• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

E. Populasi dan Sampel

Untuk mengetahui lebih jelas mengenai populasi, terlebih dahulu penulis memberikan pengertian populasi berdasarkan rumusan yang dikemukakan oleh penulis, yaitu sebagai berikut:

Menurut Margono (1997: 57) mengatakan bahwa:

Populasi adalah seluruh objek yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang ligkup dan waktu yang kita tentukan populasi berhubungan dengan data, buka manusianya, kalau setiap manusia memberikan suatu data, maka banyaknya ukuran populasi sama dengan banyaknya manusia.

Berdasarkan definisi yang telah di kemukakan diatas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang dijadikan sumber data yang memiliki karakteristik penelitian yang terdapat dilokasi penelitian. Dalam hal ini yang menjadi populasi penelitian

adalah, guru 23 orang dan jumlah siswa adalah 150 orang. Dapat dilihat dalam table berikut :

Table 1 : Tabel Populasi

No. Guru dan siswa Laki-laki Perempuan Jumlah

1 Guru 8 15 23

2. Siswa kelas VII 23 28 51

3. Siswa kelas VIII 22 25 47

4. Siswa kelas IX 25 27 52

Jumlah 78 92 173

Sumber data: Data Awal: SMP Muhammadiyah 12 Makassar 2013

2. Sampel

Setelah melihat populasi dalam penelitian ini, maka langkah berikutnya adalah menentukan sampel.Penentuan sampel merupakan sebagian kecil yang diambil dari sebuah populasi penelitian.Jadi dalam penentuan penelitian tidak selamanya perlu meneliti secara keseluruhan populasi, karena hal tersebut membutuhkan dana, biaya dan anggaran yang relative banyak, memiliki waktu yang agak lama serta pertimbangan keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti.

Sampel dalam pandangan Suharsimi Arikunto (2006 : 131) sebagai bagian dari populasi yang diteliti, dan menyatakan pula bahwa :

“Sampel adalah memilih sejumlah tertentu dari keseluruhan populasi yang akan dijadikan subjek penelitian’ sampel yang diteliti nantinya akan mewakili seluruh populasi sebagai hasil untuk semua populasi tetapi jika populasi dari penelitian tersebut sedikit maka bisa saja populasi penelitian itu menjadi sampel penilitian. Populasi dari sebuah

penelitian itu kurang dari seratus dan sedikit maka penelitian tersebut dinamakan penelitian populasi dan populasi dari penelitian ini juga menjadi sampel penelitian”.

Dalam hal ini penulis juga berdasar dari pendapat Suharsimi Arikunto (1996:120) bahwa:

Populasi yang objeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga menjadi penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subjeknya lebih besar dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 % atau lebih.

Berdasarkan landasan diatas maka sampel dari jumlah populasi Guru adalah 23 sampel, dilakukan dalam teknik proposive sampling yakni semua guru dijadikan sebagai responden dalam penelitian. Sedangkan sampel siswa 10% dari jumlah populasi 150 siswa.

Tabel 2 : Daftar Distribusi Sampel Di Lokasi Penelitian

No Guru dan Siswa Populasi Sampel Keterangan

1 Guru 23 2 Berdasarpenelitian

Populasi

2. Siswa 150 15

Berdasar 10%

Jumlah 173 17

Sumber data: Data Awal: SMP Muhammadiyah 12 Makassar 2013 F. Instrumen Penelitian

Penilitian menggunakan instrumen, penelitian sebagai alat bantu agar kegiatan penelitian berjalan secara sistematis dan terstuktur, dalam pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara antara lain sebagai berikut:

a. Pedoman Wawancara/interview

Yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara wawancara/interview terhadap sampel secara langsung sehingga informasih-informasih mengenai peranan guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada bidang studi pendidikan agama islam dapat akurat dan tidak ada rekayasa di dalamnya.

b. Pedoman Angket

Yaitu memberikan pertanyaan dalam bentuk daftar pertanyaan dibarengi dengan sejumlah pilihan jawaban.

c. Pedoman Observasi

Yaitu mengamati dan menggunakan komonikasi langsung dengan sumber informasi tentang objek penelitian, keadaan Guru dan keadaan Siswa.

d. Catatan Dokumentasi

Yaitu mencatat semua data secara langsung dari referensi yang membahas tentang objek penelitian.

