• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Saran

2. Bagi Praktisi Kesehatan Mental

Peran serta praktisi kesehatan mental diperlukan untuk mengembangkan program promosi kesehatan mental yang berdasar dari dimensi Kesejahteraan Psikologis.

89

DAFTAR PUSTAKA

Alwisol. (2008). Psikologi Kepribadian. Malang: UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang

Art,S. (2012, 13 Juni). Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN): Delapan Fungsi Keluarga Wahana Menuju Keluarga Sejahtera. Dipungut

24 November 2012 dari:

http://www.bkkbn.go.id/ViewArtikel.aspx?ArtikelID=35

Badan Pusat Statistik (BPS). (2008). Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan 2008. Jakarta: Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik (BPS). (2011). Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan 2011. Jakarta: Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik (BPS). (2012). Kemiskinan: Jumlah dan presentase Penduduk Miskin, Garis Kemiskinan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1), dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Provinsi, Maret 2012.

Dipungut 25 November 2012 dari:

http://bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=2 3&notab=1

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional ( BAPPENAS). (2010). Data Kemiskinan Indonesia tahun 2010. Jakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Bashin, Kamla. (1996). Menggugat Patriarki. Yogyakarta: Kalyanamitra dan Bentang

Baumgardner, S. R & Crothers, M. K. (2009). Positive Psychology. New Jersey: Prentice Hall

Beiser, M., Hou, F., Hyman, I., Tousignant, M. (2002) Poverty, Family Process, and the Mental Health of Immigrant Children in Canada. American Journal of Public Health. February 2002, Vol. 92, No. 2, pp. 220-227.

Dipungut 3 Desember 2012 dari:

http://ajph.aphapublications.org/doi/abs/10.2105/AJPH.92.2.220

Christopher, John. C. (1999). Situating Psychological Well-Being; Exploring The Cultural Roots of Its Theory and Research. Journal of Counseling & Development. Spring 1999. Volume 77

Cyrillus, Galih. (2008). Hubungan Kepribadian Hardiness dan Kesejahteraan Psikologis pada Lansia. Skripsi (tidak diterbitkan). Fakultas Psikologi. Universitas Sanata Dharma.

Dalton, J. H., Elias, M. J., & Wandersman, A. (2001) Community Psychology: Linking Individuals and Communities. USA: Wadsworth

Diener, E., Diener, R. B. (2002). Will Money Increase Subjective Well-Being? A Literature Review and Guide to Needed Research. Social Indicators Research. 57. 119-169

Diener, E., Lucas, R., and Oishi, S. (2009). Subjective Well-Being: The Science of Happiness and Life Satisfaction. Oxford Handbook of Positive Psychology. Oxford University Press.

Easterlin, R. A. (1995). Will Raising The Incomes of All Increase The Happiness Of All?. Journal of Economic Behavior and Organization. Vol. 27, 35-47 Java Reconstruction Fund (2010). Dokumen Rencana Penataan Permukiman Desa

Kembanglimus. Klaten: District Management Consultant (DMC).

Joseph, S., Wood, A. (2010). Assessment of Positive Function in Clinical Psychology. Theoritical and Practical Issues. Clinical Psychology Review. 30, 830-838

Layard, R. (2003). Happines: Has a Social Science a Clue?. Dipungut 5 Agustus 2011 dari: http://stoa.org.uk/topics/happiness/Happiness- HasSocialScienceAClue.pdf

Lehtinen, V., Riikonen, E., Lehtinen, E. (tanpa tahun). Promotion of Mental Health on the European Agenda. Dipungut 11 Desember 2012 dari http://groups.stakes.fi/NR/rdonlyres/F744090C-6539-484D-A87A-

36BFDFE0CACE/0/Promotion.pdf

Listyawati, A. (2003). Peningkatan Kesejahteraan Keluarga Miskin Melalui Kube Di Desa Gayamharjo, Sleman. Media Informasi Penelitian. No. 175. Tahun Ke 27, Juli- September. 16-29

Maltby, J., Day, L., Barber, L, (2005). Forgiveness and Happiness : The Differing Context of Forgiveness Using The Distincion Between Hedonic and Eudamonic Happiness. Journal of Happiness Studies. 6, 1-13

Narbuko, C & Achmadi, A. (2010). Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara Nevid, J. S, Rathus, S. A, & Grene, B. (2005). Psikologi Abnormal. Jakarta:

