pura yang termasuk dalam posisi Padma Bhuana yaitu : (1) Pura Lempuyang Luhur sebagai arah Timur ; (2) Pura goa Lawah arah Tenggara ; (3) Pura Andakasa arah Selatan ; (4) Pura Uluwatu arah Barat Daya ; (5) Pura Batukaru arah Barat ; (6) Pura Pucak Mangu arah Barat Laut ; (7) Pura Batur sebagai arah Utara ; (8) Pura Besakih arah Timur Laut ; (9) Pura Puser Tasik/Jagat sebagai arah Tengah (Budaastra, dkk. 2013).

Konsep ini dapat diterapkan juga pada perancangan rumah tinggal maupun puri dengan penyesuaian kebutuhan dan situasi setempat.

2.3.2. Konsep Rwabhineda

Konsepsi Rwabhineda merupakan dua tempat penujaan Tuhan sebagai pencipta yang terdiri atas unsur Purusa dan Pradana. Dua pura yang dimaksud adalah : (1) Pura Besakih sebagai purusa di Kabupaten Karangasem ; (2) Pura Batur sebagai Pradana di Kabupaten Bangli.

Gambar 4. Konsep Dewata Nawa Sanga Sumber : Modifikasi 2016 dari Putra

11 Hulu-Teben dan Purusa-Pradana

Perwujudan dari konsep rwabhineda dapat diaplikasikan dan ditemui pada natah pekarangan, pada jalan utama desa serta pada perempatan/ catusptha. Perwujudannya berupa ruang kosong sebagai simbolis pertemuan purusa dan pradana yang dapat melahirkan suatu benih kehidupan. Oleh karena itu ruang kosong ini menjadi demikian hidup dan efektif sebagai tempat interaksi pemakainya. Secara filosofis tradisional dinyatakan bahwa kekosongan itulah hakekat dari isi, sehingga orang akan meminta daging=isi, telas=habis.

2.3.3. Konsep Tribhuana-Triangga

Konsepsi Triangga-Trimandala

Konsistensi tata nilai ruang dan bangunan dapat diwujudkan dengan perletakan bangunan yang beragam, nilai fungsinya diserasikan dengan struktur hirarkhi nilai ruangnya, ketinggian lantai disesuaikan dengan nilai fungsi bangunan sehingga ada keserasian antara nIlai ruang dan nilai bangunan. Konsep Triangga memberikan dasar bahwa Arsitektur

Gambar 5. Konsep Hulu-Teben Sumber : Modifikasi 2016 dari Putra

Gambar 6. Konsep Hulu-Teben Sumber : Modifikasi 2016 dari Putra

Gambar 7. Konsep triangga dan trimandala Sumber : Modifikasi 2016 dari Putra

12 Tradisional Bali memiliki bagian-bagian fisik yang memiliki nilai. Secara vertical bagian kepala terletak paling atas bernilai utama, bagian badan terletak di tengah bernilai madya dan bagian kaki yang terletak dibawah bernilai nista. Secara horizontal akan membentuk zonasi dengan hirarki nilai yang sesuai dengan nilai sumbu alam, antara lain sebagai berikut : bagian hulu/dalam bernilai utama bagian tengah bernilai madya dan bagian hilir/luar bernilai nista.

2.3.4. Konsep Keserasian Dengan Lingkungan

Konsepsi keharmonisan dengan lingkungan dapat dijabarkan atas dasar sebagai berikut : pengutamaan pemanfaatan potensi sumber daya alam setempat pengutamaan pemanfaatan potensi sumber daya manusiasetempat dan pengutamaan penerapan potensi pola-pola fisik arsitektur setempat. Pengembangan bentuk oleh pihak luar sering kali kurang berhasil karena perbedaan sudut pandang. Pihak luar memandang kenyamanan fisik sebagai kriteria utama, yang justru tidak dipentingkan dalam arsitektur tradisional. Diperlukan pendekatan etnografis, dimana pihak luar belajar dari masyarakat tentang nilai dan bentuk mana yang paling mereka utamakan dan bagaimana proses pembangunan termasuk ritus yang harus dilakukan. Pihak luar sebaiknya bertindak sebagai fasilitator, sedangkan keputusan tetap berada pada komunitas tradisional bagaimana mereka ingin berkembang (Rahayu, 2010 : 51; Rahayu & Nuryanto, 2010 : 72).

