• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pra Siklus

Pada Siklus I... 52 Tabel 6 : Hasil Evaluasi Penilaian Hasil Belajar Paduan Suara Siswa

Pada Siklus II... 63 Tabel 7 : Hasil Evaluasi Penilaian Hasil Belajar Paduan Suara Siswa

xii

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR EKSTRAKURIKULER PADUAN SUARA SISWA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA AUDIO

DI SMPN 2 GAMPING

Oleh Kagum Pangesti Anggar Rima NIM 11208244005

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan dan mendeskripsikan hasil belajar siswa dalam ekstrakurikuler paduan suara melalui penggunaan media audio di SMPN 2 Gamping. Media audio digunakan karena media tersebut merupakan salah satu media pembelajaran yang mengandung unsur suara yang dapat digunakan pada pembelajaran musik di sekolah.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas dan dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri atas 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah anggota ekstrakurikuler paduan suara yang diikuti oleh 24 siswa. Data diperoleh dari hasil tes praktik, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media audio dapat meningkatkan hasil belajar paduan suara siswa di SMPN 2 Gamping. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya peningkatan nilai rata-rata yang dicapai oleh siswa, yaitu pada pra siklus 54,29, siklus I 64,06, siklus II 72,78.

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Manusia adalah makhluk yang dinamis dan bercita-cita ingin meraih kehidupan yang sejahtera baik lahiriah maupun batiniah. Namun cita-cita demikian tidak mungkin tercapai jika manusia itu sendiri tidak berusaha keras meningkatkan kemampuannya seoptimal mungkin melalui proses pendidikan, karena proses pendidikan adalah suatu kegiatan secara bertahap berdasarkan perencanaan yang matang untuk mencapai tujuan atau cita-cita tersebut. Salah satu tempat untuk menempuh pendidikan tersebut adalah sekolah.

Sekolah merupakan salah satu tempat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa. Sekolah menyediakan berbagai macam kegiatan yang menunjang proses pembelajaran, baik pembelajaran yang bersifat akademik maupun nonakademik. Ekstrakurikuler merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler membantu siswa dalam mengembangkan minat bakat, kreativitas, dan keterampilannya secara penuh di luar kemampuan akademiknya.

SMPN 2 Gamping adalah salah satu sekolah negeri yang berada di Kabupaten Sleman. Sekolah tersebut menyediakan beberapa kegiatan ekstrakurikuler guna memberikan keterampilan bagi siswa-siswinya. Salah satu kegiatan ekstrakurikuler di bidang seni di sekolah tersebut adalah paduan suara. Ekstrakurikuler paduan suara dilaksanakan setiap hari Selasa pada pukul 14.00 WIB. Kegiatan ekstrakurikuler tersebut dilaksanakan dengan tujuan

2

untuk menggali bakat dan talenta siswa yang disesuaikan dengan minat dan kemampuannya masing-masing. Hasil ekstrakurikuler tersebut digunakan pada saat kegiatan upacara yang ada di sekolah.

Berdasarkan observasi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2014 diketahui bahwa hasil belajar paduan suara siswa belum maksimal karena memiliki banyak kendala. Hasil belajar ekstrakurikuler paduan suara masih dalam kategori cukup, hal tersebut dikarenakan siswa masih belum menguasi teknik vokal dengan baik dan benar, pada saat bernyanyi masih banyak nada-nada yang fals, artikulasi tidak dilafalkan dengan baik dan benar, dinamika masih belum nampak jelas, pemenggalan kata atau frasering belum tepat serta ketidakpercayaan diri dari sebagian besar siswa pada saat bernyanyi. Padahal dalam pembelajaran ekstrakurikuler paduan suara, teknik vokal merupakan materi yang sangat penting untuk dikuasai, sehingga intonasi dapat dinyanyikan dengan tepat, artikulasi dapat dilafalkan dengan jelas, siswa dapat memainkan dinamika dengan baik, frasering dinyanyikan dengan tepat serta siswa harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi pada saat bernyanyi.

