• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERANGKA TEORI

B. Polisemi Sebagai Fenomena Semantik

1. Pengertian Polisemi

Polisemi merupakan suatu unsur fundamental di dalam tutur manusia yang dapat muncul dalam berbagai cara, salah satunya adalah faktor dari bahasa asing. Kata “polisemi” berasal dari bahasa Inggris, yaitu polysemy, yang berarti makna ganda, sebuah kata yang dikelompokan dengan kata lain di dalam klasifikasi yang sama berdasarkan makna yang berbeda.

Penulis mendapatkan beberapa pengertian polisemi dari beberapa linguis, para ahli linguis mempunyai pendapat yang sejalan bahwa, polisemi itu adalah satu kata yang memiliki makna lebih dari satu. Hal tersebut dapat kita simak dari pendapat Lyons yang menyatakan bahwa polisemi (multiple meaning) is a property of a single lexemes. Pateda mengatakan: “it is also the case that same word may have a set of different meanings”; demikian ada juga ada yang mengatakan, “a word which have too (or more) related meanings” adalah polisemi.20 Sementara itu, penulis lokal yaitu Suparno dalam buku Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kerja Kependidikan bahwa polisemi secara harfiah berarti banyak makna. Polisemi sebagai istilah berarti bermakna banyaknya suatu kata atau tanda bahasa dengan catatan makna yang banyak itu memiliki banyak hubungan antara satu dengan yang lainnya. Polisemi juga merupakan satu ujaran dalam bentuk kata-kata yang mempunyai makna

20

T. Fatimah Djajasudarma, Semantik 1: Pengantar ke Arah Ilmu Makna, (Bandung: Refika Aditama, 1999), hal. 45

17

beda, tetapi masih ada hubungan dan kaitannya antara makna-makna yang berlainan tersebut, maksudnya masih ada dalam satu bidang.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa polisemi adalah leksem yang mengandung makna ganda. Karena kegandaan makna seperti itulah maka pendengar atau pembaca ragu-ragu menafsirkan makna leksem atau kalimat yang didengar atau dibacanya. Untuk menghindari kesalahpahaman sudah barang tentu saja kita harus melihat terlebih dahulu konteks kalimatnya, atau kita bisa bertanya lagi kepada si pembicara, apakah yang ia maksud.

Pengertian polisemi bertumpang tindih dengan pengertian homonimi, yaitu kesamaan kata-kata yang berbeda.21 Homonimi dan polisemi tumbuh oleh faktor kesejarahan dan faktor perluasan makna. Berdasarkan dari pengumpulan data, proses polisemi bukan hanya terjadi pada tataran morfologi itu sendiri, tetapi pada tataran frase dan sintaksis, dalam hal morfologi, polisemi terjadi baik dalam hal pelafalan maupun leksem itu sendiri.

2. Jenis-Jenis Polisemi

Di dalam bukunya Stephen Ullmann menjelaskan bahwasanya polisemi terdiri atas lima jenis, empat di antaranya terletak pada bahasa yang bersangkutan sedangkan yang satu lagi bersangkutan dengan munculnya pengaruh bahasa asing. Maka penulis akan menyebutkan kelima jenis polisemi tersebut berdasarkan pendapat Ullmann di antaranya adalah:

21

18

1. Pergeseran Penggunaan, pergeseran penggunaan terutama tampak mencolok dalam penggunaan adjektiva karena adjektiva ini cenderung berubah maknanya sesuai nomina yang diterangkan. Sebagian besar kata muncul karena pergeseran penggunaan, walau faktor lain, seperti penggunaan kias, mungkin saja ikut berperan. Pergeseran dalam penggunaan ini merupakan pelaku utama di belakang banayaknya jumlah makna dengan penggunaan kias sebagai suatu faktor penyumbang yang penting. Contoh dalam bahasa Indonesia, verba makan yang semula hanya untuk manusia dan binatang, itu pun dengan cara dan proses yang berbeda-beda, misalnya makan ayam, makan bebek, makan asam garam, makan suap.

