• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi Wisata Mandailing Natal

POTENSI WISATA

4.1 Potensi Wisata Mandailing Natal

Sebagai sebuah daerah tujuan wisata, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) di Sumatera Utara memang belum cukup dikenal. Namun potensi wisatanya setara dengan kawasan-kawasan ekowisata semacam di Taman Nasional Kerinci Seblat di Jambi maupun Pegunungan Dieng di Jawa Tengah.

Persoalan utama pariwisata di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terutama karena jaraknya yang cukup jauh dari Medan, ibukota Sumatera Utara. Mencapai 480 kilometer lebih. Minimal 12 jam perjalanan dengan angkutan darat.

Solusi jarak ini hanya dapat diatasi dengan angkutan udara dari Bandara Polonia Medan menuju Bandara Aek Godang di Kabupaten Tapanuli Selatan. Dari Aek Godang ke Panyabungan, ibukota Madina, sekitar 40 kilometer lagi. Saat ini penerbangan hanya dilayani Merpati Airlines yang terbang dua kali seminggu, yakni Senin pukul 12.00 dan Rabu pukul 10.00 Wib. Harga tiketnya Rp 320 ribu.

Objek wisata di Madina, berpusat pada desa-desa yang berada di kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). TNBG ini baru saja diresmikan sebagai taman nasional ke 42 di Indonesia oleh Menteri Kehutanan MS Kaban pada 25 Februari 2005.

Madina yang sering disinggahi karena telah dikenal dan menarik hanyalah Ponpes Mustafawiyah Purba Baru di Kecamatan Lembah Sorik Marapi. Para turis mancanegara tertarik melihat keberadaan gubuk-gubuk kecil berukuran 1,5 x 2,5 meter yang berbaris di sepanjang jalan, digunakan sebagai tempat tinggal santri yang berasal dari berbagai

Hery Bajora Nasution : Potensi Dan Perkembangan Pariwisata Di Kabupaten Mandailing Natal, 2009. USU Repository © 2009

daerah negeri ini. Keberadaan gubuk-gubuk kecil sebagai tempat santri dididik untuk hidup mandiri membuat kesan yang agak asing, dan didukung jumlah santri yang mencapai 8000 orang membuat suasana Ponpes Purba Baru menarik untuk disinggahi.

Dari segi panorama alam, suasana objek wisata di Madina masih jauh berbeda dengan kawasan Parapat (Danau Toba), Berastagi bahkan Bukit Lawang di Kabupaten Langkat. Di kawasan tersebut turis mancanegara banyak dijumpai. Namun tidak

demikian halnya dengan Madina yang menyimpan banyak potensi wisata yang terpendam namun belum dikelola secara maksimal.

Dalam brosur pariwisata yang dikeluarkan bagian pariwisata Pemkab Madina, tercantum beberapa pesona wisata yang dipromosikan untuk turis asing dan sisi lain yang berhubungan dengan pariwisata serta aktivitas perjalanan. Pesona wisata yang

dipromosikan antara lain meliputi Bendungan Batang Gadis, Air Panas Siabu, Gordang Sambilan, Bagas dan Sopo Godang, Sopotinjak, Lubuk Larangan, Danau Siombun, Danau Marambe, Danau Saba Baru, Gunung Sorik Marapi, Sibanggor, Cerita Rakyat Sampuraga, Muarasipongi. Kemudian Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), Pantai Natal, Pantai Sikara-kara, Sumur Besar Multatuli, Pulau Ungeh, Ponpes Mustafawiyah Purba Baru, Pasar Tradisional Panyabungan, Mesjid Raya Panyabungan dan Komplek Perkantoran Pemkab Madina di Perbukitan Payaloting Panyabungan.

