BAB IV GAMBARAN UMUM
4.3. Potensi Sosial Ekonomi 1. Potensi Sosial
a. Ketenagakerjaan
Dari total penduduk usia kerja (15 tahun keatas) di tahun 2010, hampir tiga perempat (74,99 persen) penduduk Kabupaten Gayo Lues termasuk dalam angkatan kerja. Sebagian besar dari mereka (95,28 persen) telah bekerja dan sebagian kecil lainnya (4,72 persen) masih menganggur.
Angka 74,99 persen menunjukkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di kabupaten ini, dimana TPAK
merupakan proporsi penduduk yang bekerja dan
menganggur terhadap penduduk usia kerja (15 tahun keatas). Sementara 4,72 persen menggambarkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) atau proporsi penduduk yang menganggur terhadap angkatan kerja.
Menurut jenis kelamin, terlihat bahwa TPAK penduduk laki-laki lebih besar dari TPAK penduduk perempuan. TPAK penduduk laki-laki pada tahun 2010 sebesar 82,25 persen sedangkan TPAK penduduk perempuan sebesar 67,90
G
GaammbbaarraannUUmmuumm
persen. Sebaliknya TPT penduduk perempuan pada tahun 2010 menunjukkan angka yang lebih besar (7,24 persen) dibandingkan TPT penduduk laki-laki (2,59 persen).
Gambar 4.10.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Jenis Kelamin, Tahun 2010
Sumber: BPS Gayo Lues, Sakernas 2010
TPAK Kabupaten Gayo Lues jika dibandingkan dengan angka Provinsi Aceh menunjukkan angka yang lebih tinggi. Sedangkan angka TPT Provinsi Aceh secara umum lebih besar daripada angka serupa di kabupaten ini. Angka TPAK dan TPT Provinsi Aceh masing-masing 63,17 persen dan 8,37 persen. Hal ini menggambarkan bahwa peran serta penduduk usia kerja dalam kegiatan ekonomi sedikit lebih tinggi daripada rata-rata daerah lainnya di Provinsi Aceh.
82,25 67,9 74,99 2,59 7,24 4,72 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Laki-laki Perempuan Gayo Lues
TPAK TPT
Gambar 4.11.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Aceh, Tahun 2010
Sumber: BPS Gayo Lues, Sakernas 2010
Dibandingkan dengan angka kabupaten/kota lain di Provinsi Aceh, TPAK Kabupaten Gayo Lues berada pada kelompok tinggi bersama dengan Kabupaten Aceh Tengah (79,06 persen) dan Bener Meriah (78,31 persen). TPAK Kota Banda Aceh merupakan yang terendah yaitu sebesar 53,65 persen.
Hal sebaliknya terjadi untuk tingkat pengangguran terbuka dimana TPT Kabupaten Gayo Lues berada pada kelompok rendah. TPT tertinggi di Kota Langsa (12,95 persen) dan terendah di Kabupaten Bener Meriah (2,25 persen). 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Sim eul ue Ac eh Singkil Ac eh Selat an Ac eh Tenggara Aceh Ti m ur Ac eh Tengah Ac eh Bar at Ac eh Bes ar Pidi e Bireuen Ac eh Ut ara Ac eh Bar at Daya Gayo Lues Ac eh Tam iang Nagan Raya Ac eh Jay a
Bener Meriah Pidi
e Jaya Kot a Banda Aceh Kot a Sabang Kot a Langs a Kot a Lhok seum awe Kot a Subul us salam A C E H TPAK TPT
G
GaammbbaarraannUUmmuumm
b. Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu modal dasar pembangunan. Hal ini juga berpengaruh pada pembangunan dan pertumbuhan ekonomi serta semua segi kehidupan di kabupaten Gayo Lues. Pendidikan yang merupakan komponen strategis dan mendasar untuk mendukung dan mendorong setiap upaya pembangunan sektor lainnya adalah suatu investasi yang akan memberikan hasil yang sangat besar karena pembangunan tidak hanya mengandalkan sumber daya alam saja tetapi harus didukung oleh sumber daya manusia yang handal.
Gambar 4.12.
Persentase penduduk usia 10 tahun keatas
Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan,Tahun 2010
Sumber: BPS Gayo Lues, Susenas 2010
34,77 43,74 39,36 23,97 26,51 25,27 18,39 15,48 16,90 17,68 10,01 13,76 5,18 4,26 4,71 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00 45,00 50,00
Laki-laki Perempuan Total
Dari Gambar 4.12. dapat dilihat bahwa persentase penduduk usia 10 tahun keatas yang belum/tidak tamat SD di Kabupaten Gayo Lues masih merupakan persentase yang terbesar pada tahun 2010, yaitu sebesar 39,36 persen. Sedangkan mereka yang tamat SD sebesar 25,27 persen; tamat SLTP sebesar 16,90 persen; tamat SLTA sebesar 13,76 persen dan yang telah menamatkan pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi sebesar 4,71 persen.