Kondisi tersebut memberikan pengaruh dalam proses pembelajaran serta hasil belajar yang diperoleh siswa dalam ekstrakurikuler paduan suara. Hasil belajar yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Di samping itu, proses pembelajaran yang terjadi selama ini masih bersifat satu arah, yaitu pembelajaran berpusat pada guru saja. Padahal, dalam pembelajaran paduan suara pembelajaran harus bersifat dua arah, komunikasi terjadi antara guru dan

3

siswa. Guru memberikan penjelasan dan pengarahan serta mempraktikkan materi yang telah diajarkan. Siswa perlu turut aktif dan fokus selama proses pembelajaran. Artinya, siswa aktif bertanya dan juga mempraktikkan materi yang telah diajarkan. Dalam pembelajaran paduan suara, harus lebih banyak latihan praktik dibandingkan menjelaskan teori musik, karena apabila guru menjelaskan teori hanya akan menyita waktu sehingga waktu latihan bernyanyi menjadi tidak maksimal.

Seorang guru bukan hanya memberikan pengetahuan kepada siswa, namun guru harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menarik agar siswa semakin tertarik dan tidak jenuh dalam mengikuti pembelajaran serta dapat meningkatkan motivasi siswa agar senantiasa belajar dan berlatih dengan baik sehingga diharapkan nantinya hasil belajar paduan suara dapat mengalami peningkatan. Oleh karena itu, guru sebaiknya menentukan strategi pembelajaran yang tepat dan menggunakan media pembelajaran yang tepat. Ketidaktepatan dalam pemilihan metode pembelajaran serta kurang bervariasinya media yang digunakan menyebabkan timbulnya kejenuhan bagi siswa dalam menerima materi yang disampaikan sehingga materi kurang dapat dipahami.

Setelah dilakukan pengamatan berkaitan dengan proses pembelajaran paduan suara di SMPN 2 Gamping, guru belum melaksanakan pembelajaran dengan maksimal. Hal ini dapat ditinjau dari kurang aktifnya siswa dalam berlatih paduan suara, serta keterbatasannya pengetahuan guru bidang studi seni musik dalam penggunaan media pembelajaran untuk menyampaikan

4

materi pembelajaran. Keterbatasan guru bidang studi seni musik dalam menyampaikan materi dikarenakan guru tidak mengetahui bagaimana menggunakan media pembelajaran yang menarik untuk siswa.

Dari uraian tersebut, perlu dilakukan suatu upaya guna memperbaiki proses pembelajaran ekstrakurikuler paduan suara salah satunya dengan menggunakan media audil di SMPN 2 Gamping. Dengan diterapkannya media

audio diharapkan dapat menarik perhatian siswa agar dapat berlatih secara aktif serta tidak terjadi kejenuhan dalam proses pembelajaran.

B.Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dapat diidentifikasi permasalahannya sebagai berikut :

1. Guru kurang bervariasi menggunakan media untuk menyampaikan materi pembelajaran ekstrakurikuler paduan suara.

2. Dalam proses pembelajaran siswa kurang terlibat aktif karena merasa jenuh dan bosan.

3. Pembelajaran masih bersifat satu arah yang berpusat pada guru.

4. Guru enggan menggunakan media yang dapat menarik siswa dalam belajar dan berlatih karena keterbatasan pengalaman menggunakan media komputer.

5 C.Batasan Masalah

Mengingat banyaknya permasalahan yang ada, maka penelitian ini hanya dibatasi pada permasalahan belum digunakannya media yang dapat menarik siswa dalam belajar dan berlatih secara maksimal, sehingga perlu suatu upaya yang dilakukan guna meningkatkan hasil belajar paduan suara siswa di SMPN 2 Gamping.

D.Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah tersebut, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimanakah upaya peningkatkan hasil belajar paduan suara siswa melalui penggunaan media audio di SMPN 2 Gamping?