Padahal masih banyak objek wisata sejarah Madina yang dikenal masyarakat secara luas, objek tersebut tersimpan di berbagai kecamatan dan desa yang apabila dikembangkan akan menarik bagi datangnya turis domestik dan mancanegara seperti di Panyabungan dekat Desa Runding ditemukan peninggalan kebudayaan manusia dari zaman batu, yaitu peninggalan berupa menhir yang tersebar di suatu lokasi hutan kawasan desa itu. Masih di Panyabungan di lokasi Padang Mardia, oleh masyarakat setempat terdapat sisa-sisa peninggalan Hindu-Budha yang berbaur dengan sisa-sisa kebudayaan zaman meganlitikum. Lalu di Pidoli Lombang, dapat dijumpai komplek percandian yang sudah runtuh dan hanya tersisa bagian pondasinya dari susunan lempengan batu bata ukuran lebar, yang sekarang dijadikan sebagai areal persawahan Saba Biara.

Hery Bajora Nasution : Potensi Dan Perkembangan Pariwisata Di Kabupaten Mandailing Natal, 2009. USU Repository © 2009

Kemudian di Kecamatan Siabu di Desa Simangambat, di sini akan dijumpai objek wisata yang oleh masyarakat disebut yaitu bebatuan/candi sisa peninggalan umat Hindu dari abad ke-8, lebih tua tiga abad dari Candi Portibi di Tapsel. Jarak beberapa meter dari Bagas Godang Panyabungan Tonga, terdapat sebuah makam kuno yang diyakini

masyarakat sebagai makam SI Baroar yaitu nenek moyang yang menurunkan marga Nasution di Mandailing.

Selanjutnya untuk wisatawan yang hobi hutan ilalang di Lembah Tor Sihite yang di bawahnya mengalir Sungai Batang Gadis menuju Bendungan Irigasi Batang Gadis sangat menarik untuk dijadikan objek wisata. Kemudian Aek Namilas tempat pengolahan belerang di Batang Natal, Brankas dan Meriam peninggalan Inggris dan Benteng Portugis di Natal, Bangunan peninggalan Belanda berupa Pesanggerahan di Kotanopan, gua-gua alam di Pastap.

Tidak kalah menariknya desa-desa yang memiliki karakteristik khas kebudayaan Mandailing seperti Desa Maga, Singengu, Manambin, Hutapungkut, Hutagodang, Botung dan Tobang di Kotanopan dengan peninggalan Bagas Godangnya, budaya khas

masyarakat Ulu di Muarasipongi dan Pakantan sebagai daerah yang banyak menyimpan khasanah tradisi Mandailing.

Kabupaten Mandailing Natal memiliki objek wisata berupa keindahan alam dan peninggalan sejarah. Daerah ini memiliki hutan yakni Taman Nasional Batang Gadis 108.000 hektar (26 % dari luas hutan), dengan kisaran ketinggian 300 – 2.145 meter diatas pemukaan laut. Taman ini memiliki 242 tumbuhan berpembuluh (vascular plaut) atau 1,00 % dari tanaman pembuluh di Indonesia, memiliki 218 jenis satwa burung (38 jenis langka), dan 25 jenis mamalia besar.

Objek peninggalan sejarah berupa Bagas Godang (Istana Raja), Terowongan Jepang, Meriam Portugis dan Sumur Multatuli, merupakan potensi wisata yang cukup baik. Objek wisata yang masih alami tetapi telah banyak dikunjungi para wisatawan adalah :

1. Air Panas Sibanggor, di Kecamatan Tambangan 2. Air Panas Sampuraga, di Kecamatan Panyabungan

Hery Bajora Nasution : Potensi Dan Perkembangan Pariwisata Di Kabupaten Mandailing Natal, 2009. USU Repository © 2009

3. Air Panas Siabu, di Kecamatan Siabu

4. Danau Siombun, di Kecamatan Panyabungan 5. Danau Marambe, di Kecamatan Panyabungan Barat 6. Bendungan Batang Gadis, di Kecamatan Panyabungan 7. Atraksi Monyet, di Kecamatan Siabu

