• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRAKTIK-PRAKTIK KEDIRIAN, TES-TES KEPERCAYAAN

Dalam dokumen Gay Archipelago bahasa Indonesia (Halaman 178-200)

17 //BAB ENAM

GAYA NASIONAL

Seperti tercatat dalam Bab 5, dunia-dunia gay dan lesbi berdasarkan “taktik” dan tidak cukup berkuasa untuk memiliki tempat-tempat masyarakat “normal” secara langsung. Akibatnya, praktik yang dibadankan berperan utama dalam menciptakan “pulau-pulau” kehidupan gay dan lesbi. Melalui praktik (perilaku yang menjadi kebiasaan), menjadi gay atau lesbi lebih daripada seks sesama-gender: menjadi gay atau lesbi merupakan gaya hidup. Rumit untuk berbicara tentang gaya, karena di Barat seksualitas non-heteroseksual sering dipinggirkan dengan alasan mereka hanya “gaya hidup” saja. Namun kalau dipandang dari segi dunia-dunia gay and lesbi sendiri, gagasan “gaya” ternyata berguna untuk mengerti subyektivitas-subyektivitas gay dan lesbi. Konsep “gaya” telah menjadi penting di nusantara sejak zaman kolonial, dan tetap penting bagi kaum gay dan lesbi Indonesia.

Istilah “gaya” telah muncul dalam nama GAYa Nusantara (gaya nusantara, gaya In-donesia) dan dalam nama kelompok-kelompok yang menghubungkan diri dengan jaringan nasional ini, dengan melampirkan istilah yang dietnolokalisasikan pada GAYa. Konseo “gaya” juga muncul dalam pembicaraan sehari-hari kaum gay dan lesbi Indonesia, misalnya ketika berbicara “gaya modern,” “gaya kumpul,” “gaya pacaran,” maupun “gaya lelaki” dan “gaya perempuan.”

“Gaya” dan “cara” (yang hampir sama artinya) sudah lama merupakan istilah yang populer di nusantara. Kepedulian “gaya” salah satu cara pokok di mana “orang asli” Hindia-Belanda menafsirkan diri mereka sebagai berbeda dengan penjajah-penjajah Hindia-Belanda (Pem-berton 1994:23, 65–66). Asumsi bahwa gaya bisa membedakan diri dari Yang Lain dilanjutkan dalam konsep pasca-kolonial “gaya nasional,” yang kalau dibandingkan “tradisi” yang diet-nolokalisasikan adalah lebih moderen, terlaksanakan melalui kosumerisme, dan bersum-berkan keluarga kelas menengah. Konsep “gaya” telah lama dipakai untuk membentukkan batasan sosial: gaya merupakan logika penerimaan yang berdasarkan perilaku (yaitu praktik), bukannya status.1

Para ahli teori sosial Barat telah menemukan “gaya” menjadi konsep yang ber-guna juga. Pada pertengahan abad duapuluh, sekolah teori antropologi “kebudayaan dan ke-pribadian” membangun gagasan tentang budaya sebagai suatu konigurasi kepercayaan dan praktik yang “tidak lebih sulit untuk dimengerti daripada, misalnya, pengembangan sebuah gaya seni” (Benedict 1932:26, dikutip dalam Patterson 2001:79). Dalam teori kesusastraan, Hayden White telah mendeinisikan gaya cerita sebagai “modalitas penggeseran dari sebuah penggambaran salah satu keadaan awal kepada keadan yang berikutnya” (1978:96). Gagasan tentang gaya sebagai antar-saat menggemakan gagasan tentang perbedaan-antara-ruang yang dibangun dalam tulisan para pembuat teori dari Birmingham School se-perti Dick Hebdige; untuk dia, gaya mengacu pada praktik-praktik penyimbolan yang me-nandai perbedaan di dalam salah satu kebudayaan—tingkat menengah “sub-kebudayaan”

178

antara perbedaan secara individu dan perbedaan di antara kebudayaan-kebudayaan. Dengan dibangun pada tulisan Hebdige (1979) dan Judith Butler (1990), Ferguson telah mengajukan gagasan tentang “gaya kebudayaan” sebagai “praktik yang menandakan perbedaan di antara kategori-kategori sosial” (1999:95).

