TINJAUAN PUSTAKA
B. Potensi Padang Penggembalaan
Dalam bahasa Inggris, hal-hal yang berkaitan dengan penggembalaan disebut pastoral. Ekosistem ini terdiri atas peternak (pastoralist) dan hewan ternak. Adapun padang penggembalaan disebut ekosistem pastoral (Iskandar, 2001). Lebih lanjut dijelaskan bahwa masyarakat peternak (pastoralist society) merupakan bagian integral yang sangat penting dalam ekosistem pastoral ini. Berbagai aktifitas peternak itu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.
Mannetje (1978) mendefinisikan padang rumput sebagai suatu ekosistem sumber pakan hijauan untuk ternak ruminansia. Kata ekosistem dalam pengertian ini mengandung arti bahwa manusia berkepentingan dengan seluruh komponen-komponen sistem padang rumput seperti tanah, tanaman, faktor-faktor iklim pendukungnya serta ruminansia yang pakannya bergantung pada padang rumput itu secara langsung atau tidak langsung. Ketergantungan ruminansia terhadap padang rumput terjadi secara langsung pada sistem ekstensif dimana ternak merumput (grazing) pada padang rumput. Sedangkan pada sistem intensif dimana pemberian pakan dilakukan secara cut and carry maka ternak tidak berinteraksi langsung dengan padang rumputnya.
Padang penggembalaan merupakan sumber penyedia hijauan yang lebih ekonomis dan murah serta dapat secara langsung dikonsumsi oleh ternak atau hewan bahkan satwa liar. Areal ini secara tidak langsung harus dapat memenuhi kebutuhan hijauan dari ternak baik secara kuantitas maupun kualitas secara kontinyu. Padang penggembalaan umumnya terdiri dari rumput seluruhnya atau leguminosa saja, ataupun campuran rumput dan leguminosa (Susetyo, 1980).
Selanjutnya dinyatakan bahwa suatu padang penggembalaan dapat dikatakan berpotensi jika padang tersebut mampu memproduksi hijauan pakan baik secara kualitas maupun kuantitas. Potensi padang penggembalaan ditentukan oleh lokasi, dimana hijauan pakan tersebut dapat tumbuh dengan baik karena ditunjang oleh kesuburan tanah, iklim, topografi, sumber air dan pengelolaannya.
Hadi et al., (2002) menyebutkan sistem padang penggembalaan merupakan kombinasi antara pelepasan ternak di padang penggembalaan bebas dengan pemberian pakan. Di Indonesia sistem penggembalaan bebas hanya ditemukan di wilayah timur Indonesia dimana terdapat areal padang rumput alami yang luas. Di beberapa tempat ternak dilepas untuk merumput di tepi jalan, halaman rumah atau tanah kosong di sekitar desa. Hal ini dimungkinkan terutama bila aman dari pencurian atau kecelakaan terhadap ternak. Sistem ini menggunakan sedikit tenaga kerja. Peternak menggunakan sistem penggembalaan ini sepanjang tahun. Selama musim
hujan dimana sebagian areal penggembalaan dimanfaatkan untuk ditanami tanaman budidaya semusim, kawanan ternak digiring ke wilayah dekat hutan. Selain itu beberapa ternak dimanfaatkan untuk menggarap tanah pertanian. Bila tidak terdapat kawasan hutan, peternak membuatkan kandang pagar sehingga ternak dapat merumput dan memakan pakan yang disediakan.
Menurut Reksohadiprodjo (1994) serta Subagyo dan Kusmartono (1988), padang penggembalaan adalah suatu daerah padangan dimana tumbuh tanaman pakan yang tersedia bagi ternak yang dapat merenggutnya menurut kebutuhannya dalam waktu singkat. Padang penggembalaan adalah tempat atau lahan yang ditanami rumput unggul dan atau legume (jenis rumput/ legume yang tahan terhadap injakan ternak) yang digunakan untuk menggembalakan ternak. Sistem penggembalaan adalah pemeliharaan ternak sapi yang dilaksanakan dengan cara ternak digembalakan di suatu padang penggembalaan yang luas, terdiri dari padang penggembalaan rumput dan leguminosa (Tandi, 2010). Tetapi suatu padang rumput yang baik dan ekonomis adalah yang terdiri dari campuran rumput dan leguminosa.
