• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: KONSEPSI DAN KERANGKA TEORETIS

B. Politik Uang

Istilah politik uang telah digunakan untuk menggambarkan praktik-ptaktik sejak demokratisasi di Indonesia yang diawali pada akhri 1990-an. Istilah ini telah digunakan secara umum, definisi dari istilah tersebut masih buram. Untuk menghindari keburaman dari istilah politik uang, perlu diidentifikasikan sesuai standar yang ada dalam berbagai studi komparatif tentang politik elektoral di berbagai negara. Kemudian pada penelitian ini akan berfokus pada konsep patronase dan klientelisme. 31

Menurut Shefter(1994) mendefinisikan patronase sebagai sebuah pembagian keuntungan diantara politisi untuk membagikan sesuatu secara individual kepada pemilih, pekerja atau penggiat kampanye, dalam rangka mendapatkan dukungan politik. Kemudian patronase merupakan pemberian uang tunai, barang, jasa, dan keuntungan ekonomi lainnya yangdiberikan oleh politisi, termasuk keuntungan yang ditujukan kepada individu dan kelompok/komunitas.32

Sedangkan menurut Hutchcroft(2014) klientelisme merupakan relasi kekuasaan yang personalistic, dan keuntungan material dipertukarkan dengan dukungan politik. Hutchcroft menekankan pada relasi klientelistik merupakan relasi tatap muka secara langsung. Hicken (2011) menjelaskan terdapat tiga hal yang terkandung dalam klientelisme, pertama, kontigensi atau adanya timbal balik, biasanya sumber-sumber material dipertukarkan dengan suara atau bentuk dukungan politik lainnya. Kedua, hierarkis, adanya penekanan pada relasi kekuasaan yang tidak seimbang antara patron dan klien. Ketiga, aspek

31 Edward Aspinall dan Mada Sukmajati, Politik Uang di Indonesia: Patronase dan Klientelisme pada Pemilu Legislatif 2014 (Yogyakarta: PolGov, 2015) hal 2

25

pengulangan, dimana terjadi pertukaran klientelistik berlangsung secara terus-menerus.33

Politik uang (money politic) yang dalam Bahasa Indonesia berarti suap, suap dalam buku Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah uang sogok.34 Menurut Rozali Abdullah politik uang adalah suatu kegiatan memberi atau menjanjikan sesuatu, baik dalam bentuk uang ataupun materi lain kepada seorang pemilih agar yang bersangkutan tidak menggunakan hak pilihnya atau memberikan hak suaranya kepada peserta pemilu tertentu.35

Politik uang juga dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk mempengaruhi orang lain dengan memberikan imbalan materi dan dapat juga diartikan sebagai kegiatan jual-beli suara yang terjadi pada proses politik dan kekuasaan serta tindakan membagi-bagikan uang baik milik pribadi atau partai untuk mempengaruhi suara pemilih (vooters). Secara umum terdapat adanya kesamaan dengan pemberian uang atau barang kepada seseorang karena memiliki maksud politik yang tersembunyi dibalik pemberian itu. Jika tidak ada maksud tertentu, maka pemberian tidak akan dilakukan juga. Praktik semacam itu jelas bersifat ilegal dan merupakan kejahatan. Konsekuensinya adalah jika dapat ditemukan sejumlah bukti atas terjadinya praktik politik uang tersebut, maka akan terjerat undang-undang anti suap.36

33 Edward Aspinall dan Mada Sukmajati, Politik Uang di Indonesia: … hal 5

34 KBBI. Pengertian Suap. Tersedia di http://kbbi.web.id/suap. diakses pada 24 oktober 2019.

35 H. Rozali Abdullah. Mewujudkan Pemilu yang Lebih Berkualitas. (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2009), hal 199.

36 KPU Kabupaten Klaten, “Say No To Money Politic”, KPU Kabupaten Klaten, 6 Maret 2014 [jurnal on-line] tersedia di https://kpu-klatenkab.go.id; internet; diakses pada 24 oktober 2019.

26

Secara umum, politik uang diartikan sebagai upaya seseorang bertujuan untuk mempengaruhi orang lain dengan menggunakan imbalan tertentu. Imbalan tersebut dapat berbentuk uang maupun barang tertentu. Yusril Ihza Mahendra sebagaimana dikutip oleh Indra Ismawan menyatakan bahwa money politic dilakukan dengan tujuan mempengaruhi massa pemilu dengan imbalan berupa materi. Johny Lomulus beranggapan bahwa politik uang merupakan kebijaksanaan atau tindakan memberikan sejumlah uang kepada pemilih atau pimpinan partai politik agar dapat masuk sebagai calon kepala daerah dengan menukarkan kursi-kursi yang telah dimenangkan oleh suatu partai atau calon.37