Bab ini menguji tentang apa arti menjadi gay atau lesbi “gaya nusantara.” Bab ini tertarik pada praktik-praktik non-seksual di mana perasaan orang Indonesia mewujudkan kedirian sebagai gay atau lesbi. Jadi saya membahas gaya dari segi “performativitas” (perfor-mativity), suatu konsep yang sudah lama terhubung pada gender dan seksualitas (Butler 1990, 1993; Goffman 1971; Kessler dan McKenna 1985). Ada sesuatu yang terdapat dalam analisa-analisa Ferguson dan Hebdige dan juga analisa-analisa-analisa-analisa Benedict, Butler, Pemberton, White dan yang lain-lain: di antara benua, jurusan, dan tradisi teoritis, gaya dianggap mewujudkan perbedaan. Untuk mengerti subyektivitas-subyektivitas gay dan lesbi—dan seluk-beluk ke-hidupan di dunia yang sudah terglobalisasi—seharusnya ada pembaruan terhadap pemikiran tentang kerangka kesamaan dan perbedaan yang diantarai oleh “gaya.” Bisakah kesamaan menjadi lebih daripada sebuah jalan yang mengaruh ke perbedaan? Ini adalah pertanyaan yang diajukan oleh “gaya nusantara”—sebuah gaya yang, secara paradoks kalau dipandang dari sudut pemikiran kontinental, menggunakan perbedaan untuk menciptakan kesamaan.

KEDIRIAN LESBI YANG “PERFORMED” (DIPERTUNJUKKAN)

Batasan antara Cewek/Tomboi

Sebuah kesimpulan pengetahuan feminis yang sudah lama dan kuat adalah bahwa “sering kerangka yang memisahkan dan membedakan lelaki dari perempuan (dan memang mem-buat lelaki lebih dihargai dibandingkan perempuan) juga berfungsi di dalam kategori-kategori gender, sehingga membuat perbedaan dan tingkat-tingkat di dalam mereka” (Ortner dan Whitehead 1981:9). Dari satu segi, hal ini tidak mengherankan: binarisme maskulin-feminin merupakan dasar pembentukan heteroseksualitas di seluruh dunia, dan banyak jenis homo-seksualitas di seluruh dunia telah dibentuk oleh kerangka kerja dominan ini. Namun pergen-deran internal posisi-posisi subyek gay dan lesbi berbeda.

Salah satu perbedaan yang paling tajam dan berarti di antara posisi-posisi subyek gay dan lesbi adalah mengenai maskulinitas dan femininitas. Perbedaannya ini bukan prin-sip dasar pada subyektivitas-subyektivitas gay. Ada lelaki gay yang lebih suka laki-laki yang kebapakan, tetapi ini dilihat sebagai selera pribadi, dan tidak disamakan dengan jenis orang. Sebaliknya, bagi sebagian besar perempuan lesbi, posisi subyek lesbi tidak bisa diduduki secara langsung. Perbedaan tajam di antara feminin dan maskulin mewujudkan kedirian, hubungan seksual, dan pergaulan: kebiasaannya adalah bahwa hubungan seksual terjadi di antara perempuan lesbi maskulin dan perempuan lesbi feminin,2 tidak di antara dua orang perempuan lesbi maskulin atau dua perempuan lesbi feminin. Ada perempuan lesbi (ke-banyakannya dari kelas atas) yang tidak mendasarkan nafsu seksual mereka dengan acuan BAB ENAM//

