• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi dampak jangka panjang dan studi di

masa mendatang

Dampak industri-industri ekstraktif pada populasi kera kemungkinan akan parah dan bertahan lama, tetapi sejauh ini hanya sedikit studi yang dapat mendeteksi, apalagi mengukur mereka di luar perubahan-perubahan pada kepadatan populasi. Survei atas kera umumnya menggunakan data pengukur untuk binatang-binatang tersebut ketimbang observasi langsung, contohnya perhitungan sarang untuk kera besar dan survei hitung titik vokal untuk siamang. Pendekatan umumnya bervariasi di antara studi-studi, yang membatasi data yang dapat dibandingkan (Kühl et al., 2008). Meskipun demikian, masalah fundamental dalam menentukan bagaimana industri ekstraktif memengaruhi kepadatan binatang adalah bahwa kebanyakan studi melibatkan perbandingan kepadatan populasi yang sesuai dengan teori antara area yang dieksploitasi dan yang tidak tereksploitasi ketimbang studi jangka panjang di suatu tempat. Karena kepadatan mungkin bervariasi secara alami pada skala spasial yang kecil, pendekatan seperti itu lebih lanjut akan membuktikan usaha untuk menentukan dampak ekstraksi pada populasi kera penghuni menjadi salah. Studi-studi jangka panjang tambahan yang menggunakan metode seragam untuk menentukan kepadatan dari pra sampai pasca-ekstraksi di tempat yang sama diperlukan untuk menjabarkan dampak jangka panjang dari berbagai industri ekstraktif atas kera. Teknik-teknik baru, seperti kemampuan untuk memastikan ukuran dan struktur populasi dengan menyelidiki genotipe DNA yang diekstrak dari tinja yang dikumpulkan tanpa memotong tubuh binatang (misalnya Arandjelovic et al., 2011), akan meningkatkan keandalan survei mengenai perkiraan ukuran populasi kera di masa mendatang.

Pengukuran dampak spesifik terhadap kera masih menimbulkan masalah untuk sejumlah alasan, dan kompleksitas dari usaha untuk mengisolasi faktor-faktor yang spesifi k

pada ekosistem apa pun sudah disebutkan di atas, meskipun demikian, hambatan terbesar atas observasi perilaku adalah bahwa kera sangat berhati-hati dan umumnya akan melarikan diri saat mereka melihat, mendengar, atau mencium adanya manusia. Oleh sebab itu, studi mengenai perilaku kera, khususnya di lingkungan yang berjarak pandang rendah, umumnya mensyaratkan binatang itu terbiasa dengan pengamat-pengamat manusia. Dengan orang utan, proses ini cepat, tapi dapat membutuhkan waktu beberapa tahun dengan kera-kera Afrika (Williamson dan Feistner, 2011). Di samping itu, untuk menyesuaikan perubahan yang berhubungan dengan ekstraksi, pembiasaan diri seharusnya dimulai sebelum permulaan aktivitas industri.

Kemampuan untuk melihat masa depan seperti itu telah membawa kepada pendirian dari Proyek Kera Segitiga Goualougo (Goualougo Triangle Ape Project), di mana peneliti mulai membiasakan dan mempelajari gorila dan simpanse di sebuah habitat asli selama bertahun-tahun sebelum dipersiapkan untuk dibalak (Morgan et al., 2006). Beberapa studi orang utan yang dilakukan di habitat primer yang sejak itu telah dibalak, memungkinkan analisis retrospektif (misalnya Hardus et al., 2012). Meskipun demikian, pembiasaan diri biasanya tidak layak atau diinginkan di area-area yang hendak

dieksploitasi pada skala industri.

Sementara pemahaman kami mengenai ekologi kera pada umumnya adalah baik, karena merupakan takson-takson yang dipelajari secara paling menyeluruh di seluruh dunia, rincian atas bagaimana ekstraksi sumber daya dapat memengaruhi ekologi kera masih sedikit diketahui. Berdasarkan pengetahuan saat ini mengenai perilaku dan ekologi kera pada lingkungan alami yang belum terganggu, kami dapat memprediksi bahwa industri-industri ekstraktif menyebabkan perubahan perilaku dengan perubahan fi siologis susulan, tetapi dampak dari perubahan-perubahan ini sulit untuk diukur. Hal ini dikarenakan hubungan yang kompleks antara aktivitas-aktivitas industri ekstraktif, dampaknya pada basis sumber daya kera penghuni, dan fl eksibilitas adaptif dari masing-masing takson kera terhadap dampak itu di dalam sebuah lingkungan yang spesifik. Jadi, masalah ini akan meliputi industri, hutan, dan spesifik spesies, membuatnya sulit untuk menarik prinsip-prinsip umum. Meskipun demikian, sudah diterima secara umum bahwa pengurangan pada kelimpahan sumber daya mungkin akan, yang terbaik, mendorong perubahan pada perilaku kera penghuni karena mereka beradaptasi dengan perubahan kualitas, kuantitas, dan distribusi sumber daya.

