• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRA: Realitas dan Pembalikan

Dalam dokumen Pembangunan Partisipatif (Halaman 83-88)

Kekuatan dan utilitas PRA dan RRA merupakan fakta empiris; dan oleh karenanya memerlukan penjelasan. Secara singkat terdapat pandangan lain, dimana pengalaman PRA dapat diuji dan dijelaskan. Sejauh ini, sebagian besar mereka yang telah melakukan inovasi dalam pengembangan PRA adalah praktisi. Mereka sangat menaruh perhatian pada apa yang dapat berjalan dan apa yang dapat berjalan dengan lebih baik. Sedangkan kaum cendekiawan akademik menaruh perhatian, mengapa hal ini berjalan. Mereka telah meneliti tidak untuk teori-teori atau prinsip-prinsip baru, tetapi untuk cara baru dan lebih baik untuk belajar dan bekerja. Pertanyaan “Mengapa” diabaikan.

Namun, kini sudah terdapat cukup pengalaman untuk dapat memberikan beberapa teori atau penjelasan dari praktik.

Penjelasan paling kuat diberikan dengan kata reversal atau kebalikannya. Kata ini digunakan untuk menggambarkan suatu arah, terlepas dari praktik yang wajar dan terhadap yang berlawanan.

Reversal ini adalah, dari pengetahuan, kategori dan nilai kita kepada yang mereka miliki. Hal ini akan menjawab pertanyaan “Realita siapa yang diperhitungkan?”, dan kita awali dengan jawaban milik mereka. Kita mulai dengan relaita mereka dan bukan relalita kita.

Dalam kerangka reversal ini, tiga kelompok reversal bersifat saling menguatkan: kebalikan model, kebalikan hubungan dan kebalikan tindakan. Semuanya itu tidak ada yang bersifat absolut, tetapi menunjukkan suatu pergantian dari arah normal ke arah kebalikannya.

Pembalikan Model

a. Dari Tertutup ke Terbuka

Hampir semua survei kuesioner oleh orang luar dengan kategori dan perhatian mereka. Mereka berusaha untuk mendatangkan tanggapan. Sebenarnya tujuannya peneliti harus menggali kategori

“lain” yang berada pada akhir catatan tentang tanggapan yang diberi kode sebelumnya pada kertas kerja, namun ternyata mereka jarang sekali melakukan, dan bilamana mereka melakukan, malahan akan menimbulkan masalah dalam pemberian kode dan analisis.

Reversal di sini adalah dari tertutup ke terbuka. Bilamana dibandingkan dengan wawancara kuosioner, wawancara semi terstruktur lebih terbuka, dan percakapan akan lebih banyak, juga diperoleh cheklist sebagai acuan. Metode lain yang lebih umum dalam PRA seperti pemetaan dan pembuata model secara partisipatif, matriks rangking dan skoring, pembuata diagram venn atau chapati serta tingkat kesejahteraan, membuat orang dalam tidak hanya bebas untuk mengungkapkan pengetahuan serta nilai-nilainya, tetapi juga mereka didorong dan dimungkinkan

kadang terasa lebih bebas dibicarakan dalam kelompok-kelompok, ketika individu tidak menginginkan mendiskusikannya dengan orang yang masih asing dengan mereka. Secara lebih umum, kelompok-kelompok dapat membentuk antusiasme kolektif dan kreatif, khususnya dengan dengan pemetaan dan pembuatan model, sehingga tanpa sadar akan menggiring pada pengecekan dan saling berbagi. Partisipan mengisi dan mengoreksi detail. Kelompok-kelompok itu akan saling membantu, berbagi pengalaman yang mencakup bidang yang lebih luas dan pengecekan silang.

c. Dari verbal ke visual

Adanya interaksi orang luar-orang dalam, terdapat suatu skala formalitas-informalitas, dari wawancara terstruktur denngan kuosioner, melalui wawancara semi terstruktur dengan cheklist sub topik ke percakapan. Dengan wawancara dan kadang-kadang juga dengan percakapan, orang luar mengajukan pertanyaan dan menggalinya. Kontak mata adalah hal yang umum. Orang luar mempertahankan kontrol dan menentukan agenda serta kategorinya. Pihak yang diwawancara memberikan tanggapan, menyadari bahwa mereka sedang mengadakan interaksi dengan orang yang sedang mencari informasi. Transfer atau pertukaran informasinya bersifat verbal.

