2.1. Sistem Agribisnis Peternakan Sapi Perah
2.1.2. Subsistem Agribisnis Budidaya Sapi Perah
2.1.2.1. Pra Produksi
Kegiatan pra produksi sapi perah meliputi pengembangbiakan, perkawinan dan pemeliharaan. Kanisius (1995) menyatakan bahwa efisiensi pengembangbiakan sapi perah hanya dapat dicapai apabila peternak memiliki perhatian terhadap tatalaksana pemeliharaan secara baik. Salah satu tatalaksana yang perlu mendapatkan perhatian ialah pengaturan perkawinan sesudah sapi melahirkan. Menurut Siregar (1990), pengaturan perkawinan yang tepat akan mempengaruhi jarak kelahiran yang tepat pula, dalam usaha pengembangbiakan sapi perah sebaiknya peternak perlu mengetahui beberapa hal, antara lain:
1) Dewasa Kelamin dan Perkawinan Pertama
Dewasa kelamin adalah periode pertama dalam kehidupan sapi dimana alat reproduksi mulai berfungsi. Pada umumnya semua hewan akan mencapai kedewasaan kelamin sebelum dewasa tubuh. Pada saat sapi betina pertama kali menunjukan tanda-tanda birahi, berarti pada saat itu pula sapi telah dewasa kelamin. Pada waktu anak sapi betina dilahirkan dan alat reproduksinya telah lengkap, maka pada ovariumnya telah terdapat ratusan ribu sel telur (ovum) tetapi sel-sel telur tersebut tetap tinggal sampai sapi betina menjelang dewasa kelamin. Sebelum masa dewasa kelamin tercapai, perkembangan sel telur itu tidak diteruskan menjadi telur yang masak untuk diovulasikan. Pada ternak sapi perah, perkembangan follicle yang berisikan sel telur menjadi masak dan siap diovulasikan yang pertama kalinya pada umur 10–12 bulan. Pada saat ini sapi dara telah mencapai umur dewasa kelamin atau masa puber. Secara alami sapi dara pada umur itu telah dapat menghasilkan keturunan apabila dikawinkan pada waktu yang tepat, tetapi pada umumnya masa puber terjadi sebelum pertumbuhan jasmaniah mencapai kesempurnaan. Sapi dara baru boleh dikawinkan setelah mencapai umur 18 bulan, sehingga pada umur 2,5 tahun sapi akan beranak untuk pertama kalinya sedangakan pejantan boleh dipakai sebagai pemacek yang pertama kali setelah mencapai umur 18 bulan.
Umumnya dewasa kelamin pada sapi perah bervariasi karena dipengaruhi oleh faktor ras, keadaan lingkungan, dan pemberian makanan. Pakan yang baik dan dalam jumlah yang cukup akan mempercepat tercapainya kedewasaan kelamin serta kedewasaan tubuh.
2) Pengamatan Masa Birahi, Siklus Birahi, dan Kelainan Siklus Birahi. a) Pengamatan Masa Birahi
Untuk mengamati masa birahi peternak harus memiliki pengetahuan dan pengalaman. Sapi dara yang telah mencapai umur dewasa kelamin, pada saat-saat tertentu akan mengalami birahi. Pada waktu sapi birahi perangainya akan sangat mencolok, ditandai dengan sapi tampak gelisah, sering mengeluarkan suara khas dan melengkuh-lengkuh, dan mengibas-ngibaskan ekor. Jika ekor itu dipegang maka ekor tersebut akan diangkat ke atas. Ciri lain yaitu nafsu makan berkurang. Produksi susu sapi menurun dan sering menaiki temannya atau membiarkan dinaiki kawannya, dan dari alat kelaminnya keluar cairan putih, bening dan pekat.
Masa birahi sapi perah berlangsung selama 17–18 jam, masa birahi pada sapi dara pada umumnya lebih singkat daripada sapi dewasa. Tanda-tanda sapi birahi tersebut dapat menolong peternak untuk melakukan waktu perkawinan yang tepat. Saat siklus birahi tiba, peternak harus dapat melakukan pengamatan dengan seksama dalam sehari minimal sebanyak dua kali.
b) Siklus Birahi
Bagi sapi yang sehat atau normal, masa birahi akan terulang kembali secara teratur dengan jarak waktu atau interval selama 21 hari sekali dan sapi dara 20 hari atau bervariasi 17–26 hari, terulangnya masa birahi ini disebut siklus birahi. Pada saat terjadinya masa birahi, proses kematangan follicle dan ovulasi akan terulang kembali secara teratur. Siklus birahi dapat dibagi menjadi dua fase yaitu fase pembentukan follicle selama lima hari dan fase pembentukan Corpus luteum selama 16 hari. Sekitar 30 jam sebelum berakhirnya pembentukan follicle, biasanya akan timbul tanda-tanda birahi. Sedangkan ovulasi atau terjadinya sel telur dari follicle terjadi 10–12 hari setelah berakhirnya gejala birahi.