2. Spesialisasi dalam Lingkungan Sosial. Breal mengemukakan bahwa “dalam setiap situasi, dalam setiap lingkungan dagang dan profesi, atau suatu gagasan tertentu. Orang dapat menemukan sekian banyak contoh kata-kata yang mempunyai makna umum dalam bahasa sehari-hari dan makna khusus dalam suasana terbatas:maju, jatuh dikalangan mahasiswa;aman, sepi, panen dikalangan perdagangan.

3. Bahasa Figuratif (kiasan), sudah dikemukakan bahwa metafora dan kias-kias lainnya merupakan faktor penting dalam motivasi dan dalam

overtone emotif. Sebuah kata dapat diberi dua atau lebih pengertian yang bersifat figuratif tanpa menghilangkan makna orisinalnya: makna yang lama dan makna yang baru akan tetap berdampingan selama tidak terjadi kekacauan makna. Metafora muncul atas dasar adanya kesamaan-kesamaan bukanlah satu-satunya penyebab polisemi. Metonimi, yang munculnya tidak didasarkan atas kesamaan melainkan didasarkan atas kaitan-kaitan tertentu antara dua buah makna, bisa juga bertindak sebagai metafora. Contohnya, ‘dewan’ tidak hanya menunjuk kepada ‘meja’ untuk siding, melainkann juga untuk orang-orang anggota dewan yang duduk disekitar meja itu.

4. Homonim-Homonim yang Diinterprestasikan Kembali, jika dua kata mempunyai bunyi yang identik dan perbedaan maknanya tidak begitu besar, kita cenderung untuk memandangnya sebagai dua kata dengan dua pengertian. Secara historis, ini adalah masalah homonimi karena dua kata itu berasal dari sumber-sumber yang berbeda. Apa yang dulunya homonimi, kemudian diinterprestasikan sebagai polisemi karena ketidaktahuan aka nasal-usul kata yang berhomonimi itu. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karya Poerdarminta, homonimi ditunjukan dengan menggunakan angka Romawi besar (I, II, dst,.) sedangkan polisemi ditunjukan dengan menggunakan angka Arab (1, 2, 3, dst). Angka Romawi ditulis secara berurut secara vertikal, sedangkan angka Arab ditulis secara horizontal.

5. Pengaruh Asing, salah satu masuknya pengaruh asing ke dalam suatu bahasa adalah dengan mengubah makna yang ada dalam suatu kata asli.

19

Contohnya, taste, misalnya, mempunyai dua makna pokok, yaitu ‘mencicipi rasa sesuatu’ dan ‘kearifan dan penghargaan terhadap keindahan’.22

Di antara lima jenis polisemi yang telah Penulis sebutkan di atas penulis bisa mengatakan bahwa ketiga jenis pertama, yaitu pergeseran penggunaan, spesialisasi makna, dan penggunaan kiasan, adalah jenis-jenis yang paling penting; yang keempat (yaitu interpretasi kembali atas homonim) sangat jarang terjadi, dan yang kelima (peminjaman makna) meskipun cukup umum terjadi dalam situasi-situasi tertentu, bukanlah merupakan proses biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Para filosof beramai-ramai mengemukakan bahwa polisemi itu merupakan kelemahan bahasa dan merupakan hambatan besar dalam komunikasi dan bahkan dalam kejelasan pikir. Akan tetapi, Breal melihat bahwa dalam kemultigandaan makna ada suatu tanda keagungan bahasa itu. Polisemi merupakan faktor ekonomi dan fleksibilitas dalam bahasa yang tak ternilai harganya.

Kadang-kadang sangat sulit untuk membedakan antara polisemi dan homonimi. Akan tetapi, hal ini tidak mengherankan karena dua istilah ini berhubungan dengan makna dan sekaligus dengan bentuk. 23

3. Pengertian Homonimi

Dibandingkan dengan polisemi, homonimi tidak begitu sering terjadi dan tidak begitu kompleks, walaupun efeknya mungkin lebih serius dan bahkan lebih

22

Stephen Ullmann, Pengantar Semantik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 202-210.

