• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAIN TAPIS SEBAGAI PRODUK KERAJINAN

C. Potensi Kain Tapis Lampung Sebagai Suatu Produk

Indikasi Geograsis Ke Direktorat Jenderal HKI

Pasal 56 UU No.20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis menyebutkan bahwa

(1) Permohonan Indikasi Geografis tidak dapat didaftar jika:

a. bertentangan dengan ideologi negara, peraturan perundang-undangan, oralitas, agama, kesusilaan, dan ketertiban umum;

b. menyesatkan atau memperdaya masyarakat mengenai reputasi, kualitas, karakteristik, asal sumber, proses pembuatan barang, dan/atau kegunaannya; dan

47 Turunde Lukman, Menata Manajemen Perlindungan Hukum Kain Tapis Lampung Sebagai Produk Kerajinan Tangan Tradisional, Rineka Cipta Jakarta, 2017, hal.65.

c. merupakan nama yang telah digunakan sebagai varietas tanaman dan digunakan bagi varietas tanaman yang sejenis, kecuali ada penambahan padanan kata yang menunjukkan faktor indikasi geografis yang sejenis.

(2) Permohonan Indikasi Geografis ditolak jika:

a. Dokumen Deskripsi Indikasi Geografis tidak dapat dibuktikan kebenarannya; dan/atau

b. memiliki persamaan pada keseluruhannya dengan Indikasi Geografis yang sudah terdaftar.

Berdasarkan ketentuan Pasal 56 UU No.20 Tahun 2016 tersebut dapat dikatakan bahwa permohonan pendaftaran indikasi geografis akan ditolak oleh Direktorat Jenderal HKI apabila:

a. Bertentangan dengan ideologi negara, peraturan perundang-undangan, motlralitas agama, kesusilaan dan ketertiban umum

b. memperdaya dan menyesatkan masyarakat dari segi kualitas dan reputasi produk

c. Menggunakan nama varietas tanaman sejenis (sama) untuk produk pertanian dan nama yang sama secara keseluruhan dengan produk yang sudah terdaftar lebih dahulu

d. Memiliki persamaan/kemiripan bentuk dengan produk yang sudah terdaftar lebih dahulu.

e. Dokumen Deskripsi Indikasi Geografis tidak dapat dibuktikan kebenarannya

Undang-Undang No.20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis tidak menyebutkan secara spesifik mengenai produk yang dapat didaftarkan sebagai produk indikasi geografis. Di dalam ketentuan Pasal 56 Undang-Undang No.20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis hanya menyebutkan tentang kualitas, reputasi, karakteristik, asal sumber, proses pembuatan dan/atau kegunaan produk dan juga Dokumen Deskripsi Indikasi Geografis yang terbukti benar, sebagai persyaratan utama dapat didaftarkannya suatu produk sebagai produk indikasi geografis ke Direktorat Jenderal HKI.48

48 OK. Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Rights), Raja Grafindo, Persada, Jakarta, 2007, hal. 62

Kualitas produk dapat dimaknai sebagai kemampuan suatu produk/barang untuk melaksanakan fungsinya dengan baik dan dalam jangka waktu yang lama yang menimbulkan kepuasan bagi pengguna dari produk tersebut. Sedangkan reputasi produk adalah berkaitan dengan kualitas yang cukup baik dan memuaskan dari suatu produk dan sudah dikenal oleh masyarakat luas sebagai produk yang bagus.