Dengan metode PRA dalam pembandingannya, banyak sekali medium yang bersifat visual, melalui bentuk-bentuk pembuatan diagram secara partisipatif yang kesemuanya, dengan definisi bersifat visible, dan seringkali terbuka pada suatu kelompok, tidak hanya sekedar untuk individu atau rumah tangga.

Melalui pembuatan diagram secara partisipatif terjadi perubahan hubungan. Topik dapat ditentukan, atau paling tidak disarankan oleh orang luar, tetapi perannya bukanlah untuk menggali melalui pertanyaan melainkan untuk memulai suatu proses presentasi dan analisis. Orang luar dapat berfungsi sebagai fasilitator, sedangkan orang dalam berfungsi sebagai aktor atau pelakunya.

Orang luar mengalihkan kontrol atau kendali, sedangkan orang dalam menentukan agendanya, kategori serta detailnya. Media serta materinya seringkali berasal dari orang dalam . Kontak mata dan kesadaran orang dalam terhadap orang luar rendah. Informasi dibangun secara komulatif, sedangkan pengecekan silangnya secara otomatis.seringkali dilibatkan beberapa atau bahkan banyak orang.

Pengetahuan saling mendukung. Jika separuh dari selusin perempuan membuat diagram suatu peta sensus desa mereka, yang menunjukkan wanita, pria, anak-anak, kendala-kendala yang dihadapi, dan sebagainya, tidak setiap hal diketahui oleh masing-masing; tetapi 2 orang atau lebih dapat mengetahui 2 item . Diskusi dapat menjadi hidup karena setiap orang dapat mengetahui apa yang sedang dikataka.

Pergeseran dari verbal ke visual merupakan salah satu penekanan dalam PRA. Diagram-diagram merupakan bagian dari repertoar dan dapat dibuat dengan mudah pada awal interaksi mereka sendiri. Diagram dapat merupakan bagian dari wawancara atau percakapan semi terstruktur , yang diperkenalkan sebagai suatu alat bagi masyarakat setempat untuk mengungkapkan , saling berbagi dan menganalisis pengetahuan mereka. Kemudian diagram merupakan suatu agenda untuk didiskusikan. Memahami peta, matirks dan diagram merupakan tahapan-tahapan suatu proses diskusi dan pembuatan diagram yang paling bermanfaat, namun justru yang paling sering diabaikan. Pada mode visual, suatu rangkaian pertanyaan dan diskusi yang baru akan muncul, tetapi hal itu tidak akan muncul dalam verbal. Kombinasi antarra verbal dan visual, yang pada mulanya mengutamakan visual, dapat kuat, dan bahkan akan lebih kuat.

Beberapa perbandingan antara cara-cara verbal dan visual Verbal

(wawancara, percakapan) Visual (diagram)

Peran orang luar Investigator Inisiator dan katalis

Mode orang luar Menggali Memudahkan

Intervensi orang luar Terus menerus dan

mempertahankan Memulai dan kemudian mengurnaginya

Peran orang dalam Responden Penyaji dan analisis

Mode orang-orang dalam Reaktif Kreatif

Kesadaran orang dalam

terhadap orang luar Tinggi Rendah

Kontak mata Tinggi Rendah

Medium dan materi Orang luar Orang dalam

Wanita miskin dan lemah Dapat dimarginalkan Dapat dikuatkan Detail dipengaruhi oleh Kategori etik Persepsi emik

Arus informasi Berurutan Komulatif

Aksesibilitas informasi

kepada orang lain Rendah

dan sementara

Tinggi dan semi permanen Inisiatif untuk chekinglist

dengan Orang luar Orang dalam

Utilitas spasial, informasi temporal dan kausal, ralsi, analisis, perencanaan dan monitoring

Rendah Tinggi

Kepemilikan informasi Disesuaikan oleh orang luar Dimiliki dan dibagi oleh orang dalam

Namun, untuk tujuan-tujuan praktis seringkali yang dibutuhkan adalah nilai-nilai relatif.

