• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENGENALAN ASET DAN POTENSI PENDAMPINGAN

6) Potensi di Dusun Maroceng

Di dalam paradigma Aset Bassed Community Development (ABCD) mengisyaratkan akan penjabaran potensi yang ada pada pendampingan seperti organisasi yang ada di Desa, organisasi merupakan sebuah kumpulan yang dibentuk oleh masyarakat guna untuk membentuk suatu kelompok yang berguna untuk warga masyarakat setempat untuk menjalin suatu kekompakan dan tali silaturrahmi.

1) Organisasi Masyarakat

Asosiasi ini berupa organisasi yang diikuti oleh anggota kelompok. Asosiasi mewakili modal kekuatan komunitas dan penting bagi komunitas untuk memahami kekayaan ini. Dusun Maroceng Desa Campor Barat memiliki kegiatan rutinan yang dilakukan oleh masyarakat. Kegiatan ini dilakukan setiap satu minggu sampai satu bulan sekali. Di antaranya komunitas sholawat, kelompok nelayan (Bunga Harum), khatmil qur’an.

System yang dipakai di dalam komunitas tersebut memberikan gerak berjalannya organisasi itu seperti undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan presiden, peraturan daerah serta keputusan kepala daerah. Organisasi masyarakat adalah suatu himpunan yang mengatur norma-norma dan dinamika tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat, dimana wujud kontraknya adalah asosiasi.

Komunitas ini tidak terikat pada pemerintah Desa tetapi ini adalah inisiatif dari masyarakat Dusun Maroceng Desa Campor Barat itu sendiri untuk mendirikannya. Hal ini sebenarnya jika dalam model pembangunan bersifat button up. Oleh karena itu pendamping berusaha untuk melakukan mediasi kepada aparatur Desa Campor Barat untuk turut aktif dalam proses pengembangan komunitas untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.

Dusun Maroceng Desa Campor Barat memiliki beberapa komunitas seperti di antaranya komunitas sholawat, kelompok nelayan (Bunga Harum), khatmil qur’an. Komunitas sholawat ini yang selalu diselenggarakan setiap hari senin yang mana

69

anggota tersebut adalah para bapak-bapak dan juga para remaja. Sedangkan aturan main kegiatan di dalamnya bersifat giliran dengan cara dilotre. Keterlibatan fasilitator dalam setiap kegiatan keagamaan sudah dirasakan cukup oleh masyarakat sebagai bagian dari adanya pendampingan, adapun organisasi di Dusun Maroceng Desa Campor Baratdiantaranya:

5.4: Pemetaan Organisasi

No Komunitas Ketua

Jumlah

Angggota Peran dalam Masyarakat Laki-laki Sangat Domina n Cukup Domina n Kurang Dominan 1 Sholawatan Ach. Dhaifi 55 X 2 Kelompok Nelayan (Bunga Harum) Mahalli 50 X 3 Khotmil

Qur’an H.Mukhlis 33 X

4 Yasinan &

Tahlilan Khatib 65 X

Sumber: Wawancara K. Mahalli selaku Tokoh Masyarakat Dusun Maroceng a) Sholawatan

Sholawatan adalah salah satu kegiatan komunitas yang dilakukan, biasanya dilaksanakan pada malam senin pelaksanaan kegiatan tersebut di urut di setiap rumah anggota komunitas secara bergiliran. Sholawat adalah salah satu warisan nenek moyang terdahulu sampai saat ini yang masih di jaga dan dilestarikan oleh anggota msyarakat komunitas. Dalam sholawatan ini hanya menghususkan pada arwah nenek moyang untuk memperingati hari wafatnya.

masyarakat nelayan lain yang menjadi anggotanya. Waktu pelaksanaannya sebulan sekali, dan kegiatan yang adalah tahlilan kemudian diskusi mengenai nelayan. Dan komunitas ini menamakan dirinya Bunga Harum. Konon diberi nama tersebut supaya bisa menginspirasi para pemuda penerusnya. Karena pada saat ini masyarakat khususnya pemuda kurang suka bekerja sebagai nelayan.

Dan komunitas ini sudah berdiri cukup lama yaitu sekitar tahun 2011-an. Dan sudah banyak memperoleh bantuan dari pemerintah khusunya dinas perikanan. Di antaranya jarring, perahu, dan mesin serta masih banyak yang lain. Dan mereka sudah punya asuransi.

c) Khotmil Qur’an

Khotmil Qur’an adalah khataman Qur’an yang dilakukan oleh anggota komunitas salah satu orang yang terpilih yaitu pintar mengaji. Untuk organisasi ini kalau ada acara tertentu biasanya tuan rumah mengundang para anggota tersebut karena memiliki hajatan seperti selamatan keluarga, memperingati orang yang telah wafat, dengan waktu satu jam acara khotmil Qur’an sudah selesai.