Ningtyas, Eka. (2010, 02 Oktober). Tak Mampu Biayai Pengobatan Istri, Suami Gantung Diri. Tempo. Dipungut 5 Agustus 2011 dari: Http://Www.Tempo.Co/Read/News/2010/2010/10/02/180282095/Tak- Mampu-Biayai-Pengobatan-Istri-Suami-Gantung-Diri

Noya, Andy. F. (2012, 15 Juni). Kick Andy: Dahlan Iskan. Kick Andy. Metro TV. Poerwandari, E. Kristi; pengantar, Fuad Hasan -edisi ketiga-. (2005). Pendekatan

Kualitatif Untuk Perilaku Manusia. Jakarta: LPSP3 UI.

Ryan, R. M., Deci, E. L. (2001). On Happines and Human Potentials : A Review of Research on Hedonic and Eudamonic Well-Being. Annual Review of Psychology. 52, 141-166

Ryff, C. D. (1989). Happiness Is Everything, or Is It? Exploration on the Meaning of Psychological Well-Being. Journal of Personality and Social Psychology. Vol. 57, No.6, 1069-1081

Ryff, C. D., Keyes, C. L. (1995). The Stucture of Psychological Well-Being Revisited. Journal of Personality and Social Psychology. Vol.57, No.6, 1069-1081

Ryff, C. D., Keyes, C. L., Shmotkin, D. (2002). Optimizing Well-Being : The Empirical Encounter of Two Tradition. Journal of Personality and Social Psychology. Vol. 82, No.6, 1007-1022

Ryff, C. D., Singer, B. H. (2008). Know Thyself and Become What You Are : a Eudamonic Approach to Psychological Well-Being. Journal of Happiness

Studies. Dipugut 8 Juli 2012 dari:

http://ioa126.medsch.wisc.edu/midus/findings/pdfs/692.pdf

Santoso, T. W. (2007, 8 Oktober). Penyebab Utama Kemiskinan: 50.000 Orang

Indonesia Bunuh Diri. VHRmedia.com. Dipungut 15 Agustus 2011 dari:

Http://Www.Vhrmedia.Com/Vhr-

News/BeritaDetai.Php?.E=883&.G=News&.S=Berita

Santrock, J. W. (2002). Life Span Development (Perkembangan Masa Hidup) Jilid 1. Jakarta: Erlangga

Sawabi. (2008, 3 Desember). Mardiana Ajak Anak Ceweknya Tenggak Racun.

Kompas. Dipungut 5 Agustus 2011 dari:

Http://Regional.Kompas.Com/Read/2008/12/03/17041454/Mardiana.Ajak. Anak.Ceweknya.Tenggak.Racun

Setyaningrum, D., Fitria, N., Hernawaty, T. (tanpa tahun). Gambaran Fungsi Keluarga Pada Warga Binaan Remaja Di Rumah Tahanan Kelas 1 Bandung. Fakultas Ilmu Keperawatan. Universitas Padjajaran Bandung.

Dipungut 17 Desember 2012 dari:

http://jurnal.unpad.ac.id/index.php/ejournal/article/viewFile/741/787 Sharp, L. K., and Lipsky, M. S. (2002). Screening for Depression Across The

Lifespan: A Review of Measures for Use in Primary Care Settings. Journal of American Academy of Family Psysicians. 66(6):1001-1009. Http://Www.Aafp.Org/Afp/2002/0915/P1001.Html

Springer, K. W., Hauser, R. M. (2006). An Assessment of The Construct Validity of Ryff’s Scales of Psychological Well-Being : Method, Mode, and Measurement Effects. Elsevier. www. Elsevier.com/locate/ ssresearch. Social science research 35,1079-1101

Steel, P., Ones, D. S. (2002). Personality and Happiness: A National Level Analysis. Journal of Personality and Social Psychology. Vol.83, No.3, 767-781

Sugono, Dendy. (2011). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia

Sumule, R. (2008). Psychological Wellbeing Pada Guru Yang Bekerja Di Yayasan Pesat Nabire. Universitas Gunadharma. Dipungut 20 Juli 2011 dari: http://repository.gunadarma.ac.id/handle/123456789/1905

Susanto, Heri, (2010, 22 September). Negara Terkaya-Termiskin, Di Mana Indonesia?. VivaNews.com. Dipungut 7 Agustus 2011 dari: Http://Bisnis.News.Viva.Co.Id/News/Read/178888-Negara-Terkaya--- Termiskin--Dimana-Indonesia-

