• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kehidupan mulai merangkak bangun dan kesibukan di tiap-tiap rumah baru mulai terasa, ketika matahari pagi terbit. Selain PNS yang jumlahnya hanya segelintir saja, tidak banyak orang yang tergesa-gesa dikejar waktu oleh karena kebanyakan dari pengungsi, baik laki- laki maupun perempuan tidak punya pekerjaan tetap yang terikat pada waktu. Ibu- ibu yang punya anak kecil usia sekolah dasar juga bersikap demikian, oleh karena gedung sekolah tepat berada di seberang jalan lokasi kamp, dan lagi kebanyakan anak-anak tersebut mengurus diri sendiri dengan kemampuan seadanya.

Dengan pola kehidupan dan pengasuhan yang demikian tidak heran kebersihan, kerapihan dan terpenuhinya gizi keluarga terutama anak-anak tersebut kurang mendapat perhatian serius. Kurangnya motivasi dan kesadaran orang tua akan pentingnya

pendidikan, ekonomi keluarga yang sulit, dibarengi dengan kondisi stres yang berkepanjangan dari orang tua di tempat pengungsian akhirnya membuat perhatian terhadap anak sangat minim dan hal ini menyebabkan banyak anak usia sekolah tidak bersekolah.

Kondisi tersebut di atas bermula dari kebergantungan para pengungsi atas bantuan sosial kemanusian ya ng diterima sejak tiba di lokasi pengungsian dan berlangsung kurang lebih 3 sampai 4 tahun lamanya. Bantuan yang datang dari berbagai pihak terutama dari pemerintah pusat dan daerah membuat mereka kurang dapat berinisiatif untuk keluar dari keadaan ketergantungan tersebut. Akan tetapi sejak bantuan hidup sehari- hari seperti beras dan uang lauk-pauk dihentikan membuat mereka mau tidak mau harus mencari kerja untuk menghidupi diri sendiri maupun keluarganya.

Di tengah situasi minimnya lapangan pekerjaan, rendahnya pengetahuan, pendidikan dan ketrampilan dari para pengungsi ini, ditambah beban psikologis berupa trauma akan kekerasan masa lalu yang terus membayangi, rasanya sangat sulit untuk hidup tentram apalagi ‘normal’. Pekerjaan yang paling dapat dilakukan dan yang paling realistis untuk dijangkau adalah mengolah tanah-tanah di sekitar lokasi kamp yang merupakan milik penduduk setempat atau menjadi buruh tani di sawah atau ladang yang tergantung iklim dan musim. Itupun bukan penghasilan yang memadai apalagi penghasilan yang cukup. Seorang pengungsi mengungkapkan keadaannya demikian :

Pagi-pagi buta saya dan istri sudah berangkat kerja di kebun jagung orang lokal (setempat). Lokasinya kira-kira 4 km arah matahari naik (timur). Kami dua tofa (menyiangi) rumput bersihkan kebun. Satu are dong (mereka) bayar Rp 10.000. Satu hari paling kami hanya dapat dua are. Makanan kami bawa memang. Makan jagung sa (saja) supaya kenyang dan kuat tofa. Sore matahari masih terang na kami pulang su (Sudah) supaya sampe rumah belum gelap. Dapat uang Rp 20.000 itu istri pake beli sabun ko, gula ko atau minyak tanah. Tapi sekarang

kebun semua sudah bersih tau mau kerja apa lai (lagi). Kami ada olah tanah sedikit di atas sana. Tanam jagung jadi bisa tahan-tahan62

Kehidupan rumah tangga yang tanpa anak saja sudah dirasakan begitu sulit, apalagi bagi seorang ibu rumah tangga dengan 6 anak yang masih kecil-kecil63. Berikut penuturannya:

Suami saya sudah 2 tahun ini pergi kerja di Sumatera, bilang itu di Lampung sana. Bilang kerja di kebun sawit. Sampe sekarang dia tidak pernah kabar mungkin tunggu uang ada dulu baru pulang tapi kami hidup tiap hari tidak tunggu uang ada. Saya pung (punya ) anak dong tidak sekolah ko mau ambil uang dari mana. Saya pergi bantu-bantu orang cuci pakaian supaya orang kasi uang tapi 1 minggu baru orang panggil. Dong (orang yang dibantu) kasi ju (juga) hanya sedikit Rp 5000 sa (saja) Kadang-kadang kalau orang panggil pi (pergi) tolong potong padi ato jagung saya ikut ko dapat sedikit. Kalau makanan habis saya jalan-jalan dengan anak dong ke rumah saudara untuk bisa dapat makan. Tidak tau kami mau hidup karmana lai (bagaimana lagi) ko saya sendiri. Kami datang dari Tim-Tim anak 3 dan 1 masi di perut. Yang kecil 2 ini ju (juga) lahir di sini

Kehidupan yang dirasakan sulit seperti tergambar dalam tuturan di atas tidak saja dirasakan oleh mereka yang punya tanggungan karena berkeluarga tapi hampir dalam setiap percakapan yang terjadi dapat diketahui bahwa hal itu dialami oleh kebanyakan orang di kamp. Salah seorang janda cerai tanpa anak menuturkan demikian :