Tatanilai mempengaruhi tata letak suatu banguanan dalam kaitannya dengan lingkungan dan fasilitas umum pada Arsitektur Tradisional Bali, seperti: rumah tidak langsung berada di hulu Bale Banjar/Pura/Puri serta rumah harus dibatasi dengan jalan atau tanah kosong (karang tuang).

2.4. Pengertian, Kosep dan Struktur Pura

Di Bali Pura memilki pengertian sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Hindu, tampaknya berasal dari jaman yang tidak begitu tua. Pada mulanya istilah Pura berasal dari kata Sansekerta yang berarti kota atau benteng, yang sekarang berubah arti menjadi tempat pemujaan Hyang Widhi. Sebelum digunakannya kata Pura untuk menamai tempat suci/tempat pemujaan dipergunakanlah kata Kahyangan atau Hyang, selanjutnya Parhyangan. Dalam pengertian lebih lanjut pengertian Pura sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi (dengan segala manifestasinya) dan Bhtara atau dewa pitra yaitu

13 Roh Leluhur. Kendatipun demikian kini masih dijumpai kata Pura yang digunkan untuk menamai suatu kota mislanya Amlapura (bentuk Sansekertanisasi dari Karang Amla), Semarapura, Swecapura, dan lain-lain.

Pura dapat diperinci fungsinya berdasarkan ciri (kekhasan) yang antara lain dapat diketahui atas dasar adanya kelompok masyarakat kedalam berbagai jenis ikatan seperti: ikatan sosial, politik, ekonomi, geneologis (garis kelahiran). Ikatan sosial antara lain berdasarkan ikatan wilyah tempat tinggal (teritorial), ikatan politik antara lain berdasrkan kepentingan penguasa dalam upaya menyatukan masyarakat dan wilayah kekuasaannya, Ikatan ekonomis antara lain dibedakan atas dasar kepentingan system mata pencaharian hidup seperti bertani, nelayan, pedagang, dan lain-lain. Ikatan genneologis adalah atas dasar garis kelahiran dengan perkembangan lebih lanjut.

Ketuhanan dalam agama Hindu secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : Tuhan yang Nirguna Brahman (Monotheisme Transendent), dan Tuhan yang Saguna Brahman (Monotheisme Immanent). Tuhan yang Nirguna Brahman dipuja melalui jalan Bakti dan Karma Marga, sedangkan Tuhan yang Saguna disembah melalui jalan Jnana dan Yoga Marga. (Titib, 1993). Bhakti Marga sebagai jalan memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai sarana untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi kepadaNya, seperti:

Arca, Pratima, Pratika, Pratikani, Pratibimbha, Nyasa, tempat pemujaan, pura, candi, meru, prasada, padmasana, membuat sesajen, makanan, minuman, bhusana dan lain-lainnya.

Menutut Titib 1993, struktur atau denah Pura di Bali dibagi atas tiga bagian, yaitu : Jaba Pura atau jaba pisan (halaman luar), Jaba Tengah (halaman tengah) dan Jeroan (halaman dalam) dan ada juga yang terdiri dari tujuh halaman (tingkatan) seperti Pura Besakih, (David J. Stuart-Fox, 2010). Pembagian halaman pura, didasarkan atas konsepsi macrocosmos (bhuana agung), yakni : pembagian pura atas 3 bagian (halaman) itu adalah lambang dari Tri Loka, yaitu Bhur Loka (bumi), Bhwah Loka (langit) dan Swah Loka (sorga). Pembagian pura atas 2 (dua) halaman (tingkat) adalah lambing dari alam atas (Urdhah) dan alam bawah (Ardhah), yaitu Akasa dan pertiwi. Sedangkan pembagian pura atas 7 (tujuh) bagian/halaman atau tingkatan adalah lambing dari Saptaloka yaitu tujuh lapiasan/tingkatan alam keatas yang terdiri dari Bhur Loka, Bwhah Loka, Swah Loka, Maha Loka, Jana Loka, Tapa Loka dan satya Loka. Pura yang terdiri dari 1 (satu) halaman adalah simbul dari Ekabhuwana yaitu penunggalan alam antara alam bawah dengan alam atas. Pembagian halaman pura yang pada umumnya menjadi tiga bagian itu adalah

