Alquran yang penuh dengan pesan untuk mewujudkan manusia yang
sempurna selain berisikan hukum-hukum syari‟at. Oleh sebab itu Alquran
dikatakan sebagai hudan (petunjuk). Dan Nabi Muhammad saw. adalah contoh
yang mengimplementasikan Alquran tersebut. Termasuklah bagaimana sosok
seorang murabbīatau pendidik dalam Alquran yang wajib menjadi panduan.
Sewaktu ditanyai tentang Rasulullah saw. kepada „Aisyah bagaimana akhlak
Rasul, ia menjawab bahwa akhlaknya Alquran. Hal ini menegaskan adanya semacam keterjalinan antara kepribadian Rasulullah dengan Alquran. Perwujudan nilai-nilai akhlak Alquran yang telah mengalami internalisasi dalam diri
Rasulullah itulah yang membawa rahmat bagi seluruh alam.143
Ahmed Muniruddin, mengatakan ; “the starting point of the muslim
edication the first and foremost duty of every new convert to Islam was to learn its teachings, the rituals of prayer and the divine revalation. Muhammad saw. in this capacity as the prophet of god, naturally the most auitable man to be their teacher.He taught them the Qur'an, guided them in the questions for
142Ibid.,h. 116-117. 143
Amiur Nuruddin, Jamuan Ilahi, Pesan Alquran dalam Berbagai Dimensi Kehidupan, ed. Muhammad Iqbal (Bandung : Citapustaka Media, 2007), h. 102.
jurisprudence an explained to them the rather complicated Islamic system of inheritence.”144
Tantangan lain yang perlu dihadapi manusia adalah kelemahan yang berhubungan dengan sifat dirinya, seperti kedekut, kikir, berpandangan singkat, terburu nafsu, sombong dan berputus asa. Hal ini membuat manusia menjadi labil dan goyah sehingga terpukau pada kehidupan bumi yang sementara dan mengalahkan
kehidupan yang abadi.145
Firman Allah swt. dalam surah Ali Imran/3 ayat 79, berupa bentuk kata
instruksi untuk menjadi rabbanīyang harus deterapkan.
ِكْلا ُوّللا ُوَيِتْؤُ ي نَأ ٍرَشَبِل َناَك اَم
نِم ّْلِّ ًاداَبِع ْاوُنوُك ِساَّنلِل َلوُقَ ي َُّثْ َةَّوُ بُّنلاَو َمْكُْلْاَو َباَت
﴿ َنوُسُرْدَت ْمُتنُك اَِبَِو َباَتِكْلا َنوُمّْلَعُ ت ْمُتنُك اَِبِ َيّْْيِناَّبَر ْاوُنوُك نِك َلَو ِوّللا ِنوُد
ٜٚ
﴾
Artinya: “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-
kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbānī, Karena kamu selalu mengajarkan al-kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”146
Kata rabbanīyang berasal dari kata rabb memiliki makna yang musytarak
yaitu makna memiliki (al-Malik), tuan (as-Sayyidu), memperbaharui keadaan
yang buruk (al-Muṣliḥ), mengatur/mengurus/memimpin (al-Mudabbir).147
Kata tersebut yang sering dan kerap sekali diartikan sebagai pendidik. Begitu pentingnya perintah ini disebabkan faktor pendidikan merupakan faktor penentu mewujudkan kebaikan universal, dikatakan universal karena berawal dari pembentukan kepribadian seseorang. Terwujudnya kebaikan dalam pribadi setiap manusia akan menghasilkan kebaikan kepada kehidupan. Oleh sebab itu standar ukur sebuah bagus dan baiknya suatu negeri adalah dengan adanya keberadaban manusianya. Keberadaban yang baik dapat ditempuh dan dibina dengan pendidikan. Baik pendidikan baiknya peradabaan. Pentingnya sebagai pendidik
144
Ahmed Muniruddin, Muslim Education And The Scholars‟ Soscial Status Up To The
5th Century, (Zurich : Verlag der Islam, 1968), h. 30. 145Ibid., h. 134.
146
Departemen Agama RI., Alquran dan Terjemahnya, h. 47.
147 Abi „Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr al-Qurṭubī, Jami‟ al-Ahkām
untuk wujud baiknya keberadaban sangat diperintahkan. Terlebih sebagai seorang muslim, panduan dan konsepnya memiliki sangat akurat. Dengan demikian
sebagai seorang muslim tentu harus mengetahui makna dari rabbanītersebut.
Penciptaan manusia oleh Allah swt. bukan sekedar sebagai makhluk
pengisi alam semesta, melainkan sebagai syuhud, „abdullah serta khalifah di muka
bumi. Dengan demikian sebagai murabbī harus mengerti tugas yang akan
disampaikan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi fitrah tauhid, potensi ilāhiyah, serta taḥsīniyah.148
al-Kananī menyatakan bahwa ada beberapa persyaratan menjadi seorang
pendidik:149
1) Yang berkenan dengan dirinya sendiri.