Karakteristik adalah merupakan ciri pembeda anatara satu produk dengan produk yang lainnya yang dapat berupa pemilihan kualitas bahan yang digunakan, tekstur bentuk, struktur, pola yang khusus dan menjadi ciri khas tersendiri dari produk tersebut. Selain itu terdapat pula dokumen deskripsi indikasi geografis yang dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmu pengetahuan, sehingga dapat dijadikan alat bukti yang autentik bahwa produk tersebut benar diproduksi oleh masyarakat di wilayah tersebut dan sudah berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama secara turun temurun.49

Kain tapis Lampung sebagai suatu produk kerajinan tangan masyarakat daerah Lampung merupakan suatu hasil karya dari masyarakat daerah Lampung secara turun temurun melakui suatu pengetahuan tradisional yang dimiliki oleh masyarakat daerah Lampung. Pengetahuan tradisional tersebut dimiliki secara turun temurun oleh masyarakat Lampung dan pengetahuan tradisional tersebut sudah dimiliki sejak dalam jangka waktu yang cukup lama hingga ratusan tahun yang lalu, disaat ilmu pengetahuan dan teknologi belum berkembang maju seperti sekarang ini. Oleh karena itu pengetahuan tradisional yang sudah lama dimiliki

49Syafrinaldi, Hukum Tentang Perlindungan Hak Milik Intelektual Dalam Menghadapi Era Globalisasi, Jakarta: UI Press, 2010, hal. 52

oleh masyarakat Lampung secara turun temurun tersebut memiliki nilai yang tinggi karena tidak semua kelompok masyarakat di Indonesia memiliki pengetahuan tradisional dalam membuat kain tenun tapis Lampung yang memiliki kualitas, reputasi yang baik dan memiliki karakteristik yang spesifik sesuai adat istiadat masyarakat Lampung tersebut.

Pelindungan pengetahuan tradisional dalam lingkup Hak Kekayaan Intelektual (HKI) pada hakekatnya adalah sistem pelindungan serta penghargaan terhadap pelindungan serta penghargaan terhadap karya dari hasil intelektual manusia. Perkembangan HKI ini telah membawa berbagai kepentingan khususnya kepentingan kehidupan moderen dan industri, sehingga meluapkan kepentingan masyarakat asli. Masing-masing bidang HKI memberikan pokok-pokok pemikiran terhadap isu perkembangan bagi pelindungan terhadap pengetahuan tradisional.

Munculnya terminologi tentang pengetahuan tradisional karena adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi syarat-syarat yang akan memudahkan pembahasan mengenai lingkup pokok masalah yang akan diberikan perlindungan.

Penggunaan serangkaian istilah yang lazim diterapkan pada pokok masalah Pengetahuan Tradisional, karena terdapat beberapa istilah berbeda yang digunakan untuk istilah tersebut, yaitu: pengetahuan tradisional (traditional knowledge), masyarakat asli (indigenous communities), cerita rakyat (folklore), pengetahuan ekologi tradisional (traditional ecological knowledge), pelestarian budaya tradisional (traditional and popular culture). “Pengetahuan tradisional adalah karya intelektual di bidang pengetahuan dan teknologi yang mengandung unsur karakterisitik warisan tradisional yang dihasilkan, dikembangkan, dan

dipelihara oleh komunitas atau masyarakat tertentu.”Meskipun diskusi terkait pelindungan terhadap pengetahuan tradisional telah dilakukan lebih dari empat puluh tahun silam, namun secara internasional hingga saat ini belum ada keseragaman definisi pengetahuan tradisional yang disepakati.

World Intellectual Property Organization (WIPO) mendefinisikan pengetahuan tradisional adalah“Knowledge, know-how, skills and practices that are developed, sustained and passed on from generation to generation within a community, often forming part of its cultural or spiritual identity”.(Pengetahuan yang bagaimana yang dapat dikembangkan keterampilan dan praktik, berkelanjutan dan diteruskan dari generasi ke generasi dalam komunitas, sering membentuk bagian dari strategi identitas budaya atau spiritual).

Masyarakat tradisional juga memiliki pemahaman sendiri mengenai pengetahuan tradisional. Menurut mereka pengetahuan tradisional adalah:50

a. Pengetahuan Tradisional merupakan hasil pemikiran praktis yang didasarkan atas pengajaran dan pengalaman dari generasi ke generasi;

b. Pengetahuan Tradisional merupakan pengetahuan di daerah perkampungan, dan

c. Pengetahuan Tradisional tidak dapat dipisahkan dari masyarakat pemegangnya, meliputi kesehatan, spiritual, budaya dan bahasa dari masyarakat pemegang. Pengetahuan Tradisional memberikan kredibilitas pada masyarakat pemegangnya.

