Bagan 1. Peleburan Horizon dan Sepiral Hermenutika
C. Tinjauan Umum Jaminan Fidusia
1. Pranata Umum dan Karakteristik Jaminan Fidusia
Mengenai pengertian-pengertian pokok pranata hukum positif jaminan fidusia telah dijelaskan secara rigit dalam ketentuan umum dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia (selanjutnya disebut dengan UU Jaminan Fidusia). UU Jaminan Fidusia memberikan definisi
72 Ibid. Hal 460.
52 yang berbeda antara fidusia dengan jaminan fidusia. Pasal 1 angka 1 dan 2 UU Jaminan Fidusia memberikan definisi sebagai berikut:74
1) Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda.
2) Jaminan Fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang tetap berada dalam penguasaan Pemberi Fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada Penerima Fidusia terhadap kreditor lainnya.
Jaminan Fidusia merupakan bagian dari pranata hukum perjanjian. Pengertian perjanjian berdasarkan ketentuan pada pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyebutkan bahwa:75
“Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dimana satu orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang lain atau lebih”.
Sudikno Mertokusumo memberi batasan bahwa perjanjian itu suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum.76 Menurut Subekti, perjanjian merupakan bentuk konkrit dari perikatan sedangkan perikatan merupakan bentuk abstrak dari
74 Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999, tentang Jaminan Fidusia. Pasal 1 angka 1 dan 2.
75 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Buku Ketiga. BAB II. Pasal 1313.
76 Dalam H.P. Panggabean. 2012. Praktik Standaard Contract (Perjanjian Baku) Dalam
53 perjanjian, hal ini dapat diartikan adanya hubungan hukum antara dua pihak yang isinya adalah hak dan kewajiban, suatu hak untuk menuntut sesuatu dan sebaliknya suatu kewajiban untuk memenuhi tuntutan tersebut.77 Sebagaimana penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwasannya perjanjian merupakan pula suatu bentuk perikatan, khususnya yang lahir dari adanya kesepatakan para pihak. Dalam kehidupan sehari-hari selanjutnya perjanjian juga dikenal dengan istilah kontrak.
Salah satu sifat jaminan fidusia adalah bersifat accesoir. Sebagai bagian jaminan kebendaan, pada dasarnya jaminan fidusia berbentuk perjanjian ikutan terhadap perjanjian pokoknya. Perjanjian pokok menurut Rutten adalah perjanjian yang untuk adanya mempunyai dasar yang mandiri (welke elftandig een raden van bestaan heeft).78 Sedangkan pengertian jaminan asesor, J. Satrio menyebutkan bahwa perjanjian assesoir merupakan suatu perjanjian yang lahir adanya perpindahan dan berakhir/hapusnya bergantung pada perjanjian pokoknya.79
Dalam sistem hukum perdata, telah kita ketahui bahwa pada dasarnya perjanjian jaminan merupakan perjanjian ikutan terhadap perjanjian pokoknya. Dengan kata lain perjanjian jaminan lahir akibat adanya perjanjian pokok atau yang dikenal dengan sebutan perjanjian accessoir. Dimana dalam hal ini
77 Hartana. 2016. Hukum Perjanjian (Dalam Perspektif Perjanjian Karya Pengusahaan
Pertambangan Batubara). Jurnal Komunikasi Hukum. Vol. 2 No. 2. Universitas Pendidikan
Ganesha Singaraja. Hal. 149.
78 Dalam D.Y. Witanto. 2015. Hukum Jaminan Fidusia Dalam Perjanjian Pembiayaan
Konsumen. Bandung. Mandar Maju. Hal. 106.
54 biasanya perjanjian pokok tersebut berbentuk perjanjian utang piutang atau kontrak kredit. Hal ini tak terkecuali terhadap jaminan fidusia.
Sejalan dengan penjelasan tersebut, lebih tegas lagi pasal 4 UU Jaminan Fidusia menjelaskan bahwa jaminan fidusia merupakan perjanjian assesoir dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi yang berupa memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu, yang dapat dinilai dengan uang. Sebagai suatu perjanjian assesoir, perjanjian jaminan fidusia memiliki sifat sebagai berikut:
a. Sifat ketergantungan terhadap perjanjian pokok;
b. Keabsahannya semata-mata ditentukan oleh sah tidaknya perjanjian pokok; c. Sebagai perjanjian bersyarat, maka hanya dapat dilaksanakan jika ketentuan
yang disyaratkan dalam perjanjan pokok telah atau tidak dipenuhi.80
Tindakan hukum dalam setiap perjanjian yang bertujuan untuk membebani benda dengan jaminan fidusia dibuat dengan akta notaris dalam bahasa Indonesia. Ketentuan tersebut sebagaimana dijelaskan dalam pasal 5 ayat (1) UU Jaminan Fidusia yang berbunyi:81
“Pembebanan Benda dengan Jaminan Fidusia dibuat dengan akta notaris dalam bahasa Indonesia dan merupakan akta Jaminan Fidusia”
Menurut Fred B.G. Tumbuan, mengingat objek jaminan fidusia pada umumnya adalah barang bergerak yang tidak terdaftar, sudah sewajarnya bentuk akta autentiklah yang dianggap paling dapat menjamin kepastian hukum
80 Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani. 2000. Praktik Seri Hukum Bisnis, Jaminan Fidusia. Jakarta. Raja Grafindo Persada. Hal. 125.
