• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERING DI PROVINSI NTT

A. PENDAHULUAN 1. Kondisi Geografis

2. Potensi Provinsi

Pertanian tetap akan menjadi sektor yang diandalkan dalam pembangunan, mengingat sumber daya lahan yang belum tergarap di NTT masih sangat luas. Belum lagi sebagian besar

penduduk NTT masih menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Struktur perekonomian NTT sampai saat ini masih didominasi sektor pertanian. Walaupun sektor tersebut perlahan mulai ditinggalkan namun sumbangannya pada PDRB sampai saat ini masih yang terbesar dibanding sektor lainnya. Struktur PDRB NTT dalam 10 tahun terakhir tidak terlalu banyak berubah. Sektor pertanian masih memiliki sumbangan tertinggi (berkisar di angka 35 - 40%) dengan kecenderungan menurun tiap tahunnya.

Walaupun dominasinya pada PDRB terus menurun, namun kenyataannya bahwa sebagian besar tenaga kerja di NTT ada di sektor pertanian. Dari seluruh tenaga kerja di NTT, sekitar 60-70% bekerja di sektor pertanian. Ini dimungkinkan karena sektor pertanian adalah sektor yang akomodatif, menampung tenaga kerja tanpa persyaratan yang berlebihan.

Data Sakernas 2013 memperlihatkan bahwa dari 2.175.171 penduduk NTT yang bekerja pada tahun 2013, sekitar 61,04% bekerja pada sektor pertanian walaupun sumbangan sektor pertanian hanya sekitar 34,1%. Sektor industri juga mengalami masalah yang sama, dimana sekitar 12,08% pekerja di NTT menggantungkan hidupnya pada sektor Lainnya yang hanya menyumbang 9,52% dari total PDRB. Alangkah baiknya jika pemerintah daerah terus mengeluarkan program unggulan di sektor pertanian mengingat sektor ini begitu penting peranannya bagi kelangsungan perekonomian di NTT.

Gambar 6.1. Luas panen pertanian dan palawija di Provinsi NTT 2013

Berdasarkan data BPS 2012, luas lahan padi adalah 300.329,538 ha dan jagung seluas 432.558,918 ha. Kemudian, kedelai seluas 4.500,3 ha, ketela pohon seluas 151.368,22 ha, dan kacang tanah 24.324,56 ha. NTT adalah salah satu provinsi pemasok daging nasional. Ternak potong bagi masyarakat NTT memiliki beberapa kegunaan, yaitu tambahan tenaga kerja dan sumber pupuk tanaman. Dilihat dari aspek sosial budaya, ternak sapi mempunyai potensi dalam pemenuhan pangan, kegiatan adat istiadat dan status sosial.

Kawasan Tirosa khususnya Pulau Timor bagian barat adalah wilayah dengan jumlah ternak pedaging yang banyak. Selama beberapa dekade wilayah ini mampu mengantarpulaukan atau mengekspor sapi dalam jumlah yang relatif cukup besar. Sementara lahan yang tersedia dan berpotensi untuk pengembangan usaha peternakan masih banyak yang belum dimanfaatkan. Fakta tersebut disertai permintaan pasar yang tinggi akan daging menjadikan usaha peternakan merupakan

32,89

47,37 0,49

16,58 2,66

usaha yang menguntungkan. Nilai tukar petani di sub sektor peternakan dan perikanan pun selalu menunjukkan daya beli petani NTT pada sub sektor tersebut lebih baik dibanding sub sektor lainnya.

Dalam Sensus Pertanian 2013 disebutkan bahwa usaha peternakan adalah kegiatan pemeliharaan ternak (meliputi penggemukan/pembibitan/ pengembang biakan/ pemacekan) yang menghasilkan produk peternakan dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya dijual/ditukar atas risiko usaha. Sedangkan rumah tangga peternakan adalah suatu rumah tangga yang sekurang-kurangnya ada seorang anggota rumah tangga yang melakukan usaha kecil peternakan rakyat/ usaha rumah tangga peternakan rakyat. Rumah tangga yang dimaksud disini adalah rumah tangga yang mengusahakan/ memelihara ternak dan rumah tangga yang memelihara sapi potong, sapi perah, dan kerbau meskipun tidak untuk tujuan dijual atau ditukar (konsumsi sendiri/ hobi/ angkutan perdagangan/ membajak).

Populasi ternak di NTT didominasi oleh sapi potong dengan jumlah 654.897 ekor pada 2012, diikuti oleh kambing dengan jumlah 351.510 ekor. Jumlah populasi masing-masing komoditas ternak ditunjukkan pada Gambar 6.2.

