• Tidak ada hasil yang ditemukan

Politik Pendidikan di Indonesia Pada Masa Sekarang

Dalam dokumen Makalah Politik Pendidikan fix (Halaman 45-51)

B. Politik Pendidikan Pada Masa Sekarang

2. Politik Pendidikan di Indonesia Pada Masa Sekarang

Kekuasaan sebagai inti dalam berpolitik untuk mengurus urusan rakyat, sedangkan penyadaran sebagai inti proses pendidikan untuk pembebasan. Kedua kata antara politik dan Pendidikan adalah suatu kesatuan yang tidak

bisa terpisahkan dalam kehidupan nyata. Karena memang politik itu adalah pendidikan, dan pendidikan adalah politik itu sendiri (John Dewey).

Jika demikian halnya, maka kekuasan dalam artian kata politik untuk mengurus kepentingan rakyat harus membuat sistem pendidikan yang membebaskan. Membebaskan karena Pendidikan adalah proses untuk memanusiakan manusia (Ki Hajar Dewantoro). Dengan demikian segala bentuk pendidikan yang berdasarkan pada penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. (UUD 1945).

Pendidikan di Indonesia masih dehumanistik (tidak membebaskan) karena manajemen pendidikan nasional dalam pusaran kekuasaan (H.A.R. Tilaar). Kebebasan dalam bernalar dihapuskan yang ada hanya penghafalan materi yang sangat teoritis, sehingga kita tak mampu membayangkan bagaimana wujud nyatanya ilmu itu.

Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang menghargai proses dalam mengembangkan potensi yang ada pada peserta didik. Bahwa segala bentuk pemaksaan dan hukuman pasti akan berakhir dengan kegagalan (Evaluasi dan Remedial). Kegagalan pada peserta didik akan berdampak pada terciptanya manusia yang mudah stress, frustasi, dan penghayal. Bahayanya keadaan demikian akan memicu kerusakan moral, tindakan yang buruk, dan pengangguran.

Arti pendidikan yang sebenarnya yaitu proses memanusiakan manusia untuk bisa menjadi manusia yang bisa menyelesaikan permasalahan hidupnya dengan cara yang baik sesuai dengan hati nurani (kata hati yang terdalam). Maka dari itu, ikhtiar memanusiakan kembali manusia (humanisasi) merupakan pilihan mutlak. Humanisasi satu-satunya pilihan bagi kemanusiaan, karena walaupun dehumanisasi adalah kenyataan yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia dan tetap merupakan suatu kemungkinan ontologis dimasa mendatang, ia bukanlah suatu keharusan sejarah. Secara dialektis, suatu kenyataan tidak mesti menjadi suatu keharusan. Jika kenyataan menyimpang dari keharusan, maka menjadi tugas manusia untuk merubahnya agar sesuai dengan apa yang seharusnya (the man’s ontological vocation).

Masyarakat pendidikan tersadar bahwa SDM produk dari sistem pendidikan nasional kita tidak bisa bersaing dalam persaingan global sehingga kita hanya mampu mengekspor tenaga kerja PRT, sebaliknya tenaga skill pun di dalam negeri harus bersaing dengan tenaga skill dari luar. Dibutuhkan keputusan politik dan kemauan politik yang sungguh-sungguh untuk mengubah sistem pendidikan di Indonesia menjadi pembangun budaya bangsa. Sayang ahli-ahli pendidikan kita lebih berorientasi kepada teksbook dibanding melakukan ujicoba sistem di lapangan.

Pendidikan bermutu memang mahal, tetapi kenaikan anggaran pendidikan di APBN menjadi 20% pun tidak banyak membantu jika kreatifitas Depdiknas, hanya pada proyek-proyek pendidikan bukan pada pengembangan pendidikan. Namun dalam kenyataannya tidak menunjukkan suatu relevansi yang nyata. Bahkan riil, anggaran pendidikan hanya berkisar 10% dari APBN, dan itu pun hanya untuk membiayai anggaran rutin seperti penyediaan alat-alat belajar, gaji guru dan karyawan dan sebagainya.