179

pada pembagian gender feminin dan maskulin, namun pembagian ini paling sering dipakai. Subyektivitas dan nafsu lesbi ini, yang tampaknya bersifat heterogender (Faderman 1992), mungkin seakan-akan sesuatu yang diimpor, karena perbedaan butch/femme (berpenampil- an maskulin/feminin) sering memainkan peran penting dalam komunitas perempuan lesbian di Barat (Halberstam 1998; Kennedy dan Davis 1993; S. Wieringa 1999a), tanpa pengimbang dalam komunitas lelaki gay. Namun ketika gay terwujud di (tidak “diglobalkan pada”) Indone-sia, gay terwujud dalam konteks posisi subyek waria yang sudah terkenal. Jadi, posisi subyek gay akhirnya mengacu ke “suka sama” di dalam kategori maskulinitas. Lelaki gay dan waria sering berteman, tetapi bagi mereka yang berhubungan seks gay sama waria, sangat diang-gap aneh. Pentingnya, tidak ada pengimbang perempuan untuk posisi subyek “waria” ketika posisi subyek lesbi tercipta di Indonesia: perempuan yang maskulin dan perempuan trans-gender (perempuan-ke-lelaki) tentu saja ada, tetapi tidak dikenal secara publik sebagai jenis orang, seperti “waria.” Akibatnya, posisi subyek lesbi memasukkan tidak hanya perempuan yang tertarik perempuan (baik bergender maskulin maupun feminin), tetapi juga tomboi, yaitu orang-orang yang terlahir dengan tubuh perempuan, yang merasa bahwa diri mereka berjiwa laki-laki dan sering berjuang untuk dianggap sebagai lelaki (ataupun sebagai tomboi) oleh masyarakat.

Konsekuensi dari hal ini bermacam-macam. Perasaan bahwa “tomboy” dan “lesbi” mungkin merupakan posisi-posisi subyek lain dibuat lebih rumit dengan adanya fakta bahwa walaupun lelaki gay dan waria jarang berhubungan seks, tomboi dan cewek meru-pakan pasangan seks yang ideal. Dan lagi, seperti “gay” dan “lesbi” (namun tidak seperti “waria”), “tomboy” dipahami sebagai konsep “asing” yang telah di-Indonesiakan. “Tomboi” tidak muncul dalam kamus Indonesia tahun 1976 (“lesbian” muncul, tetapi “gay” tidak ada [Poerwadarminta 1976:592]). Namun pada tahun 1991 sudah muncul deinisi tomboi sebagai “anak perempuan bertipe aktif, penuh petualangan seperti anak laki-laki.” Bahwa “tomboy” sudah di-Indonesiakan sampai titik ini dibuktikan oleh fakta bahwa istilah tersebut sudah bisa muncul dengan suix ke-an untuk membentuk kata benda abstrak “ketomboian” (Salim dan Salim 1991:1630). Walaupun begitu, penggunaan bahasa Indonesia untuk tomboi ini tidak me-nandai posisi subyek sosial, tetapi mengindikasikan apa yang dipahami menjadi karakteristik sementara dan lunak dari gadis-gadis muda.3 Penggunaan istilah tomboi untuk memberi label suatu posisi subyek seksual dewasa dibangun dari pemahaman ini, dalam cara yang tidak mempunya pengimbang dalam kasus-kasus istilah “waria,” “gay,” atau “lesbi.” Jadi subyektivitas tomboi ternyata disulih-suarakan terhadap Barat dan budaya populer Indonesia keduanya.

Konsekuensi terpenting dari penyulih-suaraan rangkap ini adalah bahwa ada dis-kusi aktif di antara para tomboi, seperti tentang apakah mereka merupakan sub-kategori dari posisi subyek “lesbi,” atau posisi subyek transgender yang terpisah, pengimbang posisi subyek “waria.” Seperti yang diungkapkan seorang perempuan lesbi dari Bali: “tidak semua tomboi lesbi, dan tidak semua perempuan lesbi tomboi.” Dalam Bab 5 saya menceritakan tentang pembentukan sebuah organisasi di Bali utara dengan tiga pemimpin—satu lesbi, satu //PRAKTIK-PRAKTIK KEDIRIAN, TES-TES KEPERCAYAAN