Pemanfaatan padang penggembalaan alami sebagai sumber pakan hijauan sudah lama dilakukan oleh peternakan kecil (peternakan rakyat) di pedesaan. Untuk memperoleh pakan hijauan bagi ternak yang dipeliharanya, peternak umumnya menggembalakan ternaknya pada padang penggembalaan alami yang berada di sekitar tempat tinggalnya. Pada
kenyataannya, pemeliharaan ternak ruminansia dengan sistem pemeliharaan tersebut cenderung memperlihatkan bahwa produksi yang dihasilkan relatif rendah (Subagyo dan Kusmartono, 1988). Selanjutnya dikatakan bahwa beberapa cara menggembalakan ternak di padang penggembalaan antara lain yaitu cara ekstensif dengan menggembalakan ternak di padangan yang luas tanpa erosi, semi-ekstensif dengan melakukan rotasi namun pemilihan hijauan masih bebas, cara intensif dengan melakukan rotasi tiap petak dengan hijauan dibatasi, strip grazing dengan menempatkan kawat sekeliling ternak yang bisa dipindah dan solling dengan hijauan padangan yang dipotong dan diberikan pada ternak di kandang.
Ada dua faktor dominan penyebab rendahnya produksi ternak dengan sistem pemeliharaan tersebut di atas, yaitu: (1) rendahnya kualitas padang penggembalaan alami dan (2) jumlah ternak yang dipelihara pada padang penggembalaan alami tersebut tidak sesuai dengan kapasitas tampung (Susetyo, 1980; Subagyo dan Kusmartono, 1988). Tinggi rendahnya kualitas suatu padang penggembalaan berkaitan erat dengan komposisi botanis (tumbuhan) yang terdapat pada padang penggembalaan tersebut. Sedangkan padatnya ternak yang dipelihara menyebabkan ketersediaan hijauan pakan yang terdapat pada padang penggembalaan alami tersebut tidak mencukupi kebutuhan seluruh ternak yang digembalakan. Dengan demikian, langkah yang dapat ditempuh dalam meningkatkan produksi ternak ruminansia yang dipelihara peternak kecil di
pedesaan adalah dengan memperbaiki komposisi botanis sehingga kualitas padang penggembalaan alami menjadi meningkat serta pengaturan penggembalaan ternak pada padang penggembalaan alami sesuai dengan kapasitas tampungnya. Upaya memperbaiki komposisi botanis dan peningkatan kapasitas tampung padang penggembalaan alami dapat dilakukan melalui pendekatan berdasarkan informasi komposisi botanis dan kapasitas tampung di lapangan.
Besarnya produksi hijauan atau kebun rumput pada suatu areal dapat diperhitungkan, seperti berikut :
1. Produksi Kumulatif, merupakan produksi padang penggembalaan atau kebun rumput yang ditentukan bertahap selama 1 tahun. Setiap pemotongan produksi hijauan rumput diukur dan dicatat. Setelah 1 tahun seluruh produksi dijumlah, dan hasilnya merupakan produksi kumulatif. 2. Produksi Realitas, merupakan produksi yang ditentukan oleh setiap
pemotongan hijauan rumput seluruh areal padang penggembalaan atau kebun rumput. Jadi, produksi realitas adalah produksi sebenarnya yang bisa diukur dengan produksi ternak.
3. Produksi Potensial, merupakan produksi yang ditentukan atas dasar perkiraan suatu areal padang penggembalaan atau kebun rumput. Jadi, perhitungan ini cenderung disebut sebagai taksiran (Subagyo dan Kusmartono, 1988).
Macam-macam Padang Penggembalaan
Berdasarkan vegetasinya, padang penggembalaan digolongkan dalam beberapa macam diantaranya :
a. Padang Penggembalaan Alam
Padang penggembalaan yang terdiri dari tanaman yang berupa rumput perennial, produktivitas rendah, floranya relatif belum tersentuh oleh manusia (McLlroy, 1976). Menurut Reksohadiprojo (1994), padang penggembalaan alam tidak ada pohon, belum terjadi campur tangan manusia, manusia hanya mengawasi ternak yang digembalakan, masih terdapat gulma, dan daya tampung rendah.