23

20

dramatis dalam fenomena semantik. Istilah homonimi (Inggris: homonymy) berasal dari bahasa Yunani Kuno, onoma diartikan nama dan homos diartikan sama. Secara harfiah, homonimi adalah nama sama untuk benda yang berlainan.24 Menurut T. Fatimah Djajasudarma, kata homonimi adalah hubungan makna dan bentuk bila dua buah makna atau lebih dinyatakan dengan sebuah bentuk yang sama (homonimi ‘sama nama’ atau sering disebut juga dengan homofoni ‘sama bunyi’. Sedangkan Kushartanti mengatakan bahwasannya homonimi adalah relasi makna antarkata yang ditulis sama atau dilafalkan sama, tetapi maknanya berbeda.

25

Seorang ahli linguis lainnya seperti John Lyons mengatakan dalam buku Bahasa dan Linguistik Suatu Pengenalan, mengatakan homonimi adalah pendekatan yang berbeda tetapi mempunyai bentuk yang sama. Sedangkan, menurut Aminuddin dalam buku Semantik Pengantar Studi tentang Makna mengatakan, bahwa homonimi tersebut adalah beberapa kata yang memiliki bentuk ujaran yang sama, tetapi memiliki makna yang berbeda-beda.

Berdasarkan pendapat Ullmann homonimi bisa terjadi disebabkan oleh tiga cara, di antaranya adalah: 26

1. Konvergensi Fonetis

Umumnya homonimi seringkali dijumpai dengan timbulnya konvergensi fonetis (pemusatan atau perpaduan bunyi). Karena pengaruh bunyi yang ada maka dua atau tiga kata yang semula berbeda bentuknya, lalu menjadi sama bunyinya dalam bahasa lisan atau bahkan sampai dengan

24

Mansoer Pateda, Semantik Leksikal, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal. 211 25

Kushartanti, Pesona Bahasa; Langkah Awal Memahami Linguistik, ( Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2007), hal. 118

26

21

bahasa tulisannya. Misalnya, seri bermakna ‘rangkaian’ atau ‘deretan’ dan seri ‘pohon ceri’

2. Divergensi Makna

Perkembangan makna yang “menyebar” (divergen) juga bisa menimbulkan homonimi. Jika dua buah makna atau lebih (polisemi) dari sebuah kata berkembang ke arah yang berbeda, maka di sana tidak akan jelas lagi hubungan antara makna-makna itu, dan kesatuan kata itu menjadi rusak, dan polisemi berubah menjadi homonimi. Dalam beberapa hal ada kriteria yang memadai untuk menentukan homonimi. Perbedaan ejaan mungkin memang tidak pasti dalam menyelesaikan masalah, namun dalam hal ini ada kaitan dengan faktor-faktor lain, hal ini menunjukkan bahwa kata itu sudah tidak lagi dianggap sebagai sebuah satuan. Kriteria lain yang kadang-kadang dapat menentukan homonimi atau bukan homonimi adalah rima. Kriteria semacam ini memang sangat menolong dalam beberapa hal tetapi tetap tidak dapat menyelesaikan masalah seluruhnya. Misalnya, flower bermakna ‘bunga’ dan flour ‘tepung’.27

3. Pengaruh Asing

Banyaknya kata asing yang masuk ke dalam suatu bahasa sangat mungkin menimbulkan homonimi dalam bahasa Inggris dan dalam bahasa-bahasa lainnya. Pengaruh bahasa asing dapat juga membawa ke arah homonimi lewat peminjaman makna (semantic borrowing), ini memang proses yang jarang terjadi. Misalnya, butir ‘barang yang kecil -kecil’ atau ‘kata bantu bilangan’ (sebutir kelapa), sekarang dipakai juga untuk mengacu konsep yang datang dari bahasa Inggris, item ‘butir tes’. 4. Batasan-batasan Antara Polisemi dan Homonimi