180

gay, dan satu waria. Ide yang keempat, yakni pemimpin tomboi, nampaknya tidak muncul. Hal ini mencerminkan bagaimana tomboi sering dipandang sebagai sejenis perempuan lesbi, sementara waria merupakan posisi subyek tersendiri. Walaupun setahu saya tidak pernah terjadi bahwa ada waria yang mendaftarkan diri di bagian perkawanan dalam majalah gay, tomboi sering mendaftarkan diri dalam majalah lesbi. Misalnya, pada edisi April 1998 majalah MitraS, seorang “Ray”, duapuluh tahun, menyatakan diri sebagai “L” (lesbi), tetapi kemudian dia mengatakan “saya seorang tomboi, dengan kulit terang dan tubuh sedang.” Dalam edisi Februari 1998 majalah tersebut, “Wiwied Tomboy,” duapuluh lima tahun, mencari perempuan yang “intim dan hangat.” Dalam pertama dari sekian adegan dalam Menguak Duniaku di mana media massa memainkan peran yang penting, Hen, seorang tomboi, membaca ten-tang operasi ganti kelamin pertama di Indonesia, yang dilakukan oleh seorang waria, Vivian: “Di antara heningnya suasana malam, aku berdoa pada Tuhan, semoga Tuhan memberikan yang sebaliknya dari Vivian padaku.... Ingin aku ceritakan kepada Mamah, kepada Ayah, bahwa aku pun sama halnya dengan Vivian” (Prawirakusumah dan Ramadhan 1988:51).

Jadi, “suka sama” yang mewarnai subyektivitas gay lebih rapuh bagi perempuan lesbi. Batas antara “lesbi” dan “tomboi” begitu rumit, sehingga sering sulit untuk meng-etahui bila seorang perempuan tertentu menganggap dirinya sendiri sebagai homoseksual atau transgender—sebagai lesbi, tomboy, atau keduanya. Seperti kata Rita, seorang tomboi yang berasal dari Jawa Tengah tetapi hidup di Surabaya: “Saya tidak merasa sebagai perem-puan, saya tidak merasa sebagai lelaki. Dan kebanyakan teman-teman lesbi saya merasakan begini.” Blackwood (1999) menceritakan tentang bagaimana dia jatuh cinta kepada seseorang yang dia berasumpsi adalah perempuan lesbi di Sumatra Selatan. Hanya setelah beberapa waktu Blackwood menyadari bahwa Dayan, kekasih “tomboy”-nya, ternyata menganggap dirinya sebagai laki-laki. Hampir tidak mungkin bagi seseorang salah mengira bahwa se-orang waria adalah sese-orang lelaki gay dengan cara begitu. Waria sering mengatakan bahwa mereka salah dianggap perempuan, bukan lelaki gay.

Jadi, sementara menjadi tomboi bisa dikerangkakan sebagai salah satu jenis maskulinitas perempuan (seperti ketika seorang tomboi yang menyatakan “Ya, saya tidak ingin menjadi laki-laki. Bukannya bahwa saya bisa dengan tubuh ini” [Graham 2001:1]), posisi subyek tomboi sering dihubungkan dengan transgenderisme. Ini tentu merupakan pe-mahaman Hen dalam Menguak Duniaku. Ketika membaca tentang “perkawinan” Jossie dan Bonnie tahun 1981 (lihat Bab 2), Hen heran bahwa Bonnie, seorang cewek yang “sebelumnya katanya normal-normal saja: berpacaran selalu dengan laki-laki,” tidak ingin Jossie, seorang tomboi yang telah disebut “banci” sebagai kanak-kanak, melakukan operasi perubahan seks (Prawirakusumah dan Ramadhan 1988:304). Dia mengatakan kepada seorang cewek, kekasihnya: “aku bukan seorang lesbian, karena aku akan berperan sebagai seorang laki-laki dengan wanita yang kugauli... justru kamulah yang lebih pantas untuk dikatakan sebagai seorang lesbian” (265).