Penduduk asli mendefinisikan pengetahuan tradisional sebagai:

50 Rismauddin, IlmuPengetahuan Tradisional dalam Praktek, Rineka Cipta, Jakarta, 2017, hal. 32

a. Pengetahuan yang mereka terima berasal dari akal sehat yang praktis, yaitu berdasarkan ajaran dan pengalaman yang diwariskan dari gerenasi ke generasi.

b. Pengetahuan umum yang dikenal oleh seluruh anggota suatu masyarakat, misalnya pengetahuan tentang lingkungan pangan, hortikultura, dunia hewan, salju, es, cuaca, sumber daya, dan hubungan di antara hal-hal itu.

c. Pengetahuan yang bersifat holistik, artinya pengetahuan tentang “suatu hal”

berkaitan dengan “hal lain” pengetahuan yang saling kait mengkait dan berakar tradisi, spiritualitas, budaya dan bahasa rakyat yang semuanya merupakan persoalan cara hidup.

d. Pengetahuan tradisional ini merupakan persoalan cara hidup ada kebijaksanaan untuk menggunakan pengetahuan tradisional dengan cara yang baik, semacam spirit agar para anggotanya dapat bertahan hidup.

e. Pengetahuan tradisional ini berada dalam suatu sistem otoritas, karena ada aturan-aturan yang mengatur penggunaan sumber daya, kewajiban untuk berbagi. Jadi sifatnya pengetahuan itu dinamis, kumulatif, dan stabil ini adalah persoalan kebenaran.

Pengetahuan tradisional terdiri atas pertama, pengetahuan tradisional dan bahan-bahan tumbuhan asli/lokal, kedua, menyangkut seni seperti yang dinyatakan foklor. Pelindungan pengetahuan tradisional dalam lingkup HKI pada hakekatnya adalah sistem terhadap pelindungan serta penghargaan terhadap karya dari hasil intelektual manusia. Perkembangan HKI ini telah membawa berbagai kepentingan khususnya kepentingan kehidupan moderen dan industri, sehingga melupakan kepentingan masyarakat tradisional. Padahal banyak hasil yang

digunakan masyarakat moderen dan industri adalah merupakan pengetahuan dan teknologi tradisional masyarkat asli. Masing-masing bidang HKI di atas setidaknya memberikan pokok-pokok pemikiran terhadap isu perkembangan bagi pelindungan terhadap pengetahuan dan teknologi tradisional.51

Berdasarkan uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa kain tapis Lampung sebagai produk kerajinan tangan tradisional yang dihasilkan melalui pengetahuan tradisional masyarakat Lampung secara turun temurun sejak ratusan tahun lalu merupakan suatu produk yang mengindikasikan kekayaan pengetahuan tradisional masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat daerah Lampung pada khususnya yang dipandang memenuhi syarat secara hukum hak kekayaan intelektual dan memiliki potensi untuk dapat didaftarkan sebagai produk indikasi geografis daerah Lampung. Potensi kain tapis Lampung untuk dapat didaftarkan sebagai produk indikasi geografisdengan menilai kain Tapis Lampung merupakan:52

1. Hasil karya pengetahuan tradisional masyarakat daerah Lampung secara turun temurun sejak ratusan tahun yang lalu

2. Produk yang memiliki kualitas yang baik dan reputasi yang tinggi dan memiliki karakteristik yang spesifik dan memiliki ciri khas sendiri sebagai produk tradisional tenun ikat tradisional yang dikerjakan melalui manual dengan tangan.