G. Teknik pengumpulan data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa tehnik dan metode untuk mengumpulkan data sebagai berikut yaitu:

a. Library research, yaitu pengumpulan data yang dilakukan peneliti dalam penelitian, pengkajian dan catatan terhadap literature atau buku-buku referensi yang sesuai dengan kebutuhan pembahasan dalam penelitian ini, karya ilmiah yang relevan terhadap masalah yang dibahas berupa konsep, teori, dan gagasan para ahlih sehubungan dengan objek yang dibahas.

Metode pengumpulan data ini terbagi atas dua bagian yaitu:

1. Kutipan langsung, yaitu peneliti mengutip pendapat para ahlih yang terdapat dalam buku-buku referensi yang berhubungan dengan pembahasan penulisan ini dengan tanpa merubah redaksi kalimatnya dan makna yang terkandung didalamnya.

2. Kutipan tidak langsung, yaitu kutipan pendapat-pendapat para ahlih yang terdapat dalam referensi dalam bentuk uraian yang berbeda dalam konsep aslinya, tetapi makna dan tujuannya sama.

a. Field research, yang suatu tehnik pengumpulan data dengan melakukan penelitian langsun dilokasi penelitian atau lapangan tentang objek yang akan diteliti untuk memperoleh data yang konkrit yang ada hubunganya dengan masala yang ada dalam penelitian ini dengan menggunakan metode-metode yang telah dipersiapkan yaitu:

1. Interview, yaitu melakukan wawancara langsung terhadap guru dan siswa adalah objek yang akan diteliti dalam peningkatan prestasi belajar.

2. Observasi, yaitu mengamati dan menggunakan komonikasi langsung dengan sumber informasi tentang objek peneliti, keadaan guru dan siswa.

3. Angket, yaitu memberikan pertanyaan dalam bentuk daftar pertanyaan dibarengi dengan sejumlah pilihan jawaban.

4. Dokumentasi, yaitu mencatat semua data secara langsung dari referensi yang membahas tentang objek penelitian.

H. Teknik Analisis Data.

Penelitian ini merupakan deskriptif dengan menggunakan data kualitatif, lalu dianalisis beberapa metode teknik analisis data yaitu:

1. Metode induktif, yaitu tehnik analisis data dengan bertitik tolak dari suatu data yang bersifat khusus, kemudian dianalisis dan disimpulkan dengan bersifat umum.

2. Metode deduktif, yaitu suatu tehnik analisis data yang bertitik tolak dari data yang bersifat umum kemudian dianalisis dan diambil kesimpulan yang bersifat khusus.

3. Metode komparatif, yaitu suatu tehnik analisis data dengan membandingkan antara data yang satu dengan data yang lain kemudian menarik sebuah kesimpulan.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar

Pada bagian ini penulis akan membahas sejarah berdirinya SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar, keadaan guru, keadaan siswa dan keadaan sarana dan prasarana.

1. Sejarah berdirinya

Dalam rangka memenuhui tujuan pendidikan Muhammadiyah yakni terbentuknya manusia muslim yang berakhlak mulia, cakap, terampil dan berguna bagi masyarakat, dan untuk memenuhui kebutuhan masyarakat perumnas dan sekitarnya terhadap pentingnya pendidikan. Maka pengurus muhammadiyah ranting tidung merasa terpanggil untuk mendirikan sekolah sekaligus sebagai suatu amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan.

Dibawah koordinasi Drs. H. M. Hasyim Hamzah, SH, selaku ketua ranting Muhammadiyah dan H. M. Abd. Razak, MT selaku ketua Dikdasmen Kota Makassar membentuk panitia pembangunan sekolah pada tahun 1981 yang terdiri dari :

1. Ketua : H. M. Nasrun

2. Sekretaris : Drs. M. Muin Hamid 3. Bendahara : Drs. H. M. Muhtar Kunnu

46

Anggota : Jalaluddin Yusya, BA.

Ibrahim Syahruddin

Panitia berhasil memperoleh tanah wakaf dari Bupati Gowa Letnan Kolonel Ma’sud seluas ± 60 x 40 di jalan Bonto Dg Ngirate Kecamatan Tamalate (sekarang Rappocini). Biaya pembangunan gedung dari pemerintah daerah kota Makassar dan dari swadaya masyarakat terutama warga Muhammadiyah dan Aisyiyah disekitarnya.