Untuk memahami batas antara kasus homonimi dan polisemi atau sebaliknya polisemi dengan homonimi, Palmer, mengungkapkan perlu adanya sejumlah hal yang patut diperhatikan, yakni:

a) Melihat kamus dan memahami etimologinya sebagai pemakai bahasa dapat memahami makna dasar setiap kata yang batas polisemi dan homoniminya rancu. Dengan mengetahui makna dasarnya, diharapkan

27

22

kita dapat menetapkan apakah bentuk kebahasaan itu termasuk polisemik ataukah homonim. Dengan memahami etimologinya, misalnya pada bentuk lik dan dhe, seseorang akan segera memahami bahwa kedua bentuk itu bukan polisemik melainkan homonim.

b) Memahami konteks pemakainnya. Apabila bentuk kebahasaanya itu digunakan sebagai metafor, misalnya dapat dipastikan bahwa kehadiran maupun makna di dalamnya bukan akibat polisemi maupun homonim, melainkan akibat pemindahan makna yang secara individual dilakukan oleh penutur. Meskipun demikian, patut pula diperhatikan bahwa gaya bahasa individual itu bisa menjadi umum, misalnya: bentuk tanyakan pada rumput yang bergoyang yang secara umum dapat diberi makna “sama sekali tidak tahu”, “tidak mau tahu”, atau “sekedar member tahu” pertanyaan itu tidak lucu. Dalam hal itu, bentuk metaforis telah termasuk ke dalam polisemi.

c) Melihat makna inti atau core of meaning. Apabila bentuk yang semula rancu harus dinamai polisemik atau homonimi dapat ditentukan makna intinya, kedudukan akhirnya dapat ditentukan. Memiliki makna inti berarti polisemik, dan apabila memiliki makna inti berbeda berarti homonimi.

d) Mengkaji hubungan strukrulanya. Dengan melihat bahwa kata syah dan sah memiliki relasi struktural dengan kolokasi yang jauh berbeda, dapat ditentukan bahwa bentuk itu adalah homonim.

23

5. Perbedaan Antara Homonimi dan Polisemi

Palmer mengemukakan cara untuk membedakan polisemi dari homonimi caranya yaitu:

a) Penelusuran secara etimologis. Misalnya bentuk pupil yang bermakna murid atau mahasiswa yang tidak langsung berhubungan dengan pupil of the eye yang bermakna biji mata, tetapi secara historis dianggap berasal dari bentuk yang sama.

b) Mencari makna ini. Misalnya kata tangan yang biasa dihubungkan dengan bagian anggota badan. Tetapi dalam perkembangannya, terdapat urutan tangan kursi, dan terdapat urutan kaki tangan musuh.

c) Mencari antonimnya. Maksudnya, kalau antonimnya sama, maka kita berhadapan dengan polisemi, dan kalau antonimnya berbeda, kita berhadapan dengan homonimi. Misalnya, kata indah yang dapat digunakan untuk rumah, baju, pemandangan. Antonimi kata indah adalah buruk. Kata buruk dapat digunakan untuk baju, pemandangan. Dengan demikian kata indah bermakna ganda atau polisemi.

d) Alasan formal. Contoh, dalam bahasa Perancis terdapat bentuk poli yang bermakna tingkah laku yang halus, baik yang dihubungkan dengan makna literer, maupun makna kiasan.28

6. Polisemi dan Perubahan Makna

Bahasa mengalami perkembangan, perkembangan bahasa pun mempengaruhi perkembangan makna di dalam perkembangan makna selalu mencakup segala hal tentang makna yang berkembang, berubah, dan bergeser. Dan di dalam hal ini pula, perkembangan meliputi beberapa hal tentang perubahan makna, baik yang meluas, menyempit atau yang bergeser maknanya. Gejala perubahan makna sebagai akibat dari perkembangan makna oleh para pemakai bahasa. Bahasa berkembang sesuai dengan perkembangan pikiran manusia.