14 pembagian horizontal, sedangkan pembagian yang vertical adalah simbolis Purusa (unsur kejiwaan/spiritual alam semesta). Penunggalan Konsepsi Prakerti dengan Purusa dalam struktur suatu pura adalah merupakan simbolis dari pada Super Natural power. Hal itulah yang menyebabkan orang-orang dapat mersakan adanya getaran spiritual atau Super natural of power (Tuhan Yang Maha Esa) dalam suatu Pura.

2.5. Bentuk, Bahan dan Ornamen Arsitektur Tradisional Bali Dasar-dasar ukuran dalam arsitektur tradisional Bali sebagai berikut :

Gambar 8. Dasar-dasar ukuran bangunan tradisional Bali atas dasar aturan tradisional

Gambar 9. Dimensi tiang bangunan tradisional Bali atas dasar aturan tradisional

15

Gambar 10. Dimensi tiang bangunan dan ukuran bale tradisional Bali atas dasar aturan tradisional

Gambar 11. Struktur dan ornamen bale tradisional Bali atas dasar aturan tradisional

Gambar 12. Bentuk, struktur dan ornamen bale tradisional Bali atas dasar aturan tradisional

16 BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Di Desa Pakraman Gunaksa, Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung

Gambar 13. Lokasi Penelitian

3.2 Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunaakan rancangan sebagai berikut :

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif, dimana data-data fisik dan non fisik yang terkumpul baik itu data kepustakaan maupun lapangan. Jenis data berupa data kuantitatif maupun kwalitatif dikompilasi, selanjutnya dianalisa dan dikomparasikan dengan data-data acuan yang didapatkan melalui studi kepustakaan. Dari hasil analisa dan komparasi dikaji dan disimpulkan untuk mendapatkan suatu rekomendasi.

PENDATAAN KOMPILASI

DATA

ANALISA DAN SINTESA

KESIMPULAN REKOMENDASI

Pura Gunung Lingga Di Desa Pakraman Gunaksa, Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung

17 3.3 Prosedur Penelitian

Secara umum, penelitian ini akan dilaksanakan dalam lima tahapan kerja, yaitu:

1. Kajian pustaka, yang terdiri atas review literatur, baik literatur mengenai kehidupan sosial budaya masyarakat Bali, maupun mengenai pura-pura yang ada di wilayah Bali.

2. Studi awal yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran umum data fisik (tata letak, tata ruang dan tata bentuk) dari unit-unit bangunan yang terdapat di Pura Dang Kahyangan Gunung Lingga maupun data non fisik terkait perkembangan dan setruktur sosial pengempon.

3. Pengumpulan data primer yang berhubungan langsung dengan objek penelitian, mencakup aspek fisik dan non fisik unit-unit bangunan yang terdapat di mandala Pura Gunung Lingga.

4. Pengolahan dan analisis data yang bertujuan untuk menemukan identitas arsitektur pura dan hubungannya dengan perkembangan dari Pura Gunung Lingga.

5. Penarikan kesimpulan penelitian.

3.4 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif, yang didukung pula oleh data kuantitatif. Jenis data yang akan dikumpulkan adalah : data primer melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi di lapangan (dilakukan pendataan, baik berupa tabel, pemetaan, perekaman video, dan pemotretan) ; data sekunder didapatkan dengan setudi pustaka melalui review terhadap materi-materi yang relevan deangan data dan bahasan; Analisa komparatif secara deskriptif dan sintesa untuk perumusan setrategi yang dapat dikembangkan untuk melestarikan konsep arsitektur (tata letak, tata ruang dan tata bentuk) dan pola pemanfaatan pura dengan segala fasilitasnya.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Kepustakaan dilakukan untuk mendapatkan data-data awal terkait teori-teori dan reperensi yang berhubungan dengan arsitektur pura di Bali, serta rangkaian tradisi-tradisi adat yang berhubungan dengan pemanfaatan unit-unit bangunan pada mandala pura.