Gambar 6.2. Populasi ternak di Provinsi NTT pada Tahun 2012

B. MATERI DAN METODE

Metode dalam penelitian adalah deskriptif yaitu menjelaskan kondisi ketersediaan dan kebutuhan nutrien dari produk samping pertanian dan rekomendasi kapasitas tampung ternak ruminansia. Penelitian ini menggunakan metode desk study untuk menentukan komoditas tanaman pangan yang akan diamati produk sampingnya sebagai alternatif pakan ternak ruminansia. Data yang digunakan adalah data sekunder dari database luas panen, produksi dan populasi ternak dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012. Data sekunder tersebut digunakan untuk mengukur variabel produksi nutrient BK, PK, dan TDN serta daya tampung ternak ruminansia berdasarkan ketersediaan nutrient BK, PK, dan TDN.

Penentuan variabel produksi BK, PK, dan TDN dihitung pada komoditas tanaman pangan yang meliputi: padi, jagung, kacang kedelai, ketela pohon, dan kacang tanah; dan populasi ternak ruminansia meliputi sapi potong, kerbau, domba, dan kambing.

654.897

5 142.254

81.034 351.510

Dalam penelitian ini batasan satuan luas yang diukur terdiri dari: (i) luas panen dinyatakan dengan satuan ha; (ii) produksi dinyatakan dengan satuan ton; dan (iii) populasi ternak dalam satuan ekor.

Penghitungan produk samping pertanian sumber serat dan sumber konsentrat dalam penelitian meliputi konversi produk samping dari padi (jerami, dedak, menir, dan sekam); jagung (jerami, klobot, dan tongkol); kacang kedelai (jerami); ketela pohon (kulit umbi, batang/daun, umbi kecil, dan onggok); kacang tanah (jerami).

Untuk menghitung total ketersediaan nutrien dari semua bahan pakan dari produk samping pertanian digunakan rumus:

Produksi BK (ton/th) = produksi BK (a-j) (ton)

Produksi PK (ton/th) = produksi BK (a-j) x kandungan PK (a-j) Produksi TDN (ton/th) = produksi BK (a-j) x kandungan TDN (a-j)

Keterangan : a. Jerami padi f. Jerami kacang tanah b. Jerami jagung g. Ubi kayu

c. Klobot jagung h. Menir padi d. Tongkol jagung i. Dedak padi e. Jerami kedelai j. Onggok

Penentuan Faktor konversi tanaman pangan di provinsi NTT menggunakan beberapa data yang telah dipublikasikan seperti yang ditampilkan pada Tabel 6.1.

Tabel 6.1. Faktor Konversi Produk Samping Pertanian di Provinsi NTT

Dalam menentukan kebutuhan ternak ruminansia akan nutrien selama satu tahun, maka dilakukan penghitungan berdasarkan satuan ternak (ST). Dimana 1 ST yang digunakan adalah ternak sapi yang berbobot badan 325 kg (Ensminger, 1961).

Adapun untuk kandungan nutrien bahan pakan dari produk samping pertanian menggunakan referensi yang disajikan pada Tabel 6.2.

Bahan Pakan

(ton/thn) Faktor konversi Daftar Pustaka

Jerami Padi 1,35 x produksi gabah (ton/th) Putun et al., 2004

Dedak Padi 0,1 x produksi gabah (ton/th) Kariyasa, 2006

Gabah I ha luas panen menghasilkan 5 ton gabah

Dedak 0,1 x 5 x luas panen (ha) Menir 0,02 x produksi gabah (ton/th)

0,2 x 5 x luas panen (ha)

Jerami jagung 0,55 x produksi jagung pipil (ton/th) Yulistiani, et al., 2012

Tongkol jagung 12,3 x produksi jagung pipil (ton/th) 1,2 x luas panen (ha)

Klobot Jagung 12,3 x produksi jagung pipil (ton/th) 1,2 x luas panen (ha)

Daun singkong 2,36 x luas panen (ha/th) Maryono

Onggok 1,048 x luas panen (ha/th) dan

Jerami kedelai 4,53 x luas panen (ha/th) Krishna

Tabel 6.2. Kandungan nutrien bahan pakan asal produk samping

pertanian yang digunakan dalam penghitungan di Provinsi NTT

Bahan Pakan

Kand. nutrien (%)

Daftar Pustaka

BK PK TDN

Jerami padi 52,28 5,3 38,0 Maryono dan Krishna (2009) Jerami jagung 25,3 9,4 59,2 Maryono dan Krishna (2009) Klobot jagung 91,5 4,6 44,1 Widyobroto dan Budhi (2010) Tgkl. jagung 97,0 7,6 72,9 Maryono dan Krishna (2009) Daun singkong 44,8 12,8 63,1 Maryono dan Krishna (2009) Dedakpadi 91,0 6,7 58,4 Maryono dan Krishna (2009) Menir padi 88,6 8,6 71,4 Maryono dan Krishna (2009) Onggok 86,8 2,9 60,7 Maryono dan Krishna (2009) Jerami kedelai 83,46 8,7 52,0 Widyobroto dan

Jerami kacang tanah

20,35 5,0 48,4 Budhi (2010)

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Ketersediaan bahan pakan untuk ruminansia dan produk