• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Potensi Hutan Desa

Hutan desa Mattabulu Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dengan Nomor : SK.2835/MENLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/5/2018 tentang pemberian hak pengelolaan hutan desa Mattabulu seluas ±1.066 (Seribu Enam Puluh Enam) Hektare berada pada kawasan hutan lindung yang potensinya di kelola oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Mattabulu. Berdasarkan pengamatan di lapangan potensi hutan desa dapat dilihat pada tabel dibawah.

Tabel 14. Potensi Hutan Desa Mattabulu Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng

1 2 3 4 5 6 7 Pinus Aren Kemiri Pangi kopi Lebah Madu Wisata Alam Belum di kelola Belum di kelola Dikelola Belum di kelola Dikelola Dikelola Dikelola Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2020

Berdasarkan tabel 14 di atas menunjukkan bahwa ada 3 potensi hutan desa yang meliputi Pinus, Aren, dan Keloak yang belum di kelola oleh LPHD dan ada 4 yang sementara dikelola dan dikembangkan oleh LPHD Mattabulu meliputi Kemiri, kopi, Lebah Madu, dan Wisata Alam dalam hal ini adalah Air Terjun Lembah Sunyi.

a. Pinus (Pinus Merkusi)

Tanaman pinus ini memiliki peranan yang penting, sebab selain sebagai tanaman pioner, bagian kulit pinus dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang di gunakan oleh masyarakat Desa Mattabulu, keistimewaan dari pohon pinus yaitu menghasilkan getah yang diolah lebih lanjut akan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.

Berdasarkan hasil wawancara terhadap ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Mattabulu, Pinus adalah salah satu potensi hutan desa Mattabulu yang belum masuk dalam struktur Kelompok Usaha Perhutanan

Sosial (KUPS) dan belum dikelola oleh petani sebagai potensi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

b. Aren (Arenga pinatta)

Produk utama tanaman aren adalah nira. Prospek pengembangan tanaman aren mendukung kebutuhan bioetanol di Indonesia adalah gula aren maupun minuman ringan, cuka dan alkohol (Akuba, 2004; Rindengan dan Manaroinsong, 2009). Selain itu tanaman aren dapat menghasilkan produk makanan seperti kolang kaling dari buah betina yang sudah masak dan tepung aren untuk bahan kue, roti dan biscuit, yang berasal dari pengolahan bagian empelur batang tanaman (Alam dan Baco, 2004. Maliangkay et al., 2004). Tetapi berdasarkan hasil pengamatan dan hasil wawancara yang dilakukan peneliti di lokasi penelitian menunjukkan bahwa tanaman Aren yang tersebar di dalam hutan desa Mattabulu belum dikembangkan oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Mattabulu dan dikelola oleh masyarakat Desa Mattabulu.

c. Kemiri (Aleurites moluccanus)

Kemiri merupakan komoditi yang mempunyai prospek pasar yang cukup luas, baik di dalam maupun di luar negeri. Kemiri mempunyai nilai ekonomi tinggi sebagai bahan produk mulai dari penyedap makanan sampai bahan baku industri dan perabot rumah tangga. Produk kemiri dapat dimanfaatkan sebagai bumbu masak, obat-obatan, minyak kemiri untuk perawatan rambut dan kecantikan, bahan baku industri sabun dan cat, kayu

bakar, korek api, perabot rumah tangga, papan pengepak, pulp, dan vinir kayu lapis (Yusran, 2005).

Kemiri salah satu potensi hutan desa Mattabulu yang dikelola oleh Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) Mattabulu sebagai penggerak perekonomian masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan Surat Keputusan Nomor : 24/KPTS/DMT/VII/2018 Tentang Pembentukan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Lembaga Pengelola Hutan Desa Mattabulu Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng. Sedangkan berdasarkan wawancara dari beberapa petani Kemiri, rata-rata petani mengambil sebanyak 2 kali dalam seminggu dan rata-rata mendapatkan 3.600 biji. Biasanya petani menjual kemiri kepada pengepul dengan harga Rp. 50,- per biji atau bisa di lihat pada Lampiran 4.

d. Pangi (Pangium edule Reinw)

