Tabel 2.31 Fasilitas Kesehatan Tiap Kecamatan Tahun 2007 Kecamatan
B. Prasarana dan Sarana Transportasi & Perhubungan
Transportasi memiliki keterkaitan dengan kehidupan sosio-ekonomi masyarakat, yang berdampak lebih lanjut terhadap ketersediaan sumber daya. Transportasi juga berfungsi sebagai katalisator dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, pengembangan wilayah dan pemersatu bangsa. Prasarana dan sarana transportasi di Kabupaten Kutai Barat mencakup transportasi jalan, angkutan sungai, danau dan penyeberangan, serta transportasi udara. Transportasi, selain mengemban fungsi pelayanan publik juga dapat dikembangkan sebagai industri jasa.
Dalam kaitannya dengan fungsi pelayanan umum, transportasi diartikan sebagai penyediaan jasa angkutan guna mendorong pemerataan, melayani kebutuhan masyarakat luas dengan harga terjangkau, baik di perkotaan maupun di kampung, mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah pedalaman dan terpencil serta untuk melancarkan distribusi barang dan jasa dan mendorong pertumbuhan sektor-sektor ekonomi daerah. Khusus untuk wilayah Kabupaten Kutai Barat, sebagai wilayah perbatasan dan cenderung terisolasi, transportasi berfungsi untuk mendorong kelancaran mobilitas barang dan orang serta mempercepat pengembangan wilayah dan mempererat hubungan antar wilayah.
Untuk prasarana dan sarana tranportasi, data yang ada menunjukkan bahwa pada tahun 2003, di Kabupaten Kutai Barat terdapat 47 jembatan yang berfungsi sebagai penghubung antar kabupaten maupun antar kecamatan di wilayah itu. Jumlah ini mencakup 39 jembatan negara dengan panjang 1.103,00 m dan 8 jembatan propinsi dengan panjang 101,60 m atau total panjang jembatan sebesar 1.204,6m. Jika dibandingkan dengan jumlah jembatan di seluruh Propinsi Kalimantan Timur, jumlah ini mencapai 11% dengan panjang mencapai 9%.
Tabel 2.32. Jumlah Jembatan Negara dan Propinsi di Kabupaten Kutai Barat, 2003
Jenis Jembatan Jumlah Panjang (m)
Jembatan Negara 39 1.103,00
Jembatan Propinsi 8 101,60
Jumlah 47 1.204,60
Sumber : Kalimantan Timur dalam Angka, 2003
Untuk transportasi darat, sarana jalan yang dimiliki Kabupaten Kutai Barat, yang dapat dimanfaatkan untuk memperlancar kegiatan ekonomi maupun non ekonomi meliputi jalan negara, jalan propinsi dan jalan kabupaten. Ditinjau dari kondisi jalan yang ada, kabupaten Kutai Barat memiliki jalan sepanjang 1.253,32 Km yang terbagi menjadi Jalan Provinsi dan Negara (301,4 Km), Jalan Kabupaten (434,44 Km) dan Jalan Non Status (517,48 Km). Dari ketiga status jalan ini, hanya sepanjang 139,79 Km (11,1 persen) saja yang telah dilapisi dengan aspal. Panjang jalan yang telah dikeraskan (Agregat C) namun belum diaspal mencapai 367,5 Km (29,32 persen) sedangkan jalan tanah di kabupaten ini mencapai 745,33 Km (59,46 persen). Namun, sebagai alternatif sarana transportasi darat, penduduk Kabupaten Kutai Barat sering menggunakan alat transpotasi air yang banyak tersedia di daerah ini. Setidaknya, terdapat enam dermaga di kabupaten Kutai Barat, yaitu Penyinggahan, Muara Pahu, Melak, Long Iram dan Long Bagun.