Dalam pengertian ini, suatu “gaya” maskulin menghalangi untuk menganggap diri sebagai perempuan, suatu sikap yang telah saya temui dalam kerja lapangan saya: pernah BAB ENAM//

181

sekali ketika saya bertanya Sukma apakah ada teman-teman hunternya (tomboinya) yang merasa bahwa mereka laki-laki, dia menjawab: “Kamu tidak perlu berbicara tentang teman-temanku, aku sendiri merasa seperti itu.” Sementara operasi ganti kelamin perempuan-ke-lelaki jarang terjadi di Indonesia (saya belum menemui kasus seperti itu), beberapa tomboi pernah mengatakan bahwa kalau mampu dan bisa, mereka ingin melakukannya. Namun tanpa melihat pada pandangan mereka tentang isu ini, setahu saya semua tomboi melihat diri mereka sebagai memiliki jiwa lelaki dalam tubuh perempuan. Keadaan ini merupakan paralel di antara para tomboi dan para waria, yang kepemilikan jiwa perempuannya sering dipahami untuk menghasilkan penampilan femininitas dan hasrat mereka terhadap lelaki dua-duanya.

Pertanyaan tentang apakah penampilan maskulinitas tomboi menghasilkan hasrat terhadap perempuan, atau sebaliknya, telah menjadi titik kunci diskusi dalam literatur tentang perempuan lesbi. Hubungan sebab akibat dari yang disebut terdahulu nampaknya lebih cocok dengan data etnograis: “dominasi model normatif gender dan heteroseksualitas mendorong para tomboi untuk membangun perilaku dan nafsu mereka terhadap perempuan berdasar-kan model maskulinitas…. Karena telah dibentuk gender maskulin… [tomboi] menyataberdasar-kan hasrat seksual terhadap perempuan” (Blackwood 1999:189,190). Seperti pada waria, ketidak-cocokan gender mungkin terjadi tidak hanya secara kronologis, tetapi secara penyebaban sebelum hasrat terhadap perempuan dalam kehidupan tomboi. Namun seimbang dengan pernyataan beberapa waria bahwa nafsu mereka terhadap lelaki mengakibatkan pengen-deran non-normatifnya, beberapa tomboi memandang nafsu mereka terhadap perempuan sebagai kunci terhadap subyektivitas mereka: “[Kamu] salah mengerti dengan yang kumak-sudkan berjiwa laki-laki. Bukan karena kekuatan, keberanian, atau keteguhanku, tapi karena obyek cintaku adalah seorang wanita” (Prawirakusumah dan Ramadhan 1988:280).

Tanpa memandang tentang bagaimana mereka melihat keaslian subyektivitas mereka, tomboi tetap terhubung pada kebudayaan nasional. Misalnya, kehidupan ideal bagi kebanyakan tomboi—kehidupan yang mereka tahu hampir tidak mungkin terdapatkan—ada-lah membangun rumahtangga kelas menengah sejajar dengan gambaran wacana nasional: “Aku telah memutuskan untuk melangkah sebagai seorang laki-laki, dan bercita-cita mendi-rikan rumah tangga, beristri serta mempunyai beberapa orang anak, meskipun mereka ada-lah anak-anak yang aku angkat dari panti asuhan. Apakah mereka tidak tahu, bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan laki-laki dan wanita, tapi juga menciptakan manusia serperti aku, seperti [waria] Umi Yasumi?” (Prawirakusumah dan Ramadhan 1988:201–202).

Cewek dan tomboi cenderung memiliki jalan kehidupan berbeda, yang meng-ingatkan perbedaan antara posisi-posisi subyek gay dan waria: tomboi (seperti waria) cen-derung untuk memamerkan “penyimpangan” gender waktu anak-anak, sementara cewek (seperti lelaki gay) cenderung untuk menganggap diri sebagai cewek atau gay hanya kalau sudah berumur belasan tahun atau awal duapuluhan, dan belum tentu “menyimpang” dari kebiasaan gender. Meskipun demikian, penggeseran antara batasan cewek/tomboi kadang-kadang terjadi. Ati, seorang tomboi di Makassar, mengacu hal ini sebagai “lines [cewek] bisa

182

lari ke hunter [tomboi]”; temannya yang tomboi, Sukma, bahkan mengistilahkan keadaan ini sebagai seorang cewek “ke luar daerah.” Ati dan Sukma, seperti kebanyakan perempuan les-bi yang saya temui dalam penelitian lapangan saya, merasa bahwa tomboi tidak les-bisa menjadi cewek. Mungkin bahwa pembadanan subyektivitas tomboi, demikian juga kebanyakan tom-boi mulai menduduki posisi subyek itu ketika masih muda, mengakibatkan menginggalkan “gaya” tomboi luar biasa sulit.