Bila dilihat dari jenis kelamin, terlihat bahwa persentase penduduk perempuan yang menamatkan pendidikan sampai dengan jenjang SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi cenderung lebih kecil dibanding penduduk laki-laki. Sementara untuk jenjang pendidikan SD dapat dikatakan berimbang antara penduduk laki-laki dan perempuan. Tetapi pada jenjang tidak tamat SD dan tidak pernah sekolah, persentase penduduk perempuan (43,74 persen) tercatat lebih banyak dari penduduk laki-laki (34,77 persen).
Partisipasi penduduk dalam bersekolah dapat dilihat dari Angka Partisipasi Sekolah. Partisipasi sekolah kelompok umur 7-12 tahun (usia SD) dan kelompok umur 13-15 tahun (usia SLTP) masing-masing mencapai 99,12 persen dan 93,47 persen, partisipasi sekolah kelompok umur 16-18 tahun (usia SLTA) sebesar 73,94 persen dan partisipasi sekolah kelompok umur 19-24 tahun hanya sebesar 13,14 persen.
G
GaammbbaarraannUUmmuumm
Gambar 4.13.
Angka Partisipasi Sekolah Penduduk Usia Sekolah Menurut Jenis Kelamin Tahun 2010 (Persen)
Sumber: BPS Gayo Lues, Susenas 2010
Jika dilihat menurut jenis kelamin, terlihat bahwa Angka partisipasi sekolah penduduk perempuan lebih tinggi daripada laki-laki untuk usia 16-18 tahun dan 19-24 tahun. Pada kelompok umur 7-12 tahun dan 13-15 tahun, tidak berbeda nyata antara laki-laki dan perempuan. Kenyataan ini menunjukkan bukti bahwa perempuan kian maju dan berusaha mensejajarkan diri dengan mitranya kaum laki-laki. Keberhasilan pendidikan juga sangat ditentukan oleh ketersediaan fasilitas pendidikan. Sampai dengan tahun ajaran 2010/2011 telah dibangun sebanyak 99 unit bangunan SD/sederajat, 34 unit bangunan SLTP/sederajat, dan 19 unit bangunan SLTA/sederajat.
99,20 99,04 99,12 93,90 93,08 93,47 71,65 76,70 73,94 11,70 14,61 13,14 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00
Laki-Laki Perempuan Total
c. Kesehatan
Salah satu modal dasar pembangunan adalah sumber daya manusia yang sehat jasmani dan rohani, karena dengan keberhasilan pembangunan SDM yang sehat akan menghasilkan masyarakat sehat yang akan menjadi pelaku
dan sasaran pembangunan
.
Tabel 4.2.
Jumlah Sarana dan Tenaga Kesehatan Tahun 2010
Sarana/Tenaga Kesehatan Jumlah
(1) (2)
Sarana Kesehatan (unit)
Rumah Sakit 1
Puskesmas 12
Puskesmas Pembantu 41
Posyandu 151
Puskesmas Keliling 11
Tenaga Kesehatan (orang)
Dokter Spesialis Penyakit Dalam 1 Dokter Umum 12 Dokter Gigi 2 Tenaga Kesehatan Lainnya 165 Sumber: BPS Gayo Lues, Gayo Lues Dalam Angka 2011
Dari tabel 4.2. diatas terlihat bahwa di Kabupaten Gayo Lues terdapat 1 unit rumah sakit umum (RSU), 12 unit pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), 41 unit puskesmas pembantu (Pustu), 151 pos pelayanan terpadu (posyandu) dan 11 unit puskesmas keliling (Pusling). Sedangkan untuk tenaga kesehatan di Kabupaten Gayo Lues
G
GaammbbaarraannUUmmuumm
meliputi 1 dokter spesialis penyakit dalam, 12 dokter umum, 2 dokter gigi, dan 165 tenaga kesehatan lainnya.
Gambar 4.14.
Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum Tahun 2010
Sumber: BPS Gayo Lues, Susenas 2010
Keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan tidak akan terwujud tanpa suatu lingkungan yang baik, seperti tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman yang sehat. Dari Gambar 4.14. terlihat bahwa sumber air minum sebagian besar rumah tangga di kabupaten Gayo Lues masih bersumber dari mata air terlindung yang mencapai 24,35 persen dan sumur tak terlindung sebesar 18,88 persen, sedangkan yang menggunakan ledeng baru mencapai 3,72 persen. Rumah tangga yang mengandalkan air sungai dan mata air tak
2,85 9,31 3,47 0,25 1,98 12,93 18,88 24,35 15,04 10,94
Air kemasan bermerk Air isi ulang Leding meteran Leding eceran Sumur bor/pompa Sumur terlindung Sumur tak terlindung Mata air terlindung Mata air tak terlindung Air sungai
terlindung sebagai sumber air minum juga masih terlihat besar, yaitu masing-masing sebesar 10,94 persen dan 15,04 persen.
Gambar 4.15.