Tanaman pangi merupakan tanaman serbaguna dimana hampir semua bagian dari tanaman ini memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi kehidupan manusia seperti bumbu masakan, makanan ringan, minyak goreng, bahan pengawet makanan, obat-obatan tradisional, pestisida alami dan kontruksi bangunan. Tetapi bagi masyarakat Mattabulu tanaman Pangi baru sebagai komsumsi pribadi belum dikelola sebagi suatu produk yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Berdasarkan wawancara dilokasi penelitian bersama Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Mattabulu mengatakan bahwa tanaman Pangi yang merupakan potensi hutan desa belum dikelola oleh LPHD tersebut dan dikembangkan oleh

masyarakat desa Mattabulu. Biasanya masyarakat mengambil pangi di luar hutan desa Mattabulu sebagai sebagai bahan komsumsi pribadi.

e. Kopi

Kopi merupakan salah satu hasil komoditi perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi di antara tanaman perkebunan lainnya dan berperan penting sebagai sumber devisa negara. Kopi tidak hanya berperan penting sebagai sumber devisa melainkan juga merupakan sumber penghasilan bagi tidak kurang dari satu setengah juta jiwa petani kopi di Indonesia (Rahardjo, 2012).

Kopi Mattabulu adalah salah satu jenis produk yang dikembangkan oleh masyarakat Desa Mattabulu. Bahan baku pada produk ini masih tersedia di luar kawasan hutan desa. Berdasarkan pengamatan dan wawacanra yang peneliti lakukan bahwa tanaman Kopi jenis Robusta sudah mulai dibudidayakan dalam kawasan hutan desa dengan luas lahan percobaan 1 Ha dan belum ada hasil secara finansial yang didapatkan

Petani. Para Petani kopi yang mengelola hutan desa berdasarkan SK Nomor:26/KPTS/DMT/VII/2018 atau bisa di lihat pada Lampiran 6,

mengemukakan bahwa akan terus membudidayakan tanaman kopi dalam kawasan hutan desa agar dapat menjadi bahan baku produk Kopi Mattabulu yang trend permintaannya meningkat dari semua potensi yang ada.

f. Lebah Madu

Madu merupakan salah satu hasil non kayu berasal dari hewan yang masih hidup, serta mempunyai potensi untuk dikembangkan dan

dibudidayakan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan budidaya lebah madu, karena kondisi iklimnya yang mendukung dalam pengembangan usaha budidaya lebah madu.

Lebah madu juga banyak di temukan petani di dalam kawasan hutan desa, dari hasil wawacara yang dilakukan peneliti terhadap petani, jenis lebah yang dipanen adalah Lebah Lokal (Apis cerana). Rata-rata petani panen 1 kali dalam setahun. Adapun dalam satu kali panen biasanya petani mendapatkan rata- rata 5 liter madu sesuai ukuran sarang lebah, semakin besar sarangnya maka akan semakin banyak madu yang di dapatkan, kemudian di isi di dalam botol yang berukuran 500 ml dan dijual dengan harga Rp. 150.000,- per botol. Tetapi madu yang ada dalam hutan desa belum di kelola sepenuhnya oleh petani, dari 5 responden yang peneliti wawancara 2 diantaranya masih mendapatkan madu di luar hutan desa Mattabulu. Hal ini juga menjelaskan bahwa lebah madu jenis Apis cerana telah dikelola oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Mattabulu. g. Wisata Alam

Pariwisata merupakan salah satu sumber devisa negara selain dari sektor migas yang sangat potensial dan mempunyai andil besar dalam membangun perekonomian. Perkembangan pariwisata tidak hanya berkembang di negara-negara saja. Tetapi secara regional pariwisata juga mengalami perkembangan. Objek wisata yang paling banyak di gemari adalah wisata alamnya.

Desa Mattabulu Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng memiliki wisata alam yang dikenal oleh masyarakat adalah “Lembah Cinta”. Wisata alam ini berada di luar kawasan hutan desa. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan peneliti, wisata alam yang sementara dikelola oleh LPHD Mattabulu berada dalam kawasan hutan desa yaitu wisata alam jenis air terjun. Wisata alam ini akan dikenal sebagai objek wisata alam “Air Terjun Lembah Sunyi”. Objek wisata alam ini belum di kunjungi oleh para wisatawan karen wisata air terjun ini baru dikembangkan dan sementara dikelola, terdapat 3 Gasebo dan 1 jaring laba-laba yang menjadi prasarana pada wisata alam ini.

5.3 Analisis SWOT

Dokumen terkait