3. Memiliki dokumen deskripsi yang jelas dapat dibuktikan kebenarannya

51Muhammad Racmad, Pengantar HKI, Penerbit Pustaka Magister, Semarang, 2018, hal. 49

52 CarlitoYusuf, Peran Pemerintah Daerah Lampung Dalam Memberikan Perlindungan Hukum Terhadap Kain Tapis Lampung, Kencana Media, Jakarta, 2017, hal.50.

4. Produk yang sudah cukup dikenal oleh masyarakat di kuar Lampung di Indonesia dan juga di manca negara.

5. Memiliki nilai budaya yang tinggi dan hanya dapat dikerjakan oleh kelompok masyarakat yang memiliki keahlian khusus dan pengetahuan tradisional yang baik.

Persyaratan yang harus dipenuhi agar kain tapis Lampung dapat dimohonkan pendaftaran ke Direkotrat Jenderal HKI sebagai produk indikasi geografis terhadap kain tapis Lampung secara yuridis formal telah memenuhi persyaratan, namun pada pelaksanaannya perlu dilakukan upaya dukungan oleh pemerintah daerah Lampung untuk lebih mempromosikan produk kain tapis Lampung tersebut ke seluruh Indonesia dengan melaksanakan program – program promosi budaya masyarakat Lampung ke seluruh wilayah Indonesia untuk lebih mempopulerkan kain tapis Lampung sebagai ciri khas kerajinan tangan masyarakat daerah Lampung kepada seluruh masyarakat Indonesia, sehingga masyarakat Indonesia dapat lebih mengenal dan memahami secara lebih detail tentang produk kain tapis Lampung sebagai produk kerajinan tangan asli masyarakat daerah Lampung tersebut. Promosi dapat pula dilakukan oleh pemerintah daerah kota Lampung ke ajang promosi mancanegara khususnya di wilayah Asia Tenggara untuk memperkenalkan produk kerajinan tangan tradisional masyarakat Lampung berupa kain tapis tersebut. Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah Lampung dalam mempromosikan kain tapis ke seluruh Indonesia dan mancanegara maka proses hukum pelaksanaan pengajuan permohonan pendaftaran kain tapis sebagai produk indikasi geografis dari daerah

Lampung akan lebih mudah diterima di Direktorat Jenderal HKI, karena produk kain tapis Lampung tersebut sudah terlebih dahulu dikenal oleh masyarakat Indonesia maupun masyarakat mancanegara sebagai produk kerajinan tangan ciri khas masyarakat daerah Lampung.

Apabila dikaitkan dengan teori perlindungan hukum yang digunakan dalam penelitian ini maka pengajuan permohonan pendaftaran kain tapis Lampung sebagai produk indikasi geografis merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah Lampung untuk memberikan perlindungan hukum terhadap kain tapis Lampung sebagai produk kerajinan tangan tradisional dari masyarakat Lampung dan dapat terlindungi hak dan kepentingannya dari gangguan pihak lain.

Berdasarkan kriteria tersebut di atas mengenai kain Tapis Lampung tersebut secara persyaratan hukum pendaftaran produk Indikasi geografis sudah memenuhi syarat dan memiliki potensi yang cukup besar untuk didaftarkan sebagai produk Indikasi Geografis ke Direktorat Jenderal HKI.

BAB III

DAMPAK NEGATIF YANG DIALAMI PARA PENGRAJIN DI LAMPUNG APABILA KAIN TAPIS TIDAK DIDAFTARKAN

SEBAGAI PRODUK INDIKASI GEOGRAFIS

A. Konsep Pelindungan Hukum Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Melalui Pendaftaran Indikasi Geografis

Konsep pelindungan hukum secara umum adalah memberikan pengayoman dan pelindungan kepada hak hak manusia baik perorangan maupun kelompok yang dirugikan orang lain dan pelindungan tersebut diberikan kepada manusia sebagai anggota atau kelompok masyarakat agar masyarakat dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum atau dengan Perkataan lain pelindungan hukum adalah berbagai upaya hukum yang harus diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku dan juga oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman dan nyaman, baik secara pikiran maupun fisik kepada setiap individu maupun kelompok dalam masyarakat dari gangguan dan berbagai ancaman dari pihak manapun.53