E.Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar paduan suara menggunakan media audio di SMPN 2 Gamping.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, baik secara teoretis maupun praktis.

1. Manfaat Teoretis

Hasil penelitian diharapkan dapat menambah perbendaharaan model pembelajaran di SMPN 2 Gamping, untuk meningkatkan mutu dan kualitas pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran untuk mengoptimalkan pengetahuan juga keterampilan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler paduan suara dapat tercapai.

6 2. Secara Praktis

a. Bagi Siswa

Dapat memotivasi siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler paduan suara serta dapat meningkatkan hasil belajar paduan suara siswa. b. Bagi Guru

Sebagai sarana guru dalam mengembangkan dan meningkatkan cara mengajar yang baik, dengan menggunakan media yang tepat dan menarik untuk siswa dalam pembelajaran ekstrakurikuler paduan suara, sehingga hasil pembelajaran sesuai dengan yang diinginkan.

c. Bagi Kepala Sekolah

Untuk menilai loyalitas dan kemampuan guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.

7 BAB II KAJIAN TEORI

A.Hakikat Hasil Belajar

Dalam kehidupan manusia belajar dimulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat hidupnya. Menurut Baharuddin dan Wahyuni (2010:11) belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan, dan sikap. Sementara itu, menurut Witherington (dalam Aunurrahman, 2012:35) belajar adalah suatu perubahan dalam diri manusia berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepribadian. Selanjutnya menurut Suyono dan Hariyanto (2014:9) belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian.

Kemampuan manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Belajar merupakan aktivitas yang selalu dilakukan sepanjang hayat manusia, bahkan tiada hari tanpa belajar. Dengan demikian, belajar tidak hanya dipahami sebagai aktivitas yang dilakukan oleh pelajar saja. Belajar merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan atau pengalaman-pengalaman. Dengan demikian, belajar dapat membawa perubahan bagi si pelaku, baik perubahan pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Dengan perubahan-perubahan tersebut, tentunya si pelaku juga akan terbantu dalam memecahkan permasalahan hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

8

Dari pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu pemahaman, keterampilan atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada seseorang yang relatif tetap, baik dalam berfikir, merasa, maupun dalam bertindak. Pembelajaran yang efektif ditandai dengan terjadinya proses belajar dalam diri siswa. Oleh sebab itu, melalui proses pembelajaran, guru harus berupaya secara optimal menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa terdorong untuk berperan aktif sebagai wujud nyata terjadinya proses belajar.

1. Pengertian Hasil Belajar

Menurut Hamalik (2011:30) hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada oarng tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Oleh karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Hasil belajar sangat berkaitan dengan pencapaian dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan. Sementara menurut Sudjana (2010:22) hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar yang mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar yang dimaksud yaitu hasil yang diperoleh siswa dari proses belajar yang dilaksanakan oleh siswa.

9

Dari beberapa pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Seseorang yang berhasil dalam kegiatan belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan pembelajarannya. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajarannya.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar sebagai salah satu indikator pencapaian tujuan pembelajaran di kelas tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar itu sendiri. Dalyono (2009:48) mengemukakan bahwa hasil belajar yang dicapai siswa merupakan interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Secara rinci kedua faktor tersebut diuraikan sebagai berikut :

1) Faktor internal meliputi fisiologis dan psikologis. Faktor fisiologis meliputi kondisi jasmani, serat kondisi mata dan telinga. Kondisi jasmani menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya. Kondisi jasmani mempengaruhi semangat dan intensitas peserta didik dalam mengikuti pelajaran. Kondisi-kondisi organ khusus siswa seperti indera penglihatan dan indera pendengaran sangat mempengaruhi kemampua siswa dalam menyerap informasi pengetahuan yang disajikan di kelas. Sedangkan faktor psikologis meliputi tingkat kecerdasan, minat bakat, motivasi, dan sikap siswa.

