PENELITIAN
A. Potret Sosiologis Warga DAS Brantas
SECARA UMUM, karakteristik sosial masyarakat DAS Brantas tidak jauh berbeda dengan masyarakat Samaan, dimana penduduknya berasal dari berbagai daerah, keyakinannya menyebar pada seluruh agama (Penghayat Kepercayaan, Hindu, Budha, Islam, Kristen Protestan, Katolik, dan Kong Hu Chu), pekererjaannya beragam, latar pendidikannya beragam, tingkat ekonominya berstrata, dan telah ramah dengan pergulatan kehidupan modern. Namun demikian, tidak bisa dikatakan pula, bahwa masyarakat DAS Brantas itu sama persis dengan masyarakat Samaan. Perbedaan yang agak tipis itu terletak pada karakter ekonomi, pendidikan, fusi politik, dan budaya kekeluargaan atau gotong-royongnya.
Di tilik dari aspek ekonomi, maka dapat dikatakan bahwa rata-rata tingkat ekonomi warga DAS Brantas lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata tingkat ekonomi warga Samaan yang tidak menempati sempadan Sungai Brantas. Oleh karena alasan tingkat ekonomi ini pula lah, maka warga pinggir DAS Brantas berketatapan hati untuk
kekeh tetap tinggal secara permanen di wilayah yang menurut kacamata umum dianggap rawan bencana banjir.
Meskipun diantara warga DAS Brantas juga ada yang bekerja sebagai PNS, serta pekerjaan tetap lain, yang penghasilannya bisa dikategorikan dalam klas menengah bawah, tetapi mayoritas warga DAS Brantas boleh dikata memiliki tingkat ekonomi yang rata-ratanya masih berada di bawah rata-rata penduduk Samaan secara keseluruhannya.
Tingkat ekonomi tersebut dipengaruhi oleh jenis pekerjaan mereka yang mayoritas adalah wiraswasta, sehingga tergantung pula pada permintaan tenaga kerja di sektor swasta yang ada di Malang Raya.
Pada bidang pendidikan, rata-rata tingkat pendidikan terakhir warga DAS Brantas juga masih berada di bawah rata-rata tingkat pendidikan masyarakat Samaan secara keseluruhannya. Mayoritas tingkat pendidikan terakhir warga DAS Brantas adalah sekolah lanjutan atas (SLA). Pendapat umum yang beredar di masyarakat Samaan, bahwa semangat penduduk asli itu masih kalah dengan militansi penduduk pendatang. Bahkan ada pendapat, bahwa orang Samaan yang berhasil itu adalah orang pendatang, bukan penduduk asli Samaan. Peneliti menduga, bahwa fenomena ini juga berlaku untuk masyarakat lain di luar Samaan.
Sementara itu, berdasarkan data pemilihan umum dan atau pemilihan kepala daerah yang diselenggarakan di Kota Malang selama ini, aspirasi politik mereka mayoritas adalah ke partai nasionalis terbesar di Indonesia. Mereka adalah pendukung berat partai pejuang wong cilik itu. Sedangkan dalam aspek kekeluargaan dan kegotong-royongan, warga DAS Brantas justru sangat tinggi jika dibandingkan dengan warga lain di Samaan. Kesetiakawanan mereka sangat luar
biasa, teristimewa jika hal itu terkait dengan kebutuhan tenaga atau kebutuhan phisik. Ada salah satu prinsip yang mereka miliki, yakni “asal teman atau tetangga itu benar-benar membutuhkan bantuan, ya harus dibantu sepenuh hati, karena saudara sejati itu adalah tetangga terdekat”.
B. Paradigma, Pendekatan, dan Jenis Penelitian Penelitian tentang pemaknaan warga DAS Brantas atas ancaman bencana banjir di wilayah kelurahan Samaan Kecamatan Klojen menggunakan paradigma defi nisi sosial (George Ritzer dalam Alimandan, 2007), yakni suatu cara pandang (point of view) yang meyakni bahwa realita itu berada dalam diri individu (realita subyektif), bukan berada dalam masyarakat (realita obyektif). Realita yang berada dalam diri individu tersebut dapat berupa ideologi diri, pemikiran, pengetahuan, gagasan, ide, cita-cita, serta nilai dan norma suyektif. Paradigma defi nisi sosial dipilih, karena penelitian ini bermaksud mengungkap dunia pengetahuan (sociology of knowledge) para penduduk yang tinggal permanen di sempadan DAS Brantas.