Kemungkinan terburuk kita dapat

Foto: Meskipun pemahaman kami mengenai ekologi kera pada umumnya baik, karena beberapa takson ini termasuk yang dipelajari paling menyeluruh secara global, rincian tentang bagaimana ekstraksi sumber daya memengaruhi ekologi kera masih sedikit diketahui © Takeshi Furuichi, Komite Wamba untuk Riset Bonobo

memperkirakan peningkatan level stres, anggaran energi yang berkurang, penekanan sistem kekebalan tubuh, dan peningkatan beban penyakit dan parasit, yang membawa ke peningkatan kematian dan rendahnya kesuburan. Dampak-dampak ini, bersama-sama atau berdiri sendiri, jika berkelanjutan, mungkin akan merugikan keberlangsungan populasi kera dalam jangka panjang.

Pemahaman kami akan pemulihan pasca-pembalakan juga minim, tetapi jelas bahwa pemulihan akan ditentukan oleh ekologi takson kera penghuni, serta riwayat ekstraksi, dan restorasi pada sistem.

Mendapatkan pemahaman yang lebih baik akan respons sosioekologi kera yang kompleks terhadap ekstraksi sumber daya akan membutuhkan riset yang terfokus dengan menggunakan teknik-teknik yang sedang berkembang. Tantangan praktis untuk menilai kondisi fisik kera di habitat alami mereka adalah sangat besar dan sampai baru-baru ini banyak perubahan fisiologis yang kami perkirakan, stres khususnya, hanya dapat diukur dengan menggunakan teknik-teknik invasif. Tetapi, selama dekade terakhir ini langkah yang besar telah dibuat dalam pengembangan teknik-teknik pengambilan sampel non-invasif dan diagnosis yang tercanggih. Hormon, keton, antibodi, patogen, dan parasit sekarang dapat diekstrak dari tinja dan urine (mis. Leendertz et al., 2004; Gillespie, 2006; Masi et al., 2012), sehingga membuat riset atas tingkat stres, endokrinologi reproduktif, pola makan, dan status nutrisi satwa liar menjadi mungkin (mis. Bradley et al., 2007;

Deschner et al., 2012; Muehlenbein et al., 2012;

Murray et al., 2013). Meskipun demikian, tetap akan memerlukan studi selama beberapa generasi kera untuk menjabarkan bagaimana stres, variasi dalam luas jelajah, dan perubahan perilaku yang disebabkan oleh industri-industri ekstraktif memengaruhi kesehatan mereka dan pada akhirnya menentukan kelangsungan hidup, kesuburan, stabilitas, dan ketahanan populasi mereka

Kesimpulan

Di luar kondisi umum yang luas, sedikit informasi yang akurat tersedia untuk kebutuhan ekologis kera dalam hubungannya dengan sifat-sifat hutan yang spesifi k, seperti yang sedikit diketahui tentang variasi normal dan stokastik pada distribusi dan keberadaan spesies kera kebanyakan. Juga, sedikit data kuantitatif terperinci yang tersedia mengenai bagaimana dampak langsung bisa berbeda,

selain skala, oleh sebab itu, tidak ada interferensi sederhana yang dapat ditarik mengenai dampak industri ekstraktif pada kera. Studi yang spesifi k dibutuhkan untuk menegakkan dasar yang digunakan untuk menilai dampak. Hal ini akan meliputi, tapi tak terbatas pada, survei mengenai populasi kera pada tenggang waktu yang rutin untuk mendeteksi perubahan pada keberadaan dan distribusi mereka. Pengawasan yang sering dan tepat sasaran seharusnya menghasilkan data yang dibutuhkan untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih efektif dan manajemen yang adaptif di konsesi-konsesi dan daerah penyangga sekitarnya.