Tabel 7. Hasil Koding

No Aspek Tema Sub Tema Kode

1. A. Penerimaan diri

1. Syukur a. Bisa bersyukur A.1.a

2. Alasan syukur a. Hidup tidak selamanya enak, pasti ada susahnya A.2.a

b. Bisa bekerja dan makan sudah cukup A.2.b

3. Cara bersyukur

a. Ucap syukur kepada Tuhan A.3.a

b. Tidak mengeluh A.3.b

c. Jalani hidup apa adanya A.3.c

d. Tetap senang dan tidak bersedih A.3.d

4. Menerima keadaan

a. Tidak sepenuhnya menerima: ada upaya untuk keluar dari keadaan

A.4.a

b. Harus bisa menerima A.4.b

5. Alasan menerima keadaaan

a. Sadar keterbatasan: kemampuan diri terbatas, sulit mencari pekerjaan

A.5.a

b. Kepasrahan kepada Tuhan: hidup berjalan sesuai keadaan, Rejeki ditentukan Tuhan

6. Sesal a. Tidak menyesal A.6.a

7. Alasan tidak sesal

a. Sesal hanya menyakiti hati A.7.a

b. Tuhan telah mengatur kehidupannya A.7.b

c. Manusia sebaiknya berusaha dan berdoa A.7.c

8. Cara pandang terhadap penerimaan keadaan hidup

a. Penerimaan terhadap keadaan hidup tergantung dengan

cara pandang dan pola pikir masing-masing. A.8.a b. masalah cukup atau tidak cukup itu relatif. Bila

bersyukur pasti cukup. A.8.b

2. B.Penguasaan Lingkungan

1. Kesulitan hidup

a. Ada kesulitan hidup B.1.a

b. Masalah ekonomi: Sulit mencari uang, sulit mencukupi

kebutuhan B.1.b

2. Sebab kesulitan hidup a. Masih karyawan kontrak sehingga dapat diberhentikan

kerja B.2.a

3. Dampak kesulitan hidup a. Makan seadanya B.3.a

b. keharmonisan dalam keluarga terganggu B.3.b 4. Kemampuan mengatasi

kesulitan hidup a. Dapat mengatasi B.4.a

5. Cara mengatasi kesulitan hidup

a. Bekerja B.5.a

b. Mengandalkan hasil panen B.5.b

c. Pengendalian diri: Menekan keinginan membeli,

No Aspek Tema Sub Tema Kode

3. C. Hubungan Positif

1. Hubungan baik dengan

orang lain a. Punya hubungan baik C.1.a

2. Alasan hubungan baik a. Tetangga juga baik-baik C.2.a

3. Cara menjalin hubungan baik

a. Menentukan sikap: gotong royong, tidak ada iri dan

dengki dengan orang lain C.3.a

b. Berinteraksi dengan orang lain C.3.b

c. Mengikuti kegiatan yang ada: Kerja bakti, Mendapat

undangan bersedia datang C.3.c

4. Kesulitan dalam menjalin hubungan baik

a. Ada kesulitan C.4.a

b. Tidak ada kesulitan C.4.b

5. Sebab kesulitan menjalin hubungan baik

a. Waktu yang terbatas karena bekerja C.5.a

b. orang bermacam-macam: ada yang suka dan ada yang

tidak suka dengan kita C.5.b

6. Cara mengatasi kesulitan dalam menjalin hubungan baik

a. Mendiamkan saja C.6.a

b. Berharap orang lain berubah dan mengetahui maksud

c. Menyadari bahwa setiap orang memiliki sifat masing-

masing, ada yang baik juga yang sombong. C.6.c

d. Baik terhadap orang tersebut C.6.d

e. berinteraksi dengan orang lain bila ada waktu senggang: Mengajak orang lain mengobrol, Mendatangi rumah orang lain bila ada waktu