Swasta mempunyai peluang untuk melakukan inovasi pendidikan tanpa terikat aturan birokrasi yang jelimet, tetapi menjadi sangat menyedihkan ketika dijumpai banyak lembaga pendidikan swasta yang orientasinya pada bisnis pendidikan. Sekolah-sekolah international diperlukan sebagai respon terhadap globalisasi, tetapi pembukaan sekolah international oleh asing sangat riskan dari segi budaya bangsa karena filsafat pendidikannya berbeda.

Penyelenggara pendidikan di negara maju memahami persis bahwa fitrah manusia memang berbeda-beda, sebagaimana halnya sifat alam. Penghargaan akan talenta dan keunikan SDM dihargai sedemikian tinggi sehingga tidak heran apabila atlet atau penyanyi memiliki penghasilan berkali lipat lebih besar daripada bankir, birokrat, apalagi politisi. Ibarat tanaman tropis tidak dapat tumbuh baik di iklim dengan empat musim, manusia juga memiliki berbagai karakter sehingga tidak dapat disamaratakan.

Pendidikan Nasional semakin menyimpan banyak persoalan dan sampai sekarang belum terselesaikan. Banyak kasus pendidikan yang sempat menjadi keprihatinan kita bersama, seperti kasus contek massal, kasus penggusuran sekolah-sekolah yang secara tidak langsung menjadi indikasi bagi

keberlangsungan Pendidikan Nasional yang masih terseok-seok. Proses penyelenggaraan Pendidikan Nasional masih sering terbentur dengan berbagai kendala, baik dari segi kebijakan, sistem sosial dan kesadaran kita sendiri. Dengan kata lain terdapat problem kebijakan pemerintah yang tidak memiliki komitmen dalam menyelenggarakan pendidikan dan problem visi Pendidikan Nasional yang masih belum bisa berpihak pada rakyat jelata.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa untuk jaman sekarang pemerintah hendaknya mengadakan sekolah negeri umum untuk semua warga Negara dengan tidak membedakan golongan-golongannya, golongan “asli” ataupun “warga Negara baru”. Golongan-golongan tersebut diberikan kesempatan secara bebas untuk mendirikan sekolah-sekolah denga alasan yang berhubungan dengan kebudayaan. Dan wajib mementingkan segala mata pelajaran yang perlu bagi tiap-tiap warga negara. Janganlah sekali-sekali di sekolah tersebut ada kesempatan bagi golongan-golongan tersebut untuk melakukan “infiltrasi” kepolitikan secara langsung atau dengan berselimut kebudayaanatau pelajaran lainnya. Sekolah-sekolah bagi warga Negara “baru” tadi bersifat “Nasional” Indonesia semata-mata.

Pendidikan di Indonesia masih dehumanistik (tidak membebaskan) karena manajemen pendidikan nasional dalam pusaran kekuasaan (H.A.R. Tilaar). Kebebasan dalam bernalar dihapuskan yang ada hanya penghafalan materi yang sangat teoritis, sehingga kita tak mampu membayangkan bagaimana wujud nyatanya ilmu itu. Dengan kata lain pendidikan nasional kita masih terdapat problem kebijakan pemerintah yang tidak memiliki komitmen dalam menyelenggarakan pendidikan dan problem visi Pendidikan Nasional yang masih belum bisa berpihak pada rakyat jelata.

B. Saran

Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun terhadap penulisan makalah ini. Dan penulis juga berharap pemerintah kita lebih bijak dalam membangun dan mengembangkan sistem pendidikan nasional agar pendidikan dapat terselenggara secara merata tanpa ada pengecualian status

sosial. Dan proses pengajaran juga diharapkan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi berupa ilmu terapan yang bisa diaplikasikan langsung secara nyata.

Dalam dokumen Makalah Politik Pendidikan fix (Halaman 45-51)

Dokumen terkait