Pada tahun ajaran 1982/1983, tanggal 18 Juni 1983 SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar telah resmi dibuka dan mulai menerima siswa baru. Dari tahun ke tahun SMP Muhammadiyah 12 kota Makassar mengalami kemajuan dan perkembangan yang signifikan dan amat menggembirakan dengan semakin meningkatnya jumlah siswa dan minat orang tua untuk mempercayakan kepada kami membina dan mendidik putra putrinya di SMP Muhammadiyah 12 kota Makassar.

Orang-orang yang terlibat dalam penyelenggaran pendidikan atau kepengurusan sekolah adalah perpaduan dari unsur pemerintah dan unsur Muhammadiyah sendiri termasuk dalam rangka menentukan prosedur kesehariannya.

Selama berdirinya SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar telah beberapa kali mengalami pergantian kepala sekolah yaitu :

1. Drs. Harun Nasruni, periode tahun 1983-1984

2. H. M. Abd. Razak, MT, periode tahun 1984-1987 3. Amin Rauf, BA, periode tahun 1987-1999

4. Dra. Hj. A. Safiah Patongai, periode tahun 1999-2006 5. Athifah Noor, BA, periode tahun 2006-sampai sekarang.

Adapun profil sekolah SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar, sebagai berikut :

 Nama Sekolah : SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar

 Nomor Stastistik : 204196009187

 NIS : NPSN : 40313124

 Provinsi : Sulawesi Selatan

 Otonomi Daerah : Makassar

 Desa/Kelurahan : Bonto Makkio

 Jalan dan nomor : BT. Dg. Ngirate No. 22

 Kode Pos : 90222

 Telpon : 0411 865-469

 Status Sekolah : Swasta

 Akreditasi : Diakui

 Surat Keputusan : No. 057/Kep/106/d/87, Tgl 28-12-1999

2. Visi Misi Sekolah SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar

Adapun Visi dari Sekolah SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar adalah “Terciptanya sistem pendidikan yang kondusif dalam rangka

meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman dan bertakwa”.

Sedangkan Misi adalah sebagai berikut :

 Meningkatkan profesionalisme pendidikan yang islami.

 Meningkatkan kemampuan kompetensi pelaku pendidik.

 Memperluas jangkauan pendidikan.

 Meningkatkan berbagai inovasi pembelajaran.

 Meningkatkan pelaksanaan kualitas ibadah warga sekolah.

 Pengembangan potensi ekstrakurikuler.

3. Keadaan Guru

Guru merupakan salah satu unsur pokok dalam pencapaian tujuan pendidikan, juga merupakan salah satu bagian sistem sosial masyarakat yang memegang tugas dan tangung jawab yang berat. Guru merupakan unsur pokok disamping siswa, memegang peranan penting terhadap keberhasilan proses belajar mengajar. Dalam usaha mengantarkan siswa kepada kedewasaan baik dalam berfikir maupun dalam bertingkah laku. Oleh karena itu, guru dituntut keahliannya dalam mengajar dan mendidik siswanya, agar ilmu dan bidang studi yang diajarkan mudah diserap dan ditransfer anak didik.

Selain hal tersebut, perlu juga pembagian bidang studi kepada setiap guru sesuai dengan keahlian masing-masing dengan tetap berpegang kepada kurikulum yang berlaku sebagai pedoman dalam mengajar. Karena

realita yang terjadi terkadang ada seorang guru yang mengajarkan suatu bidang studi yang memang bukan bidangnya, sehingga dalam mengajar tidak menguasai materi pelajaran yang diajarkan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tenaga guru sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan dan pengajaran baik dari kuantitas, khususnya yang menyangkut masalah kualitas.