Persentase Rumah Tangga Menurut Fasilitas Tempat Buang Air Besar Tahun 2010
Sumber: BPS Gayo Lues, Susenas 2010
Selain sarana air bersih, faktor lingkungan lainnya yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan derajat kesehatan adalah fasilitas fisik perumahan seperti fasilitas untuk buang air besar. Dari tabel 4.15. terlihat bahwa rumah tangga yang tidak menggunakan fasilitas buang air besar menempati persentase terbesar, yaitu 30,83 persen, disusul rumah tangga yang menggunakan fasilitas umum sekitar 28,21 persen, fasilitas milik sendiri sekitar 25,19 persen dan yang menggunakan fasilitas buang air besar milik bersama sekitar 15,78 persen.
25,19 15,78
28,21 30,83
G
GaammbbaarraannUUmmuumm
Gambar 4.16.
Persentase Penduduk yang Mengalami Keluhan Kesehatan dan Rata-rata Lama Sakit, Tahun 2010
Sumber: BPS Gayo Lues, Susenas 2010
Informasi status kesehatan penduduk memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan penduduk yang antara lain dapat dilihat melalui persentase penduduk yang mengalami gangguan kesehatan dan rata-rata lama sakit. Berdasarkan data susenas tahun 2010 tercatat bahwa
persentase penduduk Kabupaten Gayo Lues yang
mempunyai keluhan kesehatan sebesar 42,48 persen. Dari keseluruhan penduduk yang mengalami keluhan kesehatan itu 43,76 persennya memiliki rata-rata lama sakit selama 3 hari/kurang, 38,92 persennya selama 4-7 hari, 8,17 persen
42,48
57,52
Memiliki Keluhan Kesehatan Tidak Memiliki Keluhan Kesehatan
0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00 4 - 7 8 - 14 15 - 21 22 - 30 38,92 8,17 4,27 4,88
selama 8-14 hari, 4,27 persen selama 15-21 hari, dan 4,88 persen memiliki rata-rata lama sakit selama 22-30 hari. 4.3.2. Potensi Ekonomi
Pada tahun 2010, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Gayo Lues atas dasar harga berlaku telah menunjukkan besaran 863,455 milyar rupiah. Jika dilihat berdasarkan peranan per sektor, maka sektor pertanian masih merupakan sektor terbesar yang menopang perekonomian di Kabupaten Gayo Lues, yaitu menyumbang sebesar 56,16 persen dari total PDRB. Kontribusi terbesar sektor pertanian diberikan oleh subsektor tanaman bahan makanan yang mencapai 23,57 persen, disusul subsektor perkebunan sebesar 15,41 persen. Subsektor peternakan dan kehutanan juga memberikan kontribusi yang tidak kecil, yaitu masing-masing sebesar 7,20 persen dan 6,23 persen.
Sektor lain yang memberikan sumbangan cukup besar terhadap kinerja perekonomian daerah ini adalah sektor jasa-jasa, yaitu sebesar 14,49 persen. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran memberikan sumbangan cukup besar, yaitu sebesar 9,46 persen. Sedangkan sektor konstruksi memberikan sumbangan sebesar 9,21 persen terhadap total PDRB kabupaten ini.
G
GaammbbaarraannUUmmuumm
Gambar 4.17.
Peranan Sektor Ekonomi dalam Pembentukan PDRB Kabupaten Gayo Lues Tahun 2006–2010 (persen)
Sumber: BPS Gayo Lues, PDRB Kabupaten Gayo Lues 2006-2010
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Gayo Lues
ditunjukkan oleh pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan. Dari Gambar 4.18. terlihat bahwa secara umum pada periode 2006-2010 pertumbuhan ekonomi kabupaten ini menunjukkan trend yang meningkat, meskipun sempat terjadi sedikit penurunan pada tahun 2009, yaitu dari 4,82 persen pada tahun 2008 menjadi 4,77 persen pada tahun 2009. Angka pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 sendiri sebesar 5,19 persen. Sektor dengan pertumbuhan tertinggi adalah sektor konstruksi sebesar 15,05 persen, disusul sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 13,03 persen, dan sektor pertambangan dan penggalian sebesar 12,80 persen. Sedangkan sektor jasa-jasa yang
0 20 40 60 80 100 2006 2007 2008 2009 2010 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Jasa-jasa Listrik dan Air Bersih Konstruksi
Perdagangan, Hotel dan Restoran
Pengangkutan dan Komunikasi
Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Industri Pengolahan
memberikan konstribusi cukup besar merupakan sektor dengan pertumbuhan terkecil, yaitu sebesar 4,36 persen.
Gambar 4.18.
Pertumbuhan Ekonomi, Tahun 2006–2010 (persen)
Sumber: BPS Gayo Lues, PDRB Kabupaten Gayo Lues 2006-2011
5,56 4,08 4,82 4,77 5,19 0 1 2 3 4 5 6 2006 2007 2008 2009 2010
BAB V
IPM KABUPATEN GAYO LUES