b. Padang Penggembalaan Buatan
Padangan yang vegetasinya sudah dipilih/ditentukan dari varietas tanaman yang unggul. Menurut Reksohadiprodjo (1994) padang penggembalaan buatan adalah tanaman makanan ternak dalam pandangan telah ditanam, disebar, dan dikembangkan oleh manusia. Padangan dapat menjadi padangan permanen atau diseling dengan tanaman pertanian.
c. Padang Penggembalaan yang Telah Diperbaiki
Spesies-spesies hijauan makanan ternak dalam padangan belum ditanam oleh manusia, tetapi manusia telah mengubah komposisi botaninya sehingga didapat spesies yang produktif dan menguntungkan
dengan jalan mengatur pemotongan atau defoliasi (Reksohadiprodjo, 1994).
d. Padang Penggembalaan dengan Irigasi
Padang penggembalaan ini biasanya terdapat di daerah sepanjang aliran sungai atau dekat dengan sumber air. Penggembalaan ternak dijalankan setelah padang penggembalaan menerima pengairan selama 2-4 hari (Reksohadiprodjo, 1994).
Faktor yang Mempengaruhi Padang Penggembalaan a. Air
Air yang terbatas mempengaruhi fotosintesis dan perluasan daun pada tanaman karena tekanan air mempengaruhi pembukaan pada stomata perluasan sel (Setyati, 1991). Air berfungsi untuk fotosintesis, penguapan, pelarut zat hara dari atas ke daun. Jika ketersediaan air terpenuhi maka seluruh proses metabolisme tubuh tanaman berlangsung, berakibat produksi tanaman tinggi.
b. Intensitas Sinar
Intensitas sinar di bawah pohon atau tanaman pertanian tergantung pada bermacam-macam tanaman, umur, dan jarak tanam, selain waktu penyinaran. Keadaan musim dan cuaca juga berpengaruh terhadap intensitas sinar yang jatuh pada tanaman selain yang ada di bawah tanman utama (Susetyo et.al,, 1981).
c. Spesies
Kemampuan suatu tanaman untuk beradaptasi dengan lingkungan dan faktor genetik berpengaruh pada produktivitas tanaman tersebut. Tanaman satu dengan tanaman lain mempunyai tingkat adaptasi dan genetik yang berbeda-beda.
d. Temperatur
Tanaman memerlukan temperatur yang optimum untuk melakukan aktivitas fotosintesis. Temperatur tanah berpengaruh terhadap proses biokimia dimana terjadi pelepasan nutrien tanaman dan berpengaruh juga pada absorbsi air dan nutrien.
e. Curah hujan
Curah hujan berpengaruh pada produksi bahan kering yang dihasilkan oleh hijauan pakan. Semakin tinggi curah hujan maka produksi bahan keringnya akan semakin rendah.
f. Tanah
Tanah berfungsi sebagai pendukung pertumbuhan tanaman, sebagai sumber hara dan mineral, kesuburan tanah juga ditentukan oleh kelarutan zat hara, pH, kapasitas pertukaran kation, tekstur tanah dan jumlah zat organiknya.
Sedangkan menurut Susetyo et al., (1981) faktor yang mempengaruhi produktivitas padang penggembalaan adalah air, intensitas sinar, adanya kompetisi hara, kekompakan tanah, absorbsi zat-zat makanan,
sumber hama, kesuburan pada tanaman utama, kelangkaan bibit dan inokulasi.
Produktivitas hijauan pakan pada suatu padang penggembalaan dipengaruhi oleh faktor ketersediaan lahan yang memadai, lahan tersebut harus mampu menyediakan hijauan pakan yang cukup bagi kebutuhan ternak. Selain itu faktor kesuburan tanah, ketersediaan air, iklim dan topografi juga turut berpengaruh (Susetyo, 1980).
Menurut Reksohadiprodjo (1994), produksi rumput di padang penggembalaan ditentukan oleh beberapa faktor seperti iklim, pengelolaan, kesuburan tanah, pemeliharaan dan tekanan penggembalaan (rumput yang biasa digunakan untuk pastura (padang penggembalaan) adalah Brachiaria
humidicola yang merupakan rumput tahunan yang memiliki perkembangan
vegetatif dengan stolon yang begitu cepat sehingga bila ditanam di lapang akan segera membentuk hamparan.