Tabel 2.33. Perbandingan Panjang Jalan Negara dan Kondisi Jalan di Kabupaten Beberapa Kabupaten, 2006
Kabupaten
Kondisi Jalan
Baik Sedang Rusak Rusak Berat Jumlah
Pasir 86.75 113.99 19.25 0 219.99
Kutai Barat 32 130.8 10 0 172.8
Kutai Kartanegara 207.22 118.87 0 0 326.09
Kutai Timur 198.21 134.17 37.11 8.14 377.63
Berau 120.38 80.7 6.39 0 207.47
Sumber : BPS Kalimantan Timur 2008
Secara terinci data yang ada menunjukkan bahwa jalan negara pada tahun 2006 mencapai 172,8 km, dengan kondisi baik mencapai 32 km
(18,51%), kondisi sedang mencapai 130,8 km (75,69%) dan sisanya dalam kondisi rusak. Dibandingkan dengan daerah lain, kondisi Kutai Barat relatif masih belum baik, meski tidak dapat dikatakan buruk. Bila dibandingkan dengan kondisi seluruh provinsi, 49,4% kondisi jalan di Kalimnatan Timur adalah baik, 44,4% sedang, 5,6% rusak, dan 0,6% rusak berat.
Tabel 2.34. Panjang Jalan Propinsi Menurut Permukaan Jalan 2001-2004 (Kilometer)
Jenis Permukaan Jalan 2001 2002Tahun2003 2004
Aspal 89,39 128,94 127,0
Kerikil 51,79 111,81 226,5
Tanah 159,00 59,43 0
Lainnya - - 0
Jumlah 300,18 300,18 353,5
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum & Kimpraswil Kabupaten Kutai Barat
Untuk jalan propinsi sampai dengan tahun 2004 mencapai sepanjang 353,5 km dimana 127 km (36 persen) di antaranya dengan permukaan aspal dan sisanya 226,5 km (64 persen) dengan permukaan kerikil.
Baik dari segi panjang jalan maupun dari segi kualitas jalan, kondisi jalan propinsi ini mengalami peningkatan yang cukup berarti. Pada tahun 2004, jalan propinsi mengalami peningkatan sebesar 17,7%. Walaupun proporsi permukaan jalan aspal relatif menurun dari 43 persen menjadi 36 persen, namun untuk permukaan kerikil mengalami peningkatan dari 37 persen menjadi 64 persen. Peningkatan kualitas jalan ini didominasi oleh adanya perbaikan permukaan jalan tanah ke permukaan jalan kerikil, mengingat seluruh jalan tanah yang pada tahun 2003 mencapai 59,43 km, pada tahun 2004 sudah tidak ada lagi (Tabel 2.35).
Tabel 2.35. Kondisi dan Panjang Jalan Provinsi
Tahun 2001-2007
Jenis Permukaan Jalan Tahun
2001 2003 2004 2007 Aspal 89.39 128.94 127 188 Kerikil 51.79 111.81 226.5 10 Tanah 159 59.43 0 98 Lainnya - - 0 0 Jumlah 300.18 300.18 353.5 296
Sumber: Kutai Barat Dalam Angka 2008
Sementara itu dilihat dari kondisi jalan yang ada, jalan propinsi dengan kondisi aspal, dari tahun 2001–2007 menunjukkan kenaikan yang sangat tajam (210,31%), yang diikuti dengan penurunan jalan kerikil dan jalan tanah. Pada umumnya dibandingkan dengan seluruh kabupaten yang ada di propinsi Kalimantan Timur keadaan jalan di Kabupaten Kutai Barat relatif baik.