Perbandingannya dapat lebih cepat. Perbandingan tapa pengukuran atu penilaian memiliki manfaat.

Dengan menyertakan refleksi dan penilaian, mereka lebih mudah mengekspresikan . mereka dapat diperkenalkan dengan kecenderungan atau perubahan tanpa data dasar. Mereka jadi kurang sensitif, seperti ditunjukkan oleh rangking kesehatan dan kesejahteraan, dan dengan analisis musim: menanyakan perbandingan pendapatan setiap bulannya adalah lebih mudah dibandingkan dengan memberkan nilai-nilai absolut.

Pembalikan Dominasi: dari Menyarikan ke Pemberdayaan

Baik survei kuesioner tradisional maupun penelitian antropologi sosial klasik kedua duanya bersifat ekstraktif meskipun alat-alat ekstrasinya berbeda. Dalam wawancara kuesioner, kekuatan serta inisiatfnya teletak pada pewawancara. Orang yang diwawancarai merupakan ‘responden’, yakni orang yang memberikan jawaban atau yang memberi reaksi. Tujuan utama antropologi kalsik adalah mendapatkan data, kemudian dianalisis dan dituangkan dalam bentuk tulisan. Para antropolog pembangunan ini menginginkan karyanya secara langsung lebih bermanfaat dan banyak sekali para antropolog ikut campur tangan di lapangan karena alasan-alasan etika. Tetapi motivasi mereka biasanya, selalu sama dengn peneliti, yakni hanya dijadikan data-data ekstrasi yang akan dipakai untuk penyusunan disertasi doktoral, artikel dan buku-buku.

Sebaliknya, dalam PRA terjadi pembalikan siapa yang dominan. Tujuannya adalah mengurangi pengumpulan data dan lebih banyak pada usaha untuk memulai proses. Inisiatif diberikan pada mereka. Aktor utamanya adalah masyarakat. Orang luar berfungsi sebagai katalis dan pemrakarsa pertemuan.

Suatu proses PRA, memungkinkan orang luar belajar, melalui sharing informasi untuk meningkatkan analisis dan pengetahuan masyarakat dan berusaha menjauhkan dari sikap memilki untuk dirinya sendiri. Dalam prosesnya masyarakat dimungkinkan untuk menyatukan, mempresentasikan dan menganalisis informasi, membuatnya menjadi eksplisit dan menambahi pada apa yang telah mereka ketahui. Dalam hal ini PRA berupaya untuk meningkatkan kemampuan.

Dari Sikap Diam ke Hubungan Baik, dari Membosankan ke Menyenangkan Pada umumnya masyarakat, awalnya bersikap pendiam terhadap orang luar, dan memberikan respon hati-hati dengan harapan memperoleh manfaat atau menghindari kerugian atau kehilangan.

Dalam PRA menekankan proses untuk membentuk hubungan yang baik. Pengaaman dalam PRA, bahwa ketika sikap dan tingkah laku orang luar itu benar, dan metode partisipatoris digunakan, maka hubungan yang baik biasanya akan cepat terbentuk. Hal ini dapat dilakukan dengan menunjukkan sikap hormat, dengan mejelaskan siapa anda, dengan menjawab pertanyaan, dengan bersikap jujur, menunjukkan sikap tertarik, dan meminta untuk diajari.

Dalam dokumen Pembangunan Partisipatif (Halaman 83-88)