• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktik multi akad dalam pemanfaatan gadai sawah Di Desa Batang-Batang

B. Hasil dan Pembahasan

1. Praktik multi akad dalam pemanfaatan gadai sawah Di Desa Batang-Batang

Gadai sawah di Kabupaten Sumenep khususnya yang terjadi di Desa Batang-Batang Laok sudah dilakukan sejak zaman dahulu hingga pada zaman modern ini gadai sawah masih dilakukan sebagian kecil masyarakat yang mempunyai sawah. Masyarakat Desa Batang-Batang Laok ini masih ada yang melakukan gadai sawah dengan alasan kebutuhan hidup yang mendesak sehingga dengan terpaksa menggadaikan sawahnya yang menjadi sumber penghasilan sehari-harinya.

Gadai sawah di Kabupaten Sumenep khususnya yang terjadi di Desa Batang-Batang Laok adalah perjanjian yang menyebabkan sawah seseorang diserahkan untuk menerima sejumlah uang tunai, dengan adanya kesepakatan bahwa sawah yang diserahkan menjadi barang

jaminan atas uang yang di pinjam oleh rahin, biasanya perjanjian itu hanya dilakukan dengan lisan dan tidak tertulis, dan selama hutang tersebut belum lunas maka sawah yang digadaikan tetap berada dalam penguasaan orang yang menerima gadai. Sehingga orang yang menggadaikan sawahnya tidak bisa memanfaatkannya selama orang yang punya hutang itu tidak melunasi hutangnya dan tidak ada batas waktu dalam perjanjian itu.

Akan tetapi praktek gadai sawah yang terjadi di Desa Batang-Batang Laok, Kabupaten Sumenep berbeda dengan umumnya. Praktik ganai sawah yang terjadi di masyarakat Kabupaten Sumenep yang pada umumnya sawah itu hanya sebagai jaminan, selang beberapa bulan, orang yang menggadaaikan sawahnya datang lagi kepada pemberi hutang (murtahin), untuk melakukan perjanjian baru, bahwa sawah yang di gadaikan itu dari pada tidak dimanfaatkan pihak rahin meminta kepada murtahin untuk memanfaatkan dan menggaraap sawahnya, dan hasil dari sawah itu dibagi dua atau sepertiga sesuai kesepakatan yang disepakatinya. Sehingga kalau kita lihat praktik gadai tersebut seakan-akan mengandung dua perjanjian dan dua akad (multi akad), yang mana perjanjian pertama adalah akad Rahn, dan di susul dengan akad yang kedua yakni akad Mukhabarah.

Berdasarkan data yang diperoleh melalui wawancara yang telah peneliti lakukan kepada pihak yang bersangkutan, yakni dengan pihak yang melaksanakan gadai sawah tanpa batas waktu di Desa

Batang-Batang Laok, Kecamatan Batang-Batang Kabupaten Sumenep yaitu:

Ibu Suna’iyah selaku pihak penggadai tanah sawah menyampaikan bahwa:

4.1 Wawancara bersama Ibu Suna’iyah

Kaule maghedi sabhe karana phuto obheng kaangghuy nyokophi kaphutoan, akathi e katengka tor majher otang, polana manabi ghun nyare otangan namun sobung barang se’e teteppaghi malarat e desa kakdinto, napana pole obheng se’e kaphuto bhek benyak. Biasana mon kaule maghedi sabhe enggi ghun lebet lesan ben Ampon lema taon kaule se maghedi tanah. Artinya:

Saya menggadaikan sawah karena butuh uang untuk mencukupi kebutuhan, seperti keperluan sosial dan untuk bayar hutang, karena kalau hanya mencari hutang tanpa adanya barang jaminan di Desa ini agak susah, apalagi nominalnya banyak. Saya kalau menggadaikan sawah biasanya hanya di lakukan secara lisan dan sudah lima tahun saya menggadikan sawah.