Pelindungan hukum adalah pelindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak yang dimiliki oleh subyek hukum bersumber dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelindungan hukum terhadap berbagai macam produk yang mencirikan Indikasi Geografis di Indonesia harus dapat menjawab tantangan global (perdagangan bertaraf internasional) yakni dengan memberikan aturan hukum yang memadai sehingga dapat memberikan kepastian hukum terhadap produk asli Indonesia di luar

53 Rismadi Rafyanto¸Hukum Hak Atas Kekayaan Intelektual, Alumni, Bandung, 2016, hal. 92

negeri. Kepastian hukum tersebut berkaitan dengan substansi tentang pengaturan Indikasi Geografis dalamsuatu peraturan perundang-undangan di bidang Merek dan Indikasi Geografis yang lebih memberikan jaminan pelindungan hukum bagi pemegang hak sehingga responsif terhadap pelanggaran oleh pihak lain.

Hal tersebut dibuktikan dengan adanya contoh dua kasus mengenai pelanggaran Indikasi Geografis, yaitu kasus pelanggaran Kopi Toraja dan Kopi Gayo. Kasus pendaftaran merek Kopi dengan nama Toraja oleh Key Coffee Co.

diawali pada saat pemilik merek “Toarco Toraja” tersebut mengajukan permohonan pelindungan atas merek kopi yang mulai populer di Jepang.

Ancaman adanya pesaing yang menggunakan merek dagang dengan nama yang sama menjadi dasar permohonan pelindungan mereknya pada 1974 dan kemudian pendaftarannya dikabulkan pada 1976. Kasus kedua, Kopi Gayo sebagai merek dagang di klaim milik sebuah perusahaan asal Belanda sebagai pemegang haknya, dimana pada dasarnya Kopi Gayo adalah produk hasil pertanian yang sudah terdaftar sebagai produk indikasi geografis yang berasal dari daerah gayo Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Perusahaan asal Belanda tersebut (Holland Coffe B.V) mengklaim bahwa perusahaan tersebut merupakan pemilik dari hak merek dagang kopi tersebut dan terdaftar di dunia internasional dengan nama Gayo Mountain Coffee.

Pada dasarnya produk yang sudah terdaftar sebagai produk indikasi geografis di direktorat Jenderal HKI Indonesia, masih dapat diambil alih hak mereknya secara melawan hukum oleh negara asing seperti Belanda, apalagi produk yang sudah cukup dikenal luas seperti kain tapis Lampung yang masih

belum terdaftar sebagai produk indikasi geografis, akan lebih mudah diklaim baik hak atas mereknya maupun hak atas indikasi geografis nya oleh negara lain yang menyadari nilai budaya dan nilai ekonomi dari produk kain tapis Lampung tersebut begitu tinggi, sehingga memungkin negara lain tersebut memproduksi kain tapis Lampung tersebut dengan membayar/memberi modal kepada pengrajin kain tapis Lampung untuk dibawa keluar negeri.

Para pengrajin kain tapis Lampung tersebut dapat saja dibawa ke luar negeri dan diberi fasilitas yang bagus di luar negeri, dengan satu tujuan memproduksi kain tapis Lampung dalam jumlah besar dan memperdagangkannya di dunia perdagangan internasional. Apabila proses produksikain tapis tersebut berlangsung terus menerus di luar negeri dan memperdagangkannya dengan harga yang mahal di dunia internasional, serta memperoleh keuntungan yang besar bagi penyandang dana, maka dapat saja produk kain tapis Lampung tersebut suatu waktu diklaim oleh negara lain sebagai produk asli dari negara tersebut dan mengambil alih proses produksi, dan proses perdagangannya di ldalam perdagangan internasional. Indonesia pada umumnya, dan Lampung pada khusus dapat kehilangan produk tradisionalnya yaitu kain tapis Lampung bila tidak dapat melindungi produk tersebut baik secara hukum nasional, melalui pendaftaran indikasi geografis di Direktorat Jenderal HKI maupun mendaftarkannya di organisasi HKI internasional World Intellectual Property Organization (WIPO).54