Dan setelah selesai biasanya diberi hidangan atau diberi pada saat khataman berlangsung. Dan kebiasaan ini sudah lama mereka lakukan bahkan mulai dari nenek moyang mereka terdahulu. Hal inilah yang bisa menambah erat hubungan masyarakat yang satu dengan yang lainnya.

i. Leacky Bucket atau Sirkulasi Keuangan

Perputaran keuangan merupakan perputaran ekonomi yang berupa kas, barang dan jasa, hal yang tidak terpisahkan dari warga atau komunitas dalam kehidupan

71

mereka sehari-hari. Seberapa jauh tingkat dinaminitas dalam pengembangan ekonomi lokal mereka dapat dilihat, seberapa banyak kekuatan ekonomi yang masuk dan keluar. Untuk mengenali, mengembangkan dan memobilisir aset-aset tersebut dalam ekonomi komunitas atau warga lokal diperlukan sebuah analisa dan pemahaman yang cermat. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam pendekatan ABCD (Aset Based Community Development) adalah melaluil Leacky Bucket. 9

5.5: Keuangan atau Leacky Bucket perbulan

Asal Keuangan Keterangan (Pelaku) Besaran Nominal Uang Pendapatan Utama (rata – rata) Rp 1.800.000,- Pendapatan Tambahan (rata – rata) Rp 200.000,- Jumlah Rp 2.000.000,-

Pengeluaran (rata - rata),

dengan rincian sebagaimana berikut:

Rp 1.652.000,-

Iuran Kebersihan Warga Maroceng Rp 5000,- / KK

- Belanja Pangan Rp 637.000,- - Belanja Energi Rp 300.000,- - Belanja Pendidikan Rp 400,000- 9

Christopher Dureau, Pembaru dan kekuatan lokal untuk pembangunan, Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme (ACCESS) Tahap II, (agustus 2013), hal. 44.

- Belanja lain – lain Rp 300.000- - Arisan Bapak-bapak/Ibu Yasinan Rp 10.000,- / Orang

Jumlah (Pendapatan – Pengeluaran) Rp 1.652.000,- Sumber: Angket wawancara

Dari tabel diatas bisa dijelaskan bahwa pendapatan rata-rata masyarakat yakni sekitar Rp 1.800.000,- per-bulan, tak hanya itu masyarakat juga mempunyai pendapatan tambahan dari kerja sampingan dari hasil tangkap ikan, rata – rata sekitar Rp 200.000,-. Sedangkan pengeluaran yang ada di masyarakat dampingan secara umum yakni Rp 1.652.000,- per-KK, bila diurai ada beberapa bagian antara lain; 1) Iuran kebersihan sebesar Rp 5000,- per-bulan per-KK 2) Belanja pangan itu sudah termasuk makanan pokok yakni nasi, bawang, minyak goreng dan lauk – pauk sebesar Rp 637.000,- per-bulan, 3) belanja energi yakni tagihan listrik dan konsumsi bahan bakar minyak atau BBM sebesar Rp 300.000,- per-bulan, 4) Belanja pendidikan sekitar Rp 400.000. 5) Belanja lain – lain sebesar Rp 300.000,- per-bulan, anggaran ini digunakan untuk keperluan menDesak khususnya jika ada peralatan atau oerabotan rumah yang rusak, 6) Arisan sekitar Rp 10.000,- per- orang per-bulan, ini tergantung juga kepada bspsk-bapak/ibu-ibu yang mengikuti arisan, ada yang ikut satu, ada yang ikut lima yang berarti beban membayar sekitar Rp 50.000. pendapatan utama dan tambahan masyarakat rata – rata Rp 2000.000,-, dan pada pengeluaran masyarakat sekitar Rp 1.652.000,- dan sisanya ialah Rp 348.000,-.

73

Namun pengeluaran tersebut belum final atau bersifat dinamis, karena dalam kurun waktu tertentu bahan bakar minyak, listrik, dan bahan makanan naik dengan drastis. Dan pendapatan masyarakat per-KK tidak langsung naik, masih menunggu hasil tangkap ikan untuk melihat hasil secara keseluruhan. Hal itu bisa di lihat dari harga dari hasil panen jika mahal maka penghasilannyapun tinggi jika tidak maka bisa jadi tidak menghasilkan bahkan bisa rugi dari modal awal yang sudah dikeluarkan untuk tangkap ikan.

B. Peluang dan Hambatan Dalam Pendampingan

Dokumen terkait