• Tidak ada hasil yang ditemukan

POSISI RELAWAN POLITIK DAN BAGAIMANA MENGATURNYA

Dalam dokumen TRANSPARANSI, PARTISIPASI, DAN DEMOKRASI (Halaman 34-39)

Kelompok relawan politik telah menjadi entitas baru dalam praktik politik dan pemilu. Relawan politik menjadi satu kelompok di luar struktur partai politik dan tim kampanye yang turut berkontribusi bagi pemenangan kandidat peserta pemilu.

Marcin Walecki, doktor hukum dan ilmu politik lulusan Oxford, menyebut relawan ini sebagai partai ketiga—

organisasi yang memengaruhi hasil pemilu, tapi dia bukan pelaku atau partai politik peserta pemilu. Praktik ini memang lazim terjadi di negara-negara yang berdemokrasi.

Dalam pengaturan soal relawan politik, undang- undang memang masih gagap. Dalam sejumlah regulasi paket politik yang tersedia, seperti UU Pilkada, UU Pemilu Legislatif, UU Pemilu Presiden, termasuk UU Partai Politik, pengaturan soal partisipasi masih terbatas. Sebagai contoh, UU No 8/2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR,

DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota (UU No 8/2012) mengatur partisipasi dalam Bab XIX: Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pemilu. Bentuk partisipasi masyarakat yang disebut Pasal 246 adalah sosialiasi pemilu, pendidikan politik bagi pemilih, survei atau jajak pendapat tentang pemilu, dan penghitungan cepat (quick count) hasil pemilu.

Soal pendanaan relawan misalnya, paket undang- undang politik yang tersedia hanya mengatur sumbangan pendanaan bagi partai politik (pengusung), serta pasangan calon (pilkada dan pilpres) saja. Seperti dalam Pasal 74 ayat (2) dan (4) UU No 8/2015 tentang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), norma yang muncul hanya terkait dengan pendanaan calon perseorangan, termasuk besaran sumbangan bagi calon perseorangan.Keterlibatan dalam upaya pemenangan kandidat berkonsekuensi pada mobilisasi massa yang kemudian juga tak bisa mengelak dari kebutuhan mengonsolidasikan ongkos politik—

aktivitas mobilisasi finansial untuk keperluan logistik

(pemasangan atribut, penyebaran alat peraga, dll).

Pengaturan ini tentu diperlukan agar tidak ada pihak- pihak yang menancapkan kepentingannya dengan memberi modal pada kelompok masyarakat untuk mendapat keuntungan pribadi. Lebih jauh, jika ini tidak diatur, maka relawan bisa menjadi arena baru tempat oligarki dengan menginvestasikan modalnya dan menyamarkan kepentingan-kepentingannya.

Eksistensi relawan politik hingga kini belum terwadahi secara hukum. R. Ferdian Andi (2016) dalam opininya

agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi

syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun

di koran Republika menyebut relawan politik sebagai organisasi tanpa bentuk—tidak jelas jenis kelaminnya. Relawan tentu bukanlah entitas yang berbentuk partai politik, kendati aktivitasnya sama seperti partai politik, khususnya dalam hal memobilisasi massa, termasuk pendanaan sebagai konsekuensi turunan dari mobilisasi massa.

Relawan politik juga tidak berbentuk perkumpulan atau organisasi massa (ormas) yang berbadan hukum atau yang tidak berbadan hukum sebagaimana ketentuan yang diatur dalam UU No. 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Massa (Ormas). Seperti dalam ketentuan Undang-undang No. 17 Tahun 2013 Pasal 9 ayat (1) dan pasal 11 ayat (1) menjelaskan bahwa, organisasi massa dapat berbentuk badan hukum atau tidak berbadan hukum Ormas, adapun yang berbadan hukum dapat berbentuk perkumpulan atau yayasan. Pada pasal berikutnya (Pasal 12 Ayat (1)) disebutkan soal persyaratan pendirian perkumpulan,

yakni; akte pendirian, sumber pendanaan, NPWP atas

nama perkumpulan, dan lain-lain.

