POTENSI KAWASAN KESAWAN
3.2. Potensi Pariwisata
Pada awalnya hakikat paling utama yang melahirkan pariwisata adalah perasaan manusia yang terdalam, yang serba ingin mengetahui segala sesuatu selama hidup di dunia. Manusia ingin tahu segala sesuatu yang ada di dalam dan di luar lingkungannya. Ia ingin tahu tentang kebudayaan di negeri asing, cara hidup, adat istiadat, cuaca, hawa udara yang berbeda-beda di bebagai negeri, keindahan dan keajaiban alam dengan bukit, gunung, lembah serta pantainya, dan berbagai hal yang tidak ada dalam lingkungannya sendiri.
Istilah pariwisata berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari beberapa kata antara lain: Pari berarti penuh, lengkap, keliling, sementara Wis (man) berarti rumah, property, kampong, komunitas, sedangkan Ata berarti pergi terus-menerus, mengembara (roaming about) yang bila dirangkai menjadi satu kata melahirkan istilah pariwisata, berarti: pergi secara lengkap meninggalkan rumah (kampong) berkeliling terus menerus 23 . Dalam operasionalnya istilah pariwisata sebagai pengganti istilah asing “tourism” atau “travel” diberi makna oleh Pemerintah Indonesia. “Mereka yang meninggalkan rumah untuk mengadakan perjalanan tanpa mencari nafkah di tempat-tempat yang dikunjungi sambil menikmati kunjungan mereka”24
23 Nyoman S. Pendit, Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana, Jakarta:PT Pradnya Paramita, 2003, hal 1.
24 Ibid.
Saat ini, fenomena pariwisata ini semakin berkembang dengan didukung oleh perkembangan zaman dan teknologi yang semakin canggih, serta bertambahnya animo masyarakat yang semakin tinggi untuk melakukan perjalanan wisata. Salah satu jenis pariwisata yang saat ini mulai berkembang adalah wisata sejarah. Dalam pengelompokan jenis pariwisata, wisata sejarah masuk dalam jenis wisata budaya.
Wisata budaya adalah suatu perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan, untuk memperluas pandangan hidup seseorang dengan jalan mengadakan kunjungan atau peninjauan ke tempat lain atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan adat istiadat mereka, cara hidup mereka, budaya dan seni mereka.
Seringnya perjalanan serupa ini disatukan dengan kesempatan-kesempatan mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan, seperti eksposisi seni (seni tari, seni drama, seni musik dan seni suara). Atau kegiatan yang bermotif kesejarahan dan sebagainya25.
Wisata sejarah pada saat ini banyak diminati oleh para wisatawan, selain dapat pemahaman sejarah, juga dapat memberikan nuansa bagaimana kehidupan masa lampau kepada wisatawan yang tidak didapat pada masa sekarang ini.
Kemampuan mengembangkan wisata sejarah adalah nilai yang penting dalam pariwisata.
25 Ibid., hal 38.
Pentingnya peranan pariwisata dalam pembangunan ekonomi di berbagai negara sudah tidak diragukan lagi, dan pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan yang saat ini sedang dikembangkan oleh pemerintah. Sektor pariwisata merupakan sektor penting dalam upaya penerimaan pendapatan asli daerah yang cukup potensial. Pariwisata telah menjadi industri yang mampu mendatangkan devisa negara dan penerimaan asli daerah yang berimplikasi pada kesejahteraan masyarakat dalam berbagai sektor ekonomi.
Dalam menjalankan industri pariwisata, segala sesuatu yang menarik dan bernilai untuk dikunjungi dan dilihat disebut sebagai “atraksi”, atau lazim pula dinamakan “objek wisata”. Atraksi ataupun objek wisata tersebut bisa berupa sesuatu yang hadir secara natural ataupun alami, maupun sesuatu yang diadakan oleh masyarakat setempat yang berlangsung pada waktu-waktu tertentu.
Kawasan Kesawan adalah salah satu daerah yang dapat dijadikan sebagai suatu objek wisata. Hal ini mengingat kawasan Kesawan banyak memiliki sisa-sisa peninggalan sejarah berupa bangunan-bangunan cagar budaya. Bangunan-bangunan tersebut kebanyakan dibangun pada masa koloial Belanda, dan bangunan-bangunan tersebut digunakan sebagai kantor pemerintahan maupun swasta, serta rumah-rumah toko milik para pedagang etnis Cina.