8. Air Panas Putusan, di Kecamatan Panyabungan Selatan 9. Air Terjun Sitaut, di Kecamatan Kotanopan

10. Panaroma Sopotinjak, di Kecamatan Batang Natal 11. Sumur Multatuli, di Kecamatan Natal

12. Pantai Natal, di Kecamatan Natal 13. Pantai Sikara-Kara, di Kecamatan Natal

Jika potensi tersebut dikelola dengan baik tentu akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan peningkatan taraf hidup masyarakat. Dalam brosur pariwisata yang dikeluarkan bagian pariwisata Pemkab Madina, tercantum beberapa pesona wisata yang dipromosikan untuk turis asing dan sisi lain yang berhubungan dengan pariwisata serta aktivitas perjalanan. Pesona wisata yang dipromosikan antara lain meliputi Bendungan Batang Gadis, Air Panas Siabu, Gordang Sambilan, Bagas dan Sopo Godang, Sopotinjak, Lubuk Larangan, Danau Siombun, Danau Marambe, Danau Saba Baru, Gunung Sorik Marapi, Sibanggor, Cerita Rakyat Sampuraga, Muarasipongi. Kemudian Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), Pantai Natal, Pantai Sikara-kara, Sumur Besar Multatuli, Pulau Ungeh, Ponpes Mustafawiyah Purba Baru, Pasar Tradisional Panyabungan, Mesjid Raya Panyabungan dan Komplek Perkantoran Pemkab Madina di Perbukitan Payaloting Panyabungan.

Padahal masih banyak objek wisata sejarah Madina yang dikenal masyarakat secara luas, objek tersebut tersimpan di berbagai kecamatan dan desa yang apabila dikembangkan akan menarik bagi datangnya turis domestik dan mancanegara seperti di Panyabungan dekat Desa Runding ditemukan peninggalan kebudayaan manusia dari zaman batu, yaitu peninggalan berupa menhir yang tersebar di suatu lokasi hutan kawasan desa itu. Masih di Panyabungan di lokasi Padang Mardia, oleh masyarakat

Hery Bajora Nasution : Potensi Dan Perkembangan Pariwisata Di Kabupaten Mandailing Natal, 2009. USU Repository © 2009

setempat terdapat sisa-sisa peninggalan Hindu-Budha yang berbaur dengan sisa-sisa kebudayaan zaman meganlitikum. Lalu di Pidoli Lombang, dapat dijumpai komplek percandian yang sudah runtuh dan hanya tersisa bagian pondasinya dari susunan lempengan batu bata ukuran lebar, yang sekarang dijadikan sebagai areal persawahan Saba Biara.

Kemudian di Kecamatan Siabu di Desa Simangambat, di sini akan dijumpai objek wisata yang oleh masyarakat disebut jireta

Itulah sebagian dari objek-objek wisata terpendam yang potensial dikembangkan di Kabupaten Madina, namun belum terkelola dan terjamah dengan baik. Sejumlah fenomena yang dihadapi dunia kepariwisataan di Madina merupakan tantangan yang harus dihadapi dan harus segera diselesaikan, jika Kabupaten Madina ingin memperoleh peluang. Peluang itu bukan tidak mungkin dapat dicapai, mengingat Kabupaten Madina mempunyai potensi ke arah tersebut. Masalahnya sekarang terpulang kepada semua stakeholder di Madina, keberhasilan Madina sebagai daerah persinggahan para turis tergantung dari kemampuan mengatasi semua kendala dan permasalahan, menjadi satu yaitu bebatuan/candi sisa peninggalan umat Hindu dari abad ke-8, lebih tua tiga abad dari Candi Portibi di Tapsel. Jarak beberapa meter dari Bagas Godang Panyabungan Tonga, terdapat sebuah makam kuno yang diyakini masyarakat sebagai makam SI Baroar yaitu nenek moyang yang menurunkan marga Nasution di Mandailing.