Namun, keberdaan relawan politik—yang menjadi fenomena tersendiri dalam pergulatan politik di Indonesia—saat ini, tidak ada norma atau ketentuan yang mengatur kelompok tersebut. Karena memang secara normatif, peserta pemilu dalam pilkada, atau pilpres tidak mengenal istilah relawan atau relawan politik.

Kemudian, bagaimana pengaturan yang tepat untuk mengatur bentuk partisipasi ini?. Untuk menjawab kebutuhan pengaturan ini, perlu satu mekanisme untuk

menjelaskan jenis kelamin dari suatu bentuk partisipasi masyarakat dalam pemilu. Dari uarian bab sebelumnya sudah dijelaskan bahwa, partisipasi masyarakat dibagi ke dalam dua kategori, yakni: nonpartisanship dan partisanship. kedua kategori tersebut terletak pada keberpihakan dan pemenuhan prinsip-prinsip partisipasi masyarakat.

Garis tegas perbedaan keduanya berada pada relasi suatu kelompok dengan kandidat. Jika ia (kelompok) tidak terlibat dalam pemenangan kandidat, maka ia dapat dikategorikan sebagai relawan, independen, atau partisipasi masyarakat yang bersifat pasrtisipan. Sebaliknya, jika ia (kelompok) terlibat dalam upaya pemenangan kandidat, maka ia tidak bisa digolongkan sebagai relawan, independen, atau partisipasi masyarakat yang non-partisan. Dengan kata lain, kelompok tersebut dapat dikategorikan sebagai kelompok partisipan yang ikut aktif dalam pemenangan pemilu, sebagaimana Tim

kampanye suatu Calon/Pasanagan Calon.

Fenomena relawan yang terlibat dalam pemenangan ini senada dengan kategori-kategori kampanye. Kampanye

didefinisikan sebagai kerja terkelola yang berusaha agar

calon dipilih atau dipilih kembali dalam suatu jabatan. Bedanya, kampanye menjadi cara yang digunakan oleh para calon untuk merayu pemilih, agar pemilih mau memberikan suaranya untuk mereka dengan sumber dana yang berasal dari partai politik dan calon, sumbangan perseorangan, dan perusahaan.

agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi

syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun

yang berbeda di Indonesia dan negara lainya. Di Indonesia, tidak jarang relawan—yang sudah terorganisir—seringkali membangun komunikasi inten dengan peserta pemilu

(Bakal Calon/Calon/Partai Politik). Berbeda dengan

relawan terorganisir di Amerika yang tidak berkomunikasi dengan kandidat. Oleh karena itu, sudah sepatutnya pengaturan soal ‘relawan’ harus dipertegas di pengetauran kampanye dengan pertimbangan sifat dan prinsip relawan tersebut. Sehingga, semua yang bekerja untuk kandidat dan atau untuk kemenangan kandidat harus terdaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dalam hal ini juga termasuk Sumber dana, dan keanggotaan, serta proses

verifikasi.

Sementara kelompok yang bersifat tidak terlibat dalam upaya pemenangan kandidat, ia mesti mendaftar ke KPU dan wajib menjaga independensinya dengan melaporkan

profil organisasi, susunan kepengurusan, sumber dana,

rencana aktivitas serta wilayah kerja, dan alat serta metodologi yang digunakan dalam berkegiatan untuk kemudian diakreditasi.

Pengaturan ini tidak dimaksudkan untuk membelenggu kebebasan berekspresi yang dijamin oleh konstitusi, dan juga bukan dimaksudkan untuk mengerdilkan partisipasi masyarakat. Tetapi, pengaturan ini bertujuan untuk membentuk praktik politik yang transparan, akuntabel, serta bertanggung jawab diseluruh elemen masyarakat— tanpa terkecuali.

MENJAGA INDEPENDENSI DENGAN

Dalam dokumen TRANSPARANSI, PARTISIPASI, DAN DEMOKRASI (Halaman 34-39)