!'1 yaris sebelum layar dibuka dan musik menderum telah men
82 PRAMOEDYA ANANTA TOER : COOTA DARI JAKAR TA
terasa pusing sehingga ia tak berani masuk kerja. Sebaliknya de� ngan diam-diam ia duduk di meja tuIisnya dan berpulu
� �
all membaca permulaan dramanya. Ia tak tahu mengapa tetapl nap kali membacanya jantungnya menggigil." Kalau aku teruskan:' katanya pada diri sendiri, "dan tetap dapat mempertahankan cara demikian, tidak ada yang bis.a m�m bantah, drama ini bakalnya jadi drama besar. Dan apabtla tldak ada yang mengakui, aku sendiri yang mengakuinya kelak:'
Sore itu ia bersiap hendak berjalan-jalan barang seperempat jam melihat anak-anak sekolah bermain bola keranjang
�
i lapangan Banteng. Tetapi seorang kawan yang pernah menamal nya agak tidak beres tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Sebe lum disilakan ia duduk di kursi. Melihat selembar permulaan drama, timbul kecucukan dalam hatinya dan mulai membacanya, dengan perhatian seksama. Akhirnya:"Engkau mulai membuat drama aku lihat."
Dipandangnya Hamid lama-lama dengan mata memancarkan perasaan hormat.
"Bagaimana pendapatmu?" Hamid bertanya dengan harapan menjolak di dalam dada. . . . . .
"Aku kira cara yang engkau pergunakan 1m ndak blsa dite- rima oleh masyarakat di masa ini. Menteri PPK pun tidak akan mengerti ."
"Mengapa?" tanya Hamid bertambah besar harapannya. "Terlampau berat!" sambil mengisap dan menghembuskan nafas besar.
"Berat?"
"Engkau terlampau banyak membaca buku psychologi. Teru- tama Meader dan Tourner dan solipsisme itu nampak berpe ngaruh atas dirimu. Psychologi moder�.ini merusa
�
an engkau. Dia terlampau tajam membelah-belah Jlwamu, e?gka� merasa sangat kesepian, dan akhirnya engkau dl seputar dirimu sendiri belaka."Hamid menggelengkan kepalanya. Ia tak pernah dengar se-
KEGUGURAN CALON DRAMAWAN 83
s muanya ItU. muanya
. itu. Karenanya pun tidak mengerti e . Kembali dadanya menjadi bolong.
"He, mengapa engkau begitu pucat?" "Sakit. Baru aku mau pergi ke dokter." "Marilah kita bareng berjalan."
"Pergilah dahulu. Aku ingin sendirian."
Kawan itu merasa tersinggung hatinya dan pergi terlebih dahulu. Dan Hamid merebahkan tubuhnya di bale. Ia tak tahu apa yang harus dipikirkannya terlebih dahulu. Segala macam kecaman dari �r
�
dan kanan bergulung dengan dahsyatnya di dalam kepala. Kim terasa benar olehnya betapa ia sangat tergan tung pada segala kecaman yang bersilang siur dengan menung �ang nama-nama dan kata-kata besar-besar yang belum pernah la kenal ..�
embali ia ingat pada lenong yang hanya memperca yakan.dl�1 pada kespontanitasan. Ah, tentu saja bila dramanya kelak Jadl, tak ��ngkin
�
isa dimainkan oleh lenong. Ia ingat Shakespeare. Dan Ingatan ltu ia sampai kepada Kila yang pernah mengatakan kepadanya:. "Kalau engk�u mau menulis drama, contohlah Shakespeare. Tldak ada tandingnya hingga kini dalam melukiskan manusia " "Men�pa
�
u har�s menco�tohnya?" Bantahnya sekar:U:
g dalam hannya. Aku udak ada mat melukiskan manusia. Kalau harus ��lukiskan, a��n kulukiskan keadaan manusia, sekalipun manusla I� �
anya dinku seorang dan barangkali juga ditambah dengan Sl Nltsar. Selain itu aku pun tidak pernah membaca Shakespeare."Matanya me!ayan� pada rak buku. Tidak terdapat selembar pun
�
uku ten tang. dmu Jlwa. Bahkan uraian-uraian kecil di majalah tldak pernah la baca. Kalau ia pernah membaca hanyalah buku pengantarnya belaka. Itu pun telah tujuh tahun yang lalu dan ia sudah lupa semua apa isinya.