2. Observasi dengan melakukan pengamatan untuk didokumentasikan baik dengan pencatatan maupun pemotretan dengan kamera sebagai data primer.

3. Wawancara dengan undagi, tukang banten, pemangku dan tokoh adat secara terstruktur dengan mempersiapkan sejumlah daptar pertanyaan.

18 3.5 Teknik Analisis data

Data yang telah terkumpul akan dianalisis dengan cara sebagai berikut:

1. Identifikasi dan kompilasi data secara sistematik 2. Membuat tabulasi

3. Membuat analisa kualitatif dan kunatitatif 4. Manyimpulkan hasil

19 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Identifikasi Arsitektur (Ruang, Bentuk, Struktur) Pura Gunung Lingga Tata Ruang

Gambar 14. Site Plan Pura Dang Kahyangan Gunung Lingg, Gunaksa Sumber: Onservasi Lanus 2016

20 KETERANGAN :

1. PENGARUMAN 11. APIT LAWANG

2. MASARI 12. PENGAYENGAN

3. MASCATU 13. BALE TAJUK/PESANDEKAN

4. SANGGARAN 14. PALETASAN

5. PALINGGIH TRI TIRTA 15. BALE PIYASAN

6. MERU TUMPANG TIGA 16. BAK PENAMPUNGAN AIR

7. SAPATA PETALA 17. DAPUR, WC/TOILET UMUM

8. NGERURAH AGUNG 18. BALE TAJUK/PESANDEKAN

9. BALE PAKEMITAN 19. BALE KULKUL

10. PEMEDAL 20. BALE PEGONGAN

Tata Bentuk

Palinggih Pengaruman: sebagai tempat meletakkan piranti upakara dan pralingga Ida Betara, bangunan ini berbentuk bujur sangkar yang terdiri dari bagian tepas, batur dan sari.

Tepas/tepas hujan merupakan bagian konstruksi terbawah sebagai alas dari batur; Batur

berpalih tiga bataran yang terbuat dari batuan bata merah dan paras dengan struktur masip.

menggunakan ragam hias kekarangan diukir, bataran sebagai alas dan landasan sari; Sari terbuat dari kayu saka 8 yang bertumpu diatas sendi pada bataran, saka ditempatkan secara

Gambar 15. Lay Out Plan Pura Dang Kahyangan Gunung Lingg, Gunaksa Sumber: Oservasi, Lanus 2016

21 meanda, 4 saka dibawah dengan dimensi yang lebih panjang, serta 4 saka terletak pada puncak bataran yang membentuk empat persegi ruang/rong dengan dinding-dinding kayu di tiga sisi dan pintu di sisi depan. Konstruksi saka dengan dengan rong merupakan rangka ruang yang dibentuk oleh saka, lambamg, sineb, sunduk, dengan pengaku bale, dinding dan tarib. Seluruh konstruksi saka-saka menyokong atap; konstruksi atap terdiri dari petaka, pemada, pemucu, iga-iga dan apit-apit membentuk rangka bidang, yang dikuatkan oleh tarib, ingketan atap ijuk sebagai pelindung bangunan dari panas dan hujan.

Sanggaran: merupakan palinggih Sang Hyang Tunggal, bangunan ini berhulu ke utara menghadap keselatan, berwujud padmasari, terdiri dari tiga bagian yaitu: dasar, batur dan sari. Dasar terdiri dari dua bagian yaitu tepas/tepas hujan dan palih dasar. Dasar merupakan konsruksi dengan struktur masa masip yang terbuat dari bebatuan, menggunakan ornamen kekarangan. Tepas merupakan bagian terbawah konstruksi yang terletak diatas lemah/tanah bersama dengan palih dasar berfungsi untuk menyokong batur;

Batur terdiri dari tiga palih bataran dengan kostruksi masip dari bahan batuan paras dan bata merah, menggunakan ragam hias kekarangan diukir. Tiga palih bataran menjadi landasan sari; Sari berwujud rong/bale/kursi menggunakan struktur masip dari bahan batuan bata merah dan paras dengan ragam hias kekarangan diukir.