Pendekatan penelitiannya adalah kualitatif. Atas dasar pendekatan ini, maka penelitian ini bertujuan untuk melakukan deskripsi analitis suatu fenomena sosial yang dialami oleh para warga DAS Brantas secara individul melalui proses induktif dengan berpedoman pada kerangka teori interaksionisme simbolik dari George Herbert Mead.
Sedangkan jenis penelitian yang dipilih adalah studi kasus, karena warga DAS Brantas sebagai subyek penelitiannya adalah orang-orang yang memiliki sikap, pemikiran, tindakan, dan perilaku yang berbeda dengan masyarakat umumnya dalam menghadapi ancaman bencana banjir. Perbedaan dimaksud terletak pada sikap ‘homy’ atau ‘feel at home’ yang
dimiliki oleh para penghuni permanen sempadan DAS Brantas. Sementara itu, publik umumnya merasa khawatir dan takut atas bahaya mengancam yang bisa datang tiba-tiba sebagaimana biasa dialami oleh warga DAS Brantas.
C. Fokus dan Lokasi Penelitian
Fokus penelitian ini adalah tentang pemaknaan (makna dan proses pembentukan makna) yang dikonstruksi atau dibangun oleh penduduk yang bertempat tinggal secara permanen di bibir sungai Brantas, atau sempadan DAS Brantas atas ancaman banjir yang pernah terjadi selama ini, dan tentu akan terjadi lagi dalam musim hujan tertentu.
Atas dasar fokus penelitian ini, sesungguhnya membuka peluang bagi peneliti untuk melakukan penelitian lapangan pada penduduk DAS Brantas mulai dari hulu Sumber Brantas atau Brantas Wedok (perempuan), dan Kali Lanang atau Brantas Lanang (laki-laki) yang berada di Desa Sumber Brantas Kota Batu hingga Kota Malang, kabupaten Malang, Blitar, tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto, Kali Mas Surabaya, dan Kali Porong Sidoarjo. Namun demikian, atas dasar pertimbangan teknis, maka peneliti hanya memilih DAS Brantas yang berada di wilayah Kelurahan Samaan saja.
Kiranya perlu disampaikan di sini, bahwa sesungguhnya sumber air dari sungai Brantas itu ada dua, yakni berasal dari Sungai Sumber Brantas yang terletak di Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu, dan dari Kali Lanang (Sungai Lanang) yang terletak di Desa Pandanrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Pertemuan kedua sungai tersebut berada di desa Torongrejo Kecamatan Junrejo Kota Batu. Titik pertemuan kedua sungai ini oleh masyarakat Jawa disebut dengan tempuran, yakni tempat pertemuan dari dua aliran sungai atau lebih. Oleh masyarakat Jawa, tempuran itu diyakini sebagai
tempat yang sakral. Kawasan tempuran yang terletak di Desa Torongrejo itu merupakan wilayah purba yang banyak ditemukan benda-benda purbakala, yang salah satunya adalah berupa patung Ganesha yang terletak di tempuran.
Adapun pertimbangan teknis pemilihan lokasi di wilayah Kelurahan Samaan dalam penelitian ini adalah:
1) keterjangkauan, 2) keterbatasan waktu, 3) data sejarah banjir bandang yang sering menimpa warga sempadan DAS Brantas, 4) ambiguitas pemikiran warga yang tinggal di sempadan, yakni satu sisi mengakui bahwa tinggal di pinggir DAS itu berbahaya, namun mereka tetap kerasan sampai turun temurun, 5) pengalaman pribadi peneliti yang pernah melihat langsung di lokasi banjir terakhir pada tahun 2010 lalu.
Saat itu, luapan banjir sungai Brantas melanda pemukiman warga RT. 01 RW. 05 Kelurahan Samaan. Banjirnya adalah banjir kiriman dari Batu. Ketika itu banjirnya membawa serta beberapa batang pepohonan yang besar, dan sempat merusak jembatan gantung yang berada di Gang XIII Oro Oro Dowo belakang Sekolah Muhammadiyah I. Saat itu, beberapa keluarga sempat mengungsi dan tidur di rumah tetangganya yang letak rumahnya lebih tinggi dan agak jauh dari Sungai Brantas.