Suatu cagar budaya juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan agama, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan dan pariwisata. Dari sisa-sisa
peninggalan sejarah berupa arsitektur kolonial Belanda ini bisa menjadi magnet penarik bagi masyarakat luas untuk sekedar berkunjung ataupun untuk mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat kota Medan dahulu pada masa kolonial Belanda.
Hal tersebutlah yang dapat dimunculkan dan dapat menjadikan kawasan Kesawan sebagai sebuah destinasi pariwisata yang layak untuk diberikan kepada wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.
Dalam hubungannya bagi perjalanan wisata, kawasan Kesawan dapat memberikan perjalanan wisata yang lengkap kepada para wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut. Mulai dari wisata kuliner, di kawasan Kesawan terdapat sebuah restoran yang telah ada dan berdiri sejak masa kolonial Belanda, restoran tersebut adalah restoran Tip Top. Kemudian, masyarakat dapat melakukan wisata sejarah untuk melihat dan mengetahui bangunan-bangunan peninggalan masa kolonial Belanda yang berada di sepanjang jalan A. Yani, baik dari segi arsitekturnya maupun sejarah dari bangunan tersebut.
Dalam melakukan perjalanan wisata sejarah, pihak-pihak yang terkait harus bisa seoptimal mungkin dalam mengelola objek wiata kawasan Kesawan nantinya, baik itu masyarakat setempat maupun pemerintah kota Medan. Seperti halnya masyarakat yang sangat diharapkan untuk bersifat ramah tamah kepada setiap wisatawan yang berkunjung ke kawasan Kesawan. Sebab, faktor keramah tamahan masyarakat sangat berpengaruh terhadap kemajuan suatu objek wisata.
Selain itu, Pemerintah Kota Medan juga perlu mempertimbangkan mengenai ketersediaannya penginapan, fasilitas umum yang memadai, serta jasa transportasi yang aman dan nyaman bagi para wisatawan ketika melakukan perjalanan pariwisata ke kawasan Kesawan nantinya. Kemudian pemerintah juga harus melakukan publisitas dan promosi kepariwisataan kawasan Kesawan kepada masyarakat.
Ada dua promosi wisata yang harus dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat kepada para calon wisatawan. Pertama yaitu melakukan promosi kepada calon wisatawan dalam negeri, hal ini bertujuan menggugah pandangan masyarakat agar mempunyai kesadaran akan kegunaan pariwisata bagi masyarakat, dan juga memperoleh dukungan dari masyarakat. Kedua, yaitu promosi pariwisata kepada para calon wisatawan mancanegara, promosi yang dilakukan hendaknya mengedepankan atraksi-atraksi ataupun objek wisata yang unik dan menakjubkan, serta mengedapankan promosi yang tidak dimiliki oleh negara para calon wisatawan tersebut.
Kemudian, pihak-pihak yang terkait dalam pariwisata kawasan Kesawan harus bisa memberikan penjelasan sejarah dari tiap-tiap tempat yang menjadi destinasi wisata yang akan dikunjungi oleh para wisatawan. Seperti sejarah akan berdirinya tempat tersebut, siapa pemilik dari tempat tersebut, serta apa fungsi dari bangunan tersebut pada masa kolonia Belanda.
Dalam memberikan informasi kepada para wisatawan tentang bagaimana sejarah dan kondisi terkini dari bangunan-bangunan peninggalan masa kolonial tersebut, pihak-pihak yang terkait dapat melakukanya dengan cara penyampaian langsung yang dilakukan oleh para pemandu wisata (tour guide) yang disediakan oleh pemerintah maupun pihak-pihak pengelola tempat wisata tersebut. Serta dapat juga memberikan sebuah katalog kepada setiap para pengunjung. Katalog tersebut berisi tentang berdirinya tempat tersebut, siapa pemilik dari tempat tersebut, serta apa fungsi dari bangunan tersebut pada masa kolonia Belanda, dan juga berisi gambar-gambar bangunan tersebut, baik pada masa kolonial Belanda maupun kondisi terkini dari bangunan tersebut.
BAB IV