Pada dasarnya pelindungan hukum terhadap indikasi geografis dalam sistem hukum hak kekayaan intelektual adalah upaya untuk melindungi

produk-54 Mulyanto, Hukum Hak Cipta, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2016, hal. 12.

produk masyarakat lokal dalam negeri karena merek yang dipakai oleh pelaku bisnis untuk memperkenalkan produk, biasanya menggunakan nama tempat atau lokasi geografis yang menjelaskan dari mana barang tersebut berasal. Namun demikian, Indonesia belum memiliki instrumen yang mengatur IIndikasi Geografis sebagai komponen Kekayaan Intelektual hingga tahun 2001, sehingga substansi hukum, indikasi geografis tidak dicantumkan dalam ketentuan umum Undang-Undang Merek Nomor 15 Tahun 2001 dan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa substansi hukum di bidang Indikasi Geografis tidak memadai, karena itu beralasan apabila kemudian disahkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis untuk mengubah Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001.55

Selain itu, faktor kultur dan kebiasaan perilaku masyarakat juga sangat berpengaruh terhadap pendaftaran Indikasi geografis oleh masyarakat. Hal ini disebabkan karena para pejabat yang terkait di bidang HKI tersebut belum melakukan sosialisasi yang optimal dan ini berakibat pada faktor kultur yaitu masyarakat tidak melakukan pendaftaran terhadap indikasi geografis karena tidak mengetahui konsep IG tersebut.

Berdasarkan hal tersebut, didapati masalah kepastian hukum tentang IG yang menyangkut aspek budaya hukum, di samping aspek pengaturan norma hukum yang disebut sebelumnya. Permasalahan budaya hukum seperti itu memang tidak mungkin dilepaskan dari konteks pembangunan sistem hukum nasional yang, dalam kaitannya dengan kepentingan Indikasi geografis, terkait erat dengan penguatan arus globalisasi ekonomi.

55Ibid, hal. 13

Lahirnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 sebagai implementasi dari ketentuan internasional mengatur Indikasi Geografis secara leih komprehensif daripada Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 diharapkan dapat memberikan kepastian hukum dalam mengembangkan potensi indikasi geografis yang bernilai ekonomi tinggi, sehingga Undang-Undang No.20 Tahun 2016 tersebut diharapkan memiliki implikasi positif terhadap pengembangan ekonomi terhadap masyarakat pengrajin tradisional di daerah dan mendorong kesadaran masyarakat dan juga Pemda untuk mendaftarkan produk indikasi geografis tersebut.

The Paris Convention for the Protection of Industrial Property 1883 (Konvensi Paris 1883), mengatur tentang Appellation of Origin (AO) sebagai berikut:“… the geographical name of a country, region, or locality, which serves to designate a product originating therein, the quality and characteristic of which are due exclusively or essentially to the geographical environment, including natural and human factor.”Bersama dengan Indikasi Asal (Indication of Source), AO termasuk dalam aturan nama dagang yang memakai nama tempat untuk produk dagangnya. Nama tempat berfungsi sebagai tanda pembeda. Lebih luas pengertiannya dari AO yang harus sama persis dengan produknya, Indikasi Geografis merujuk tidak hanya pada nama tempat, tetapi juga tanda-tanda kedaerahan atau lambang dari lokasi bersangkutan yang mengidentifikasikan asal produk khas bersangkutan.