2) Yang berkenan dengan pelajaran.
3) Yang berkenan dengan muridnya.
Bagi seorang murabbīdimensi spritual dan material konseling Islam harus
dimiliki, dimensi spritual menjadi bagian sentral dari konseling Islam. Tujuannya difokuskan untuk memperoleh ketenangan hati, sebab ketidaktenangan hati atau
disharmoni, disorganisasi disekuilibrium diri (self) adalah sumber penyakit
mental. Dan penyakit ini harus disembuhkan.150
Dalam sejarah pendidikan Indonesia, pendidikan umtuk menjadi guru menjadi masalah penting dalam masa perluasan pendidikan. Sekolah guru (Kweekschool) pertama dibuka pada tahun 1852 di Solo. Kemudian diikuti oleh sekolah-sekolah guru lainnya yang menghasilkan lebih dari 200 guru (tahun 1887 sampai dengan tahun 1892), dan setelah depresi ekonomi jumlahnya dikurangi. Sebelum sekolah guru dapat menghasilkan jumlah guru yang cukup, tidak diadakan syarat khusus untuk melakukan profesi guru. Mutu pendidikan sering sangat rendah terlebih di luar pulau Jawa. Di antara guru-guru tersebut ada yang tidak pandai berbahasa Melayu, yang tak lancar membaca, atau tak dapat
148
Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami, h. 123-124. 149
Hasan Asari, Hadis-hadis Tentang Pendidik, ed. Zainuddin, cet. 2 (Bandung : Citapustaka Media Perintis, 2014), h. 89.
150
Saiful Akhyar Lubis, Konseling Islami, cet 1, (Yogyakarta : eLSAQ Press, 2007), h. 99.
mengalikan. Pada tahun 1859 seorang guru di Kaibobo (Seram) harus menghadapi 285 murid, di Manado 260 murid berada dalam satu kelas. Karena kebutuhan guru yang mendesak setelah tahun 1863, pemerintah memutuskan pada tahun 1892
akan mengangkat guru tanpa pendidikan sebagai guru.151 Secara sejarah sungguh
amat memprihatinkan, dan dapat dibayangkan bagaimana hasil kepada peserta didik jika pendidiknya sendiri tak seperti yang diharapkan.
Ada terdapat penafsiran yang kurang tepat tentang mengajar, yang dinilai
terlalu sempit, antara lain:152
1) Mengajar adalah menyuruh anak menghafal. (Hal ini mengabaikan minat
anak dan dapat menimbulkan bahaya verbalisme, hafalan fakta-fakta tanpa
pemahaman dan tanpa hubungan organis dan fungsional).
2) Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan. (Keadaan ini mengakibatkan
pelajaran bersifat teacher-centered, anak-anak tidak turut serta merancang,
bersifat otokratis).
3) Mengajar adalah menggunakan satu metode mengajar tertentu. (Situasi dan
zaman selalu berubah, monoton terhadap satu metode belum tentu pas pada periode masa berikutnya).
Penelitian terhadap surah Ali Imran ayat 79 perlu dilakukan untuk
memahami apa yang dimaksud sebagai rabbanī (sebagai pendidik) yang
diperintahkan Allah swt. Mengulas dan mengkaji pendapat para ulama, khususnya para ulama tafsir. Dari penguraian para ulama tersebut dicoba untuk merumuskan
sebuah konsep untuk memaknai rabbanī sehingga dapat sebuah kesimpulan dan
pengertian menjadi seroang murabbī.
Mewujudkan suatu yang paripurna amat sulit terasa dilakukan, terlebih
kaitan murabbī dengan dipengaruhi dari berbagi faktor, seperti profesi untuk
mencari nafkah pada zaman kini. Oleh sebab itu untuk mengatasi hal ini satu hal
yang amat perlu dipegang oleh seorang murabbī bahwa niat yang ikhlas kepada
Allah swt. harus menjadi dasar utama. Sehingga ilmu yang awalnya ia tuntut akan ia berikan dengan dengan baik dan akan mendapat penerimaan yang baik pula.