Pertanyaan komparatif dimunculkan oleh fakta bahwa di negara-negara Asia Teng-gara (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dll.) ada perempuan-perempuan dengan nafsu untuk sesama jenis yang menyebut diri mereka sendiri dengan istilah yang “disulih-suara-kan” dari istilah Inggris “tomboy” (mis. Sinnott 2004). Ini merupakan perbedaan tajam dengan waria, yang mempunyai istilah-istilah khusus (waria di Indonesia, mak nyah dan pondan di Malaysia, bakla dan bantut di Filipina, kathoey di Thailand, dan sebagainya). Walaupun para “tomboi” jarang mengetahui bahwa ada orang-orang serupanya di negara-negara tetangga, mereka berbagi banyak sifat. Apakah “tomboy” subyektivitas transgender perempuan-ke-lelaki translokal yang baru, lebih berkaitan dengan sebuah jaringan global subyektivitas, dibandingkan dengan subyektivitas transgender lelaki-ke-perempuan seperti waria dan kathoey?

Menjadi Cewek, Menjadi Tomboi

Berdasarkan penelitian lapangan saya dan penelitian ilmuwan lain, jelas bahwa dalam paka-ian, sikap, dan cara berbicara mereka, cewek sebenarnya tak dapat dibedakan dari perem-puan normal: mereka dilihat sebagai “asli wanita.” Pada umumnya, seorang cewek memiliki “rambut sepanjang bahu dan bergelombang, mengenakan rias wajah dan pemerah bibir, serta berkuku panjang” (Blackwood 1999:188). Mereka “bisa selalu

dianggap perempuan ‘normal’ oleh orang awam… [mereka] berdandan secara berlebihan, dengan baju-baju dengan pita yang berjumbai-jumbai. Mereka selalu mengenakan rias muka tebal dan sepatu tinggi. Beberapa dari mereka memiliki pekerjaan sebagai sekretaris atau menjual kosmetik. Yang lain sebagai pekerja seks” (S. Wieringa 1999a:217). Menurut seorang tomboi, seorang cewek adalah “seorang perempuan yang merasa seperti perempuan, tetapi dia tidak menyukai lelaki. Dia menyukai perempuan yang memiliki gaya laki-laki” (Graham 2001:fn9). Akibatnya, “tidak ada tanda-tanda tertentu atau ‘berjabat tangan rahasia’ [untuk mengidentiikasikan cewek]… kecuali istilah [bahasa gay] untuk lesbian seperti ‘Lisa Bonet/ Lisbon’” (A. Murray 1999:146).

Gaya menjadi cewek biasanya tidak dipertunjukkan dalam hal berpakaian atau pembawaan diri, tetapi di tingkat nafsu. Di seluruh Indonesia dan banyak negara lain di Asia Tenggara, ada kebiasaan bahwa penampilan gender akan sesuai dengan nafsu seksual, seja-jar dengan pola pikiran lebih luas bahwa “sikap tubuh—postur dan cara bertindak seseorang, nada suara—selalu diperhatikan dan dibaca sebagai tanda-tanda keadaan moral di dalam” (S. Errington 1990:17). Akibatnya, para lesbi cewek (dan lelaki gay maskulin) merupakan tan-BAB ENAM//

183

tangan terhadap rezim seks/gender dominan di Indonesia yang lebih besar dibandingkan dengan tomboi (dan waria): “suka sama” mereka melanggar asumsi bahwa seksualitas ber-fungsi melalui perbedaan gender (maskulin dan feminin). Cewek-cewek “berlagak keperem-puanannya, tetapi masih pemberontak terhadap pelarangan yang biasanya diterapkan pada perempuan” (Graham 2001:fn9). Ini memberikan tantangan pada teori-teori performativitas gender karena “bagi banyak teori gender, ambiguitas telah menjadi hal yang membiarkan dan bahkan mengharuskan adanya formasi perbedaan gender” (Morris 1995:570).

