• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

2. Praktek Kerja Industri

Prakerin adalah bagian dari pendidikan sistem ganda (PSG) pada sekolah menengah kejuruan. Prakerin merupakan salah satu bagian dari program bersama antara SMK dan industri yang dilaksanakan di dunia usaha/ indutri (Du/Di). a. Pendidikan Sistem Ganda

1) Latar Belakang Pendidikan Sistem Ganda

Implementasi dari SMK yang berorientasi pada dunia kerja, didasarkan

pada kebijakan link and match (keterkaitan dan kesepadanan). Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan merumuskan bahwa secara filosofis link and match

merupakan cara pandang bahwa pendidikan adalah bagian integral dari kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan harus dirancang dan dilaksanakan dalam kaitan yang harmonis dan selaras dengan aspirasi dan kebutuhan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, sehingga hasilnya akan benar-benar sesuai dengan tuntutan kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat.

Secara harfiah link berarti ada pertautan, keterkaitan, atau hubungan interaktif, dan match berarti cocok, sesuai, serasi, atau sepadan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995: 25). Dalam kaitan link and match diartikan sebagai proses pendidikan yang seharusnya sesuai dan terkait langsung dengan kebutuhan pembangunan, sehingga hasilnya sesuai dengan tuntutan kebutuhan tersebut, baik jumlah, mutu, jenis, maupun waktunya.

Tujuan link and match adalah untuk mendekatkan antara supply dan

demand mutu SDM, terutama yang berhubungan dengan kualitas ketenagakerjaan,

dimana dunia pendidikan sebagai penyedia SDM dan dunia kerja serta masyarakat sebagai pihak yang membutuhkan. Link and match pada dasarnya menyangkut upaya peningkatan sistem pendidikan agar benar-benar berfungsi sebagai wahana atau instrumen bagi pembangunan dan perubahan sosial, sekaligus bermanfaat sebagai investasi untuk pembangunan masa depan.

Secara konseptual dimensi link and match dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu dimensi internal dan dimensi eksternal. Dimensi internal menyangkut tiga aspek, yaitu : (1) Secara vertikal, dimana program pembangunan pendidikan dan pengembangan kebudayaan harus benar-benar terpadu dan terkait dengan implementasinya di lapangan; (2) Secara horizontal yaitu upaya meningkatkan keterkaitan secara terpadu dan selaras dengan program pembangunan pendidikan dan pengembangan kebudayaan pada berbagai unit kerja di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; dan (3) Secara spesial, yaitu upaya untuk meningkatkan keterkaitan secara terpadu dan selaras antara program dengan pelaksanaan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan.

PSG dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang professional dibidangnya. PSG merupakan perkembangan dari magang yaitu belajar sambil bekerja atau bekerja sambil belajar langsung dari sumber belajar dengan aspek meniru sebagai unsur utamanya dan hasil belajar/ bekerja itu merupakan ukuran keberhasilannya.

2) Pengertian Pendidikan Sistem Ganda

Secara teoritis, PSG ini merupakan suatu proses pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematik antara program pendidikan pada sekolah dengan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung pada dunia kerja dan secara terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu.

Secara teknis, siswa SMK dalam jangka waktu tertentu akan dikirim ke dunia usaha /dunia industri (Du/Di) untuk bekerja pada jenis profesi tertentu yang sesuai dengan bidang studinya. Dengan modal ini, maka siswa akan lebih familiar dan paham terhadap dunia kerja, sehingga setelah lulus akan lebih mudah beradaptasi karena berbekal keahlian profesi yang pernah didapatkan dari dunia kerja. Selain itu lulusan SMK kelak lebih profesional menekuni profesinya di Du/Di.

commit to user

Menurut Schippers dan Patriana dalam Sasi Agustus S (2005: 10 ) “sistem ganda (dual sistem) dalam hal ini merupakan model penyelenggaraan pendidikan kejuruan dimana perencanaan dan pelaksanaan pendidikan diwujudkan melalui kemitraan antara dunia kerja dengan sekolah, dan penyelenggaraan pendidikan berlangsung sebagian di sekolah dan sebagian lagi di dunia usaha atau industri“.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa PSG mempunyai dua tempat kegiatan pembelajaran dilaksanakan berbasis sekolah (school based learning) dan berbasis kerja (work based learning). PSG dapat diartikan sebagai system pendidikan kejuruan yang melaksanakan pembelajaran di sekolah dan industri, yang mana pembelajaran di sekolah dan pelatihan di industri merupakan dua komponen yang berasal dari program yang tidak terpisahkan.  