Melaksanakan studi dasar mengenai populasi kera sering membutuhkan dukungan yang besar dari industri ekstraktif. Hal ini, pada gilirannya, mengharuskan industri untuk bersedia atau dipaksa untuk menyediakan dukungan itu, khususnya selama tahap-tahap awal dari sebuah proyek ketika sumber daya keuangan terbatas karena investasi perusahaan digunakan untuk aktivitas eksplorasi guna memastikan adanya sumber daya yang menguntungkan untuk eksplorasi. Pembalakan adalah hal yang berbeda tetapi sekali lagi, investasi perusahaan disalurkan ke infrastruktur untuk mengekstrak kayu gelondongan ketimbang mengadakan survei atau EIA. Maka, ada kebutuhan yang nyata dan mendesak untuk (1) mengedukasi industri ekstraktif agar mereka memahami pentingnya studi tahap awal, dan (2) menegakkan sistem peraturan atau insentif yang sebenarnya mendorong perusahaan untuk mengimplementasikan studi-studi dan tindakan mitigasi yang direkomendasikan.

Tindakan yang bersifat sukarela tidaklah mencukupi, oleh sebab itu, hukum atau insentif yang dimaksudkan untuk mengubah perilaku perusahaan adalah elemen penting yang terlewatkan. Seperti halnya dengan dampak tidak langsung dari industri ekstraktif, persoalan pentingnya adalah tata kelola yang lemah, kebijakan pemerintah yang tidak konsisten, sumber daya yang tidak mencukupi, kurangnya penegakan hukum, dan korupsi.

Alokasi izin untuk eksplorasi dan ekstraksi harus mencakup persyaratan legal untuk mengadopsi praktik-praktik sosial terbaik yang ramah terhadap kehidupan satwa liar sebelum, selama, dan setelah eksplorasi/

ekstraksi terjadi (lihat Bab 7 untuk informasi

TABEL 3.2

Potensi dampak industri ekstraktif pada kera

Industri:

Fase Proyek

Perkiraan Respons

Simpanse dan Bonobo Gorila

POTENSI DAMPAK: Hilangnya habitat dalam skala besar (sudah diperkirakan dalam kasus pertambangan open cast) LSM: I, O Tingkat kematian yang tinggi, terutama bayi dan individu

yang lemah, dikarenakan kelaparan atau kurangnya asupan makanan

Tingkat kematian yang tinggi, terutama bayi dan individu yang lemah, dikarenakan kelaparan atau kurangnya asupan makanan

ASM: E, I, O Kesempatan memperoleh makanan yang sedikit, terbatas, dan berkurang

Kesempatan memperoleh makanan yang sedikit, terbatas, dan berkurang

O dan G: I, O Eliminasi tempat bersarang Pengurangan jumlah dan kualitas tempat bersarang (di atas tanah dan pohon)

SL: Struktur komunitas yang hancur atau runtuh total Betina mungkin berintegrasi ke kelompok lain Destabilisasi komunitas yang ada di sekitar Destabilisasi kelompok dengan jantan silverback

memperjuangkan dominasi karena kelompoknya tersingkir

Integrasi betina ke komunitas lain Kemungkinan peningkatan penyakit disebabkan hewan-hewan menjadi lemah karena kelaparan

Kematian jantan (terutama jantan yang dominan) dikarenakan konfl ik antar komunitas (kecil kemungkinannya terjadi pada bonobo)

Konfl ik yang meningkat karena sumber daya yang berkurang

Kemungkinan peningkatan penyakit disebabkan hewan-hewan menjadi lemah karena kelaparan

POTENSI DAMPAK: Hilangnya sebagian dan fragmentasi habitat LSM: E, I, O, C Kesempatan memperoleh makanan yang sedikit, terbatas,

dan berkurang

Kesempatan memperoleh makanan yang sedikit, terbatas, dan berkurang

ASM: E, I, O, C Degradasi/pengurangan home range Degradasi/pengurangan home range

O dan G: E, I, O, C Hancur dan kemungkinan terjadinya fragmentasi komunitas Hancur atau kemungkinan terjadi fragmentasi kelompok SL: Eliminasi tempat bersarang Pengurangan jumlah dan kualitas tempat bersarang (di atas

tanah dan pohon)

Struktur komunitas yang hancur atau runtuh total Betina mungkin berintegrasi ke kelompok lain