10

2) Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar siswa yang mempengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Keadaan keluarga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Keluarga yang morat-marit keadaan ekonominya, peetengkaran suami istri, perhatian orang tua yang kurang terhadap anaknya, serta kebiasaan sehari-hari berperilaku yang kurang baik dari orang tua dalam kehidupan sehari-hari berpengaruh dalam hasil siswa.

Kualitas pengajaran di sekolah sangat ditentukan oleh guru, sebagaimana dikemukakan oleh Sanjaya (2009:13), bahwa guru merupakan komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat ditegaskan bahwa salah satu faktor eksternal yang sangat berperan mempengaruhi hasil belajar siswa adalah guru. Guru dalam proses pembelajaran memegang peranan sangat penting untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Peran guru tidak dapat digantikan oleh perangkat lain seperti televisi, radio dan komputer. Hal ini dikarenakan, siswa adalah organisme yang sedang berkembang yang memerlukan bimbingan dan arahan dari orang dewasa.

3. Tipe Hasil Belajar

Menurut Bloom (dalam Thobroni dan Arif, 2013:23) hasil belajar diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Secara rinci ketiga tipe tersebut diuraikan sebagai berikut :

a) Tipe Hasil Belajar Kognitif

Hasil belajar kognitif menurut Bloom (dalam Thobroni dan Arif, 2013:23) diartikan sebagai kemampuan siswa menyerap arti dari materi atau bahan yang dipelajari. Dalam proses belajar mengajar, aspek kognitif inilah yang paling menonjol dan bisa dilihat langsung

11

melalui evaluasi. Evaluasi dapat dilaksanakan dengan mengadakan berbagai macam tes, baik secara lisan maupun tulisan. Dalam pembelajaran, umumnya tes diselenggarakan dalam berbagai bentuk ulangan, baik ulangan harian, ulangan semester maupun ulangan umum.

b) Hasil Belajar Afektif

Menurut Harvey dan Smith (dalam Uno, 2012:61-62) mendefinisikan hasil belalajar afektif sebagai kesiapan merespon secara konsisten dalam bentuk posistif atau negatif terhadap objek atau situasi yang dipelajari. Menurut Warsono dan Hariyanto (2012:64) struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang, yaitu komponen kognitif, afektif dan konatif. Komponen kognitif merupakan bagian sikap siswa yang timbul berdasarkan kepercayaan maupun keyakinannya terhadap objek; komponen afektif, yaitu perasaan yang menyangkut emosional yang timbul berdasarkan apa yang dirasakan siswa terhadap objek, dan komponen konatif adalah aspek kecenderungan berperilaku sesuai dengan sikap yang dimiliki seseorang.

c) Tipe Hasil Belajar Psikomotorik

Aspek psikomotorik merupakan hasil belajar yang pencapaiannya melibatkan otot dan kekuatan fisik, Widoyoko (2014:44). Hasil belajar dalam ranah psikomotorik tampak dalam keterampilan-keterampilan (skills) dan kemampuan bertindak

12

individu. Hasil belajar psikomotorik merupakan keterampilan yang mengarah kepada pembangunan kemampuan mental fisik dan sosial pada siswa. Keterampilan berarti kemampuan menggunakan pikiran, nalar dan kreativitasnya. Tujuan aspek psikomotorik berhubungan dengan keterampilan motorik.

Dari beberapa uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam proses belajar mengajar membutuhkan pengukuran ranah kognitif, afektif dan psikomotorik, sehingga dapat melihat nilai yang didapat oleh siswa tersebut. Ketiga ranah tersebut juga sangat penting untuk diketahui dalam proses belajar mengajar. Fungsinya adalah untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu mengaplikasikan apa yang telah didapat dalam proses pembelajaran.

B.Kegiatan Ekstrakurikuler

Menurut Sudjana (2010:39) kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembanagan siswa sesuai dengan kebutuhan, potensi, dan minat bakat mereka. Sementara menurut Jamalus (1981:90) mengungkapkan bahwa esktrakurikuler di bidang kesenian adalah untuk memupuk rasa seni pada tingkat tertentu dalam diri tiap siswa melalui perkembangan kesadaran musik, tanggapan terhadap musik, kemampuan mengungkapkan dirinya melalui musik.