Peran dunia usaha/industri menurut Surunuddin dalam Sasi Agustus S (2005: 11) adalah mengoptimalkan SDM yang berkualitas melalui PSG. Di sekolah mereka diberi teori dan sebagian diajarkan melalui magang di dunia kerja sehingga lebih mengenal lapangan. Mereka bekerja praktik di perusahaan selama jangka waktu tertentu sehingga dalam jangka waktu tiga tahun akan menjadi tenaga siap pakai dengan pola pikir yang profesional. Secara harfiah, PSG diadopsi dari kata bahasa Jerman yaitu link and match yang berarti cara pandang bahwa pendidikan merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan membuat batasan PSG sebagai suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian professional tertentu.

3) Landasan Hukum Pendidikan Sistem Ganda

Pelaksanaan PSG akan menjadi salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan menengah kejuruan sesuai dengan ketentuan pada Undang-Undang Nomor 2 / 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Nomor 29 tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah, dan Peraturan Pemerintah Nomor 39 tahun 1992 tentang Peranan Masyarakat Dalam Pendidikan Nasional,

dan Kepmendikbud Nomor 080 / U / 1993 tentang kurikulum SMK, sebagai berikut : (1) “ penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui 2 (dua) jalur yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah”. [ UUSPN, Bab IV, pasal 10, ayat ( 1 ) ]; (2) “ penyelenggaraan sekolah menengah dapat bekerjasama dengan masyarakat terutama dunia usaha dan para dermawan untuk memperoleh sumber daya dalam rangka menunjang penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan”. [ PP 29, Bab XI, pasal 29, ayat ( 1 ) ]; (3)“pengadaan dan pendayagunaan sumber daya pendidikan dilakukan oleh Pemerintah, masyarakat, dan atau keluarga peserta didik”. [UUSPN, Bab VIII, pasal 33 ]; (4)“masyarakat sebagai mitra pemerintah berkesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan pendidikan nasional “. [UUSPN, Bab XIII, pasal 47, ayat ( 1 ) ]; (5) “ peran serta masyarakat dapat berbentuk pemberian kesempatan untuk magang dan atau latihan kerja “. [ PP 39, Bab III, pasal 4, butir ( 8 ) ]; (6) “ pemerintah dan masyarakat menciptakan peluang yang lebih besar untuk meningkatkan peran serta masayarakat dalam Sistem Pendidikan Nasional “. [ PP 39, Bab VI, pasal 8, ayat(2)]; (7) “ pada sekolah menengah dapat dilakukan uji coba gagasan baru yang diperlukan dalam rangka pengembangan pendidikan menengah “. ( PP 29, Bab XIII, pasal 32, ayat ( 2 ) ).

Sekolah Menengah Kejuruan dapat memilih pola penyelenggaraan pengajaran sebagai berikut : (1) menggunakan unit produksi sekolah yang beroperasi secara profesional sebagai wahana pelatihan kejuruan; (2) melaksanakan sebagian kelompok mata pelajaran keahlian kejuruan di sekolah, dan lainnya di dunia usaha atau industri; (3) melaksanakan kelompok mata pelajaran keahlian sepenuhnya di masyarakat, dunia usaha dan industri. (Kepmendikbud, No : 080 / U / 1993, Bab IV, butir C.I kurikulum 1994, SMK).

4) Tujuan Pendidikan Sistem Ganda

Penyelenggaraan pendidikan dengan sistem ganda bertujuan untuk; (1)menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional (dengan tingkat pengetahuan, keterampilan, dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja ); (2) memperkokoh “link and match” antara sekolah dengan dunia kerja;

commit to user

berkualitas profesional; (4) memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.