Destabilisasi komunitas yang ada di sekitar Destabilisasi kelompok dengan jantan silverback memperjuangkan dominasi karena kelompoknya tersingkir

Integrasi betina ke komunitas lain Kemungkinan peningkatan penyakit disebabkan hewan-hewan menjadi lemah karena kelaparan

Kematian jantan (terutama jantan yang dominan) dikarenakan konfl ik antar komunitas (kecil kemungkinannya terjadi pada bonobo)

Konfl ik yang meningkat karena sumber daya yang berkurang

Kemungkinan peningkatan penyakit disebabkan hewan-hewan menjadi lemah karena kelaparan

POTENSI DAMPAK: Degradasi/pengurangan habitat (misalnya kebisingan, kualitas udara dan air yang berkurang, perubahan pada komposisi habitat)

LSM: E, I, O, C Gangguan pada penetapan batas home range Gangguan pada penetapan batas home range ASM: E, I, O, C Kemungkinan berkurangnya sumber daya makanan

dikarenakan spesies yang menginvasi dan hilangnya total area habitat

Berkurangnya sumber daya makanan dikarenakan spesies yang menginvasi dan hilangnya total area habitat

O dan G: E, I, O, C

SL:

Industri:

Fase Proyek

Perkiraan Respons

Owa Orang Utan

POTENSI DAMPAK: Hilangnya habitat dalam skala besar (sudah diperkirakan dalam kasus pertambangan open cast dan pembalakan selektif)

LSM: I, O Tingkat kematian yang tinggi, terutama bayi, remaja dan individu yang lemah, dikarenakan kelaparan atau kurangnya asupan makanan

Tingkat kematian yang tinggi, terutama bayi dan individu yang lemah (khususnya betina karena mereka lebih terikat pada tanah kelahiran), dikarenakan kelaparan atau kurang-nya asupan makanan

ASM: E, I, O Kesempatan memperoleh makanan yang sedikit, terbatas, dan berkurang

Kesempatan memperoleh makanan yang berkurang (perubahan pola makan, kemungkinan lebih sedikit asupan kalori)

O dan G: I, O Kepadatan populasi yang berkurang Pengurangan jumlah tempat bersarang (pohon) SL: Perubahan pada perilaku bergerak Jantan meninggalkan area yang telah habis ditebang

Perubahan dalam anggaran aktivitas ke strategi konservasi energi

Kemungkinan peningkatan penyakit sebab hewan-hewan menjadi lemah karena kelaparan

Konfl ik yang meningkat dengan kelompok terdekat jika tersingkir selama operasi

Peralihan dalam penggunaan home range

Kemungkinan peningkatan penyakit sebab hewan-hewan menjadi lemah karena kelaparan dan stres yang meningkat

Konfl ik yang meningkat karena sumber daya yang berkurang (sebagian besar antara betina)

Turunnya laju reproduksi betina dikarenakan kurangnya ketersediaan makanan

Pengurangan pada ukuran home range

Perubahan pada anggaran waktu (lebih banyak menjelajah, lebih sedikit makan, lebih sedikit istirahat)

Perubahan pada perilaku sosial disebabkan kurangnya kesempatan untuk berkumpul dalam jumlah besar karena kurangnya makanan

POTENSI DAMPAK: Hilangnya sebagian dan fragmentasi habitat LSM: E, I, O, C Kesempatan memperoleh makanan yang sedikit, terbatas,

dan berkurang

Kesempatan memperoleh makanan yang berkurang (perubahan pola makan, kemungkinan lebih sedikit asupan kalori)

ASM: E, I, O, C Kepadatan populasi yang berkurang Pengurangan pada ukuran home range

O dan G: E, I, O, C Degradasi/pengurangan home range Tingkat kematian yang tinggi, terutama bayi dan individu yang lemah (khususnya betina karena mereka lebih terikat pada tanah kelahiran), dikarenakan kelaparan atau kurang-nya asupan makanan

SL: Meningkatnya angka kematian akibat jatuh Pengurangan jumlah tempat bersarang (pohon) Isolasi populasi dan hilangnya keberlangsungan populasi

pada fragmen-fragmen yang lebih kecil

Jantan meninggalkan area yang telah habis ditebang

Pilihan penyebaran yang berkurang Kemungkinan peningkatan penyakit disebabkan hewan-hewan menjadi lemah karena kelaparan