Tabel 2.36. Panjang Jalan Kabupaten Menurut Permukaan Jalan, Di Kabupaten Kutai Barat 2003-2007
Jenis Permukaan Jalan 2003 2004 2007
Aspal 4.28 45.7 60.30
Kerikil 5 119.06 108.10
Tanah 272.95 43.1 24.40
Lainnya - 8.1 19
Jumlah 282.23 215.96 211.80
Sumber: Kutai Barat Dalam Angka 2008
Untuk jalan kabupaten yang pada tahun 2007 mencapai 211,8 km. Dominasi terbesar terdapat pada permukaan jalan kerikil yang mencapai 108,11 km (51,04 persen) dibandingkan dengan permukaan aspal yang hanya 60,3 km dan jalan tanah 24,4 km. Harus diakui bahwa dibandingkan dengan kabupaten lain di sekitarnya, kondisi jalan di Kabupaten Kutai Barat masih memprihatinkan. Di Kabupaten Balikpapan misalnya, dengan panjang jalan kabupaten yang relatif sama (260,30 km), 85 persen di antaranya (221,60 km) dalam kondisi baik.
Namun jika dilihat dari perkembangannya, tampak bahwa pada tahun 2007, jalan kabupaten dengan permukaan aspal maupun kerikil menunjukkan peningkatan yang sangat tajam, mencapai lebih dari 10 kali lipat untuk jalan aspal dan 20 kali lipat untuk jalan kerikil. Sementara untuk jalan tanah juga mengalami penurunan yang sangat tajam, dari 272,95 km pada tahun 2003 menjadi hanya 24,4 km pada tahun 2007 .
Dilihat dari pemanfaatannya, banyaknya lalu lintas angkutan jalan raya menunjukkan bahwa jumlah kendaraan yang berangkat dan datang sangat timpang dalam arti jumlah kendaraan yang datang dan jumlah penumpang tidak sebanding. Hal ini disebabkan jalan propinsi yang menghubungkan Kabupaten Kutai Barat dengan Kabupaten Kutai Kertanegara sebagai salah satu pintu masuk melalui jalan darat menuju wilayah Kutai Barat berada dalam kondisi yang memprihatinkan, di mana masih terdapat jalan yang belum beraspal. Bahkan pada musim hujan misalnya, jalan ini sama sekali tidak bisa dilalui karena tergenang banjir. Dengan kondisi yang demikian, para pengguna jalan lebih memilih mengguna moda transporatasi sungai atau pesawat udara.
Jumlah kendaraan yang berangkat dan datang mengalami peningkatan yang sangat tajam pada tahun 2007. Hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi jalan provinsi maupun kabupaten yang semakin baik di Kutai Barat. Sebaliknya, jumlah penumpang yang berangkat menurun 35,54% padahal jumlah penumpang yang datang mengalami peningkatan 25,35%.
Dengan berbagai permasalahan penyediaan sarana dan prasarana jalan yang ada, sebagai daerah yang termasuk daerah perbatasan, dan terisolir dengan dominasi topograf yang bergelombang serta banyaknya wilayah aliran sungai, sarana transportasi darat dan pemanfaatannya memang kalah dibanding dengan transportasi air. Dalam hal ini, peran dermaga sebagai sarana memperlancar transportasi menjadi sangat penting.
Tabel 2.37. Banyaknya Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya, di Kabupaten Kutai Barat, 2007
Tahun
Kendaraan Penumpang
Berangkat Datang Berangkat Datang
2003 858 860 10,541 11,243
2004 814 820 6,720 10,220
2005 804 804 5,431 19,085
2006 978 978 9,565 19,174
2007 1,356 1,193 6,165 24,036
Sumber : Kutai Barat Dalam Angka 2008
Panjang total 6 sungai di wilayah Kabupaten Kutai Barat mencapai 338 km atau lebih panjang dibanding jalan kabupaten yang tersedia, dengan jumlah dermaga sebanyak 6 buah. Banyaknya penumpang yang menggunakan transportasi air ini selama tahun 2001-2007, berfluktuasi di sekitar 100.000 penumpang, namun untuk barang tampak bahwa arus bongkar lebih besar daripada arus muat, yaitu sekitar 20.959 untuk bongkar dan 9.208 untuk muat. Untuk aktivitas penumpang maupun bongkar muat, pelabuhan Melak merupakan pelabuhan yang terbesar. Sekitar 60% penumpang berangkat dan pergi melalui dermaga ini. Demikian pula dengan aktivitas bongkar barang, aktivitas di dermaga ini mencapai 82,61% dan aktivitas muat barang mencapai 68,78%.