C.6.e

f. Menyikapi dengan arif orang yang tidak menyukai dan

membicarakan dibelakang C.6.f

g. mengambil sisi positif dari permasalahan C.6.g 7. Cara pandang terhadap

orang lain

a. orang yang terpandang terkadang sombong, orang

kadang ada yang baik hati, kadang sombong C.7.a 8. Kesulitan dalam menjaga

hubungan baik

a. Ada kesulitan C.8.a

b. Tidak ada kesulitan C.8.b

9. Sebab kesulitan menjaga hubungan baik

a. sulit menjaga sikap C.9.a

b. adanya selisih dan ketidakcocokan. C.9.b

10.Cara mengatasi kesulitan dalam menjaga hubungan

a. Komunikasi dengan tidak menyakiti: menjaga omongan,

baik b. berusaha memperbaiki diri C.10.b 11.Cara menjaga hubungan

baik

a. Bersikap baik dan menjaga tingkah laku terhadap orang

lain C.11.a

b. menghargai orang lain C.11.b

12.Cara pandang terhadap suatu hubungan baik

a. hubungan baik dapat terjaga bila orang saling membutuhkan dan saling menghargai pendapat dan masukan orang lain. Sehingga terjadi hubungan yang saling menguntungkan

C.12.a

b. Hubungan dapat terjalin ataupun terjaga tergantung

No Aspek Tema Sub Tema Kode

4. D.Tujuan Hidup

1. Tujuan yang dimiliki

a. Kesejahteraan keluarga: Dapat menyekolahkan anak , Membahagiakan keluarga, Membimbing keluarga dengan baik, Hidup tentram dalam keluarga

D.1.a

b. Kesejahteraan ekonomi: Hidup bahagia dan sejahtera,

Mempunyai rumah sendiri, Hidup yang layak dan mapan D.1.b c. Kehidupan bermasyarakat; Kehidupan dalam

masyarakat dapat berjalan sesuai harapan D.1.c d. Untuk diri sendiri: Mencapai kesuksesan, Dapat

memperbaiki perilaku diri sendiri D.1.d

2. Cara mencapai tujuan hidup

a. Sikap mental kerja: kerja keras pantang menyerah D.2.a b. Sikap mental keikhlasan: ikhlas dalam bekerja meskipun

terasa berat akan dilakukan demi memenuhi kebutuhan D.2.b c. dengan punya usaha sendiri (membuka toko) D.2.c d. Instropeksi diri: Koreksi dan perbaiki diri D.2.d 3. Hambatan dalam

mencapai tujuan hidup

a. Keterbatasan diri: Tidak bisa sendiri, Tenaga dan

b. Keterbatasan ekonomi: Terbentur modal D.3.b 4. Cara mengatasi hambatan

dalam mencapai tujuan hidup

a. Mencari alternatif solusi lainnya D.4.a

b. Pasrah kepada Tuhan D.4.b

c. Minta pertimbangan kepada orang tua yang lebih tahu D.4.c 5. Menyerah dalam

mencapai

a. Menyerah D.5.a

b. Tidak menyerah: realistis tergantung keadaan diri D.5.b

6. Bentuk menyerah a. Malas bekerja D.6.a

5. E. Pertumbuhan Pribadi

1. Perkembangan dan pertumbuhan pribadi

a. Ada E.1.a

b. Tidak Ada: belum ada kemajuan lagi E.1.b

2. bentuk perkembangan dan pertumbuhan

a. Memiliki anak dan membiayai hidup anaknya E.2.a

b. Sudah memiliki pekerjaan E.2.b

c. ada kemajuan pada keadaan diri: memiliki rumah E.2.c

3. PP. hambatan

Pertumbuhan dan Perkembangan Pribadi

a. Kemampuan diri yang kurang berkembang E.3.a b. kurangnya relasi untuk bertukar pikiran agar dapat

melangkah maju E.3.c

4. potensi diri a. Tidak ada potensi dan kelebihan : tidak ada kemajuan E.4.a

b. Ada potensi dan kelebihan E.4.b

5. Bentuk potensi diri

a. Kualitas mental: Tidak mudah putus asa dan tetap

menjalani hidup E.5.a

b. Kemampuan bidang tertentu: mampu belajar secara otodidak mengenai mesin meskipun tidak mengenyam pendidikan

No Aspek Tema Sub Tema Kode

6. F. Otonomi

1. pengambilan keputusan

a. Mengambil keputusan sendiri F.1.a

b. Orang lain sebagai bahan pertimbangan dan dibutuhkan bila

keputusan berat/sulit F.1.b

c. Yakin dengan keputusan F.1.c

2. pandangan terhadap keputusan

a. setiap keputusan ada resiko yang harus ditanggung sendiri F.2.a b. keputusan yang diambil tanpa memikirkannya terlebih

dahulu akan membuat menyesal F.2.b

c. Pertimbangan orang lain dibutuhkan karena keputusan diri

sendiri sering tidak sesuai F.2.c

3. penyesalan dalam

Subjek 1 (SM)

1. Identitas Subjek

W1.P.SM.20Mei12

Identitas Subjek Keterangan

Nama SM

Usia 27 tahun

Jenis Kelamin Perempuan Pendidikan Terakhir SMK

Pekerjaan Buruh Pabrik

Penghasilan Rp. 650.000 Per bulan Pengeluaran Rp. 750.000 Per bulan Jumlah Anggota

Keluarga

3 orang Terdiri dari : suami, anak dan subjek. Namun, subjek masih tinggal dengan mertuanya.