Rupa-rupanya, pikirnya kemudian, untuk menjadi dramawan ora�g
�
�rus. �engerti dan membaca semua buku yang ada di dunla 1m. Plkiran demikian membuat ia merasa sebagai orangPRAMOEDYA ANANTA TOER : C£RITA DARl JAKARTA
kerdil yang mengalami pertumbuhan sebelah dan ya?g sebelah lagi tinggal bugil dalam kececadan, kehinaan
�
n kenlst�an serta kebodohannya. Ia merasa celaka di samplng keseplan dankekurangan. . . .
Ia mencoba mencari jalan keluar untuk melepaskan dIn dan segala kesempitan itu. Disabarkannya hatinya dan akhirnya dida-
patnya juga: .
"Lebih baik aku pergi kelima atau enam orang lagl yang mengetahui tentang drama, untuk melengkapkan kecaman dan
saran yang pernah kuterima." . . .
Ia mulai berpikir-pikir siapa-siapa yang hendak dikunJungl. Akhirnya ditemuinya juga orang-orang yang dapat dipercaya pendapatnya tentang drama: seorang pengarang dram.a,. seorang redaktur, seorang guru kesusastera�n di SMA yang
ki�
seda�g menyusun buku pelajaran kesusasteraan, seorang pemaln sandi wara yang kini menjadi pemain film dan merangkap pengarang scenario, dan seorang redaktur seni di radio.Ia bangkit dan hari itu, detik itu juga, hendak memulai: Penga- rang drama itu tak ditemuinya di rumah. Dan setelah belJalan tak kurang dari lima kilometer barulah ia bisa menemui guru kesu- sasteraan.
"Saudara, sekarang aku baru menyusun buku kesusasteraan:' katanya. "Aku dan kawanku, tetapi selalu tidak bisa bersesuaian faham di soal drama. Si kawan menuntut pembelahan drama dalam prosa dan puisi.Aku berpendapa� drama memp��yai ,
�
elas sendiri, yaitu kelas drama, terlepas dan prosa atau PUISI ....Perhatian Hamid tertarik. Se1embar kertas permulaan drama itu hampir-hampir saja ia keluarkan dari kantong, kalau guru itu tidak segera meneruskan kata-katanya:
"Prosa dan puisi adalah menerangkan atau menterjemahkan. Drama adalah melakukan, mengetjakan pikiran dan perasaan. Beda bukan? Ah, aku menyesal sudah bersedia bekerjasama de ngan orang setolol itu. Rupa-rupanya saudara ada nunat pa
�
drama? Baik sekali - terutama di masa dunia drama menghadaplKEGUGURAN CALON DRAMAWAN 85
kemampusannya. Tapi ingat, saudara, kalau bukuku tentang ke susasteraan ini terbit, saudara harus mempelajarinya.Apalagi bagi saudara yang mau menciptakan drama. Tahu, saudara? Pengarang pengarang sendiri tidak mengerti kesusasteraan. Itulah yang menyedihkan."
"Beberapa hari ini aku pun sedang sibuk membuat drama." "Bagus sekali! Setidak-tidak ada usaha untuk menggagalkan kemampusan drama."
Besar lagi harapan Hamid.
"Tapi awas, pengarang-pengarang drama yang sudah mas uk kotak akan melontarkan kecaman membabi buta seperti kuda lumping mabok pada tulisanmu kelak."
"Mengapa?"
"Mengapa?" guru kesusasteraan itu tertawa. "Bukankah tiap orang lebih percaya pada kebesarannya sendiri daripada kemung kinan kebesaran bagi orang lain? Arnnya saudara diajaknya ma suk ke dalam kotaknya. Dan saudara akan mendapat sumpahan kalau ketahuan ada mengetahui sedikit tentang Sartre dan Ca mus, dan saudara akan dianggap termasuk mereka yang menya nyikan keruntuhan jiwa Eropa.
Sekarang tak tertahankanlah lagi bagi Hamid. Ia keluarkan permulaan dramanya dan disodorkannya kepada guru itu.
"lni drama saudara?" sambutnya sambil memandangi kertas itu melalui sebelah hidung.
Ia membaca sebentar kemudian menyodorkan kertas itu kembali kepada Hanlid.
"Ah saudara, mengapa baru permulaan sudah saudara bacakan? Selesaikanlah dahulu."
Hamid telah kehabisan perkataan. la pulang dengan perasaan kocar-kacir. Kakinya capai' dan tubuhnya seluruhnya kaku-kaku pegal.