Tabel 2.38. Banyaknya Penumpang dan Barang Menurut Dermaga Di Kabupaten Kutai Barat, 2007
No. Dermaga Penumpang (Orang) Barang (Ton) Berangkat Datang Bongkar Muat 1 Penyinggahan 3.428 3.456 332 1.814 2 Muara Pahu 5.601 5.666 406 184 3 Melak 53.368 53.851 17.316 6.333 4 Tering 12.663 14.880 1.392 494 5 Long Iran 6.117 6.134 828 223 6 Long Bagun 7.010 7.023 685 160 Jumlah 88.187 91.010 20.959 9.208 Sumber : Kutai Barat Dalam Angka 2008
Ini menunjukkan adanya ketergantungan yang cukup tinggi pada wilayah sekitarnya untuk pemenuhan kebutuhan penduduk Kabupaten Kutai Barat. Aktivitas ini jauh lebih besar dari aktivitas yang menggunakan jalan raya. Hal yang sama terjadi pada kepadatan lalu lintas kapal dan speed boat. Untuk tahun 2005 jumlah kapal yang melapor di dermaga kedatangan mencapai 6.189 buah dengan jumlah penumpang mencapai 90.798 orang. Data yang ada menunjukkan bahwa lalu lintas penumpang datang dan berangkat dari seluruh dermaga yang ada dengan menggunakan sungai di Kabupaten Kutai Barat relatif konstan, namun untuk lalu lintas barang terutama yang melakukan bongkar di seluruh dermaga menunjukkan kenaikan yang cukup berarti.
Dermaga Melak merupakan dermaga dengan aktivitas bongkar muat dan turun naik penumpang terpadat dibandingkan dengan dermaga lain di Kutai Barat. Kepadatan lalu lintas perairan di Dermaga Melak mencapai lebih dari 60% untuk seluruh aktivitas di 6 dermaga yang ada. Data arus penumpang dan barang selama empat tahun terakhir bahkan menunjukkan aktivitas di dermaga Melak ini cenderung meningkat dengan rata-rata kenaikan sebesar 15 persen. Namun untuk lalu lintas penggunaan speed boat justru menunjukkan terjadinya penurunan rata-rata sekitar 62%. Hal ini menunjukkan bahwa peran dermaga Melak sangat strategis bagi perkembangan perkonomian bagi wilayah sekitarnya.
Untuk transportasi udara, di Kabupaten Kutai Barat terdapat 2 buah bandara, yaitu Bandara Melaln di Melak dengan penerbangan 4 x seminggu dan Bandara Datah Dawai dengan penerbangan 3 x seminggu. Jumlah penumpang yang berangkat dari kedua bandara mencapai 4.917 orang yang jauh lebih besar di jumlah kedatangan yang hanya 4.474 orang. Hal yang sama terjadi pada keberangkatan barang yang mencapai 34.230 ton yang juga jauh lebih besar dibanding kedatangan barang yang hanya 21.904 ton. Kondisi ini berkebalikan dengan pemanfaatan transportasi air.
Dilihat dari perkembangan aktivitasnya tampak bahwa aktivitas di kedua bandara ini dalam 2 tahun terakhir mengalami penurunan yang cukup signifkan untuk jumlah penumpang baik di terminal kedatangan (42 persen) maupun di terminal keberangkatan (27 persen). Namun hal sebaliknya terjadi pada penumpang barang yang menunjukkan kenaikan yang cukup signifkan di kedua bandara, sebesar 30 persen di terminal kedatangan dan 19 persen di terminal keberangkatan.