IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.1. Prediksi Waktu Pencapaian Kondisi Stabil
Pada penelitian ini, Luas Bidang Dasar (LBDS) digunakan sebagai acuan standar keberhasilan reforestasi. Hasil perhitungan LBDS pada setiap umur di hutan tanaman di daerah penelitian ditunjukkan pada Tabel 3, sedangkan hasil perhitungan nilai LBDS dapat dilihat pada Lampiran 1.
Tabel 3 Nilai LBDS rata-rata (m2 ha-1) pada tiap tahun tanam di area revegetasi
PT INCO tahun 2008
Lokasi Tahun tanam
Umur (tahun)
Jenis tanaman reklamasi Jumlah jenis
LBDS (m2 ha-1) Koro North 2007 1 Kayu angin, sengon, trema 3 7 Pongsesa 2006 2 Kayu angin, sengon, trema 3 6
Olivia 2005 3 Sengon, eucalyptus, johar 3 56
Koro South 2004 4 Sengon, johar, akasia 3 30
Tripel A 2004 4 Sengon, johar, kayu angin, sandro, akasia, uru,
6 28
Debi 2002 6 Akasia, sengon, betau, eboni, kemiri, nyamplung, sandro, uru
8 117
Rante 2002 6 Sengon, johar, kayu angin, kemiri, eucalyptus
5 47
Hasan North 2000 8 Akasia, sengon, betao, belulang, eucalyptus, jabon, jambu-jambu, johar, kayu angin, kole, trema
11 64
Pongsesa 1999 9 Sengon, eucalyptus, lamtoro, trema 4 120 Butoh 1985 23 Buri, dengen, betau, kolonju,
akasia, kayu angin, lamtoro, eucalyptus, pinus
Tabel 3 menunjukkan bahwa pada kawasan reforestasi LBDS tertinggi ditemukan di Bukit Butoh tahun tanam 1985 atau umur 23 tahun dengan LBDS
sebesar 141 m2 ha-1. Pada Bukit Butoh ini, banyak ditemukan anakan tanaman
lokal seperti Buri (Weinnamia blumei), Dengen (Dillenia serrata), Betau (Dillenia
serrata), dan Kolonju (Calaria braciata). Bukit Pongsesa pada tahun tanam 2006
atau umur 2 tahun memiliki LBDS terendah, yaitu sebesar 6 m2 ha-1. Besar
kecilnya nilai LBDS ini tergantung pada umur tanaman, yaitu semakin tua umur tanaman semakin tinggi nilai LBDS. Jenis tanaman yang ditanam dan kegiatan penyulaman pada bukit-bukit reforestasi juga mempengaruhi besarnya nilai LBDS. Sebagai contoh di Bukit Debi pada umur 6 tahun mempunyai nilai LBDS
sebesar 117 m2 ha-1, nilai ini jauh lebih besar bila dibandingkan dengan nilai
LBDS di Bukit Rante umur 6 tahun (LBDS 47 m2 ha-1) dan di Bukit Hasan North
umur 8 tahun (LBDS 64 m2 ha-1
Besar kecilnya nilai LBDS tergantung juga pada pertumbuhan dan jenis tanaman. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan tanaman adalah kedalaman solum tanah, kondisi bibit, cara penanaman dan pemupukan, serta iklim. Di daerah penelitian penyiapan lahan untuk revegetasi
dilakukan dengan menaburkan top soil setebal 50 cm diatas tanah timbunan
(disposal). Kedalaman top soil ini sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman
karena di dalam top soil mengandung bahan organik banyak, berwarna kehitaman,
pori-pori tanah longgar, merupakan zona perakaran, dan kegiatan jazad hidup tanah (Jamulya dan Suprodjo 1990).
). Hal ini disebabkan Bukit Debi terletak di lokasi yang relatif datar, mempunyai solum tanah lebih dalam, dan banyak dilakukan
penanaman jenis-jenis tanaman lokal seperti Betao (Calophylum soulatri),
Nyamplung (Calophylum pulcherium), Sandro (Sandoricum kacappeae), Uru
(Elmerelia sp), Kemiri, Eboni, dan lain-lain.