Malam itu ia mencoba untuk meneruskan dramanya. Tetapi untuk itu tenaganya telah habis. Kembali ditelentangkan tubuh nya di ranjangnya, dan kemudian tidur yang juga gelisah me-
86 PRAMOEDYA ANANTA TOER : CooTA DARI JAKARTA
nyusul. Malam itu ia lupa mengguyuri kepalanya dengan air di ngin sehingga mimpi yang jahat-jahat an tara sebentar menga getinya.Akhirnya ia mengalahjuga, bangkit dan menggu
�
ur ke pala di kamar mandi. Hingga pagi ia tidur dengan damatnya.Setelah bekerja ia tidak terus pulang, tetapi makan di warung dan kemudian terus mencari orang-orang yang masuk dalam daftarnya sebagai penasihat yang diharapkannya. Akhirnya dite muinya seorang pengarang drama. Waktu ia memperkenalkan
diri sebagai seorang yang berminat pada drama dan ingin mem buat sendiri, dramawan itu merenunginya dengan pandang mengecilkan.Antara berbisik dan berpikir ia membuka serangan: "Saudara, untuk dua puluh tahun yang akan datang ini belum ada kesempatan untuk lahirnya satu drama Indonesia yang ber-
harga." •
"Dan drama-drama saudara sendiri?" Hamid bertanya. "Ya, kadang-kadang memang dimainkan."
"Dan pendapat saudara?"
"Ah, siapa pula bisa mengeritik hasil ciptaannya sendiri? Bagiku sendiri sudah senanglah kalau ada yang datang menon
ton, apa lagi bila disambut dengan tepuk tangan sekadarnya." "Bukankah tepuk tangan itu sudah suatu pengakuan?" "Tepuk tangan hanya kebiasaan saja, saudara! Tidak berarti apa- apa?"
Waktu percakapan sudah kendur, barulah Hamid mengeluar- kan permulaan dramanya dan dengan hormat menyodorkannya
kepada dramawan itu sambil memperhatikan air mukanya. �'Saudara sudah mulai dengan menulis drama?" tanyanya de ngan pandang mengecilkan. Dan dengan tak senang hati ia mulai membaca, lambat-lambat, hingga tamat. Akhirnya tersemburkan
juga kata-katanya: .
"Aku pernah membaca terjemahan Dante de Monarchia, ka- tanya pelahan-lahan." Kemudian menderum: "Memang indah - Apalagi manusia ini makhluk pertengahan antara keabadian dan kefanaan - va, tentu saja ia bermuka dua, berjiwa dua,
berlaku
KEGUGURAN CALON DRAMAWAN 87
dua. Memang indah, saudara, memang benar - tapi tidak perlu saudara pergunakan sebagai pegangan. Saudara bisa mencari sendiri! Saudara bisa menjadi besar dengan cara saudara sendiri!" Hamid meninggalkan rumah dramawan itu dengan semangat
�
ang kocar-kacir berantakan lagi. Apabila dalam kehidupannya la membutuhkan cinta, sedang ia tidak dapat mencintai, dalam penciptaan ini ia membutuhkan pupuk, membutuhkan keper cayaan - orang belum mau memberinya baik pupuk maupun kepercayaan, dan ia sendiri talc mampu menyediakan untuk di rinya sendiri.Dal
�
m berjalan itu ia selalu bertanya pada hatinya sendiri, kapan la pernah mendengar nama Dante dan kapan ia membaca karangannya de Monarchia. Ia pun tak dapat menjawab apa hubungannya dengan drama. Ia talc pernah dengar bahwa ada seorang drama wan bernama Dante.De�gan ti
�
k setahunya kakinya telah membawanya ke rumah Mardi. Lama la talc dapat menjawab segala pertanyaan yang dilon tarkan kepadanya. Ia menggulingkan tubuhnya yang layu dan cape di tikar Mardi, kemudian mencoba tidur."Engkau terlampau cape," Mardi menuduh. "Mau minum es?" . Hamid menggelengkan kepala. Dan setelah hatinya agak reda la bersendeku sambil memijiti kakinya.
"Siapa Dante?" akhirnya ia bertanya.
"Engkau tidak tahu Dante? Itu pencipta bahasa Italia?" "Apa hubungannya dengan drama?"
"Tidak ada tentu."
Dan sekarang Hamid tak bisa berpikir sarna sekali. "Mengapa engkau tanyakan Dante?"