c) Kelainan Siklus Birahi
Terkadang para peternak dalam melakukan pengamatan mengalami kesulitan, karena sering terjadi siklus birahi yang tidak normal seperti (1) Birahi tidak muncul (anetrous). Hal ini karena ovariumnya tidak berkembang, kelainan genetis dan kesalahan pemberian makanan dapat juga mengakibatkan organ reproduksi menjadi lumpuh dan tidak bisa berfungsi, sehingga tidak bisa terjadi proses kemasakan follicle dan ovulasi. Cara mengatasi kelainan semacam ini dapat dilakukan dengan pemberian hormon gonadotropin melalui injeksi agar ovulasi dapat ditingkatkan.
Adanya nanah dalam uterus atau plasenta akibat infeksi juga dapat mengakibatkan sapi tersebut tidak timbul birahi (anetrous), hal tersebut dimungkinkan karena Corpus luteum bertahan terus dan menghasilkan progesteron yang mengakibatkan sapi tidak birahi. Oleh karena itu membersihkan nanah di dalam uterus sangat penting agar masa birahi berjalan normal, (2) Birahi tidak teratur (irreguler estrous cycyles), terkadang ada sapi yang siklus birahinya muncul lebih awal (kurang dari 18 jam) dan ada pula sapi yang siklusnya terlalu panjang (lebih dari 24 jam). Ketidakteraturan siklus birahi ini umumnya lebih banyak dialami oleh sapi pada periode awal sesudah melahirkan, dan (3) Birahi tenang (silent estrous), menurut penelitian diperoleh suatu data bahwa terdapat 15–25 persen dari seluruh ovulasi terjadi tanpa adanya gejala birahi, walaupun sapi mengalami ovulasi yang normal tetapi karena tanpa gejala birahi, maka hal ini menyulitkan para ternak atau inseminator untuk melakukan perkawinan. 3) Perkawinan yang Tepat pada Saat Birahi
Perkawinan yang tepat bagi sapi yang sedang birahi dilakukan pada masa-masa subur, masa-masa subur yang dialami sapi perah berlangsung selama 15 jam. Masa subur ini dicapai sembilan jam sesudah tanda birahi terlihat dan enam jam sesudah birahi itu berakhir, sedangkan ovulasi terjadi 10–12 jam sesudah birahi berakhir. Pergeseran tiga jam kebelakang masih memberikan angka konsepsi (pembuahan) yang baik, akan tetapi jika lebih awal atau terlambat akan menghasilkan angka konsepsi yang rendah. Penjelasan tersebut dapat dilihat dalam bentuk diagram seperti pada Lampiran 2. Waktu perkawinan yang menjadi
pedoman praktis bagi peternak atau insemininator untuk melakukan perkawinan terhadap sapi yang sedang birahi dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Perkawinan Sapi Berdasarkan Masa Awal Birahi
Waktu Awal Birahi Perkawinan yang Tepat - Pagi hari
- Siang hari - Sore hari
- Sore hari
- Siang hari berikutnya - Sore hari berikutnya
Sumber : Kanisius (1995)
Berdasarkan Tabel 8, apabila perkawinan terlambat 10–12 jam sesudah berakhirnya tanda-tanda birahi, maka sel telur tidak dapat dibuahi. Hal ini berhubungan dengan proses terjadinya ovulasi, sedangkan masa hidup sperma dalam alat reproduksi adalah selama 24–30 jam. Oleh karena itu, sel jantan harus sudah siap enam jam sebelum terjadinya pembuahan. Apabila sapi dikawinkan terlalu lambat, telur yang diovulasi telah mati sebelum dibuahi.
4) Perkawinan Kembali Sesudah Melahirkan
Beberapa hari setelah melahirkan (60-920 hari), sapi harus sudah dikawinkan kembali. Penundaan perkawinan kembali pada sapi perah yang terlalu lama akan berakibat jarak kelahiran (calving interval) berikutnya terlalu panjang. Sebaliknya, mengawinkan kembali sapi yang habis melahirkan terlalu awal (kurang dari 50 hari), dinilai kurang baik karena pada saat itu kondisi jaringan alat reproduksi yang sedang rusak atau robek akibat melahirkan yang belum pulih.