151
S. Nasution, Sejarah Pendidikan Indonesia, cet ke 2 (Jakarta : Bumi Aksara, 2001), h. 40
152
Sesuai dengan yang dikemukan oleh al-Ghazali dalam “barang siapa yang menuntut ilmu bukan karena Allah swt. Maka akan ditimpakan kepadanya kesulitan di dunia, dan tidak akan dapat mencium aroma surga pada hari kiamat
kelak.”153
Kebahagian dunia dalam profesi murabbī bukan terletak pada banyaknya
ia memperoleh materi darinya. Akan tetapi kebahagian itu akan diperoleh ketika ia memiliki etika yang baik. Sebab tujuan etika hakikatnya menurut Majid Fakhri
dalam bukunya ethical theories in Islam adalah “memperoleh kebahagiaan.”154
Dilema profesi sebagai pendidik di era globalisasi dan isu pragmatisasi pendidikan, telah membawa perubahan sikap dan mental yang positif. Masih adanya para pendidik yang tetap konsisten mengusung nilai-nilai dan idealisme sebagai pendidik yang dirindukan peserta didiknya karena ketokohan dan teladan moralitas yang luar biasa. Pada sisi lain, dalam konteks kekinian, nilai-niali tersebut semakin tergeser dan terkontaminasi dampak negatif pola hidup yang teramat instan dan pragmatis, hal ini merupakan tabir gelap dunia pendidikan yang semakin transparan dan mewabah, terutama karena berbagai perilaku menyimpang yang dimainkan para pendidik dan birokrat yang sadar atau tidak telah tegerus arus konsumtif dan materialistis, sehingga isu komersialisasi, penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan, bukan hanya miliki politisi dan birokrat, namun merambah kedunia pendidikan. Jika hal ini terus menerus dibiarkan, tentau teramat berbahaya, karena narasi bisnis dan naluri konsumtif dunia pendidikan untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang sangat mendesak yang ditawarkan berbagai komoditas atau perusahaan, namun idealisme dan profesionalisme pun semakin dipertaruhkan eksistensinya. Dan kenyataannya jika pendidikan terintervensi liberalisasi, wacana moralitas sebagai pendidik tak lagi menjadi hal yang penting untuk diwacanakan.
Menurut Erving Goffman (seorang ahli dramaturgis), menegaskan satu bahaya yang luar biasa, jika seseorang (khususnya, politisi dan pendidik) berperan sebagai aktor di luar panggung yang berbeda. Dalam konteks ini, profesionalisme
153
Ayub Wakhlallah, at-Tarbiyah al-Islāmiyah „inda al-Imām al-Gazalī, cet 1 (Beirut : Maktabatul „Aṣriyah, 1996), h. 128.
154
pendidik masih jauh dari harapan, apalagi jika seluruh indikator prasyarat profesionalisme seperti yang tercantum dalam UU dan peraturan lebih banyak di atas kertas semata, tanpa diimplementasikan dengan sungguh-sungguh dan dikawal bersama mulai dari pusat sampai daerah, demikian halnya dengan
reformasi pendidikan yang baru sekedar gaung di labirin gelap berliku.155
Kriteria-kriteria murabbī perlu untuk diketahui dan diterapkan oleh seorang
pendidik. Dan ini dasar bagaimana seorang Nabi dan Rasul yang diberikan tugas
untuk mewujudkan manusia sebagai rabbanī. Begitu pentingnya perintah tersebut
maka perlu pula dipahami akan makna rabbanī agar dapat kita mewujudkan diri
dan menyesuaikan dengan maksud perintah Allah swt. dalam Alquran surah Ali Imran/3 ayat 79 tersebut. Terkhusus bagi yang berprofesi sebagai pendidik,
sudahkah menerapkan pengertian rabbanīdalam diri mereka? Penelitian ini insya
Allah akan dapat membantu dalam mewujudkan hal tersebut, sehingga terciptanya seorang pendidik yang ideal dalam konsep Alquran.
155
Iskandar Agung dkk, Mengembangkan Profesionalitas Guru, cet ke 1 (Jakarta : Bee Media Pustaka, 2014), h. 20.
72
Sesungguhnya ayat yang pertama kali diturunkan Allah swt. dalam Alquran kepada rasul-Nya mempertegas masalah ilmu dan pengajaran. Tampak
dalam pelaksanaan hal tersebut dengan kata (
ُُمَلَقْلَا
), dengan pena tersirat perintahuntuk membaca, bagaimana menulis dengan pena jika tak ada yang dibaca terlebih dahulu? Dan membaca adalah kunci dari segala kunci ilmu. Begitu pentingnya membaca itu sehingga Allah swt. mengulangi kata dua kali atas perintah
ُْأَرْػقِا
dalam surah al-ʻAlaq/96 ayat 1 dan 3. Perintah ini bukan hanyasekedar membaca saja, perintah ini disandarkan dengan
ُُقِلاَلخْاُُّبَّرلاُِمْسِإِب
/ bi ismiar-Rabb al-Khāliq, dengan pengertian membaca dengan keridoan, perintah, dan
keberkatan-Nya. Inilah cara membaca yang dinamai
ُُةَيِناَْيِْاُُةَاَرِق
membaca denganiman. Dapat dinyatakan bahwa sesungguhnya ilmu dalam Islam harus digaransi dengan iman kepada Allah swt. Ilmu atas dasar ini menjadi ilmu yang membawa kebaikan dan kemakmuran, terhindar dari pertikaian dan kehancuran.