Penyakit yang diderita

Lama menetap 4 tahun SM pindah ke desa Kembanglimus

tempat suaminya berasal semenjak menikah pada tahun 2008

Kegiatan sosial Di desa Kembanglimus sendiri,

terdapat pertemuan ibu-ibu PKK yang diadakan setiap bulannya, namun SM tidak pernah mengikutinya dan memilih tinggal dirumah mengurus anaknya yang masih kecil dan melakukan pekerjan rumah tangga.

Keagiatan keagamaan Di desa Kembanglimus terdapat

beberapa kegiatan keagamaan seperti pengajian dan yasinan untuk ibu-ibu, namun SM juga tidak pernah mengikutinya. SM berpendapat bahwa berdoa juga bisa dilakukan dirumah dengan sholat tepat waktu.

2. Hasil Wawancara

Subyek penelitian : SM

Waktu : Minggu, 20 Mei 2012 (11.10- 12.00 WIB) Tempat : Ruang tamu rumah SM

P : Apakah mbak bersyukur dengan hidup mbak? SM : Bersyukur

P : Gimana tha caranya mbak menyukuri dalam keadaan yang susah seperti

ini?

SM : Menerima apa adanya dengan keadaan seperti ini. P : Apakah ada penyesalan dalam diri mbak?

SM : Tidak

P : Sama skali nggak ada penyesalan? SM : Tidak

P : Mbak sebenernya ngrasa kesulitan nggak tha dengan kehidupan ini? Terus

merasa nggak berdaya gitu nggak dalam menghadapi kesulitan hidup?

SM : Merasa

P : Apa tha yang membuat mbak merasa kesulitan?

SM : Dalam hal menculupi kebutuhan. Terus untuk memenuhi kebutuhan hidup merasa kesulitan karena.. #diam... piye mbak.. bingung malahan.. le arep ngomong kie bingung malahan.. ditulis wae mbok’an mbak..

P : Waduh mbak! Nggak bisa.. ini direkam aja.. kan ini maksudnya

nggampangke mbak wong mbak tinggal ngomong.. ntar aku yang nyateteke.. ya...

Mbak kie ngrasa kesulitan memenuhi kebutuhan gitu?

SM : He’eh..

P : Nah,, nek ada kesulitan gitu, mbak bisa nggak le ngatasi? SM : Bisa

SM : Ya kita bekerja.. untuk mencari hasil untuk memenuhi kebutuhan hidup..hhmmm # diam

P : Mbak,, kalo hubungan baik ma orang lain,, mbak punya hubungan baik ma

orang lain?

SM : Punya

P : Mbak merasa kesulitan dalam menjalin hubungan baik? SM : Merasa sulit

P : Kalo ada kesulitan gitu.. mbak le ngatasi gimana?

SM : Misalnya ada temen yang pengen saya, pengen saya ajak.. opo.. hubungan baik dengan saya, nah.. tapi dia itu malah.. hmmm.. malah menilai aku yang buruk, tapi ya udah saya diemke aja. Mungkin besk kalo dia udah tau,, maksud’e,, latar belakang saya, mungkin dia berubah.

P : Nah...misalnya ada hubungan baik yang udah terjalin itu, mbak merasa kesulitan nggak jaga hubungan baik itu?

SM : Nek seumpamane wes terjalin hubungan baik kie kesulitan nggak,, gitu?

P : He’eh.. menjaga hubungan baik’e

SM : Piye yow.. piye yow kadang kesulitan,, kadang nggak

P : Kalo ada kesulitan, gimana tha carane mbak njaga hubungan itu biar tetep

baik?

SM : Berusaha njaga hubungan baik?

P : He’eh.. gimana tha carane menjaga ben hubungan’e tetep baik? SM : Sek,, piye tha iki maksud”e?