Bibit yang ditanam adalah bibit tanaman yang cepat tumbuh, seperti Sengon (Paraserianthes falcataria), Akasia (Acacia mangium), Kayu Angin (Casuarina
sp.), Eucalyptus (Eucalyptus urograndis) dan tanaman pionir lokal seperti Sandro
(Sandoricum kacappeae), dan Uru (Elmerelia sp.). Penanaman pohon dilakukan pada lubang tanam dengan ukuran lebar 60 cm, panjang 60 cm dengan kedalaman 60 cm. Pengapuran dilakukan pada setiap lubang penanaman dengan dosis 0,4 kg.
Proses pengapuran dapat meningkatkan pH. Menurut Suwarno et al. (2003), KTK dan pH merupakan faktor yang mempengaruhi pengikatan, absorbsi, dan pergerakan ion ke akar, pencucian ataupun imobilisasi unsur-unsur hara tanaman atau faktor yang mempengaruhi kemampuan penyediaan hara bagi tanaman.
Reaksi tanah yang menyatakan derajat keasaman atau kebasaan tanah dan
sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah pH tanah. Ketersediaan
unsur-unsur hara tanaman dipengaruhi oleh pH tanah. Semua unsur hara dalam
larutan tanah tersedia dalam pH normal (6-7). Pengaruh tidak langsung terjadi
apabila tanah sangat masam, mengakibatkan tanah bersifat racun. Misalnya, pada tanah gambut di daerah rawa yang memungkinkan terdapat endapan pirit mengandung unsur Al, Mn, dan Fe, sedangkan KTK merupakan kemampuan (kapasitas) partikel-partikel koloid tanah, dapat menukar atau mengabsorbsi kation-kation bebas dalam larutan tanah (Jamulya dan Suprodjo 1990). Di beberapa tempat di wilayah reforestasi mempunyai pH agak masam yaitu 5,9–6,5 dan netral yaitu 6,5–6,9, sedangkan KTK mempunyai kategori rendah, yaitu
kurang dari 6,23 me 100g-1.
Pemupukan dilakukan setelah proses pengapuran dengan 0,4 kg Urea + 0,4 kg KCL + 0,4 kg P + 0,4 kg pupuk kandang and 0,3 kg kompos. Proses pemupukan bertujuan meningkatkan unsur hara dalam tanah. Hasil analisis laboratorium menunjukkan, kandungan unsur hara rata-rata di hutan tanaman sangat rendah, yaitu unsur hara N dan C sebesar 0,5%. Kandungan unsur hara P sebesar 2,7 ppm, sedangkan kandungan unsur hara Ca, Mg, K, dan Na sebesar 1,3
me 100g-1. Unsur hara di hutan tanaman ini apabila dibandingkan dengan unsur
hara di hutan alam tidak jauh berbeda, kecuali unsur hara P. Di hutan alam, nilai rata-rata unsur hara N dan C sebesar 0,88 %, sedangkan kandungan unsur hara Ca,
Mg, K, dan Na sebesar 1,6 me 100g-1
Penanaman tumbuhan penutup tanah dilakukan untuk mempercepat pengembalian bahan organik ke tanah dari biomassa tumbuhan di sekitarnya, di samping juga untuk menjaga kelembaban tanah dan menekan laju pertumbuhan gulma di sekitar pangkal pohon, serta dapat menahan laju erosi dan sedimentasi. Di lokasi penelitian, tumbuhan penutup tanah yang digunakan adalah uraso . Unsur hara P mempunyai nilai sangat tinggi yaitu 14,6 ppm.
(Sacharum sp.), tetapi mulai tahun 2003 penggunaan uraso (Sacharum sp.) telah
diganti oleh signal grass (Brachiaria decumbens).
