Pondok pesantren merupakan rangkaian kata yang terdiri dari “pondok” dan “pesantren”. Kata pondok (kamar, gubuk, kamar kecil) yang dipakai dalam bahasa Indonesia dengan menekankan kesederhanaan bangunannya. “funduk” yang berarti ruang tempat tidur, wisma atau hotel sederhana. Karena pondok (tradisional umumnya) memang merupakan tempat penampungan sederhana bagi para pelajar yang jauh dari tempat asalnya (Mahmud dalam Suwito,2005;312).

Sedangkan pesantren berasal dari kata dasar “santri” yang dibubuhi awalan “pe’ dan akhiran “an” yang berarti tempat tinggal santri (Manferd Ziemek. 1986). Menurut beberapa ahli yang dikutip oleh Zamaksyari Dofier antara lain Jhons, kata santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji, sedangkan CC. Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari istilah shastri yang dalam bahasa

69

India berarti orang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau orang sarjana ahli kita suci agama Hindu. Kata shastri berasal dari kata shastra yang berarti buku-bhuku suci, buku-buku tentang ilmu pengetahuan (Ibid;313).

Dari beberapa definisi diatas jelas sekali bahwa dari segi etimologi lembaga pondok pesantren merupakan satu lembaga kuno yang mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan agama. Oleh karenanya wajar ketika ada sisi kesamaan (secara bahasa) antara pondok pesantren yang ada dalam sejarah Hindu dengan pondok pesantren yang lahir belakangan. Antara keduanya memiliki kesamaan prinsip pengajaran ilmu agama yang dilakukan dalam satu bentuk asrama.

Namun secara terminology, K.H. Imam Zarkasih mengartikan pesantren sebagai lembaga pendidikan islam dengan sistem asrama atau pondok, dimana Kyai sebagai figure sentral, Masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran islam dibawah bimbingan kyai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya.

Hal senada juga disampaikan oleh Sadjoko, pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama islam, umumnya dengan cara non klasikal (weton,

sorogan, dan lain-lain) dimana seorang Kyai mengajarkan ilmu agama islam kepada

santri berdasrkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa arab oleh ulama-ilama arab abad pertengahan, dan biasanya santri tinggal diasrama.

Dengan demikian, pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan islam yang mempunyai kekhasan sendiri, dimana kyai sebagai figure pemimpin, santri sebagai objek yang dikasih ilmu agama, dan asrama sebagai tempat tinggal para

70

santri. Lembaga pesantren bisa dikatakan sebagai lembaga islam tertua yang dalam sejarah Indonesia lembaga ini mempunyai peran besar dalam membantu proses keberlanjutan pendidikan nasional.

Ada beberapa pendapat yang membicarakan mengenai asal usul dari latar belakang pondok pesantren di Indonesia, pertama, pendapat yang menyebutkan bahwa pesantren berakar pada tradisi islam itu sendiri, yaitu tradisi tarekat. Para pengikut tarekat selain diajarkan amalan-amalan tarekat mereka diajarkan juga kita-kita agama islam. Aktifitas mereka itu kemudian dinamakan dengan pengajian. Dalam perkembangan selanjutnya lembaga pengajian ini tumbuh dan berkembang menjadi lembaga pesantren, bahkan dari segi penanaman istilah pengajian merupakan istilah baku yang digunakan dalam pondok pesantren, baik saaf maupun khaf .

Pendapat kedua, menyebutkan bahwa kehadiran pesantren di Indonesia diilhami oleh lembaga pendidikan ‘kuttab”, yakni lembaga pendidikan masa kerajaan Bani umayyah yang semula hanya wahana atau lembaga baca tulis dengan sistem

halaqoh (wetonan). Pada tahap berikutnya lembaga ini mengalami perkembangan

yang pesat, karena didukung oleh iuran masyarakat serta adanya rencana-rencana yang harus dipatuhi oleh pendidik dan anak didik. Artinya, menurut pendapat ini ada sisi kesamaan dari segi penyampaian ilmu pengetahuan agama, yakni melalui metode “halaqoh”, dimana kyai dan santri berkumpul dalam satu tempat untuk melakukan pengajaran.

Pendapat ketiga, seperti disebutkan dalam ensklopedia islam bahwa pesantren yang ada sekarang pada mulanya merupakan pengambil alihan dari sistem pesantren

71

orang-orang hindu di nusantara pada masa sebelum islam. Hindu serta membina kader-kader penyebar agama tersebut.

Terlepas dari itu, karena yang dimaksud dengan istilah pesantren dalam pembahasan ini adalah sebuah lembaga pendidikan dan pengembangan agama islam, dan pengembangan islam ditanah air, oleh karena itu tidaklah berlebihan bila kita katakana bahwa pondok pesantren yang pertama adalah pondok pesantren yang didirikan oleh syekh Maulana Malik Ibrahim atau syekh maulana Maghribi.