P : Kan klo tadi itu cara menjalin.. nah,, nek sekarang kan udah terjalin. Nah,,

sekarang tuw gimana tha agar hubungan’e tetep terjaga??

SM : Yow maksud’e kie kita menjaga omongan kita supaya tidak menyakitkan hati orang lain.

P : Ooohh..

Mbak.. tujuan hidupnya mbak tuw apa?

SM : Tujuan’e yow mencapai hidup yang bahagia sejahtera. Bisa nyekolahin anak P : Terus gimana tha caranya mbak berusaha supaya tujuannya mbak dapat

SM : Ya,, kita tidak boleh menyerah,, kita harus bekerja.. kita bekerja untuk mencari.. untuk mencari,, maksud’e.. untuk mencari peluang untuk memenuhi kebutuhan agar hidup kita bahagia dan sejahtera.

P : Apakah pernah mbak menyerah untuk mencapai tujuan? SM : tidak.

P : Mbak,, apakah mbak merasa kalau dalam diri mbak itu ada pertumbuhan

dan perkembangan diri?

SM : Merasa

P : Pertumbuhan dan perkembangan diri seperti apa yang mbak rasakan? SM : Maksud’e contone apa gitu?

P : Iya..

SM : Ya dulu itu sementara saya belum bekerja, sekarang udah bekerja.. piye yow mbak.. piye...

P : Klo tentang potensi, apakah mbak menyadari kalo mbak tuw punay potensi

untuk tumbuh dan berkembang?

SM : Maksud’e punya potensi pow nggak gitu pow ?

P : He’eh.. menyadari potensi nggak? Potensi dalam diri mbak tuw apa?

SM : Maksud’e piye mbak?

P : Yow mbak tuw potensinya apa?

SM : Opo y?.. yow potensi saya itu.. kan sekarang saya sudah bekerja, walaupun seberat apapun pekerjaan itu saya, akan saya lakuin dengan ikhlas karena untuk me,, untuk memenuhi kebutuhan kita.

P : Nek mengenai pengambilan keputusan. Apakah mbak itu memiliki keputusan

hidup sendiri atau tergantung orang lain?

SM : Ya... keputusan saya sendiri tapi kadang didukung oleh orang lain P :Maksudnya didukung itu, apakah orang lain ikut memberi keputusan? SM : Nggak

P : Dengan keputusan itu, apakan mbak yakin dengan keputusan-keputusan

yang mbak ambil?

SM : Yakin

SM : Ya... maksud’e kie keputusan sing tak ambil kie yakin pow ra?

P : Yakin banget ma keputusan sing mbak ambil atau terkadang yakin ma orang

lain untuk ngambil keputusan?

SM : Ya aku yakin dengan keputusanku,, tapi aku juga membutuhkan bantuan dari orang lain. Nggo pertimbangan tha mbak..

P : Untuk mengambil keputusan? SM : He’eh untuk mengambil keputusan.

Subyek Nama Berkas Sebelum Wawancara Wawancara Sesudah Wawancara SM O1.P.SM.20Mei12 Sebelum proses wawancara

dilakukan, peneliti melakukan raport dengan SM. SM terlihat santai. Namun setelah meminta ijin untuk menggunakan alat perekam selama proses wawancara, SM langsung menunjukkan wajah ketegangan.SM sempat tidak mau untuk diwawancarai karena ia merasa tidak bisa. Namun setelah dibujuk SM akhirnya mau.

Saat diwawancara, SM menunjukkan raut muka yang gelisah dan terlihat gugup. Setiap ditanya, SM terdiam sangat lama. SM terlihat berpikir sangat keras, mulutnya komat-kamit menyusun dahulu kata-kata yang ingin diucapkannya. Setelah kata-kata yang disusunnya siap, SM baru berbicara dengan nada yang terdengar kaku. Beberapa pertanyaan yang tidak dimengerti, SM menanyakan kembali maksud pertanyaan tersebut. SM juga merasa tidak percaya diri dalam menjawab, bahkan ia ingin menuliskan jawabannya daripada harus berbicara. SM berkali-kali mengeluhkan

Setelah proses wawancara selesai dilakukan, SM terlihat lega, namun disis lain, SM merasa khawatir dengan hasil jawaban yang diutarakannya. Peneliti berusaha untuk tetap menenangkan dan meyakinkan SM bahwa tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

SM selalu berkata bahwa ia tidak bisa dan tidak mengerti, namun peneliti berusaha membujuknya perlahan-lahan agar SM tetap mau meneruskan wawancara dan meyakinkan bahwa jawaban SM tidak ada yang salah dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Meskipun tetap mengeluh, namun SM tetap mau melanjutkan proses wawancara.