Kemungkinan peningkatan penyakit disebabkan hewan-hewan menjadi lemah karena kelaparan

Peralihan dalam penggunaan home range

Konfl ik yang meningkat karena sumber daya yang berkurang (sebagian besar antara betina)

Turunnya laju reproduksi betina dikarenakan kurangnya ketersediaan makanan

Perubahan pada anggaran waktu (lebih banyak menjelajah, lebih sedikit makan, lebih sedikit istirahat)

Industri:

Fase Proyek

Perkiraan Respons

Owa Orang Utan

POTENSI DAMPAK: Degradasi/pengurangan habitat (misalnya kebisingan, kualitas udara dan air yang berkurang, perubahan pada komposisi habitat)

LSM: E, I, O, C Gangguan pada penetapan batas home range Kesempatan memperoleh makanan yang berkurang (perubahan pola makan, kemungkinan lebih sedikit asupan kalori)

ASM: E, I, O, C Kemungkinan berkurangnya sumber daya makanan dikarenakan spesies yang menginvasi dan hilangnya total area habitat

Pengurangan pada ukuran home range

O dan G: E, I, O, C Tingkat kematian yang tinggi, terutama bayi dan individu yang lemah (khususnya betina karena mereka lebih terikat pada tanah kelahiran), dikarenakan kelaparan atau kurang-nya asupan makanan

SL: Pengurangan jumlah tempat bersarang (pohon)

Jantan meninggalkan area yang telah habis ditebang

Kemungkinan peningkatan penyakit disebabkan hewan-hewan menjadi lemah karena kelaparan

Peralihan dalam penggunaan home range

Konfl ik yang meningkat karena sumber daya yang berkurang (sebagian besar antara betina)

Turunnya laju reproduksi betina dikarenakan kurangnya ketersediaan makanan

Perubahan pada anggaran waktu (lebih banyak menjelajah, lebih sedikit makan, lebih sedikit istirahat)

Catatan:

Industri Ekstraktif: LSM = large-scale mining (pertambangan skala besar), ASM = artisanal and small-scale mining (pertambangan tradisional skala kecil), O and G = oil and gas development (pengembangan minyak dan gas), SL = selective logging (pembalakan selektif)

Fase proyek: E = exploration (eksplorasi), I = implementation (implementasi), O = operation (operasi), C = closeout (penutupan)

Riset yang terus-menerus selama hampir satu dekade telah menunjukkan bahwa gorila dan simpanse dapat hidup berdampingan dengan RIL (D. Morgan dan C. Sanz, C. Sanz, S. Strindberg, J.R. Onononga, C. Eyana-Ayina, dan E. Londsorf, komunikasi pribadi, 2013). Demikian juga, satu studi jangka panjang yang terperinci mengenai owa menunjukkan bahwa populasi owa dapat bertahan dan kembali pulih di area yang dibalak secara selektif di bawah situasi khusus (Johns, 1986a; Johns dan Skorupa, 1987;

Grieser Johns dan Grieser Johns, 1995);

meskipun demikian, kondisi yang dibutuhkan untuk keberlangsungan populasi masih belum diketahui. Beberapa studi telah mencatat bahwa orang utan Sumatra kurang toleran terhadap pembalakan, mungkin dikarenakan persyaratan pola makan mereka yang lebih khusus (Husson et al., 2009;

Hardus et al., 2012). Orang utan Kalimantan tampak bertahan hidup di luar area-area

yang dilindungi seperti di konsesi FSC yang tersertifi kasi, Dermakot di Sabah, Malaysia, pada saat ini atau paling tidak dalam jangka pendek (lihat juga Marshall et al., 2006;

Ancrenaz et al., 2010). Tetapi, terlalu dini untuk mengomentari tentang kelangsungan hidup jangka panjang di perkebunan penghasil kayu sehubungan dengan spesies yang berumur panjang dan lambat dalam reproduksi ini. Dari semua bentuk pembalakan yang menggunakan mesin, operasi pembalakan yang tersertifikasi tampaknya paling kompatibel dengan keberlangsungan hidup kera untuk berbagai macam alasan. Memastikan keberlangsungan hidup kera dalam jangka panjang membutuhkan penekanan yang lebih besar untuk menjaga kualitas dan kuantitas sumber daya makanan dan sarang mereka dalam hubungannya dengan penanganan hutan.