Untuk mengetahui dengan jelas mengenai keadaan guru di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3 : Keadaan Guru SMP Muhammadiya 12 Kota Makassar

No. Nama L/ 11. Ahmad Mustanir,S.Pd.I L Guru/Wakil Kelas Sejarah/SKI

12. Nuraedah P Bendahara

20. Kalsum S. Pd. I P Guru/KTU Matematika/bhs.inggris

21. Dra. Wahidah P Guru Pkn

22. Nurul Ishlah Mawaddah P Guru Bhs. Inggris

23. Akbar Ramadhan L Guru Fisika

Sumber Data : Kantor Tata Usaha SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar tahun 2013

4. Keadaan Siswa

Siswa pada hakekatnya adalah manusia yang membutuhkan bimbingan dan pembinaan yang didapatkan baik melalui bangku sekolah, lingkungan masyarakat maupun lingkungan keluarga sendiri. Terkait dengan hal ini, bimbingan dan pembinaan bagi siswa yang didapatkan melalui bangku sekolah merupakan pembinaan formal yang dibina langsung oleh guru sebagai seorang pengajar, pembimbing dan pendidik. Siswa dan guru adalah dua komponen yang tidak bisa dipisahkan, sebab tanpa siswa,guru tidak dapat mengajar. Begitupun sebaliknya tanpa guru, siswa tidak akan dapat belajar untuk lebih jelasnya mengenai keadaan siswa di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar, dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4 : Keadaan Siswa Di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar

No. Siswa Jenis Kelamin Jumlah

Laki-Laki Perempuan

1 Kelas VII 23 28 51

2 Kelas VIII 22 25 47

3 Kelas IX 25 27 52

Jumah 70 80 150

Sumber Data : Kantor SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar tahun 2013 5. Keadaan Sarana dan Prasarana

Sebagai salah satu lembaga yang bergerak di dunia pendidikan, SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar tentunya senantiasa melakukan pembenahan terhadap sarana dan prasarana pendidikan di sekolah tersebut.

Namun karena lokasi sekolah tidak terlalu luas, sehingga fasilitas yang ada adalah cukup.

Untuk lebih mengetahui jumlah dan jenis fasilitas yang dimiliki SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar, dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4 : Sarana dan Prasarana SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar No. Sarana dan prasarana Keterangan

Jumlah Sumber Data : Kantor SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar tahun 2013

Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa keadaan sarana dan prasarana di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar sudah cukup menunjang segala kegiatan proses belajar mengajarnya.

B. Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Dalam pembuatan RPP seorang guru harus mempunyai strategi dalam menerapkan rencana pelaksanaan pembelajaran. salah satu upaya untuk mempermudah tugas guru di dalam kelas yaitu menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dalam PP No 19 tahun 2005 pasal 20 telah di jelaskan:

Proses pembelajaran meliputi silabus dan RPP yang memuat sekurang-kurangnya tujuan, materi ajar, metode pengajaran, sumber

belajar, penilaian hasil belajar. Proses belajar mengajar merupakan satu kesatuan sistem antara komponen-komponen pembelajaran, dan yang mengorganisasikan komponen-komponen tersebut adalah rencana pelaksanaan pembelajaran atau yang sering dikenal dengan RPP.

Maka dari itu SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar sebagai lembaga pendidikan formal dalam menerapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran menggunakan strategi sebagaimana diungkapkan oleh kepala sekolah SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar. Ibu Athifah Noor, ba hasil adalah sebagai berikut :

Strategi secara khusus sekolah ini memang tidak punya, tapi di sini ada rapat rutinan tiap satu bulan sekali yang membahas tentang proses belajar mengajar, faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi dan bagaimana cara mengatasi, jadi dalam rapat tersebut saya selaku pimpinan di sini selalu menghimbau para guru untuk selalu membuat RPP sebelum masuk kelas untuk mengajar.

(Wawancara, 4 Mei 2013 di SMP Muhammadiyah 12 Makassar)

Kepala Sekolah memang tidak punya strategi khusus dalam menerapkan rencana pelaksanaan pembelajaran, namun di sekolah ada rapat rutin setiap satu bulan sekali. Dalam rapat itu yang dibahas adalah sekitar proses belajar mengajar di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta solusi alternatif untuk mengatasinya. Jadi walaupun Kepala Sekolah tidak punya strategi khusus namun Kepala Sekolah punya waktu khusus untuk menghimbau para guru di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar untuk selalu membuat rencana pelaksanaan pembelajaran sebagai acuan dalam pembelajaran di kelas.

Mengontrol penerapan RPP bisa dibilang mudah dan juga susah.

Dibilang mudah karena yang kita kontrol setiap hari ada di sekitar kita, dibilang susah karena RPP itu ada landasan hukumnya, jadi kami sebagai pelaksana pendidikan harus benarbenar melaksanakannya.