Gambar 16. Palinggih Pengaruman, Sanggaran, Limas Sari, Limas Catu Pura Dang Kahyangan Gunung Lingga, Gunaksa Sumber: Oservasi, 2016

22 Limas Sari, Limas Catu: Lima Sari merupakan palinggih stana Sang Hyang Rambut Sedana sebagai personifikasi bapa/surya/maskulin, sedangkan Limas Catu merupakan palinggih stana Sang Hyang Sri Sedana sebagai personifikasi ibu/candra/feminim.

Kedua pelinggih berhulu ke utara menghadap ke selatan, memiliki wujud yang sama perbedaannya pada letak dan pada wujud atapnya, Limas Catu ujung bubungan atapnya dibuat datar, sedangkan Limas Sari ujung bubungan atapanya lancip/lebih tinggi. Kedua palinggih ini terdiri dari tiga bagian yaitu: tepas, batur dan sari. Tepas merupakan bagian konstruksi terbawah, yang berfungsi untuk menyokong batur; Batur terdiri dua palih bataran dengan struktur masip, berbahan batuan bata merah dan paras dengana ragam hias kekarngan lelengisan, batur berfungsi sebagai landasan sari; Sari/bunga merupakan konstruksi kayu dengan terdiri dari 4 saka kayu yang bertumpu pada sendi, saka membentuk ruang/rong persegi panjang dengan tiga dinding dan satu pintu dibagian depan, ada bale-bale, sunduk, lambang, sineb, semua itu membentuk konstruksi rangka ruang.

Kayu-kayu yang ada menjadi elemen struktur konstruksi sekaligus sebagai elemen estetika, dengan kombinasi propil lelengisan dan ragam hias kekarangan berukir, finishing kombinasi politur, cat dan perada. Bagian atasnya berupa konstruksi atap berbentuk limas dengan landasan bujur sangkar dari pepiringan dengan pepalihan berukir, piringan/listplank menjadi landasan atap dengan kontruksi kayu terdiri dari petaka, pemada, pemucu, iga-iga, tarib, yang ditutup dengan atap ijuk, pada bagian ujung atap ditutup murda dari tanah liat dibakar, ragam hias kekarangan, diukir dengan finising cat dan perada.

Meru Tumpang Tiga: merupakan palinggih stana pemujaan Dang Hyang Nirarta, sebagai

sang sida dewata/atma pratistha, dalam jasanya menjadi guru suci/ Dang Guru keagamaan umat, serta perannya didalam mengaktualisasikan keberadaan pura.

Bangunan ini berhulu ke timur, terdiri dari tiga bagian yaitu: tepas, batur, sari. Tepas/tepas hujan merupakan bagian konstruksi terbawah sebagai alas dari batur; Batur berpalih dua bataran meanda yang terbuat dari batuan bata merah dan paras dengan struktur masip.

Menggunakan ragam hias kekarangan lalengisan, batur sebagai alas dan landasan sari;

Sari terbuat dari kayu saka 8 yang bertumpu diatas sendi pada bataran, saka ditempatkan secara meanda, 4 saka pada bataran bawah dengan dimensi saka yang lebih panjang, serta 4 saka terletak pada puncak/ bataran atas yang membentuk empat persegi ruang/rong dengan dinding-dinding kayu di tiga sisi dan pintu di sisi depan. Konstruksi saka dengan dengan rong merupakan rangka ruang yang dibentuk oleh saka, lambang, sineb, sunduk,

23 dengan pengaku bale, dinding dan tarib. Seluruh konstruksi saka-saka menyokong atap;

23 dengan pengaku bale, dinding dan tarib. Seluruh konstruksi saka-saka menyokong atap;

Dokumen terkait