Ketentuan Pasal IX: 6 GATT 194713 tidak diberlakukan sebagai ketentuan hukum yang mengikat dan ditetapkan sebagai syarat wajib yang diberlakukan, tetapi ketentuan tersebut lebih cenderung ditetapkan sebagai kerjasama antar

negara anggota untuk menangkal terjadinya penyesatan. Juga kewajiban antar negara anggota untuk melaksanakan kerjasama dalam merumuskan ketentuan hukum dalam peraturan hukumnya masing-masing terhadap pelindungan nama geografis.

Perjanjian Lisabon 1958 menjelaskan Appellation of Origin sebagai berikut:

“In this Agreement, “appellation of origin” means the geographicalde Nomormination of a country, region, or locality, which serves todesignate a product originating therein, the quality or characteristics ofwhich are due exclusively or essentially to the geographicalenvironment, including natural and human factors.”

Perjanjian Lisabon bertujuan dalam rangka merespon kebutuhan hukum internasional dan memfasilitasi dalam hal pelindungan terhadap indikasi Geografis seperti Appellation of Origin (AO) di beberapa negara selain negara asal indikasi geografis tersebut melalui sistem single registration di Biro Internasional WIPO.

Pada tahun 1974 dan 1975 WIPO berinisiatif menyelenggarakan persidangan untuk dibentuknya suatu perjanjian internasional dengan merevisi ketentuan terkait dengan indikasi geografis dalam Konvensi Paris sehingga menjadi perjanjian internasional yang baru. Sebagai bagian dalam taraf negoisasi dalam rangka merevisi Konvensi Paris pada tahun 1980. Awal tahun 1990, negara anggota mempertimbangkan untuk mengadopsi ketentuan tambahan (additional articles) quateraddressing geographical indications. Ketentuan tentang Appellation of Origin dalam Konvensi Paris dikembangkan melalui Perjanjian TRIPs (TRIPs Agreement) sebagai IG (Geographical Indication).

Article 22 TRIPsAgreement mengatakan bahwa:

“Geographical indications are for the purposes of this agreement,indications which indentify a good as originating in the territory of amember, or a region or locality in that territory, where a given quality,reputation or other characteristics of the good is essentially attributable to its geographical origin.”

Sesuai dengan standar minimum yang dianut dalam Perjanjian TRIPs, maka pengaturan indikasi geografis diserahkan pada masing-masing Negara peserta, apakah bersifat “suigeneris” (tersendiri) atau diatur bersama dengan merek meskipunTRIPs mengakui bahwa merek dan Indikasi geografis merupakan rezim kekayaan intelektual yangberbeda.

TRIPs menyatakan ”for the purpose of this agreement” berarti, unsur-unsur definisi indikasi geografis merupakan sifat khas yang berbeda dengan rezim KI lain. Setidaknya, ada empat unsur pokok indikasi geografis dalam Perjanjian TRIPs, yaitu, pertama, unsur nama geografis untuk mengidentifikasi, tidak bersifat mutlak karena dapat menggunakan nama Nomorn-geografis; kedua, unsur wilayah dalam negara sebagai tempat produksi tidak identik dengan wilayah administratif namun disesuaikan dengan kondisi faktual; ketiga, unsur kepemilikan dalam indikasi geografis bukan merupakan hak individual (private right) tetapi hak komunal (communal right), maka IG merupakan hak untuk

TRIPs menyatakan ”for the purpose of this agreement” berarti, unsur-unsur definisi indikasi geografis merupakan sifat khas yang berbeda dengan rezim KI lain. Setidaknya, ada empat unsur pokok indikasi geografis dalam Perjanjian TRIPs, yaitu, pertama, unsur nama geografis untuk mengidentifikasi, tidak bersifat mutlak karena dapat menggunakan nama Nomorn-geografis; kedua, unsur wilayah dalam negara sebagai tempat produksi tidak identik dengan wilayah administratif namun disesuaikan dengan kondisi faktual; ketiga, unsur kepemilikan dalam indikasi geografis bukan merupakan hak individual (private right) tetapi hak komunal (communal right), maka IG merupakan hak untuk