5) Komponen Pendidikan Sistem Ganda

Menurut Anwar dalam Rina Rahayu (2008: 18), Pendidikan Sistem Ganda memiliki tiga komponen utama yaitu:

1. Dunia Usaha dan Dunia Industri (Du/Di) 2. Guru

3. Siswa

Sedangkan menurut Ahmad Sonhadji (1998: 24) Pendidikan Sistem Ganda sebagai suatu sistem pendidikan dan pelatihan memilik komponen-komponen sebagai berikut:

1. Program Pendidikan dan Latihan Kerja

2. Sumber Daya Manusia

3. Fasilitas pendidikan

4. Manajemen pendidikan

5. Siswa 6. Biaya

7. Institusi pasangan

6) Pelaksanaan Pendidikan Sitem Ganda

Program Pendidikan Sistem Ganda adalah program bersama antara Sekolah Menengah Kejuruan dengan dunia usaha/industri dan dilaksanakan di dua tempat, yaitu yang pertama adalah di sekolah yang bertujuan untuk membkali peserta diklat mengembangkan kepribadian, potensi akademik, dan dasar-dasar keahlian yang benar dan tepat melalui pembelajaran program adaptif, normatif dan produktif. Yang kedua adalah pelatihan didunia usaha/industri yang bertujuan untuk memberikan pengalaman kerja yang sesungguhnya agar peserta didik menguasai kompetensi keahlian produktif, mengembangkan sikap profesionalisme sebagai tenaga kerja yang berkualitas.

Pendidikan Sistem Ganda (PSG) hanya dapat dilaksanakan apabila ada kesediaan dan kemauan dunia usaha/industri dalam hal ini dapat berupa perusahaan, intansi pemerintahan, maupun intansi swasta untuk menjadi mitra dari SMK dalam melaksanakan bersama program PSG, oleh karena itu dituntut kemauan dan kemampuan untuk berinisiatif mendekati serta mendapatkan dunia usaha/industri untuk menjadi pasangannya.

b. Prakerin

1) Pengertian Prakerin

Menurut http://www.dikmenjur.freehosting.net/info-prakerin.html: Prakerin adalah bagian dari PSG pada SMK. Prakerin merupakan program bersama antara SMK dan industri yang dilaksanakan di dunia usaha/indutri. Sedangkan menurut Dekdikbud (1999: 26) “Pembelajaran di dunia kerja adalah suatu strategi dimana setiap peserta mengalami proses belajar mengajar melalui bekerja langsung (learning by doing) pada pekerjaan sesungguhnya.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa prakerin adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan pada dunia usaha/industri secara terarah dan mendapat bimbingan orang yang berpengalaman untuk mencapai tingkat keahlian tertentu.

2) Tujuan Prakerin

Penyelenggaraan Prakerin sebagai salah satu bagian dari program Pendidikan Sistem Ganda bertujuan untuk :

a. Menumbuhkan sikap kerja yang tinggi

b. Siswa mendapatkan kompetensi yang tidak didapatkan di sekolah c. Siswa dapat memberikan kontribusi tenaga kerja di perusahaan d. Memberikan motivasi dan meningkatkan etos kerja siswa

e. Mempererat hubungan kerja sama antara sekolah dengan institusi

pasangan

commit to user

3) Pelaksanaan Prakerin

Perancangan program prakerin tidak terlepas dari implementasi silabus ke dalam pembelajaran, yang membutuhkan metode, strategi dan evaluasi pelaksanaan yang sesuai. Rancangan prakerin sebagai bagian pembelajaran perlu memperhatikan kesiapan dunia kerja mitra dalam melaksanakan pembelajaran kompetensi tersebut. Hal ini diperlukan agar dalam pelaksanaannya, penempatan peserta didik untuk prakerin tepat sasaran sesuai dengan kompetensi yang akan dipelajari.

Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:

a) Analisis Pencapaian Kompetensi Hasil Pembelajaran di Sekolah 

Dalam perancangan program prakerin perlu dilakukan analisis terhadap kemampuan-kemampuan yang harus dikuasai peserta didik berdasarkan tuntutan standar kompetensi/ kompetensi dasar yang tertera dalam silabus. Analisis dimaksudkan untuk mendapatkan informasi kompetensi apa saja yang dapat dipelajari di sekolah dengan fasilitas yang tersedia dan kompetensi apa saja yang dipelajari di dunia kerja. Keseluruhan kompetensi dalam Kurikulum menjadi target utama yang harus dikuasai oleh peserta didik selama waktu pembelajaran di SMK.

