• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Potensi BLUD sebagai BULOGDA

Dalam rangka menuju terbentuknya BULOGDA sebagai Badan Layanan Umum Daerah perlu segera dilakukan langkah-langkah percepatan dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang BLUD. Percepatan ini dilakukan agar dapat diberikan keleluasaan pengelolaan keuangan/barang pada batas-batas tertentu yang dapat dikecualikan dari ketentuan yang berlaku umum terkait jumlah dana yang dapat dikelola langsung, pengelolaan barang, pengelolaan utang dan piutang, pengelolaan investasi, pengadaan barang dan/atau jasa, serta perumusan standar, kebijakan, sistem dan prosedur pengelolaan keuangan.

Badan Layanan Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BLUD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Unit Kerja pada Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.

BLUD beroperasi sebagai perangkat kerja pemerintah daerah untuk tujuan pemberian layanan umum secara lebih efektif dan efisien sejalan dengan praktek bisnis yang sehat, yang pengelolaannya dilakukan berdasarkan kewenangan yang didelegasikan oleh kepala daerah. BLUD merupakan bagian dari perangkat pemerintah daerah yang dibentuk untuk membantu pencapaian tujuan pemerintah daerah, dengan status hukum tidak terpisah dari pemerintah daerah.

28 Pola Pengelolaan Keuangan BLUD, yang selanjutnya disingkat PPK-BLUD adalah pola pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya.

Unit Kerja pada SKPD yang menerapkan PPK-BLUD selanjutnya disingkat BLUD-Unit Kerja adalah Unit Kerja pada Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan pemerintah daerah yang menerapkan PPK- BLUD.

4.3.2. Dasar Hukum pembentukan BLUD

1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

2. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana terakhir telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008;

3. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2012;

4. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah;

6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK.05/2011 tentang Rencana Bisnis dan Anggaran Serta Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum.

4.3.3. Mekanisme/Tahapan-tahapan yang perlu dilakukan untuk Penerapan Status BLUD pada BULOGDA

1. Sesuai ketentuan Pasal 11 dan Pasal 18 Permendagri No.61 Tahun 2007, Unit Kerja yang akan menerapkan PPK-BLUD melalui kepala SKPD mengajukan permohonan untuk dapat menerapkan PPK-BLUD

29 kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah dengan dilampiri dokumen administratif meliputi:

a. Surat pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan kinerja pelayanan, keuangan dan manfaat bagi masyarakat - dibuat oleh Direktur Bulogda dan diketahui oleh Sekretaris Daerah.

b. Pola tata kelola - memuat antara lain struktur organisasi, prosedur kerja, pengelompokan fungsi yang logis, pengelolaan sumber daya manusia (Pasal 21 Permendagri 61/2007). Hal ini perlu memperhatikan transparansi, akuntabilitas, reponsibilitas dan independensi.

1) Struktur organisasi - posisi jabatan, pembagian tugas, fungsi, tanggung-jawab dan wewenang dalam organisasi;

2) Prosedur kerja menggambarkan hubungan dan mekanisme kerja antar posisi jabatan dan fungsi dalam organisasi.

3) Pengelompokkan fungsi yang logis menggambarkan pembagian yang jelas dan rasional antara fungsi pelayanan dan fungsi pendukung yang sesuai dengan prinsip pengendalian intern.

4) Pengelompokan SDM pengaturan dan kebijakan yang jelas mengenai SDM yang berorientasi pada pemenuhan secara kuantitatif dan kualitatif untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi secara efisien, efektif dan produktif.

c. Rencana strategi bisnis (merupakan rencana strategis 5 (lima) tahunan yang mencakup antara lain visi, misi, program strategis, pengukuran pencapaian kinerja, rencana pencapaian lima tahunan atau proyeksi keuangan lima tahunan) berpedoman pada Pasal 69 sampai 79 Permendagri Nomor 61/2007 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK.05/2011 tentang Rencana Bisnis dan Anggaran Serta Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum;

d. Standar pelayanan minimal memuat batasan minimal mengenai jenis dan mutu layanan dasar yang harus dipenuhi Bulogda - berpedoman pada PP Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal);

30 e. Laporan keuangan pokok atau prognosa/proyeksi laporan keuangan. Laporan keuangan pokok meliputi laporan realisasi anggaran, neraca dan catatan atas laporan keuangan. Sedangkan apabila berbentuk prognosa/proyeksi laporan keuangan terdiri dari prognosa laporan operasional dan prognosa neraca. Prognosa diperuntukkan bagi Bulogda yang baru terbentuk dengan berpedoman pada standar akuntansi yang diterbitkan oleh Asosiasi Profesi Akuntansi Indonesia - berpedoman pada PP Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan);

f. Laporan audit terakhir atau pernyataan bersedia untuk diaudit secara independen.

