Sumber: www.ppsdms.org
Contributed by Mohammad Kamiluddin Regional I
Masih hangat ditelinga kita tentang isu poligami yang hampir dibicarakan oleh semua media cetak dan media elektronik, ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik tentang isu tersebut. Akankah isu ini terus diperbancangkan? Ya, tentu saja karena poligami sangat menyentuh dalam kehidupan berkeluarga, serta bisa terjadi disetiap saat. Hal ini yang juga dikhawatirkan oleh kaum ibu-ibu di hampir seluruh pelosok masyarakat indonesia. Nampaknya keadaan ini ditanggapi secara serius dari pemerintah, sampai SBY turun langsung dan mengadakan pertemuan mendadak dengan Mentri
pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta beberapa hari yang lalu (5/12). "Presiden mempunyai kepedulian besar terhadap kaum perempuan dan beliau menginginkan ketenteraman dalam masyarakat," ujar Meutia. Permintaan presiden ini juga terkait rencana pemerintah untuk memperluas cakupan aturan dan ketentuan teknis tentang poligami bagi kalangan pejabat negara dan pegawai negeri sipil (PNS). Meutia enggan menanggapi langsung apakah praktik poligami yang pekan lalu diakui secara terbuka oleh da'i kondang KH. Abdullah Gymnastiar yang akrab disapa Aa Gym yang menjadi faktor pendorong pemerintah akan melakukan revisi aturan poligami. "UU Perkawinan tetap masih menjadi acuan. Kita merasakan bahwa semua masyarakat perlu diatur juga, agar PP ini bisa menjangkau masyarakat luas. Untuk itu, hal-hal yang menyangkut perlindungan perempuan akan ditingkatkan," imbuhnya.
Dalam catatan Tribun, selama dua bulan terakhir terdapat sejumlah pejabat publik yang berpoligami. Mereka antara lain, Wakil Ketua MPR RI AM Fatwa, dan anggota DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta. Keadaan ini tentunya membuat kaum perempuan cemas, walaupun sebenarnya poligami lebih bermartabat dibandingkan dengan kawin kontrak, nikah bawah tangan, atau yang lainnya. Bahkan Islam memerbolehkan poligami, meskipun masih terdapat banyak perdebatan antara yang pro dan kontra.
Poligami Solusi yang Bermartabat
Poligami adalah halal secara Islam. Amalan ini bertujuan untuk berlaku adil terhadap anak-anak yatim. Sebagaimana Firman-Nya, "Jika kamu takut bahwa kamu tidak akan berlaku adil terhadap anak-anak yatim, maka kawinilah perempuan-perempuan yang nampak baik bagi kamu, dua, dan tiga, dan empat" (4:3). Maksud kata “perempuan- perempuan” di sini ialah ibu-ibu, atau waris, atau penjaga anak-anak yatim tersebut. Lalu kemuadian ayat tersebut dilanjutkan dengan "tetapi jika kamu takut bahawa kamu tidak akan berlaku adil, maka satu saja ... ia lebih dekat bagi kamu untuk tidak membuat aniaya". Ketidakadilan dalam poligami mengakibatkan penganiayaan ke atas kaum wanita. Allah benci penganiayaan. Namun, ketidakadilan terhadap isteri-
Cara berbuat adil pada isteri-isteri pula ditunjukkan Allah di dalam ayat yang sama, berbunyi "maka janganlah kamu condong dengan seluruh kecondongan sehingga kamu meninggalkannya seperti tergantung" (4:129). “Gantung tak bertali” kerana suami condong pada madu. Itu sering berlaku. Ia dilarang Allah.
Poligami adalah solusi yang lebih bermartabat dari pada kawin kontrak, nikah bawah tangan dan sampai ke masalah perzinahan. Hubungan gelap anggota DPR RI dari Fraksi Golkar Yahya Zaini dengan seorang pedangdut Maria Eva merupakan salah satu jawaban bahwa banyak penyelewengan yang terjadi di kalangan orang berduit. Terkuaknya kasus kebejatan moral Yahya Zaini dari partai Golkar dengan video pornonya, tampaknya cukup mengguncang Pemerintahan SBY, DPR, dan Golkar serta kredebilitas pejabat kita di mata rakyatnya. Kalau kasus ini terus berlarut, sangat berbahaya bagi kepercayaan rakyat pada mereka semua sehingga perhatian rakyat perlu dibelokkan. Pembelokan ke kasus poligami Aa Gym, bukan ke kasus video porno YZ dan EM yang jelas-jelas menodai prinsip-prinsip moral dan agama.
Mengapa bukan UU Pornografi yang segera di revisi ulang, dengan sanksi lebih keras kepada pejabat Negara yang berbuat mesum misalnya? Justru UU Perkawinan yang sudah mapan dan sakral keberadannya selalu diutak-atik?
Pertanyaan mendasar berikutnya adalah haruskah pemerintah ikut campur dalam permasalahan poligami? Kontroversi pro kontra secara meluas terjadi di masyarakat, apalagi setelah pemerintah bertekad untuk memperketat peraturan tentang poligami di masyarakat luas. Pada dasarnya kita harus menyambut baik i’tikad pemerintah dalam meningkatkan pemberdayaan dan perlindungan terhadap kaum perempuan. Kita akan berdebat panjang tentang masalah poligami ini, karena sudut pandang
permasalahannya berbeda, dan sulit untuk menentukan titik temu jika tetap bersih kukuh terhadap pendapat masing-masing. Namun perlu kita ketahui bersama bahwa negara ini diselimuti oleh berbagai permasalahan yang jauh lebih penting untuk diprioritaskan dari isu poligami. Skala prioritas sangat diperlukan untuk menciptakan bangsa ini bermartabat diantara bangsa-bangsa yang lain. Sudah seharusnya
pemerintah untuk melakukan introspeksi dalam menentukan masalah-masalah priritan dan sekelumit permasalahan bangsa yang belum terselesaikan. Kalau masalah
poligami dijadikan sekala prioritas untuk selalu diperbincangkan, maka dikhawatirkan akan terjadi kontroversi yang berkepanjangan serta perpecahan dan akan
menimbulkan masalah-masalah baru.
Kejernihan pemerintah dalam menangani berbagai permasalahan bangsa sangat diharapkan oleh masyarakat. Pemerintah diharapkan tidak mengkompori isu-isu kecil yang sebenarnya bisa diatasi oleh masyarakat. Isu poligami hendaknya di usung secara positif, mengingat dampak yang akan terjadi jika poligami diperketat peraturannya. Tindakan asusiala sudah pasti bisa diprediksi akan meningkat jika keinginan seseorang untuk berpoligami selalu dikekang. Apabila bangsa ini lengah terhadap permasalahan-permasalahn besar yang harus dijadikan skala prioritas dalam penyelesaiannya, maka bangsa ini akan semakin terpuruk. Dari keterpurukan inilah bangsa lain akan lebih leluasa untuk mengeruk sumber kekayaan kita diberbagai tanah air di indonesia. Sampai kapan keadaan ini akan terhenti?