Untuk kepentingan tersebut perlu dilakukan analisis terhadap keseluruhan kompetensi yang didasarkan kepada fasilitas pembelajaran yang dibutuhkan. Dengan langkah ini akan dapat diketahui apakah keseluruhan fasilitas sudah tersedia di sekolah atau tidak. Berdasarkan inventarisasi kemampuan-kemampuan yang dapat dibelajarkan di sekolah, maka akan terlihat dengan jelas kemampuan apa saja yang harus dibelajarkan kepada peserta didik melalui prakerin.

Data-data yang dihasilkan ini dijadikan bahan untuk disingkronisasikan dengan kebutuhan dunia usaha dunia industri (Du/Di). 

Pemetaan dunia kerja sangat penting dilakukan sebelum program prakerin dirancang. Hal ini dimaksudkan agar dunia kerja yang dijadikan mitra benar-benar sesuai dengan program keahlian yang sedang ditekuni oleh peserta didik sehingga tujuan prakerin tercapai dengan baik. Hal ini dilakukan dengan cara melakukan inventarisasi dunia kerja melalui media masa/brosur yang dilanjutkan dengan kunjungan langsung/survei, atau dengan cara lain yang dianggap tepat.

Secara umum dunia kerja yang dapat dilibatkan dalam program prakerin adalah dunia kerja dengan skala regional, nasional bahkan perusahaan kecil sekalipun. Karena dalam kenyataannya justru perusahaan berskala kecil lebih memberikan perhatian pada pembelajaran. Dengan kata lain perusahaan berskala kecil cenderung lebih terbuka dibandingkan dengan perusahaan besar.

c) Menyusun Program Prakerin 

Dalam penyusunan program prakerin sebaiknya memperhatikan karakteristik. Adapun karakteristik tersebut adalah sebagi berikut: program menunjukkan asumsi bahwa situasi belajar adalah di tempat kerja, program dapat menerima konteks berbagai perbedaan, mencakup perbedaan individu sebagai peserta didik yang berbeda inspirasi, termasuk di dalamnya perbedaan kultur dan perbedaan pengetahuan. Program harus fleksibel tidak hanya pada satu situasi, akan tetapi mempertimbangkan perbedaan. Karena setiap hari pekerjaan mengalami perubahan dan peserta didik dapat menyesuaikan perubahan yang terjadi, program akan selalu memiliki perbedaan dengan berbagai tingkatan atau level, seperti perbedaan tuntutan dunia kerja dengan tuntutan sekolah.

Berdasarkan karakteristik program di atas dan hasil analisis, kesenjangan antara kemampuan-kemampuan yang didapatkan peserta didik di sekolah dan dunia kerja, dimasukkan ke dalam sebuah format untuk mengidentifikasi kemampuan-kemampuan tersebut sesuai

commit to user

d) Implementasi 

(1) Waktu Pelaksanaan

Prakerin dapat dilaksanakan sesuai dengan pembelajaran kompetensi yang direncanakan akan diberikan di dunia kerja. Di samping itu perlu juga mengadakan komunikasi dengan dunia kerja, dengan tujuan untuk memastikan kesiapan dunia kerja dan pembimbing, menerima peserta prakerin sesuai kompetensi yang diharapkan.

(2) Pembekalan Peserta Didik

Peserta didik yang akan melaksanakan prakerin harus diberikan pembekalan terlebih dahulu tentang program yang akan dilaksanakan sehingga betul-betul memahami apa yang harus mereka lakukan di dunia kerja. Hal-hal yang menjadi fokus pembekalan antara lain:

(a) Pelaksanaan program prakerin yang dituangkan di dalam jurnal yang mereka bawa.

(b)Tata tertib atau aturan yang berlaku di dunia kerja dimana mereka berada.

(c) Menjaga/memelihara nama baik sekolah. (3) Pembimbingan

Pembimbingan terdiri dari pembimbing internal yaitu guru produktif yang bertanggung jawab terhadap pembelajaran kompetensi, dan pembimbing eksternal yaitu staf dari dunia kerja yang sekaligus bertindak selaku instruktur pembimbing yang mengarahkan peserta didik dalam melakukan pekerjaannya.

(4) Laporan

Semua kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik selama di dunia kerja baik yang ada dalam jurnal ataupun pekerjaan lain yang diberikan oleh instruktor pembimbing eksternal harus dicatat dan didokumentasikan sebagai bahan untuk melakukan evaluasi

terhadap program prakerin. Seluruh kegiatan yang dilakukan oleh peserta prakerin harus diketahui oleh pembimbing. 

Dokumen terkait