Menurut keterangan dari ibu suna’iyah di atas bahwa tujuan dari beliau menggadaikan sawahnya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga untuk membayar hutangnya. Perjanjian gadai yang dilakukan ibu Suna’iyah ini tidak dilakukan ditempat resmi akan tetapi hanya perjanjian secara lisan saja dengan penerima gadai (murtahin). Uang yang dipinjamnya juga tidak berpatokan dengan seberapa luas lahan yang digadaikan akan tetapi hanya sesuai dengan permintaan atau sesuai dengan kebutuhan penggadai sendiri. Gadai sawah yang dilakukan Ibu Suna’iyah ini sudah berjalan selama 5 tahun karena dalam perjanjian gadai ini tidak menetapkan adanya batasan waktu pelaksanaanya, jadi sebelum penggadai belum bisa menebus sawahnya maka sawah tersebut tetap digarap penerima gadai (murtahin).51

Kemudian ditambah dengan keterangan dari bapak Atmawi selaku pihak penerima gadai (murtahin) yang menjelaskan bahwa:

4.2 Wawancara bersama Bapak Atmawi

Kaule narema sabhe se’e paghedi sareng ibu Suna’iyah kakdinto kaangghuy abanto oreng phuto. Manabi e desa kakdinto ampon lumrah manabi maghedi sabhe biasana e tanemmi sareng oreng se narema ghedi. Biasana ollena dheri tanina e pameloe oreng se andik tanah, karana oreng se andik sabhe nyoro kaule kangghuy aghunaaghi sabhena se’e paghedi, polana eman manabi sabhena e bhendungngaghi. Artinya:

Saya menerima sawah yang mau digadaikan sama ibu Suna’iyah ini untuk membantu orang yang membutuhkan, di Desa ini sudah lumrah kalau menggadikan sawahnya biasanya di garap oleh orang yang menerima gadai dan biasanya hasil dari tanah itu di bagi sama orang yang menggadaikan. Karena orang yang mempunyai sawah menyuruh saya untuk menggarap sawah yang digadaikan dengan sistem bagi hasil. Karena orang yang punya sawah merasa eman kalau sawahnya di biarkan bagitu saja tanpa di manfaatkan oleh orang yang menerima gadai.

Berdasarkan pemaparan yang disampaikan bapak Atmawi diatas selaku pihak penerima gadai bahwa tujuanya menerima gadai sawah adalah untuk membantu tetanganya yang sedang membutuhkan. Beliau juga menerangkan bahwa gadai sawah apabila

pihak penggadai belum bisa menebus sawahnya maka sawah tetap digarap oleh penerima gadai (murtahin), sesuai kesepakatan yang dibuat kedua kalinya dengan menggunakan sistem bagi hasil yakni akad mukhabarah. Dan bapak Atmawi juga membenarkan bahwa beliau telah menggarap sawah yang digadaikan oleh ibu Suna’iyah telah berjalan selama 5 tahun.52

Jadi menurut keterangan diatas menunjukkan bahwa pelaksanaan gadai sawah di desa Batang-Batang Laok adalah gadai tanpa batas waktu karena dalam perjanjian yang dilakukan oleh penerima gadai (murtahin) dan pemberi gadai (rahin) tidak membahas soal batas waktu, jadi sewaktu-waktu pemberi gadai bisa menebus sawahnya maka sawah tersebut bisa kembali.

Sedangkan menurut hukum islam, tidak adanya batas waktu dalam pelaksanaan gadai tidak sesuai dengan hukum islam. Kerena kalau orang yang berhutang (rohin) tidak menentukan batas waktu menggadaikan sawahnya kepada pemberi hutang (murtahin) akan menimbulkan adanya ketidakadilan dan kedzaliman antara pihak penggadai dan penerima gadai dan hal seperti itu dalam transaksi muamalah sangatlah tidak dianjurkan. Rasulullah juga telah menjelaskan dalam sebuah hadist yang menganjurkan adanya ketentuan waktu jatuh tempo dalam sebuah akad. Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas r.a:

َُّاللّٰ َّىلَص ُّيِبَّنلا َمِدَق َلاَق ٍساَّبَع ِنْبِا ْنَع

َع

ِهْيَل

َمَّلَس َو

ِدَملا

ْمُه َو َةَنْي

َن ْوُفِلْسَي

يِف

ْسَ ْنَم َلاَقَف .ِنْيَتَنَّسلا َو َةَنَّسلا ِراَمِِّشلا

َل

َف

َت يِف

ُيْلَف ٍرْم

َم ٍلْيَك يِف ْفِلْس

ٍم ْوُلْع

ملسملا هاور( ٍم ْوُلْعَم ٍلَجَا ىَلِا ٍم ْوُلْعَم ٍن ْز َو َو

)

Artinya: Dari Ibn Abbas r.a berkata: waktu Rasulullah SAW tiba hijrah di kota madinah banyak orang yang biasa menghutangkan kurma dengan janji setahun atau dua tahun. Beliau berkata: "barang siapa menghutangkan kurma hendaklan jelas takaran dan masa pembayaranya".53

Selanjutnya pendapat Bapak Halili selaku PJ kepala desa Batang-Batang Laok, Kabupaten Sumenep terhadap gadai tanah sawah:

4.3 Wawancara Bersama Bapak Halili

Manabi urusan maghedhi sabhe ampon lumrah e laksana'aki masarakat sumenep, husussa masarakat batang-batang laok. Kabiasaan masarakat e kak dinto

kaangguy nyokopi kaphutoan tor majheri otang biasana maghedi sabhena ka tatang-ghena. Coman masarakat e kak dinto manabi maghedi sabhena ghun e lakoni bik thibik tanpa apareng oning ka perangkat desa, biasana coma lebet lesan tak sampek bede se nyatet otabe noles. Saengghena manabi bede kakalerowan, sulit ngaolle perlindungan hukum.

Artinya:

Mengenai gadai tanah sawah ini memang sering dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Sumenep, khususnya masyarakat yang ada di desa batang-batang laok. Kebiasaan masyarakat disisni untuk mencukupi kebutuhan dan membayar hutangnya biasanya menggadaikan sawahnya kepada tetangganya, hanya saja masyarakat disini dalam melakukan praktek gadai tanah dilakukan secara individu dan jarang yang mengikutsertakan perangkat desa, karena kebiasaan masyarakat disini Kalau menggadaikan sawahnya hanya melalui lisan tanpa perjanjian tertulis, sehingga kalau ada perselisihan sulit mendapatkan perlindungan hukum.

Dari keterangan yang diberikan oleh Bapak Halili sebagai PJ kepala desa Batang-Batang Laok diatas menunjukkan bahwa dari pihak kelurahan Batang-Batang Laok memang menginginkan masyarakatnya mengikuti apapun yang sudah diatur oleh pemerintah. akan tetapi dari masyarakatnya sendiri masih belum menyertakan kelurahan dalam pelaksanaan gadai sawah, maka dari itu kalau terjadi sengketa pihak kelurahan tidak dapat memberikan perlindungan sesuai dengan apa yang ada dalam undang-undang.

Padahal dalam masalah gadai seharusnya dilakukan perjanjian secara tertulis tidak cukup hanya sebatas perjanjian lisan. Sehingga perjanjian gadai yang dilakukan secara lisan akan memungkinkan terjadinya ingkar janji atau wanprestasi yang

mungkin akan berakibat perselisihan antara pemberi gadai (rahin) dan penerima gadai (murtahin). Hal ini sesuai dengan perintah Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 282:

َنيِذَّلٱ اَهُّيَأٰٰۤـَي

مُكَنيَّب بُتكَيل َو ُهوُبُتكٱَف ىِّمَسُّم لَجَأ ٰٰۤىَلِإ ٍنيَدِب مُتنَياَدَت اَذِإ ا ٰۤوُنَماَء

ِلدَعلٱِب ُبِتاَك

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang peneliti di antara kamu menuliskannya dengan benar.(QS. Al-Baqarah ayat 282)”54

2. Pandangan Madzhab Maliki terhadap praktik multi akad dalam

Dokumen terkait