81 Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999, tentang Jaminan Fidusia. Pasal 5 ayat (1).
55 berkenaan dengan objek jaminan fidusia. Lebih lanjut, menurut Sri Soedewi Masjcoen Sofwan sering juga perjanjian fidusia dituangkan dalam akta notaris, mengenai kredit dalam jumlah besar, dimana bank merasa lebih aman demi kekuatan pembuktian yang dituangkan dalam akta notaris.82 Selain daripada itu, hal ini juga telah ditegaskan dalam ketentuan Pasal 1870 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bahwa pada prinsipnya akta autentik merupakan alat bukti yang sempurna.
Mengenai ketentuan biaya pembebanan jaminan fidusia dahulu diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia. Namun demikian, Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia telah dinyatakan tidak berlaku lagi melalui ketentuan pasal 22 Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Fidusia (selanjutnya disebut dengan PP Jaminan Fidusia).83 Hal ini diberlakukan sebagai akibat hukum diterbitkannya Surat Edaran Ditjen Administrasi Hukum Umum Nomor AHU-06.OT.03.01 tahun 2013 tentang Pemberlakuan Sistem Administrasi Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara Elektronik (Online System) serta amanat Peraturan Kementerian Hukum dan HAM Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pemberlakuan Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara Elektronik. Dengan demikian segala hal-hal yang bertalian dengan
82 Dalam Rachmadi Usman. 2008. Hukum Jaminan Keperdataan. Jakarta. Sinar Grafika. Hal. 190.
83 Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2015, tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Fidusia. Pasal 22.
56 pendaftaran, perubahan, dan penghapusan jaminan fidusia tidak dilakukan lagi di Kantor Pendaftaran Fidusia, melainkan dilakukan dalam jaringan (online) melalui website www.fidusia.ahu.go.id.
UU Jaminan Fidusia juga mengisyaratkan terhadap objek atau benda yang dibebani jaminan fidusia untuk dilakukan pendaftaran. Pendaftaran jaminan fidusia diatur secara kompleks dalam pasal 11 sampai dengan pasal 18 UU Jaminan Fidusia. Kewajiban pendaftaran Jaminan Fidusia diatur dalam pasal 11 ayat (1) UU Jaminan Fidusia yang berbunyi:84
“Benda yang dibebani dengan Jaminan Fidusia wajib didaftarkan.” Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pendaftaran jaminan fidusia saat ini diajukan melalui sistem pendaftaran Jaminan Fidusia secara elektronik (vide pasal 2 ayat 2 PP Jaminan Fidusia). Permohonan pendaftaran Jaminan Fidusia diajukan Penerima Fidusia, kuasa atau wakilnya kepada Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum dan hak asasi manusia. Hal ini sebagaimana dijelaskan pada pasal 2 ayat (1) PP Jaminan Fidusia yang menyatakan bahwa:
“Permohonan pendaftaran Jaminan Fidusia, permohonan perbaikan sertifikat Jaminan Fidusia, permohonan perubahan sertifikat Jaminan Fidusia, dan pemberitahuan penghapusan sertifikat Jaminan Fidusia diajukan oleh Penerima Fidusia, kuasa atau wakilnya kepada Menteri.” Permohonan pendaftaran yang telah memenuhi syarat akan mendapatkan bukti pendaftaran. Setelah mendapatkan bukti pendaftaran, pemohon harus
84 Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999, tentang Jaminan Fidusia. Pasal 11 ayat (1).
57 melakukan pembayaran melalui bank persepsi dengan mengajukan bukti pendaftaran tersebut (vide pasal 6 ayat 1 PP Jaminan Fidusia). Selanjutnya Kantor Pendaftaran Fidusia akan mencatat Jaminan Fidusia secara elektronik. Jaminan Fidusia lahir pada tanggal yang sama dengan tanggal Jaminan Fidusia dicatat.
Sebagai bukti adanya Jaminan Fidusia, Kantor Pendaftaran Fidusia akan menerbitkan Sertifikat Jaminan Fidusia (SJF) yang ditandatangani secara elektronik oleh Pejabat pada Kantor Pendaftaran Fidusia. Sertifikat Jaminan Fidusia dapat dicetak pada tanggal yang sama dengan tanggal Jaminan Fidusia dicatat (vide pasal 8 PP Jaminan Fidusia). Adapun apabila terjadi kesalahan subtansi, kerusakan, perbaikan, atau perubahan terhadap isi Sertifikat Jaminan Fidusia, lebih lanjut diatur secara rinci pada pasal 9 sampai dengan pasal 15 PP Jaminan Fidusia.
Sertifikat Jaminan Fidusia akan memuat irah-irah dengan kata-kata “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” (vide pasal 15 ayat 1 UU Jaminan Fidusia). Irah-irah tersebut akan berimplikasi hukum dengan memiliki kekuatan eksekutorial yang kedudukannya sama dengan putusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum tetap.