Pada periode awal ini (wali songo mendirikan pesantren dengan tujuan pada masa awal pondok pesantren hanya berfungsi sebagai alat islamisasi sekaligus memadukan tiga unsure pendidikan, yakni; ibadah untuk menanamkan iman, tabliq untuk menyebarkan ilmu, dan amal untuk mewujudkan keinginan masyarakat dalam kegiatan sehari-hari. Sehingga pada awal didirikan pesantren, kyai melakukan kegiatan pengajian kepada masyarakat dengan tanpa memungut biaya. Kondisi ekonomi kyai yang cukup mapan waktu itu, memberi peluang kepada santri dan masyarakat untuk mengikuti pengajian. Sebagai imbalannya para santri bekerja dalam bentuk menanam padi di sawah, dan berladang secara ikhlas dengan tanpa imbalan.

Keberadaan pesantren terus tumbuh dan berkembang dengan sendirinya dalam masyarakat. Para ulama yang bersifat non cooperation terhadap penjajah, sejak awal selalu berusaha menghindarkan tradisi serta mengajarkan islam dari pengaruh budaya barat, terutama yang dibawah oleh penjajah. Semua bentuk kebudayaan ala barat dipandang sebagai sesuatu yang harus dijauhi oleh umat islam.

72

Intstitusi ini jelas-jelas menjadi oposisi penjajah belanda. Gerakan anti kolonialis ini terus menerus dilancarkan melalui aktifitas pengajian. Usaha ini telah menjadi lembaga yang marginal. Fenomena pondok pesantren seperti itu telah mendorong pihak penjajah, rasa patriotis sebagai bangsa Indonesia semakin tumbuh secara alamiah dikalangan santri dan masyarakat sejalan dengan motto Hubbul

Wathan Minal Iman. Kondisi semacam ini tentu saja akan jelas-jelas menghambat

misi penjajah untuk menguasa Indonesia dan program kristenisasinya.

Dalam perkembangan selanjutnya, pondok pesantren kemudian melakukan akomodasi dan konsesi tertentu untuk kemudian melakukan pola yang dipandangnya cukup tepat dalam menghadapi modernisasi dan perubahan yang kian cepat dan berdampak luas. Upaya tersebut dilakukan untuk menghindari para santri yang hanya menguasai ilmu-ilmu agama secara parsial, tanpa didukung oleh ilmu pengetahuan umum sebagai basic beradaptasi dengan dunia yang semakin sarat dengan kecanggihan teknologi dan informasi.

Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika dalam sejarahnya, institusi ini terus survive dalam masyarakat hingga sekarang, bahkan telah memberikan corak terhadap pendidikan nasional. Terlepas dari beberapa pendapat diatas, dalam kenyataannya dewasa ini penyelenggarakan sistem pendidikan dan pengajaran dipondok pesantren dapat digolongkan menjadi tiga bentuk, yaitu :

a. Pondok pesantren yang cara pendidikan dan pengajarannya menggunakan metode sorogan dan bandongan yaitu seorang kyai mengajarkan santri-santrinya berdasarkan kitab-kitab klasik yang ditulis dalam bahasa arab

73

dengan sistem terjemahan. Pada umumnya pondok pesantren seperti menempatkan santrinya dalam asrama pondok dan dalam pengajarannya pun masih relative steril dari ilmu pengetahuan umum. Sehingga dalam perjalanan selanjutnya, para ahli sering menyebutnya pondok pesantren ini dengan sebutan salf murni.

b. Pondok pesantren, walaupun mempertahankan sistem pengajaran dan pendidikan, sebagaimana tersebut diatas akan tetapi lembaga pendidikan ini telah memasukkan pendidikan umum ke pesantren; seperti SMP,SMA,STM, dan SMEA. Atau dengan kata lain pada pondok pesantren model ini ada dua model pendidikan yang berjalan menurut aturan sendiri, dimana kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah umum dan kyai sebagai pemimpin sekaligus pengasuh pesantren. Biasanya pondok pesantren model ini dalam merealisasikan pengajarannya melalui pembagian waktu belajar, kelemahan yang terlihat jelas dari model ini adalah para santri selalu “dipaksakan’ untuk mengikuti dua pendidikan yang berbeda. Hal ini yang sering menyebabkan para santri mengeluh dan terbebani.

c. Pondok pesantren didalam sistem pendidikan dan pengajarannya mengintegrasikan sistem madrasah kedalam pondok pesantren dengan segala jiwa, nilai, dan atribut-atribut lainnya. Didalam pengajarannya memakai metode deduktif dan sistem evaluasi pada setiap semester dengan metode mengambil dari sistem klasikal ditambah dengan disiplin yang ketat melalui full asrama atau santri diwajibkan berdiam diasrama. Sistem madrasah yang

74

diterapkan dipondok pesantren ini merupakan suatu upaya untuk lebih mengorganisir manajemen pondok pesantren yang selama ini terkesan tidak jelas. Adanya sistem ini sudah pasti akan menghasilkan kualitas pendidikan pesantren yang lebih baik (suwito,2005;313-318).

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sebagai mahluk individu manusia dilahirkan sendiri dan memiliki ciri-ciri yang (Halaman 38-44)

Dokumen terkait