2. Selanjutnya apabila disetujui, Gubernur menetapkan Keputusan Gubernur tentang penerapan status PPK BLUD. Penetapan status ini dapat berupa pemberian status BLUD penuh atau status BLUD bertahap.

a. BLUD Bulogda secara penuh, maka diberikan apabila seluruh persyaratan telah dipenuhi dan dinilai memuaskan.

b. BLUD Bulogda secara bertahap, maka diberikan apabila persyaratan substantif dan teknis terpenuhi namun persyaratan administratif dinilai belum terpenuhi secara memuaskan /tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan;

Status BLUD bertahap diberikan flesksibiltas pada batas batas tertentu yang berkaitan dengan jumlah dana yang dikelola langsung, pengelolaan barang, pengelolaan piutang serta perumusan standar, kebijakan, sistem dan prosedur pengelolaan keuangan. Tidak diberikan fleksibilitas untuk pengelolaan investasi, pengelolaan utang dan pengadaan barang dan/atau jasa.

Batas batas tertentu fleksibilitas ini ditetapkan bersamaan dengan penetapan status BLUD.

Keputusan Gubernur ini disampaikan kepada Pimpinan DPRD paling lama 1(satu) bulan sejak tanggal ditetapkan.

31 4.3.4. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam penerapan status BLUD

1. Standar Pelayanan Minimal

Standar pelayanan minimal dapat diusulkan oleh Direktur Bulogda kepada Gubernur untuk selanjutnya dimohonkan penetapannya dalam Peraturan Gubernur. Standar Pelayanan minimal harus memenuhi persyaratan sbb : fokus pada jenis pelayanan, terukur, dapat dicapai, relevan dan dapat diandalkan dan tepat waktu (Pasal 56 Permendagri 61/2007);

2. Tarif Layanan

BLUD Bulogda dapat memungut biaya kepada masyarakat sebagai imbalan atas barang dan/atau jasa layanan yang diberikan (Pasal 57 Permendagri 61/2007). Tarif layanan diusulkan oleh Direktur BLUD kepada Gubernur melalui Sekretris Daerah untuk selanjutnya ditetapkan dalam Peraturan Gubernur dan disampaikan kepada Pimpinan DPRD (Pasal 58 ayat (3) Permendagri Nomor 61/2007). Penetapan tarif perlu mempertimbangkan kontinuitas dan pengembangan layanan, daya beli masyarakat serta kompetisi yang sehat.

3. Pendapatan dan Biaya BLUD

Pendapatan BLUD dapat bersumber dari (Pasal 61 Permendagri Nomor 61/2007) terdiri dari:

a. Jasa layanan;

b. Hibah (berupa hibah terikat dan hibah tidak terikat). Hibah terikat diperlakukan sesuai peruntukkannya;

c. Hasil kerjasama dengan pihak lain (berupa perolehan dari kerjasama operasional, sewa menyewa dan usaha lainnya yang mendukung tugas dan fungsi BLUD Bulogda);

d. APBD (pendapatan yang berasal dari otorisasi kredit anggaran pemerintah daerah, bukan dari kegiatan pembiayaan APBD);

e. APBN (dapat berupa pendapatan yang berasal dari pemerintah dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi dan/atau tugas pembantuan dan lain-lain);

32 f. Dan lain-lain pendapatan BLUD yang sah diantaranya hasil penjualan kekayaan yang tidak dipisahkan, hasil pemanfaatan kekayaan, jasa giro, pendapatan bunga, keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, komisi, potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa BLUD, hasil investasi.

Biaya BLUD terdiri dari :

a. Biaya operasional (terdiri dari biaya pelayanan dan biaya umum dan administrasi). Biaya pelayanan terdiri dari : biaya pegawai, biaya bahan, biaya jasa pelayanan, biaya pemeliharaan, biaya barang dan jasa, biaya pelayanan lain-lain. Biaya umum dan administrasi terdiri dari : biaya pegawai, biaya administrasi kantor, biaya pemeliharaan, biaya barang dan jasa, biaya promosi, biaya umum dan administrasi lain-lain.

b. Biaya non operasional terdiri dari biaya bunga, biaya administrasi bank, biaya kerugian penjualan aset tetap, biaya kerugian penurunan nilai, biaya non oprasional lain-lain.

4. Investasi

BLUD Bulogda tidak dapat melakukan investasi jangka panjang, kecuali atas persetujuan Gubernur (Pasal 93 Permendagri Nomor 67/2007). Investasi jangka panjang meliputi : penyertaan modal, pemilikan obligasi untuk jangka panjang dan investasi langsung seperti pendirian perusahaan.

5. Pengadaan Barang dan/atau Jasa

Pengadaan barang dan/atau jasa pada BLUD Bulogda dilaksanakan berdasarkan ketentuan yang berlaku bagi pengadaan barang dan/atau jasa pemerintah (Pasal 99 Permendagri 61/2007).

Apabila terdapat alasan efektifitas dan/atau efisiensi, BLUD dengan status penuh dapat diberikan fleksibilitas berupa pembebasan sebagian atau seluruhnnya dari ketentuan yang berlaku umum. Fleksibilitas diberikan terhadap pengadaan barang dan/atau jasa yang sumber

33 dananya berasal dari : jasa layanan, hibah tidak terikat, hasil kerjasama dengan pihak lain, lain-lain pendapatan BLUD yang sah.