Uang politik adalah uang yang diperlukan secara untuk dapat mendukung operasional aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan oleh peserta pilkada. Besarannya ditetapkan dengan UU dan PP. Contohnya biaya administrasi pendaftaran pasangan kandidat, biaya operasional kampanye pasangan kandidat, pembelian spanduk dan stiker, dan lain sebagainya.Sumbernya bisa berasal dari simpatisan dengan tidak memiliki kepentingan khusus dan besarannya ditentukan dalam UU dan PP. Yang dimaksud dengan politik uang, menurut Teddy Lesmana dalam tulisan Fitriyah adalah, uang yang telah ditujukan dengan maksud-maksud tertentu, contohnya untuk melindungi kepentingan bisnis dan kepentingan politik tertentu. Politik uang dapat terjadi ketika seorang calon kandidat membeli dukungan suatu parpol tertentu atau membeli suara dari pemilih di wilayahnya untuk memilihnya dengan memberikan janji imbalan yang bersifat finansial. Politik uang juga dapat terjadi ketika pihak pemberi dana berkepentingan bisnis

37 Sri Wahyu Ananingsih, “Tantangan Dalam Penanganan Dugaan Praktik Politik Uang Pada Pilkada Serentak 2017”, Jurnal Masalah - Masalah Hukum, Jilid 45 No. 1, 1 Januari 2016 [jurnal on-line] tersedia di https://ejournal.undip.ac.id; internet; diakses pada 24 oktober 2019.

27

maupun politik tertentu. Bentuknya bisa berupa uang, namun dapat juga berupa bantuan-bantuan sarana fisik pendukung kampanye pasangan kandidat tertentu.38

Sumbangan politik uang terhadap kebutuhan dana dalam jumlah besar, terutama untuk komponen tidak resmi yang harus dikeluarkan kandidat, signifikan. Ini setidaknya dapat dilihat dari pendapat Hanta Yuda AR. Menurutnya, biaya besar yang karena pilkada kerap disertai dengan praktek politik uang dan pemakelaran pencalonan kepala daerah.Politik uang dan pemakelaran inilah yang menyebabkan biaya pilkada semakin menggelembung dan ongkos demokrasi semakin tinggi. Menurut Wahyudi Kumorotomo terdapat beragam cara untuk dapat melakukan kecurangan politik uang dalam pilkada secara langsung, yaitu:

a. Politik uang yang dilakukan secara langsung dapat menyerupai pembayaran tunai dari "tim sukses" calon tertentu kepada calon pemilih yang potensial.

b. Sumbangan yang diberikan oleh calon kepada parpol yang telah mendukungnya, atau

c. melakukan sumbangan wajib yang telah disyaratkan oleh suatu parpol kepada kader atau bakal calon yang akan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota.39

Sedangkan politik uang yang dilakukan secara tidak langsung dapat berbentuk dengan pemberian hadiah atau doorprize, pembagian sembako kepada

38Fitriyah, “Fenomena Politik Uang Dalam Pilkada”. Politika: Jurnal Ilmu Politik, vol. 3,

no. 1, pp. 5-14, 7 Mei 2013 [jurnal on-line] tersedia di https://ejournal.undip.ac.id; internet; diakses pada 24 oktober 2019.

39 Fitriyah, “Fenomena Politik Uang Dalam Pilkada”. Politika: Jurnal Ilmu Politik, vol. 3,

28

calon pemilih, pembagian kebutuhan tertentu di daerah pemilihan yang memiliki kebutuhan yang berbeda, dan sebagainya. Para calon bahkan tidak dapat menghitung secara persis berapa yang mereka telah habiskan untuk sumbangan, hadiah, spanduk, dan sebagainya, disamping biaya resmi untuk pendaftaran keanggotaan, membayar saksi, dan kebutuhan administratif lainnya.40

Praktik politik uang dalam setiap kegiatan politik dapat menyebabkan masyarakat sulit membedakan antara penyelenggaraan mekanisme politik dengan politik uang. Singkatnya, terbentuk sebuah pandangan umum bahwa adanya politik uang dalam setiap kompetisi politik merupakan sebuah keharusan keberadaannya. Kemudian, terjadinya semacam pandangan bahwa uang merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam penentuan hasil dari pemilihan umum. Selain itu, ketidaksiapan partai politik untuk menyediakan kader-kader yang memenuhi kriteria yang baik, baik sebagai calon maupun sebagai relawan yang mau bekerja secara terus menerus untuk melakukan sosialisasi kepada calon-calon yang telah diajukan oleh partai. Dengan demikian, calon-calon-calon-calon yang akan maju kemudian akan melakukan cara-cara mudah untuk menggerakkan rakyat yang memiliki hak pemilih untuk dapat memberikan hak pilihnya.

Hal ini yang dapat menyebabkan kualitas dari pejabat publik menjadi menurun dan terabaikan. Karena seseorang dipilih menjadi pejabat politik bukan hanya karena kualitas atau kapasitasnya dan kompetensinya untuk dapat menempati posisi politik tersebut, tetapi semata-mata hanya karena memberikan uang kepada para pemilih pada saat menjelang pemilihan. Hal ini dapat

40 Fitriyah, “Fenomena Politik Uang Dalam Pilkada”. Politika: Jurnal Ilmu Politik, vol. 3,

29

menyebabkan jabatan-jabatan publik akhirnya ditempati oleh mereka yang sesungguhnya tidak memiliki kriteria yang memadai untuk menjalankan suatu pemerintahan dengan baik. Akibatnya, struktur negara tidak dapat bekerja dengan sebagaimana mestinya untuk mewujudkan cita-cita negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (common goods).

Dokumen terkait