Pengoptimalan Padang Penggembalaan a. Perbaikan Lahan
Syarat padang penggembalaan yang baik adalah produksi hijauan tinggi dan kualitasnya baik, persistensi biasa ditanam dengan tanaman yang lain yang mudah dikembangbiakkan. Pastura yang baik nilai cernanya adalah pastura yang tinggi canopinya yaitu 25 – 30 cm setelah dipotong (Pilon et al., 2010). Biota tanah sangat sensitif terhadap
gangguan oleh adanya aktivitas manusia, sebagai contoh adanya sistem pertanian yang intensif, karena intensifikasi pertanian menyebabkan berubahnya beberapa proses dalam tanah. Kegiatan pertanian yang dimaksud antara lain adalah penyiangan, pemupukan, pengapuran, pengairan dan penyemprotan herbisida dan insektisida. Tujuan dari hal tersebut itu sendiri adalah untuk mempersiapkan kualitas padang penggembalaan yang unggul (Noordwijk et al., 2006).
b. Tatalaksana
Teknis pengembangan usaha ternak ruminansia, termasuk usaha sapi potong memakai sistem padang penggembalaan :
- Jenis padang penggembalaan adalah padang rumput buatan atau temporer dimana hijauan pakan telah disebar atau ditanam.
- Sistem pertanaman. Sistem pertanaman campuran antara rumput dan leguminosa, keuntungannya dibandingkan sistem pertanaman murni, yaitu leguminosa ditanam bersama rumput-rumput untuk keuntungan rumput-rumput tersebut, karena leguminosa lebih kaya akan kandungan nitrogen dan kalsium (kapur) dibandingkan dengan rumput-rumput, dan menaikkan gizi pada penggembalaan.
- Tata laksana padang penggembalaan. Penggembalaan bergilir, padang penggembalaan dibagi dalam beberapa petakan, tujuan cara penggembalaan bergilir adalah untuk menggunakan padang penggembalaan pada waktu hijauan masih muda dan bernilai gizi
tinggi serta memberikan waktu yang cukup untuk tumbuh kembali. Jenis rumput yang akan berada pada padang penggembalaan yaitu yang tahan diinjak-injak dan leguminosa herba Centrosema. Tata laksana pemeliharaan ternak sapi adalah sistem semi intensif, dilakukan pada pagi hari (jam 10.00 – 16.00) ternak digiring ke padang penggembalaan dengan sistem penggembalaan bergilir. Pada sore hari ternak digiring kembali ke kandang dan diberi pakan hijauan rumput potong. Kegiatan pembersihan kandang dilakukan pada pagi hari, kotoran ternak ditampung pada lubang yang telah disediakan sebagai tempat penampungan kotoran. Usaha pengembangnan sapi potong ini dapat diintegrasikan dengan usaha pemanfaatan kotoran sapi menjadi pupuk organik (Rusmadi, 2007). Pemanfaatan pupuk yang berasal dari kotoran sapi juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Sistem penggembalaan adalah pemeliharaan ternak sapi potong yang dilaksanakan dengan cara ternak digembalakan di suatu padang penggembalaan yang luas, terdiri dari padang penggembalaan rumput dan leguminose. Keuntungannya yaitu: 1. hemat biaya dan tenaga, 2. mengurangi penggunaan feed supplement protein, 3. menyebarkan pupuk, 4. tidak memerlukan kandang khusus, dan kekurangannya adalah : a. Memerlukan waktu yang lama, b. harus memiliki lahan yang cukup luas, c. pada saat kemarau kekurangan pakan baik dari kuantitas
dan kualitasnya, d. memerlukan tempat berteduh dan sumber air, e. banyak mengeluarkan energi karena jalan, f. produktivitas ternak
kurang maksimal dengan lama penggemukan 8-10 bulan (Sugeng, 2003). c. Penentuan Kapasitas Tampung
Nilai kuantitas produksi hijauan di areal padang penggembalaan diukur secara mekanis yaitu dengan memotong dan menimbang hijauan yang ada. Produksi primer padang rumput biasanya diukur dengan menjepit batang tanaman hingga pucuk. Biomassa dipotong diatas permukaan tanah (Byrne, Lauenroth, Adler,and Christine, 2011).