Pelaksanaan perkawinan dan terjadinya kebuntingan mempunyai hubungan yang erat dengan jarak kelahiran. Antara jarak kelahiran pertama dan jarak kelahiran berikutnya harus diupayakan tidak lebih dari satu tahun. Hal ini dapat diatur atau dijadwalkan dengan mempertimbangan data-data teknis seperti (1) Lama birahi sekitar 18 jam, (2) Siklus birahi selalu terulang kembali pada setiap 21 hari sekali, (3) Masa laktasi 10 bulan atau 305 hari, (4) Masa kering kandang yaitu delapan minggu atau dua bulan, (5) Lama kebuntingan sekitar sembilan bulan atau 280 hari.
5) Perkawinan Pertama dan Batas Tertinggi Umur Perkawinan a) Sapi Betina
Kedewasaan tubuh pada sapi rata-rata dicapai pada umur 15–18 bulan, sapi akan tumbuh dengan baik sampai umur empat sampai lima tahun, oleh karena itu sapi-sapi dara dapat dikawinkan yang pertama pada umur 18 bulan, sehingga sapi dapat beranak pada umur 2,5 tahun. Sedangkan batas tertinggi sapi induk dapat dikawinkan pada umur 10–12 tahun, karena pada waktu tersebut produksi susu sudah sangat menurun.
b) Sapi Jantan
Sapi jantan mulai dapat dipakai sebagai pemacek untuk mengawini betina yang pertama pada umur 18 bulan. Sebagai pemacek baru boleh melayani betina seminggu kemudian. Pada saat sapi jantan mencapai umur dua tahun, sapi baru dapat dipakai sebagai pemacek yang andal dan dalam satu minggu sudah dapat melayani dua sampai tiga ekor betina. Sesudah pejantan mencapai umur tiga sampai empat tahun dapat dipakai empat kali dalam seminggu, tetapi pemakaian pejantan tersebut harus diatur, sesudah mereka diistirahatkan 10–14 hari baru boleh dipergunakan kembali. Kekuatan dan kepastian hasil perkawinan terbaik ialah pada pejantan umur lima sampai tujuh tahun, karena pertumbuhan pejantan mencapai puncak pada saat umur lima tahun.
6) Perkawinan Pertama dan Batas Tertinggi Umur Perkawinan
Peristiwa semenjak terjadinya pembuahan sampai masa kelahiran atau selama perkembangan janin hingga menjadi foetus di dalam uterus disebut kebuntingan. Pada waktu perkawinan, sperma yang dipancarkan berisi jutaan sel jantan mengendap pada alat kelamin betina. Sel jantan (sperma) bergerak cepat melalui servix dan uterus menuju indung telur. Oleh karena itu apabila perkawinan dilakukan dalam waktu yang tepat, akan terjadi pembuahan, yaitu bersatunya sel telur dan sperma. Sel telur yang sudah dibuahi sel jantan ini disebut
zygote selanjutnya zygote yang terbentuk akan berkembang menjadi janin.
Perkembangan janin menjadi foetus atau embrio terjadi karena adanya suplai zat-zat makanan, oksigen dan lain sebagainya melalui plasenta. Foetus akan terlahir setelah bagian tumbuhnya terbentuk sempurna. Lama kebuntingan pada
sapi umumnya sama, yakni 280 hari (275-285 hari). Sesudah terjadi pembuahan dan terjadi kebuntingan, maka siklus birahi yang terjadi secara teratur setiap 21 hari sekali itu akan terhenti sampai masa kebuntingan itu berakhir. Gejala awal terjadinya kebuntingan tidak jelas karena tidak bisa terlihat, akan tetapi adanya perubahan mekanis dan perilaku mereka yang mencolok akan dapat dijadikan petunjuk bahwa sapi itu sedang bunting.
Menurut Rahardi (2008), tanda-tanda kebuntingan antara lain (1) Birahi berikutnya tidak muncul, (2) Perubahan prilaku seperti sapi menjadi lebih tenang dan tidak suka mendekat pada sapi jantan, nafsu makan meningkat, sering menjilat-jilat bata merah, genting atau tembok, (3) Adanya kecenderungan kenaikan bobot badan, (4) Dalam pertengahan kebuntingan perut tampak besar, terutama di sebelah kanan, (5) Pada bulan kelima atau keenam kebuntingan tersebut dapat dirasakan pada tangan kita yang dikepalkan, dengan cara mendorong dinding perut sebelah kanan secara perlahan, (6) Bagi sapi dara yang pertama kali bunting, pada umur kebuntingan bulan keempat dan kelima, terjadi perkembangan ambing yang mencolok. Selama sapi itu bunting, bebannya meningkat karena uterus harus mampu menampung janin yang tumbuh, otot-otot harus kuat guna persiapan melahirkan, dinding uterus harus dapat dimodifikasi untuk menampung pembentukan plasenta.