Ha�
�
tak menjawab. Dikeluarkan lagi permulaan dramanya�
ang kinl te1ah kumal dan' dibacanya kembali ucapan tokohnya SJ.
���
da�
���
: Aku talc tahu ap� gunanya ini buku harian! Tiap hari dust. Dust. Toh tetap aku tldak tahu. Diambilnya podot dari kantong. Kata tahu dicoretnya dan digantinya dengan mengerti. "Engkau menderita, kawan," Mardi memulai lagi. "Apa yang88 PRAMOEDYA ANANTA TOER : CERITA DARI JAKARTA
bisa kukerjakan untukmu? Aku tak bisa melihat engkau begitu kuyu dan remuk hari."
"Ceritakan padaku, apa sebabnya permulaan drama ini diang gapnya berpegangan pada ucapan Dante dalam karangan de Monarchia?"
"Siapa si gila yang bercerita itu? 0, si drama wan koplo itu.Aku tahu, dia baru mencoba-coba membaca Dante. Mengapa dia tidak bilang dari pokoknya saja? Mengapa dia tidak bilang eng kau kena pengaruh si Aquino tukang omong kosong itu?"
Mendengar Aquino, semangat Hamid yang mulai merangkak bangun, terpukul lagi dan terbirit-birit sembunyi ke dalam gua nya kembali.
"Mengapa banyak benar nama yang harus kudengar? Menga pa banyak amat tuduhan yang harus kuterima? Apakah suatu kejahatan menulis drama tanpa mengetahui semua itu?"
Dan semen tara itu datang seorang kawan masuk ke dalam kamar Mardi. Ia melihat permulaan drama itu, mernbaca dengan penuh perhatian, kemudian:
"Sayang, drama ini sebenarnya bisa jadi baik, tetapi masih mernbirnbangkan apakah orang bisa menerima tokoh-tokoh yang rnemainkan belahan satu tokoh. lni perjuangan manusia melawan dirinya sendiri. lni pemberontakan. Tapi orang belum bisa menerima, atau setidak-tidaknya ia akan jadi drama terkepung - tidak bisa dimainkan. Dan musiknya? Mengapa harus menderum? Apakah harus dipergunakan orkes .... "
Mardi dan Hamid mengikuti bibir kawan yang bergerak be gitu cepat dan penuh keyakinan itu.
"Aku pernah nonton Anouilh waktu dirnainkan di Paris. Dramanya Pesta Para Pencopet. Tahu engkau apa yang mengi ringi? Hanya satu fagot! Tapi toh nyaman."
"Aku tak mengerti ten tang musik," Hamid membuka mata nya dengan irama minta maaf.
"0, saudarakah yang menulis? Maaf aku bra bukan saudara pengarangnya," kata orang itu kemalu-maluan. "Tapi saudara tak merasa terhina, bukan?"
KEGUGURAN CALON DRAMAWAN 89
Akhirnya tetjadi perdebatan seru antara Mardi dan tamu itu. Puluhan nama-nama dan aliran-aliran menderu-deru, yang mana s
�
mua itu tak ada yang dikenalnya. Ia hanya kenal Utuy, Idrus, St�
or, I�
sen�
an Strindberg. Lain tak ada yang diketahuinya. Dtam-dtam ta meninggalkan kamar Mardi dengan membawa sepotong dramanya. Di rumah ia baca kembali Bunga Rumah�
a�
an Utuy. Hatinya terpikat. Tetapi tidak ada mengisi ke tngtnannya. Memanglah tidak mungkin bisa mengisi! Ia butuh mencipta, menjadikan masalahnya menjadi bentuk yang nyata, dan bukan menerima ciptaan orang lain. Karena itu Bunga Rumahmakan itu dikembalikan ke dalam rak dan ia ulang-ulang membaca karangannya sendiri.. .Setidak-tidaknya, ia berbisik pada dirinya, sepotong karangan tnt telah melakukan perasaan dan pikiranku, anggapan dan pe mandanganku. Diambilnya lern dan ditempelkan selembar ker tas kwarto itu di buku hariannya, kemudian lembaran-Iembaran
y
ang�
enjepit drama itu dilemnya pula, sehingga hasil ciptaan ltu terslmpan dalam sampul lembaran buku harian.Setelah itu ia pun tidur. Nyenyak. Karena, sebelumnya ia telah berbisik pada hatinya sendiri:
"Biarlah drama ini kukerjakan dengan tubuh dan jiwaku sendiri saja."