Selama proses wawancara, anak SM beberapakali datang menghampiri dan merengek minta diperhatikan oleh SM. SM menanggapinya sebentar dan menyuruh anaknya masuk kedalam, lalu SM kembali fokus dengan wawancara yang sedang dilakukan.

Subyek penelitian : SM

Waktu : Minggu, 20 Mei 2012 ( 11.10- 12.00) Tempat : Ruang tamu rumah SM

Nama Berkas : W1.P.SM.20Mei12

Refleksi Hasil wawancara Interpretasi Kode Analisis Kode

1. P : Apakah mbak bersyukur

dengan hidup mbak?

2. SM : Bersyukur

SM bersyukur dengan keadaan hidupnya

PD. syukur A.1.a

Cara bersyukur dipahami sebagai penerimaan terhadap keadaan.

3. P : Gimana tha caranya mbak

menyukuri dalam keadaan yang susah seperti ini?

4. SM : Menerima apa adanya dengan keadaan seperti ini.

Bersyukur dengan cara menerima apa adanya keadaan hidupnya

Menerima keadaan  menerima apa adanya keadaan hidup

5. P : Apakah ada penyesalan

dalam diri mbak?

6. SM : Tidak

7. P : Sama skali nggak ada

penyesalan? 8. SM : Tidak SM tidak menyesali keadaan hidupnya PD. Sesal  tidak menyesal A.6.a

9. P : Mbak sebenernya ngrasa

kesulitan nggak tha dengan kehidupan ini? Terus merasa nggak berdaya gitu nggak dalam menghadapi kesulitan hidup?

10. SM : Merasa

Merasa kesulitan dan tidak

berdaya dalam

menghadapi keadaan hidup.

11. P : Apa tha yang membuat

mbak merasa kesulitan?

12. SM : Dalam hal mencukupi kebutuhan. Terus untuk memenuhi kebutuhan hidup merasa kesulitan karena.. #diam... piye mbak.. bingung malahan.. le arep ngomong kie bingung malahan.. ditulis wae

mbok’an mbak..

13. P : Waduh mbak! Nggak bisa.. ini direkam aja.. kan ini maksudnya nggampangke mbak wong mbak tinggal ngomong.. ntar aku yang nyateteke.. ya... 14. Mbak kie ngrasa kesulitan

memenuhi kebutuhan gitu?

15. SM : He’eh..

Kesulitan dalam mencukupi dan memenuhi kebutuhan hidup

PL. Kesulitan hidup  sulit mencukupi kebutuhan

16. P : Nah,, nek ada kesulitan gitu,

mbak bisa nggak le ngatasi?

17. SM : Bisa

Dapat mengatasi kesulitan hidup

PL. Kemampuan

mengatasi kesulitan  dapat mengatasi

B.4.a

18. P : Carane mbak ngatasi

kesulitan’e itu bagaimana?

19. SM : Ya kita bekerja.. untuk mencari hasil untuk

memenuhi kebutuhan

hidup..hhmmm #diam

Kesulitan hidup diatasi dengan cara bekerja.

Hasil yang didapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup PL. Cara mengatasi kesulitan hidup  untuk memenuhi kebutuhan hidup B.5.a

20. P : Mbak,, kalo hubungan baik

ma orang lain,, mbak punya hubungan baik ma orang lain?

21. SM : Punya

Memiliki hubungan baik dengan orang-orang disekitarnya

HP. Hubungan baik dengan orang lain  punya

C.1.a

22. P : Mbak merasa kesulitan

dalam menjalin hubungan baik?

23. SM : Merasa sulit

Merasa kesulitan dalam menjalin hubungan baik

HP. Kesulitan dalam menjalin hubungan baik

 ada kesulitan

24. P : Kalo ada kesulitan gitu..

mbak le ngatasi gimana?

25. SM : Misalnya ada temen yang pengen saya, pengen saya ajak.. opo.. hubungan baik dengan saya, nah.. tapi dia itu malah.. hmmm.. malah menilai aku yang buruk, tapi ya udah saya diemke aja. Mungkin besok kalo dia udah tau,, maksud’e,, latar belakang saya, mungkin dia berubah.

Kesulitan diatasi dengan

Dokumen terkait