Dan tanggung jawab saya sebagai pimpinan di sini menjadi lebih besar.(Wawancara,4 Mei 2013 di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar )

Melihat dari apa yang disampaikan kepala SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar di atas bisa dipahami bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran punya landasan hukum, dan SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar sebagai lembaga pendidikan formal harus melaksanakan supaya guru sebelum masuk kelas sudah punya gambaran tentang tujuan pembelajaran, materi yang akan disampaikan, metode yang akan digunakan, dan bahan ajar yang akan dipakai pada satu pertemuan di dalam kelas.

Proses belajar mengajar di dalam kelas terkadang memang ada sesuatu yang di luar prediksi guru, tapi minimal kalau guru sudah punya rencana dan ternyata situasi yang dihadapi berada di luar prediksi, guru bisa dengan mudah mencari alternatifnya. Selanjutnya peneliti melakukan wawancara dengan Wakasek SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar, Asri, S. Pd hasilnya sebagai berikut:

Untuk menunjang proses belajar mengajar khususnya dalam penerapan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sekolah ini mengusahakan dengan sekuat daya adanya laboratorium Internet, dan alhammdulillah walaupun masih gabung dengan laboratoriun komputer namun ada sebagian yang sudah bisa dipakai untuk mengakses internet. (Wawancara, 6 Mei 2013 di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar)

Menurut Asri, S. Pd segala daya upaya yang dilakukan oleh SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar harus bertujuan untuk mempermudah dan untuk meningkatkan mutu pembelajaran di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar. Dalam mengawal penerapan rencana pelaksanaan pembelajaran di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar, sekolah dengan sekuat daya mengusahakan pengadaan laboratorium internet untuk mengejar ketertinggalan para guru dalam menjalankan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Dengan adanya laboratorium diharapkan guru bisa mengakses teori dan konsep yang dibawa oleh kurikulum baru itu.

Pengadaan laboratorium internet di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar merupakan satu langkah lebih maju untuk meningkatkan mutu pembelajaran karena keberadaan laboratorium internet tersebut sangat membantu guru dalam menambah referensi tentang materi yang akan disampaikan pada siswa dan untuk mencari panduan tentang pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran. Kemudian Wakasek juga mengungkapkan hal sebagai berikut :

Ternyata benar, setelah adanya lab. Internet guru bisa mengambil contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dari internet sebagai acuan untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sendiri.

(Wawancara, 6 Mei 2013 di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar ) Mau tidak mau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran memang harus sedikit berbeda, karena latar belakang siswa, kondisi kelas, dan kondisi sekolah memang berbeda antara satu dan yang lainnya.

(Wawancara, 6 Mei 2013 di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar)

Rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah di ambil guru dari intternet semata-mata hanya dijadika acuan untuk membuat rencana pelaksanaan pembelajaran sendiri. Rencana pelaksanaan pembelajaran mau tidak mau harus dibuat oleh guru yang akan menerapkan rencana tersebut.

Dasar dari pernyataan tersebut adalah latar belakang siswa berbeda-beda.

Antara yang di kota dan yang di desa pasti jauh berbeda. Kondisi kelas juga berbeda-beda, walaupun sama-sama dalam satu sekolahan.

Jauh dari pada semua yang tersebut di atas kepribadian guru dan keterampilan guru dalam mengajar akan mempengaruhi dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran, khususnya dalam pemilihan metode mengajar. Ada yang mengatakan metode mengajar jumlahnya sama dengan jumlah guru yang ada. Pernyataan tersebut mengandung pengertian setiap guru punya gaya mengajar sendiri-sendiri.

Usaha SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar dalam menerapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran tidak hanya sebatas pada penambahan buku-buku perpustakaan, dan alat bantu pengajaran, tapi juga pada pengadaan laboratorium internet. Dengan adanya laboratorium ini guru bisa mengakses untuk mencari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang akan dijadikan acuan untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sendiri.

Usaha SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar ini didasari oleh minimnya pengetahuan para guru tentang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, jadi dengan laboratorium internet ini harapan sekolah adalah

untuk membantu guru dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang terkesan sangat baru. Asri, S. Pd juga menuturkan strateginya hanya pada masalah pembagian waktu, karena banyak guru yang mempunyai pekerjaan sambilan (Wawancara, tanggal 6 Mei 2008 di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar). Apalagi guru tidak tetap gajinya satu bulan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan satu bulan.