Selanjutnya untuk wisatawan yang hobi hiking hutan ilalang di Lembah Tor Sihite yang di bawahnya mengalir Sungai Batang Gadis menuju Bendungan Irigasi Batang Gadis sangat menarik untuk dijadikan objek wisata. Kemudian Aek Namilas tempat pengolahan belerang di Batang Natal, Brankas dan Meriam peninggalan Inggris dan Benteng Portugis di Natal, Bangunan peninggalan Belanda berupa Pesanggerahan di Kotanopan, gua-gua alam di Pastap.Tidak kalah menariknya desa-desa yang memiliki karakteristik khas kebudayaan Mandailing seperti Desa Maga, Singengu, Manambin, Hutapungkut, Hutagodang, Botung dan Tobang di Kotanopan dengan peninggalan Bagas Godangnya, budaya khas masyarakat Ulu di Muarasipongi dan Pakantan sebagai daerah yang banyak menyimpan khasanah tradisi Mandailing.

Hery Bajora Nasution : Potensi Dan Perkembangan Pariwisata Di Kabupaten Mandailing Natal, 2009. USU Repository © 2009

peluang yang sangat menguntungkan. Menguntungkan bukan saja meningkatnya PAD Madina tapi juga taraf hidup masyarakat.

4.2.2 Objek Wisata

1. Sibanggor

Berwisata selama satu hari penuh dengan menyewa mobil, atau pun menumpang angkutan umum dari Panyabungan, bisa dimulai dari Sibanggor. Kawasan Sibanggor yang berada di Kecamatan Tambangan, terdiri dari tiga desa, Sibanggor Jae, Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu. Ketiganya punya panorama hijau menarik dengan lanskap pegunungam.

Desa Sibanggor Tonga, yang berada sekitar 12 kilometer dari Panyabungan, dapat ditemukan solfatara, sumber air panas yang mengandung belerang. Gelegar suara dari sumber air panas itu terdengar hingga beberapa meter. Lokasinya berada persis di tepian jalan, sehingga mudah dikunjungi. Lahan parkir cukup luas untuk beberapa mobil.

Masyarakat secara swadaya mendirikan tempat pemandian air panas. Ada dua kolam yang dirikan berdampingan. Kolam pertama yang cukup panas, sumber airnya langsung dari pusat air panas. Sementara kolam kedua yang airnya lebih hangat bersumber dari aliran dari kolam pertama. Jika ingin mandi, ada beberapa kamar ganti disediakan.

Tak jauh dari situ terdapat aliran Sungai Aek Nilas. Aliran sungai itu berbatasan langsung dengan tembok perbukitan. Di sini juga terdapat beberapa sumber air panas. Letupan-letupan kecil dari sumber air panas itu bisa melentik hingga satu meter. Panasnya bisa mencapai 70 derajat celcius.

Kadar panas itu membuat batu-batuan di sekitarnya berubah warna menjadi merah dan kuning. Aliran air panas yang masuk ke batang aliran sungai, membuat Sungai Aek

Hery Bajora Nasution : Potensi Dan Perkembangan Pariwisata Di Kabupaten Mandailing Natal, 2009. USU Repository © 2009

Tilas menjadi hangat. Aliran sungai yang deras dengan bebatuan yang di tengahnya menjadi lokasi menarik untuk aktifitas wisata sungai. Sayang, karena dangkal, sejauh ini masih belum bisa dijadikan lokasi arung jeram.

Setelah bermain air panas sekitar satu jam, perjalanan bisa dilanjutkan menuju Desa Sibanggor Julu. Hanya sekitar 10 menit perjalanan. Keunikan Sibanggor Julu terutama karena di sini masih terdapat rumah-rumah tradisional. Modelnya rumah panggung, beratap ijuk dengan material dari kayu.

Barisan rumah tradisional itu menjadi pemandangan yang eksotis. Desa yang berada di kaki Gunung Sorik Marapi itu merupakan salah satu kekayaan khasanah budaya Mandailing, dengan warganya yang masih kental dengan budaya dan bahasa Mandailing. Penghidupan utamanya adalah pertanian dataran tinggi. Perkebunan jeruk dan tanaman sayuran dapat dilihat di mana-mana.

Dokumen terkait