Di Malang Raya (Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang) terdapat banyak wilayah kelurahan dan desa yang dilalui oleh DAS Brantas. Mulai dari Desa Sumber Brantas, dan Desa Pandanrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu sebagai daerah hulu, lalu bergerak ke bawah melewati daerah Sengkaling, Tlogomas, Tembalangan, Samaan, Klojen, Kebunagung, dan Pakisaji Kabupaten Malang. Cara terbaik dalam penentuan lokasi menurut Moleong (2015:38) adalah dengan mempertimbangkan kesesuaian fokus penelitian dan realita empirik di lapangan.
Lokasi penelitian ini di permukiman warga DAS Brantas Kelurahan Samaan, yang berarti terletak di wilayah RW. 05 Kelurahan Samaan, Kecamaan Klojen Kota Malang. Jika kita menempuh perjalanan dari arah Batu menuju Kota Malang, maka wilayah RW. 05 itu berada di sebelah kiri jalan, atau utaranya Kampus I Universitas Muhammadiyah Malang, dan Kampus Universitas Merdeka Malang yang berada di Jln.
Bandung No. 1 Malang.
Sempadan Sungai Brantas di wilayah RW. 05 tersebut, sebagian ada plengsengan cor-nya, yakni yang berada di sekitar DAM Samaan, jembatan gantung Samaan, jembatan pelor Samaan, dan jembatan Oro Oro Dowo. Sedangkan sebagian yang lain tidak ada plengsengan cor nya, artinya masih tanah biasa. Bibir sungai yang ada tanggulnya hanya yang berada di sekitar DAM Samaan. Tanggulnya sekitar 50 cm. Sementara itu tinggi plengsengannya sekitar 5 meter – 15 meter dari dasar sungai.
D. Subyek Penelitian dan Teknik Penentuannya Subyek penelitian ini adalah para warga yang pada Tahun 1965 telah berumur sekitar 15 tahun dan hingga saat ini masih tetap tinggal permanen di DAS Brantas. Dengan demikian, saat penelitian dilakukan, para subyek penelitiannya telah berumur kurang lebih 70 tahun. Kriteria umur ini dibuat agar para subyek adalah orang-orang yang mengerti sejarah banjir Sungai Brantas yang pernah terjadi pertama kalinya Tahun 1963. Meskipun para subyek bukan orang asli DAS Brantas, namun mereka akan dapat cerita langsung dari orang-orang tua ketika itu yang mengalami banjir bandang yang sangat besar, yang bukan hanya menghanyutkan harta benda (termasuk rumah), dan hewan ternak saja, tetapi juga
mengakibatkan tanah longsor yang menyebabkan penghuni rumah di pinggir RT. O9 RW, 05 terkubur di dalamnya.
Penentuan subyek secara purposive dengan mempertimbangkan umur tersebut, juga dimaksudkan untuk mendapatkan informasi sedalam-dalamnya tentang sejarah pengalaman yang utuh dari para subyek atas ancaman banjir yang secara periodik menimpa warga DAS Brantas di wilayah Samaan. Atas dasar pertimbangan teknik penelitian ini, maka penelitian ini mendapatkan para subyek, yakni Pak Tarto, Bu Sri (istri Pak Tarto), Pak Suradi, Pak Amir, Pak Tris, Bu Mariyani (istri Pak Tris), dan Pak Dargo. Sedangkan yang menjadi informan penelitian adalah Mbak Ami (putri Pak Amir), Pak Budi, Pak Gimin, Bu Umi, dan Pak Hari.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah indepth-interview, observasi non partisipatif, dan dokumentasi.
Interview mendalam dilakukan kepada para subyek atas dasar purpossive sampling di rumah para subyek. Biasanya wawancara pada waktu malam hari dan hari minggu siang.
Wawancara dilakukan secara tidak terstruktur dengan berpedoman pada fokus penelitian, yakni pemaknaan warga DAS Brantas atas ancaman bencana banjir.
Wawancara dilakukan kepada para subyek terpilih, dimulai dari Pak Tarto, kemudian Bu Tarto, Pak Suradi, Pak Amir, Pak Tris, Bu Maryani, dan Pak Dargo. Selain wawancara kepada subyek, peneliti juga melakukan verifi kasi informasi kepada para informan, diantaranya adalah Mbak Ami (putri Pak Amir), Pak Budi, Pak Gimin, Bu Umi, dan Pak Hari.