6. Pembinaan dan Pengawasan

Pembinaan teknis dilakukan oleh Gubernur melalui Sekretaris Daerah.

Pembinaan Keuangan BLUD Bulogda dilakukan oleh Dinas Ketahanan pangan selaku PPKD. Pengawasan operasional BLUD dilakukan oleh pengawas internal internal auditor yang berkedudukan langsung dibawah Direktur Bulogda.

7. Evaluasi dan Penilaian Kinerja

Evaluasi dan penilaian kinerja dilakukan setiap tahun oleh Gubernur dan/atau Dewan Pengawas terhadap aspek keuangan dan non keuangan bertujuan mengukur tingkat capaian hasil pengelolaan BLUD Bulogda sebagaimana ditetapkan dalam Renstra Bisnis dan RBA. Evaluasi dan penilaian kinerja keuangan dapat diukur berdasarkan tingkat kemampuan BLUD Bulogda dalam :

a. Memperoleh hasil usaha atau hasil kerja dari layanan yang diberikan (rentabilitas);

b. Memenuhi kewajiban jangka pendeknya (likuiditas);

c. Memenuhi seluruh kewajibannya (solvabilitas);

d. Kemampuan penerimaan dan jasa layanan untuk membiayai pengeluaran.

Evaluasi dan penilaian kinerja non keuangan : a. Perspektif pelanggan;

b. Proses internal pelayanan, pembelajaran dan pertumbuhan.

34

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1. KESIMPULAN

1. Sistem Logistik Pangan Daerah di Jawa Tengah dapat dilakukan melalui Balai Cadangan Pangan dengan menggunakan sistem retribusi dan retribusi komersial dan Badan Layanan Umum Daerah;

2. Balai Cadangan Pangan bisa menambah fungsinya sebagai fungsi sosial dan komersial sehingga orientasinya tidak hanya belanja tetapi mampu menghasilkan pendapatan;

3. Balai Cadangan Pangan pada fungsi komersial dengan menggunakan sistem retribusi memiliki kelemahan penyediaan pangan untuk masyarakat terbatas pada target awal tahun yang sudah ditentukan;

4. Balai Cadangan Pangan pada fungsi komersial dengan menggunakan sistem retribusi komersial memiliki kelemahan belum ada regulasi yang memayungi.

5. Balai Cadangan Pangan pada fungsi komersial dengan menggunakan kelembagaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) memiliki kelemahan diperlukan Keputusan Gubernur tentang penerapan status PPK BLUD dan Keputusan Gubernur disampaikan kepada Pimpinan DPRD. Standar pelayanan minimal dan tarif layanan BLUD diatur penetapannya dalam Peraturan Gubernur. Pembinaan teknis, pengawasan, evaluasi dan penilaian kinerja dilakukan setiap tahun oleh Gubernur.

6. Sarana dan Prasarana untuk mendukung Balai Cadangan Pangan sebagai BULOGDA masih terbatas;

7. Sumberdaya Manusia untuk mendukung Balai Cadangan Pangan sebagai BULOGDA masih terbatas;

8. Regulasi untuk mendukung Balai Cadangan Pangan sebagai BULOGDA masih terbatas;

9. Penyediaan dana baru tersedia untuk pembelian Gabah.

35 5.2. REKOMENDASI

1. Perlunya regulasi mengenai tupoksi dan pembiayaan (Penatausahaan Keuangan) untuk pelaksanaan fungsi Balai Cadangan Pangan sebagai BULOGDA;

2. Diperlukan penambahan sarana dan prasarana dan Sumberdaya Manusia untuk meningkatkan tupoksi Balai Cadangan Pangan sebagai BULOGDA;

3. Perlunya penyediaan dana awal yang besar untuk pembelian pangan (Gabah, Jagung, kedelai, bawang merah dan cabe) dan operasional dari APBD Provinsi karena saat ini penyediaan dana baru tersedia untuk pembelian gabah.

36

DAFTAR PUSTAKA

Aditama, T.Y., 2002. Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Jakarta: Universitas Indonesia

Badan Perencanaan Daerah, 2013. Rencana Pembangunan Jangka Panjang, Menengah dan Pendek. Semarang

Badan Litbang Kementan, 2015. Outlook Komoditas Pangan Strategis Tahun 2015-2019. Jakarta.

Kementerian Hukum dan Hak Asazi Manusia, 2012 Peraturan Pemerintah (PP) No. 68 Tahun 2002 Tentang Ketahanan Pangan.

Kementerian Hukum dan Hak Asazi Manusia, 2012. Peraturan Presiden No 26 Tahun 2012 Tentang Cetak Biru Pengembangan Logistik Nasional.

Jakarta.

Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah, 2016. Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 80 Tahun 2016 tentang Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah

Dokumen terkait