28

Mansoer Pateda, Semantik Leksikal, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), cet. Ke-2, hal, 221-222

24

Seperti yang dinyatakan sebelumnya, ada beberapa faktor yang mengakibatkan sebuah makna akan berubah dari makna aslinya. Semua itu diakibatkan karena adanya perkembangan bahasa. Perubahan makna dengan mudah bisa terjadi karena berbagai faktor-faktor berikut ini, antara lain:

a) Menurut Meillet, bahasa itu dialihkan secara turun-temurun dalam suatu cara yang „tak berkesinambungan‟ dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Sebagian besar dari beberapa linguis menyetujui bahwa ini merupakan salah satu faktor yang sangat penting, meskipun sangat sulit dalam membuktikan bahwa suatu perubahan dapat terjadi hanya dalam bahasa anak-anak.

b) Sumber perubahan makna yang lain adalah kekaburan makna. Berbagai kekaburan makna di antaranya yaitu sifat generik kata, banyaknya aspek dalam kata, kurangnya keakraban, tidak adanya batas makna yang jelas-semua itu mempermudah bergesernya penggunaan.

c) Hilangnya motivasi juga merupakan faktor yang menyebabkan perubahan makna.

d) Adanya polisemi menunjukkan unsur kelenturan dalam bahasa. Tidak ada kata akhir untuk suatu perubahan makna: sebuah kata dapat memperoleh makna baru, atau sejumlah makna baru, tanpa kehilangan makna aslinya. Biasanya polisemi hanya dipakai oleh seseorang pada sebuah konteks.

25

e) Banyak perubahan makna berasal dari adanya konteks bermakna ambigu (ambiguous contexts) di mana sebuah kata tertentu dipakai dalam dua makna, sementara makna ujaran secara keseluruhan tetap tak terpengaruh.

f) Struktur kosakata merupakan faktor yang paling terpenting dari faktor-faktor yang umum yang menyebabkan perubahan makna terjadi.

7. Sebab-Sebab Perubahan Makna

Perubahan makna bisa disebabkan oleh berbagai sebab; ada yang menyebut tidak kurang dari 31 kemungkinan. Ada sebab-sebab yang mungkin unik untuk suatu kasus, yang hanya bisa dibangun hanya dengan merekonstruksi keseluruhan semua latar belakang sejarahnya, tetapi bisa pula karena sebab-sebab umum. Enam sebab di antaranya yaitu:29

1. Sebab-sebab yang bersifat kebahasaan

Dalam hal ini Breal pernah mengemukakan adanya proses penularan (contagion), dalam arti makna sebuah kata mungkin dialihkan kepada kata yang lain hanya karena kata-kata itu selalu hadir bersama-sama dalam banyak konteks.

2. Sebab-sebab historis

Sering terjadi bahwasannya bahasa itu lebih konservatif daripada peradaban material maupun moral. Objek atau benda, lembaga, gagasan, konsep ilmiah, selalu berubah sepanjang waktu.

3. Sebab-sebab sosial

Sebuah kata semula dipakai dalam arti umum kemudian dipakai dalam bidang khusus, misalnya dipakai dalam istilah perdagangan atau

29

Stephen Ullman, Pengantar Semantik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 251-262

26

kelompok terbatas yang lain, kata itu cenderung memperoleh makna yang terbatas.

4. Faktor psikologis

Perubahan makna yang secara psikologis lebih menarik adalah yang bersumber pada unsur atau yang berkecendrungan yang berakar dalam jiwa penutur. Dalam studi makna ada dua sebab semacam itu yang ditekankan hanya faktor emotif dan tabu.

5. Pengaruh asing sebagai penyebab perubahan makna; Banyak perubahan makna disebabkan oleh pengaruh suatu model asing.

6. Kebutuhan akan makna baru

Cepatnya kemajuan ilmu dan teknologi masa kini makin meningkatkan tuntutan pada sumber-sumber kebahasaan, dan kemungkinan-kemungkinan metafora dan jenis-jenis perubhan makna yang lain menjadi sangat dieksploatasi.

Dokumen terkait