Tinjauan aspek kuantitas padang penggembalaan diukur berdasarkan kemampuan kapasitas tampung (carryng capasity). Daya tampung atau kapasitas tampung (carrying capacity) adalah analisis kemampuan padang penggembalaan untuk menghasilkan hijauan makanan ternak yang dibutuhkan oleh sejumlah ternak yang digembalakan dalam luasan satu hektar atau kemampuan padang penggembalaan untuk menampung ternak per hektar (Reksohadiprodjo, 1994). Kapasitas tampung dinyatakan dalam AU (animal unit) atau satuan/unit ternak (ST/UT). Keadaan stocking rate optimum adalah sangat ideal dalam suatu peternakan karena pertumbuhan ternak dan produksi hijauan pakan berada pada keadaan yang optimum.
Menurut Parakkasi (1999), konsumsi bahan kering satu ekor sapi per hari sebesar 3% dari bobot badan. Satu satuan ternak (ST) setara dengan satu ekor sapi seberat 455 kg (Santosa, 1995). Semakin besar tingkat produksi hijauan per satuan luas lahan, maka akan semakin tinggi pula kemampuannya untuk menampung sejumlah ternak. Pada padang penggembalaan yang baik biasanya mampu menampung sebanyak 2,5 ekor ternak/ha/thn. Hal ini sesuai dengan pendapat Susetyo (1980) yang menyatakan beberapa padang penggembalaan yang baik mempunyai kapasitas tampung 0,4 hektar untuk 1 ST atau satuan hektar lahan dapat menampung 2,5 ST/thn.
Menurut Susetyo (1980), kemampuan berbagai padang rumput dalam menampung ternak berbeda-beda karena adanya perbedaan atau variasi dalam hal kesuburan tanah, curah hujan dan penyebarannya, topografi dan hal lainnya. Taksiran atau estimasinya didasarkan pada jumlah hijauan pakan tersedia. Perhitungan estimasi kapasitas tampung didasarkan atas produksi tumbuhan yang tergolong pakan hijauan yang dapat dikonsumsi oleh ternak.
Produktivitas hijauan berhubungan erat dengan kapasitas tampung pada suatu areal padang penggembalaan ternak. Makin tinggi produktivitas hijauan maka makin tinggi pula kapasitas tampung yang ditunjukkan dengan banyaknya ternak yang dapat digembalakan (Rekspohadiprodjo 1985). Menurut McIlroy (1976), kapasitas tampung
untuk daerah tropika berkisar diantara 2-7 UT/ha/tahun yang pengukurannya didasarkan pada persentase bahan kering hijauan.
Kapasitas tampung padang penggembalaan atau kebun rumput, berhubungan dengan jenis ternak, produksi hijauan rumput, musim, dan luas padang penggembalaan atau kebun rumput. Oleh karena itu, kapasitas tampung bisa bermacam-macam dan tergantung pada pengukuran produksi hijauan rumput. Pada musim basah, hijauan rumput akan tinggi produksinya daripada musim kering.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan kapasitas tampung menurut Subagio dan Kusmartono (1988) yaitu :
1. Penaksiran Kuantitas Produksi Hijauan
Umumnya dilakukan dengan metode cuplikan dengan memakai frame berukuran 1 x 0,5 m dengan bentuk persegi panjang. Pengambilan sampel dilapangan dilakukan secara acak. Hijauan yang terdapat di areal frame dipotong lebih kurang 5 – 10 cm diatas permukaan tanah dan ditimbang beratnya.
2. Penentuan Proper Use Factor
Konsep Proper Use Factor (PUF) besarnya tergantung pada jenis ternak yang digembalakan, spesies hijauan di padangan, tipe iklim setempat serta kondisi tanah padangannya.
Penaksiran ini didasarkan pada kemampuan ternak mengkonsumsi hijauan, kebutuhan satu ekor dalam satu bulan memerlukan lahan seluas 0,6458 ha/ekor artinya dengan luasan lahan yang telah diukur, lahan mampu mencukupi konsumsi hijauan selama satu bulan.
4. Menaksir Kebutuhan Luas Tanah per tahun
Suatu padangan memerlukan masa agar hijauan yang telah dikonsumsi ternak tumbuh kembali dan siap untuk digembalai lagi, masa ini disebut masa istirahat, dengan periode merumput selama 30 hari dan masa istrahat lahan selama 70 hari maka kebutuhan lahan satu ekor ternak selama satu tahun sekitar 2,15 ha/ekor.