Rencana pelaksanaan pembelajaran menurut guru pendidikan agama islam Hilyah Noor,S.Pd.I di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar adalah sebagai berikut:

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah rencana jangka pendek yang di buat oleh guru. Jadi setiap pertemuan guru harus membuatkan RPP. Misalnya ada tiga belas atau empat belas pertemuan, maka guru juga harus membuaat RPP sebanyak itu pula untuk satu materi pelajaran. (Wawancara, 7 Mei 2013 di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar )

Menurut Hilyah Noor,S.Pd.I rencana pelaksanaan pembelajaran adalah rencana jangka pendek yang dibuat oleh guru sendiri. Guru setiap tatap muka dengan siswa harus membuatkan rencana pelaksanaan pembelajaran terlebih dahulu sebagai acuan proses belajar mengajar di kelas. Kalaupun dalam satu semester ada tigabelas atau empatbelas kali pertemuan maka guru harus membuat rencana pelaksanaan pembelajaran sebanyak itu pula. Seperti hasil wawancara dengan salah satu guru Aqidah Akhlak, Nurmiati Halim,S.Ag hasil sebagai berikut :

Rencana pelaksanaan pembelajaran adalah Rangkaian rencana pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan dalam satuan pelajaran

sehingga memudahkan pencapaian kompetensi siswa dan ini merupakan penjabaran dari silabus.(Wawancara, 7 Mei 2013 di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar )

Menurut Nurmiati Halim,S.Ag rencana pelaksanaan pembelajaran adalah suatu rangkaian rencana untuk pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan dalam satuan pelajran. Dengna kata lain rencana pelaksanaan pembelajaran ini adalah rencana jangka pendek yang dibuat oleh guru untuk satu kali pertemuan/tatap muka. Tujuan dari membuat rencana pelaksanaan pembelajaran menurut Dra. Hj. Nurjannah adalah untuk memudahkan pencapain kompetensi yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui PERMENDIKNAS No 22 tahun 2006 tentang standar isi.

Rencana pelaksanaan pembelajaran adalah acuan guru dalam menjalankan proses belajar mengajar agar sesuai dengan koridor kompetensi dasar yang ingin dicapai. Dengan begitu apa yang ingin dicapai dalam satu pertemuan proses belajar mengajar akan benar-benar terpenuhi karena guru telah membuat perencanaan dan persiapan yang sesuai denga prosedur yang telah ditetapkan baik oleh pemerintah maupunlembaga pendidikan yang bersangkutan.

(Wawancara, 7 Mei 2013 di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar) Persiapan atau perangkat untuk pelaksanaan proses belajar mengajar.

(Wawancara,7 Mei 2013 di SMP Muhammadiyah 12 Kota Makassar) Menurut Dra. Hj. Nurjannah rencana pelaksanaan pembelajaran masih senada dengan Ahmad Mustanir, S.Pd.I yaitu persiapan atau perangkat untuk pelaksanaan proses belajar mengajar. Yang dimaksudkan perangkat disini adalah komponen-komponen rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yaitu sesuai dengan Peratuan Pemerintah No 19 tahun 2005 pasal 20, sekurangkurangnya memuat tujuan pembelajaran, materi ajar, metode

pengajaran, sumber belajar, penilaian hasil belajar. Pengertian-pengertian di atas dapat disimpulakan bahwa rencana pelaksanaan pembelajaran adalah seperangkat komponen yang tersusun secara sistematis untuk pelaksanaan proses pembelajaran di kelas. Proses belajar mengajar di kelas adalah suatu sistim, jadi rencana pelaksanaan pembelajaran inilah yang mengkordinadikan komponen-komponen pembelajaran. Guru bahasa arab punya strategi sendiri dalam membuat Rencana Pelaksanaan Penbelajaran. Seperti yang diungkapkan Nastura. S.Ag , sebagai berikut:

Biasanya saya membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran saya sesuaikan dengan standar kompetensi. Biasanya satu standar kompetensi tidak cukup disampaikan dalam satu kali pertemuan saja.

Kadang sampai dua bahkan tiga kali tatap muka.” (Wawancara 8 Mei

Kadang sampai dua bahkan tiga kali tatap muka.” (Wawancara 8 Mei

Dokumen terkait