• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Praktik Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS)

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah suatu upaya menciptakan kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan melalui tiga pendekatan, yaitu (1) pemberdayaan masyarakat (empowerment), yaitu proses pemberian informasi secara terus-menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan sasaran, serta proses membantu sasaran agar sasaran tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude), dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice), (2) binasuasana, adalah

upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendorong individu, anggota masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan, dan; (3) advokasi, adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait (stakeholders) (Depkes, 2005).

Melakukan atau berperilaku bersih dan sehat menurut Becker dalam Notoatmodjo (2007), adalah upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Perilaku ini mencakup; (1) makan dengan menu seimbang, (2) olah raga teratur, (3) tidak merokok, (4) tidak minum minuman keras dan narkoba, (5) istirahat yang cukup, (6) mengendalikan stress, dan; (7) gaya hidup yang positif bagi kesehatan, misalnya tidak berganti-ganti pasangan dalam hubungan seks.

Pelaksanaan PHBS adalah wujud keberdayaan masyarakat yang sadar, mau dan mampu mempraktikkan PHBS. Semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan dalam mewujudkan kesehatan masyarakat (Depkes, 2007).

Ada beberapa jenis praktik PHBS yang dapat dilakukan di rumah tangga, adalah (Depkes, 2006);

1) Praktik PHBS bidang Gizi, misalnya; pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, makan dengan gizi seimbang, minum tablet besi selama hamil, memberi bayi ASI eksklusif, mengonsumsi garam beryodium dan memberi bayi dan balita kapsul vitamin A.

2) Praktik PHBS bidang KIA dan KB, misalnya; memeriksa kehamilan, persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, mengimunisasi bayi dan keluarga berencana. 3) Praktik PHBS bidang Kesehatan Lingkungan, misalnya; cuci tangan dengan

sabun, menggunakan air bersih, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik nyamuk dan membuang sampah.

4) Praktik PHBS bidang Pemeliharaan Kesehatan, misalnya; memiliki jaminan pemeliharaan kesehatan, pemanfaatan sarana kesehatan (puskesmas).

5) Praktik PHBS bidang gaya hidup sehat (GHS), misalnya tidak merokok di dalam rumah, melakukan aktivitas/olah raga setiap hari, makan sayur dan buah setiap hari.

6) Praktik PHBS bidang obat dan farmasi, misalnya memiliki tanaman obat keluarga, menggunakan obat generik, minum oralit jika anak diare dan jauhkan anak dari bahan berbahaya/beracun.

2.2.1. Manfaat Pelaksanaan PHBS

Menurut Depkes (2006), terdapat tiga manfaat pelaksanaan PHBS, yaitu : a. Manfaat bagi rumah tangga :

1) Setiap anggota keluarga meningkat kesehatannya dan tidak mudah sakit. 2) Balita tumbuh sehat dengan status gizi baik dan cerdas.

3) Produktivitas kerja anggota keluarga meningkat.

4) Pengeluaran biaya rumah tangga dapat difokuskan untuk pemenuhan gizi keluarga, pendidikan dan modal usaha untuk peningkatan pendapatan keluarga.

b. Manfaat bagi masyarakat :

1) Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat.

2) Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan. 3) Masyarakat mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat

(UKBM), seperti posyandu, jaminan pemeliharaan kesehatan, tabungan ibu bersalin, ambulance desa dan lain-lain.

c. Manfaat bagi pemerintah kabupaten/kota :

1) Peningkatan persentase rumah tangga sehat menunjukkan kinerja dan citra pemerintah kabupaten/kota yang baik.

2) Biaya yang sedianya dialokasikan untuk penanggulangan masalah kesehatan dapat dialihkan untuk pengembangan lingkungan yang sehat dan penyediaan sarana pelayanan kesehatan yang merata, bermutu dan terjangkau.

3) Kabupaten/kota dapat dijadikan pusat pembelajaran bagi daerah lain dalam pengembangan PHBS di rumah tangga.

2.2.2. Indikator Penilaian Rumah Tangga Sehat

Indikator PHBS adalah suatu alat ukur untuk menilai keadaan atau permasalahan di rumah tangga. Ada sepuluh indikator PHBS rumah tangga yang terdiri dari :

1) Ibu bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan, yaitu proses kelahiran balita termuda dalam rumah tangga dibantu oleh dokter, bidan atau paramedis lainnya.

2) Memberi bayi ASI eksklusif, yaitu bayi usia 0 – 6 bulan hanya diberi ASI saja tanpa diberikan makanan atau minuman lain.

3) Menimbang bayi dan balita, yaitu untuk memantau pertumbuhannya yang dapat dilakukan di posyandu setiap bulan mulai umur 12 - 60 bulan.

4) Menggunakan air bersih, yaitu rumah tangga yang memiliki akses air bersih yang layak dipergunakan untuk keperluan sehari-hari.

5) Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, yaitu setiap anggota keluarga melakukan cuci tangan dengan air bersih dan memakai sabun sebelum makan dan menyuapi anak, menyusui atau sesudah buang air besar.

6) Menggunakan jamban sehat, yaitu setiap keluarga memiliki dan menggunakan jamban untuk buang air besar/buang air kecil.

7) Memberantas jentik di rumah, yaitu kegiatan keluarga dalam memberantas tempat-tempat berkembangbiak nyamuk yang dilakukan teratur setiap minggu. 8) Makan buah dan sayur setiap hari, yaitu setiap anggota keluarga mengkonsumsi

minimal tiga porsi buah dan dua porsi sayuran atau sebaliknya setiap hari.

9) Melakukan aktifitas setiap hari, yaitu setiap anggota keluarga melakukan aktivitas fisik (berjalan, berkebun, mencuci pakaian, naik turun tangga dan sebagainya).

10) Tidak merokok di dalam rumah, yaitu setiap anggota keluarga tidak boleh merokok di dalam rumah. (Depkes, 2007).

Dari sepuluh indikator PHBS rumah tangga di atas akan memberikan gambaran sehat pada rumah tangga dengan menggunakan pengkategorian penilaian sehat sebagai berikut :

1) Sehat 1 (klasifikasi merah), bila nilai persentase sehat 4 pada hasil penilaian tatanan yang dilakukan sebesar 0 – 25,00%.

2) Sehat 2 (klasifikasi kuning), bila nilai persentase sehat 4 pada hasil penilaian tatanan yang dilakukan sebesar 25,01% - 50,00%.

3) Sehat 3 (klasifikasi hijau), bila nilai persentase sehat 4 pada hasil penilaian tatanan yang dilakukan sebesar 50,01% - 75,00%.

4) Sehat 4 (klasifikasi biru), bila nilai persentase sehat 4 pada hasil penilaian tatanan yang dilakukan sebesar 75,01% - 100,00%. (Depkes, 2005).

2.3. Status Gizi Balita

Dokumen terkait