Seperti kita tidak bisa menjadi waria bila kita terlahir dengan memiliki vagina, kita tidak bisa menjadi tomboi bila kita terlahir dengan memiliki penis. Tomboi di seluruh Indonesia ber-bagi pengalaman tentang gerakan menjauhi dari femininitas normatif, dan tomboi sering mengakui bahwa pada akhirnya kodrat mereka sebagai perempuan: ini merupakan satu dari banyak cara di mana posisi subyek tomboi adalah pengimbang posisi subyek waria. Ini memang ternyata merupakan pengimbang secara gender, seperti konsep-konsep Barat male-to-female (MTF) versus female-to-male (FTM). Waria dan tomboi kadang-kadang ber-bicara tentang bagaimana mereka berbagi kondisi tentang (1) memiliki jiwa satu gender yang terkungkung dalam tubuh gender lain dan (2) berpakaian seperti lawan jenis (cross-dressing). Akibatnya, tomboi kadang-kadang disebut “banci” atau “banci perempuan” oleh kaum “nor-mal” Indonesia. Namun waria dan tomboi tidak dipandang secara paralel seperti terhadap gay dan lesbi. Ini karena posisi subyek waria merupakan bagian kebudayaan publik sampai suatu tingkat yang jauh lebih tinggi dibandingkan posisi subyek tomboi di mata masyarakat umum: bagi kebanyakan orang Indonesia, istilah “tomboi” masih mengacu pada gadis-gadis yang melakukan hal-hal yang diharapkan akan dilakukan oleh anak laki-laki, seperti memanjat pohon.

Performativitas subyektivitas tomboi biasanya dimulai pada masa kanak-kanak dan berfokus pada pakaian yang kelaki-lakian, gunting rambut sehingga pendek, dan kegiatan bermain (tomboi sering menekankan bagaimana mereka tidak pernah suka main boneka). Dalam hal ini, lintasan subyektivitas tomboi merupakan pengimbang lintasan subyektivitas waria, tetapi dengan perbedaan pokok bahwa posisi subyek tomboi sangat tidak dikenal. Sementara ketidakcocokan gender laki-laki bisa cepat ditempatkan dalam kategori waria, perempuan yang gendernya “menyimpang” dapat mendapat manfaat dari ambiguitas antara artian standar Indonesia “tomboi” dan arti transgender “tomboi” yang kurang dikenal.4 Ini sebabnya mengapa Sukma jarang diganggu di jalanan di Makassar, bahkan di waktu malam: “Mereka mungkin berpikir bahwa saya seorang perempuan yang ketomboian [maskulin], tetapi mereka tidak tahu bahwa saya seorang hunter [tomboi]”.

Beberapa tomboi mengatakan bahwa mereka menjadi tomboi karena orangtuanya memberi pakaian kepada mereka seperti anak laki-laki. Seorang responden tomboi meng-ingat, “Saya telah menjadi maskulin sejak kecil. Karena semua anaknya perempuan, jadi ayah saya memberi pakaian laki-laki kepada saya ketika saya kecil” (lihat juga Graham 2001:21). Yang lain mengatakan bahwa mereka menjadi tomboi setelah dirayu oleh cewek (tidak

184

nah oleh tomboi). Kebanyakan tomboi menyatakan bahwa mereka berdandan dan bersikap seperti laki-laki sebelum mereka bernafsu kepada perempuan, yakni sering ketika mereka masih kanak-kanak. Namun beberapa dari responden tomboi saya juga melaporkan bahwa mereka memiliki nafsu terhadap perempuan sejak mereka muda, seperti karakter Hen dalam Menguak Duniaku: “Sewaktu saya duduk di kelas tiga sekolah dasar, berpuluh-puluh kawan mananggilku si banci.... Saya mengerti, mengapa seorang demi seorang wanita yang saya dekati, wanita yang saya senangi, menjauhi sambil menudingkan jarinya, lalu meneriak-kan ‘Kamu banci...! Kamu banci...!’” (Prawirakusumah dan Ramadhan 1988:263).

Dalam dokumen Gay Archipelago bahasa Indonesia (Halaman 178-200)

Dokumen terkait