Mcilroy (1976) mengemukakan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan proyeksi kapasitas tampung, yaitu : (1) penafsiran kuantitas produksi hijauan, (2) Proper use factor (3) menaksir kebutuhan luas tanah per bulan, (4) menaksir kebutuhan luas tanah per tahun berdasarkan rumus Voisin, dan (5) menentukan kapasitas tampung.
Cara yang digunakan untuk menghitung daya tampung terdiri dari 2 cara yakni : (1) Cut and Carry : dipotong langsung dari kebun/ padang diberikan kepada ternak di kandang, dan (2) Carrying Capacity : Daya tampung padang penggembalaan (ha/UT) untuk mencukupi kebutuhan pakan hijauan. Pengukuran kapasitas tampung padang penggembalaan
digunakan petunjuk Hall (1964) yang dikutip Susetyo (1980) dalam Koddang dkk (1994), yaitu sebagai berikut : (1). Kuadran dijatuhkan secara acak dipadang penggembalaan, (2). Hijauan di dalam kuadrant dipotong sedekat mungkin dari permukaan tanah, (3). Hijauan hasil pemotongan dimasukkan ke dalam plastik untuk ditimbang, (4). Cuplikan ke dua diukur ke arah kanan dan kiri sejauh 5 langkah sampai 10 langkah, (5). Cuplikan pertama dan kedua disebut satu cluster. Pengambilan cluster selanjutnya diukur dengan jarak 100 – 125 meter tergak lurus dengan cluster pertama dan disesuaikan dengan luas padang penggembalaan yang tersedia.
Komposisi Botani
Komposisi hijauan suatu padang penggembalaan turut menentukan kualitas hijauan pakan. Analisis komposisi botani merupakan suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan adanya spesies-spesies tumbuhan tertentu serta proporsinya di dalam suatu ekosistem padangan. Komposisi suatu padangan tidak konstan, hal ini disebabkan karena adanya perubahan susunan akibat adanya pengaruh iklim, kondisi tanah dan juga pemanfaatannya oleh ternak (Susetyo, 1980).
Komposisi botani merupakan suatu metode yang digunakan untuk menilai atau mengevaluasi padang penggembalaan dengan menggunakan alat kwadrat-titik. Bagi peneliti yang belum berpengalaman maka akan lebih
efisien dan kemungkinan bias kecil apabila dari sejumlah sampel atau cuplikan tertentu analisis komposisi botaninya dilakukan dengan memisahkan tiap spesies dengan tangan dan kemudian menimbangnya (McIllroy, 1976).
Menurut Reksohadiprodjo (1994), areal padang penggembalaan yang komposisi botaninya terdiri dari campuran rumput dan legum akan jauh lebih baik dibandingkan dengan areal padang penggembalaan yang mono atau hanya rumput saja. Legum pada padang penggembalaan berfungsi untuk menyediakan nilai makanan yang lebih baik terutama berupa protein, fosfor (P) dan kalsium (Ca). Sedangkan rumput berfungsi untuk menyediakan bahan kering yang lebih banyak dibanding leguminosa dan energi yang lebih baik pula.
Susetyo (1980) menyatakan bahwa komposisi ideal rumput dan leguminosa pada suatu padang penggembalaan adalah 60% : 40%. Selanjutnya komposisi botani dapat diukur dengan beberapa metode antara lain :
1. Pemisahan dengan tangan dan penimbangan hijauan makanan ternak yang telah dipotong.
2. Estimasi persentase bobot pada hijauan makanan yang telah dipotong. 3. Estimasi persentase bobot “in situ” di kebun atau lapangan
4. Estimasi unit bobot segar dari tiap-tiap spesies yang terdapat di kebun atau di lapangan.
Selain itu diperkenalkan juga metoda “rank” atau perbandingan yang memberikan persentase relatif tentang kedudukan masing-masing spesies (relative importance percentages). Metoda ini digunakan untuk menaksir komposisi botani padang rumput atas dasar bahan kering tanpa dilakukan pemotongan dan pemisahan spesies hijauan. Metoda ini disebut dengan “dry weight rank” (Mannetje dan Jones, 2000).
Penggunaan cuplikan dalam analisa komposisi botani dan produksi hijauan mempunyai peranan yang penting. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan letak petak-petak cuplikan yang biasanya digunakan, antara lain: (1) dengan pengacakan, (2) dengan stratifikasi, dan (3) secara sistematik. Metode-metode ini jika dilakukan secara baik dapat memberikan gambaran yang cukup obyektif.