Pertanyaan interaktif yang ditanyakan kepada mereka sekitar pada: perkenalan diri, maksud dan tujuan kedatangan,
identitas diri subyek dan informan, sejarah pembelian tanah, pembangunan rumah, dan sikap mereka terhadap rumah, pertimbangan memilih menetap di DAS Brantas, pengetahuan mereka tentang DAS Brantas, pemaknaan tentang ancaman bencana banjir, dan rencana ke depan dalam kehidupannya.
Selain melalui teknik wawancara, peneliti juga melakukan observasi lapangan terhadap beberapa obyek, yakni kondisi phisik rumah, situasi dan kondisi pemukiman, situasi dan kondisi lingkungan DAS Brantas, situasi dan kondisi umum wilayah Samaan, infrastruktur jalan di sekitar DAS Brantas, serta survey letak geografi s DAS Brantas.
Sedangkan dokumentasi digunakan untuk mendapatkan dokumen foto DAS Brantas, dan foto kejadian banjir yang pernah terjadi di DAS Brantas.
F. Teknik Analisa Data
Dalam penelitian ini menggunakan model interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Dengan demikian, tahapan analisa data yang dilakukan adalah reduksi data (data reduction), penyajian data (display), dan pembuatan kesimpulan atau verifi kasi (conclusion drawing/
verifi cation). Dalam tahap reduksi data, peneliti membuat pengelompokkan hasil penelitian berdasarkan fokus penelitian dan konsep-konsep pokok yang ada dalam kerangka teoritik interaksionisme simbolis dari George Herbert Mead. Berdasarkan hal ini, maka temuan penelitian tentang Pemaknaan warga DAS Brantas Atas Ancaman Bencana Banjir ini dikelompokkan potret diri atau defi nisi diri dari para subyek, pemaknaan terhadap simbol-simbol yang terkait dengan keputusan untuk bertempat tinggal di DAS Brantas, pemaknaan terhadap ancaman bencana banjir, serta rencana kehidupan mereka yang terkait dengan tempat tinggal.
Setelah dilakukan reduksi data, peneliti melakukan penyajian data (isplay) melalui pengorganisasian data kedalam bentuk fl ow chart atas proses pemaknaan warga DAS Brantas sehingga kelihatan tahapan momen pemaknaannya.
Akhirnya, dalam analisa data ini, peneliti melakukan penarikan kesimpulan atau verifi kasi (conclusion drawing/
verifi cation), yakni pembuatan penegasan akhir penelitian dengan mengikuti alur pemaknaan, pemetaan hubungan antar konsep pokok yang ada, serta penggambaran akhir dari proses pemaknaan atas ancaman bencana banjir warga DAS Brantas.
Dalam tahap penarikan kesimpulan atau verfi kasi ini, peneliti selalu melakukan proses interaktif dengan data temuan lapangan, pedoman kerangka teori, hasil penelitian terdahulu yang dipilih oleh peneliti, dan telaah ilmiah dari peneliti sendiri atas perkembangan dan dinamika temuan yang ada. Model interaktif ini berlangsung terus menerus mulai dari tahap awal penelitian sampai dengan akhir penelitian, baik ketika sedang melakukan pengumpulan data, analisa, maupun triangulasi.
G. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Teknik pemeriksaan keabsahan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber data, triangulasi teknik pengumpulan data, dan triangulasi situasi.
Dalam pelaksanaan triangulasi sumber data, penelitian ini telah melakukan wawancara kepada 7 (tujuh) orang subyek penelitian, dan 5 (lima) orang informan. Penghentian pada 7 (tujuh) orang subyek penelitian ini dilakukan karena peneliti telah meyakini, bahwa data penelitian telah mengalami redundancy atau saturation.
Sedangkan pelaksanaan triangulasi teknik pengumpulan data berupa dipilihnya teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi dalam pengumpulan datanya. Ketiga teknik pengumpulan data ini, dipercaya sudah memadai untuk penyelenggaraan jenis atau tipe penelitian studi kasus semacam ini. Sementara itu, triangulasi situasi dilakukan peneliti untuk mengetahui konsistensi pernyataan dan atau pemikiran peneliti, baik ketika bersama peneliti saja, maupun ketika mereka sedang berbicara dengan subyek penelitian yang lain, serta orang-orang di luar subyek.
Triangulasi situasi dapat dilakukan, karena pada waktu penelitian dilakukan, ada saatnya para subyek itu saling bertemua di luar rumah sehingga bertemu dengan subyek lain, serta orang-orang di luar subyek. Pada saat terjadi standing meeting di depan halaman rumah para subyek inilah, peneliti melakukan triangulasi situasi.