Hai kaka…saya disini susah tapi mau apa. Saya jalan-jalan saja urus gereja. Saya ketua Kelompok Umat Basis (KUB). Ada acara di mana saya urus ko saya makan di situ. Seperti sekarang saya jalan-jalan dengan kaka dengan pater. Kalau saya tinggal di rumah saya masak jagung 1 kali saya makan sampe besok. Untung saya mengajar berantas buta huruf kasi orang tua di sini jadi pemerintah kasi honor Rp 20.000 tiap bulan. Itu ju dong bayar 3 bulan dulu. Tapi baik sudah biar saya beli sabun deng gula juga untuk persembahan.di misa. Saya ada olah tanah kebun

62

Wawancara dengan Joaquim tanggal 12 januari 2007,seorang pengungsi asal hota- Los Palos berusia 47 thn berumah tangga dan tanpa anak. Kata kata dalam kurung adalah tambahan penulis untuk memperjelas apa atau siapa yang dimaksud dalam percakapan ini. Maksud yang sama juga untuk percakapan-percakapan selanjutnya.

63

sepotong di belakang situ biar ko tamba-tamba tau jadi ko tidak. Susah kaka apalagi kalo sakit tidak tau mau bikin apa. Kalo batuk pilek na tunggu ko baik sendiri. Minum obat kios juga percuma kaka. Saya dulu tinggal satu rumah dengan orang tapi saya pung barang orang curi abis, jadi saya pele (membangun dinding) ini tempat ko biar kecil saya sendiri saja. Mau pi mana-mana saya kunci. Susah tapi mau bilang apa64

Kehidupan keluarga PNS yang punya penghasilan tetap juga tidak luput dari kesulitan seperti yang dialami oleh para pengungsi pada umumnya. Suatu pagi seorang ibu rumah tangga yang bersuami seorang PNS mengungkapkan keadaan hidup mereka demikian :

Biar punya gaji ju… tapi liat sa, ko anak 8 memang. Gaji ju abis di suami pung uang bemo. Kalau satu hari rp 10.000 pp hitung su satu bulan berapa. Belum lai dia punya rokok. Belum lai dia mau beli apa-apa. Hai susah…..anak ju saparu (juga sebagian) tidak sekolah ko karmana mau sekolah, makan sa dalam rumah susah. Suami tidak kerja apa-apa kalo pulang kantor karna sampe rumah su sore su capek. Saya apalagi…. anak begini banyak saya su capek urus dalam rumah. Jang (jangan) kira kami ada gaji jadi senang.. liat sendiri sa, ko kami ada apa65

Dari hasil percakapan-percakapan yang terjadi dan melihat kondisi di sekitar kamp di mana banyak ditemui perempuan-perempuan muda maupun yang tua yang duduk-duduk saja membiarkan waktu berlalu, laki- laki yang duduk-duduk maupun yang lalu lalang dengan langkah gontai tanpa suatu kegiatan ekonomis, anak-anak yang tampak kotor dan kurang gizi berlarian ke sana ke mari, semua ini semakin memperjelas gambaran kesulitan hidup yang nyata di depan mata. Kondisi ini makin diperparah dengan adanya kegiatan berjudi di meja bilyard dan mabuk- mabuk oleh sebagian kaum laki- laki muda maupun dewasa.

64

Wawancara dengan Gloria tanggal 12 januari 2007

65

Dengan kondisi hidup yang demikian pertanyaan-pertanyaan yang perlu diajukan di sini: sampai kapan mereka dapat bertahan hidup dalam kondisi seperti ini? Apakah mereka tidak ingin keluar dari situasi tersebut? Mengapa mereka tidak pulang ke kampung halamannya ketika kepulangan mereka difasilitasi oleh pemerintah, LSM-LSM maupun UNHCR? Masih banyak lagi pertanyaan yang bisa diajukan.

Jawaban atas semua pertanyaan itu bisa diperoleh dari percakapan yang lebih mendalam. Dari percakapan yang dibangun dalam suasana yang lebih akrab akhirnya ditemui bahwa banyak ingatan akan kekerasan yang terjadi di sekitar peristiwa jajak pendapat 1999 bagi sebagian besar pengungsi merupakan hantu masa lalu yang terus membayangi kehidupan kekinian mereka. Artikulasi ingatan pribadi saat terangkat ke ruang publik menarasikan kepiluan yang sangat. Ingatan akan kekerasan bukan hanya sekedar jejak masa lalu dalam diri korban melainkan telah menjadi torehan dari peristiwa negatif di masa silam. Hal inilah yang membuat mereka terus bertahan hidup di tempat pengungsian walau hidup menderita dengan tidak ada kepastian akan hari esok. Hal ini juga yang tidak pernah terangkat ke ruang publik dan karena itu selalu terabaikan dalam setiap kebijakan maupun usaha penyelesaian atas peristiwa kemanusiaan 1999, tetapi ingatan seperti ini perlahan namun pasti terus beroperasi dalam ruang ingatan individu-individu yang ketika mengalami transmisi lintas batas wilayah atau terirori, lintas generasi maka pengalaman akan sebuah peristiwa menjadi ingatan kolektif. Berikut ini adalah upaya mengartikulasikan ingatan- ingatan atas peristiwa kekerasan yang dialami oleh masyarakat pengungsi.