13

Dari beberapa pendapat tersebur dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah suatu wadah untuk mengembangkan minat bakat, dan daya kreativitas siswa. Kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan di luar jam pelajaran terjadwal atau pelajaran yang telah ditentukan (tatap muka di dalam kelas) dan dilaksanakan di lingkungan sekolah dengan diorientasikan untuk memperluas wawasan pengetahuan dan keilmuan serta meningkatkan kemampuan tentang sesuatu yang telah dipelajari dalam bidang studi tertentu.

C.Pengertian Paduan Suara

Menurut Kodijat (1992:94) paduan suara adalah kesatuan sejumlah penyanyi dari beberapa jenis suara yang berbeda berupaya memadukan suaranya di bawah pimpinan seorang dirigen. Sementara itu menurut Jamalus (1981:95) “paduan suara merupakan nyanyian bersama dalam beberapa suara yang biasanya dibagi dalam empat suara, tiga suara, dan paling sedikit dua suara”, sedangkan menurut Pramayuda, (2010:63) paduan suara adalah penyajian musik vokal yang terdiri atas 15 orang atau lebih yang memdukan berbagai warna suara menjadi kesatuan yang utuh dan dapat menampakkan jiwa lagu yang dibawakan.

Jadi, dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa paduan suara merupakan kegiatan bernyanyi secara bersama-sama yang di bagi ke dalam beberapa suara, paling sedikit dua suara yang memadukan suaranya untuk membentuk suara yang padu dan dipimpin oleh seorang dirigen. Dalam paduan suara hal yang perlu diperhatikan adalah adanya ketercapaian

14

perpaduan suara yang mencakup berbagai karakter, baik warna suara, jiwa, daya, ekspresi, minat dan bahkan daya intelektualitas yang berbeda-beda.

Menurut Sitompul (1988:1), suatu paduan suara merupakan himpunan dari sejumlah penyanyi yang dikelompok-kelompokkan menurut jenis suaranya, yaitu sopran, alto, tenor dan bas. Gambar 1 menunjukkan register vokal suara manusia.

Gambar 1.Register Vokal Suara Manusia

1. Teknik Vokal

Menurut Jamalus (1988:49) dasar-dasar teknik vokal dalam bernyanyi yang perlu diperhatikan adalah artikulasi, intonasi, dan pernafasan. Secara rinci dijalaskan sebagai berikut :

a) Artikulasi

Artikulasi merupakan teknik yang berkaitan dengan pelafalan atau pengucapan kata-kata syair dalam lagu. Artikulasi adalah dasar ucapan bunyi bahasa yang terjadi di dalam mulut, dalam bernyanyi harus jelas, Jamalus (1988:55). Jadi artikulasi yang baik akan membantu penyanyi untuk menghasilkan suara yang baik dan jernih saat bernyanyi. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam artikulasi, yaitu huruf vokal (huruf hidup), huruf konsonan (huruf mati), dan diftong (dua huruf vokal yang diucapkan dalam satu kesatuan waktu). Jadi, dapat disimpulkan bahwa

15

artikulasi adalah cara mengucapkan kata-kata dalam bernyanyi sehingga mampu menciptakan atau membentuk suara yang jelas, nyaring, bahkan supaya suara yang dihasilkan menjadi indah.

b) Intonasi

Intonasi berkaitan dengan kemampuan seorang penyanyi untuk membunyikan nada dengan tepat, dengan kata lain intonasi adalah ketepatan membidik nada dalam bernyanyi, Ali (2006:51). Seorang penyanyi harus bisa menyanyikan nada-nada yang terangkai pada sebuah lagu dengan intonasi yang baik. Intonasi dapat dipengaruhi oleh pernafasan serta pendengaran kita saat bernyanyi. Pendengaran kita harus dilatih agar lebih sensitif terhadap tinggi rendahnya nada, baik nada tinggi (high pitch) maupun nada rendah (low pitch).