Secara keseluruhan, bukti-bukti yang tersedia menunjukkan bahwa pembalakan

konvensional berdampak negatif pada keanekaragaman hayati, tetapi bahwa hutan yang dikelola secara berkelanjutan dapat menjaga keberlangsungan populasi kera dan, oleh sebab itu, berkontribusi pada konservasi mereka. Meskipun demikian, penting untuk menekankan bahwa konsesi bukanlah pengganti untuk hutan primer yang belum dibalak dan jaringan area yang dilindungi (Clark et al., 2009; Gibson et al., 2011;

Woodcock et al., 2011). Konsekuensinya, habitat terdekat yang sesuai dan yang belum dibalak memainkan peranan yang vital pada prospek kelangsungan hidup kera jangka pendek dan panjang di habitat-habitat yang dimodifikasi. Area-area tersebut menyediakan “pengungsian” dan melindungi sebagian binatang dari dampak negatif, meskipun detail-detailnya seperti jarak optimal ke area pengungsian atau karakteristik yang menandakan kualitas dari habitat-habitat ini belum diketahui.

Terlepas dari keragaman yang diamati, keparahan dampak pembalakan terhadap kera tampaknya ditentukan oleh faktor (1) jenis pembalakan yang dilakukan, (2) ketersediaan habitat yang memadai, sesuai, dan belum dibalak di dekat tempat pembalakan, (3) intensitas pembalakan dan (4) pengendalian terhadap aktivitas-aktivitas yang berkaitan, seperti perburuan dan pembebasan tanah untuk lahan pertanian.

Populasi kera kelihatannya dapat kembali pulih jika faktor-faktor mitigasi yang benar dapat dipastikan. Di samping itu, peralihan dalam penggunaan sumber daya dan perilaku yang diamati sepanjang rangkaian pengaruh manusia menonjolkan fl eksibilitas dari kera-kera ini dalam beradaptasi dengan perubahan dan peluang lingkungan (Hockings, Anderson, dan Matsuzawa, 2006, 2012;

Meijaard et al., 2010; D. Morgan dan C. Sanz, C. Sanz, S. Strindberg, J.R. Onononga, C.

Eyana-Ayina, dan E. Londsorf, komunikasi pribadi, 2013). Observasi-observasi semacam ini sangat menggembirakan.

Dalam jangka panjang, dampak dari industri ekstraktif pada kera akan tergantung pada seberapa baik perusahaan (1) memahami kebutuhan ekologis dan perilaku dari kera penghuni, terutama untuk perlindungan, makanan, struktur sosial, dinamika sosial dan ruang lingkup; (2) mengakui potensi ancaman bagi kera-kera penghuni dari pembalakan atau

praktik-praktik operasional selama semua fase proyek pertambangan/minyak dan gas; dan (3) mengidentifi kasi dan mengelola risiko dan peluang keanekaragaman hayati yang potensial selama fase-fase proyek yang relevan. Semuanya ini dijelaskan secara lebih terperinci dalam Bab 4 dan 5.

Sangat penting bagi industri untuk mengakui dampak yang segera dan tahan lama yang ditimbulkan oleh proyek-proyek individu terhadap populasi kera dan keanekaragaman hayati yang berkaitan.

Penghindaran dan mitigasi dampak-dampak negatif selalu lebih efektif dan lebih murah daripada memperbaiki atau memberi kompensasi (offset). RIL dan sertifikasi operasi pembalakan adalah contoh pendekatan yang efektif, yang mungkin mengurangi dampak negatif pada kera.

Tindakan yang telah diambil oleh beberapa perusahaan untuk menerapkan teknologi yang mengantisipasi dan mengurangi dampak potensial dan menjalankan tindakan mitigasi yang akan menghindari dan meminimalisasi dampak negatif harus dipuji dan didukung untuk dijadikan pelajaran yang penting untuk memandu strategi-strategi konservasi kera.

Penghargaan

Penulis utama: Elizabeth A. Williamson, Benjamin M. Rawson, Susan M. Cheyne, Erik Meijaard, dan Serge A. Wich

Kontributor: Eric Arnhem, Laure Cugnière, Oliver Fankem, Matthew Hatchwell, David Morgan, Matthew Nowak, Paul De Ornellas, PNCI, Chris Ransom, Crickette Sanz, James Tolisano, Ray Victurine, dan Ashley Vosper

Dokumen terkait