Menurut Prier (2011:41) terdapat 11 alasan mengapa nada-nada dinyanyikan kurang tepat, yaitu (1) suasana bernyanyi terlalu tegang, (2) konsentrasi dalam bernyanyi kurang, (3) para penyanyi kehabisan nafas, (4) nada yang diulang atau ditahan melelahkan, (5) para penyanyi kurang peka akan keselarasan dalam gabungan suara, (6) kurang mahir dalam membidik lompatan nada, (7) nada-nada pada batas wilayah suara sulit dikuasai, (8) nada-nada-nada-nada pada batas wilayah suara sulit dinyanyikan, (9) huruf-huruf dengan warna gelap dan terang mempengaruhi tinggi nada, (10) kecenderungan mengikuti tangganada lain, dan (11) tergelincir waktu mengayunkan nada.

c) Pernafasan

Sitompul (1988:17) menjelaskan bahwa pernafasan adalah aktivitas otot-otot pernafasan secara otomatis udara masuk ke dalam atau keluar dari paru-paru. Pernafasan sangat penting dalam bernyanyi. Seorang penyanyi harus melatih teknik pernafasan agar pada saat bernyanyi dapat

16

menghasilkan nafas yang panjang. Apabila nafas terlalu pendek maka akan mempengaruhi frasering atau pemenggalan kalimat. Ada tiga jenis pernafasan dalam bernyanyi, yaitu pernafasan bahu, perndafasan dada, dan pernafasan diafragma. Secara rinci ketiga macam pernafasan dijelaskan sebagai berikut :

1) Pernafasan Bahu

Pernafasan ini mengambil nafas dengan cara mengembangkan bagian atas paru-paru, sehingga mendesak bahu menjadi terangkat ke aras, Prier (1992:9).

2) Pernafasan Dada

Pernafasan dada adalah pernafasan dengan cara nafas sepenuhnya dimasukkan dalam paru-paru, Jamalus (1988:51). Pada saat bernafas dengan pernafasan dada maka dada membusung ketika menrik nafas. Kelemahan pernafasan tersebut adalah paru-aru cepat lelah, serta rongga dada tidak cukup besar menampung udara yang banyak. Jadi pernafasan dada tidak efektif digunakan saat bernyanyi karena udara yang ditampung sedikit sehingga tidak dapat maksimal saat bernyanyi.

3) Pernafasan Diafragma

Menurut Jamalus (1988:52) pada pernafasan diafragma bagian yang mengembang ketika menarik nafas adalah sekitar diafragma samping dan punggung. Diafragma adalah sekat antara rongga dada dan rongga perut. Pernafasan diafragma dilakukan dengan cara

17

mengatur sekat diafragma. Pernafasan ini sangat dianjurkan untuk bernyanyi karena rongga udara yang digunakan lebih besar sehingga udara ditampung lebih banyak.

Dari ketiga jenis pernafasan tersebut, pernafasan diafragma adalah pernafasan yang paling baik dalam benyanyi. Namun tidak semua orang dapat bernyanyi menggunakan nafas diafragma. Untuk itu pernafasan diafragma seharusnya dilatih dengan teratur sehingga dapat membantu pada saat bernyanyi.

d) Frasering

Frasering adalah aturan pemenggalan kalimat musik menjadi bagian yang lebih pendek, akan tetapi memiliki kesatuan arti yang utuh, Prier (1992:69). Frasering memudahkan kita memberikan tanda-tanda dimana kita mengatur nafas dalam bernyanyi. Tujuan dari frasering adalah agar pemenggalan kalimat musik lebih tepat dan benar sesuai dengan isi kalimat. Frasering dapat terbentuk jika kita bernyanyi dengan baik dan aturan pemenggalan kalimatnya mudah dimengerti, sehingga

Dokumen terkait