Signal grass (Brachiaria decumbens) digunakan karena memiliki sifat yang dapat cepat tumbuh menutupi lahan, dapat berkembang pada daerah yang miskin hara, dan dapat mengontrol erosi. Penutupan tanah yang rapat mempunyai kelemahan, yaitu dapat menghambat terjadinya rekolonisasi. Pada tahun 2005,
penggunaan signal grass (Brachiaria decumbens) diganti dengan kombinasi dari
beberapa tanaman, yaitu Leguminaceae, Wynn cassia (Chamaecrista
rotundifolia), Burgundy (Macroptilium bracteatum), Bermuda (Cynodon
dactylon), dan WF millet (Panicum miliaceum). Tanaman Leguminaceae yang ditanam dapat menambah N tanah, tidak berkompetisi dengan tanaman pokok, juga beberapa jenisnya sangat toleran terhadap tanah miskin (Hardjowigeno 1993).
Beberapa jenis tanaman yang ditanam di daerah penelitian mempunyai persentase tumbuh yang sangat tinggi yaitu sebesar 96,3%. Bahkan, tanaman
pionir lokal, yaitu Sandro (Sandoricum kacappeae) dan Uru (Elmerelia sp.),
mencapai persen tumbuh 100% pada umur 3 tahun (Sirait 1997). Hal ini menandakan bahwa karakteristik lahan sudah cukup baik bagi tumbuhnya jenis- jenis lokal.
Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan tanaman seperti curah hujan, kondisi bibit, cara penanaman, dan pemupukan, seperti yang sudah dilakukan ini, apabila dilakukan secara konsisten atau bahkan meningkat akan dapat mempercepat proses pertumbuhan tanaman.
Waktu pencapaian kondisi klimaks diprediksi dengan menggunakan model persamaan hubungan antara umur dan LBDS. Hasil dari perumusan beberapa model persamaan regresi ditunjukkan pada Lampiran 2. Hasil verifikasi model masing-masing disajikan pada Tabel 4 dan Tabel 5, sedangkan hasil perhitungannya diberikan pada Lampiran 3. Persamaan regresi yang memberikan
hasil verifikasi terbaik adalah persamaan polinomial, yaitu y = 0,0011x2 - 0,0634x
+ 3,5438, dengan y adalah umur tanaman dan x adalah nilai LBDS. Model
polinomial ini juga merupakan model yang paling baik dengan jumlah nilai rangking terbesar (15) dari keempat model yang dicoba (Tabel 5). Beberapa jenis
tanaman, yaitu Betau (Calophylum soulatri), Dara-dara, Jambu-Jambu (Eugenia
sp.), Pontoh, Tapi-tapi, Daka, Kayu Eha, Paka-paka, Agathis, dan Matanggoa ditemukan di hutan alam di Bukit Lembo. Nilai LBDS di hutan alam sebesar 284 m2 ha-1,
Pada penelitian ini, kestabilan tegakan yang digambarkan oleh model hubungan antara LBDS dan umur tanaman tidak bersifat linier, tetapi ponomial
mengikuti persamaan y = 0,0011x
digunakan dalam model persamaan hubungan antara umur dengan LBDS, kemudian hasilnya adalah umur harapan pencapaian keberhasilan reforestasi 74,25 tahun.
2
Keberhasilan reforestasi ditujukan untuk melakukan perbaikan atau pemulihan hutan yang rusak menjadi hutan klimaks (rona awal). Upaya untuk mengganti yang rusak atau memperbaiki sistem sampai terbentuknya struktur dan fungsi hutan klimaks (rona awal) tentunya memerlukan waktu. Pada penelitian ini, keberhasilan perbaikan hutan sampai terbentuknya struktur dan fungsi hutan klimaks dibutuhkan waktu 75 tahun. Dalam kurun waktu 75 tahun apabila usaha- usaha dalam memperbaiki, mempertahankan, dan meningkatkan fungsi hutan tetap dilakukan dengan baik, konsisten, bahkan terus meningkat, misalnya melalui upaya-upaya percepatan proses suksesi, pertumbuhan, dorongan dengan alat atau modal, penemuan-penemuan metode baru, maka keberhasilan rehabilitasi dan reklamasi hutan akan tercapai, atau bahkan lebih cepat. Sebagai pembanding, keberhasilan reforestasi terjadi di hutan hujan dataran rendah di Kalapana Pulau
Hawaii, hutan ditebang tahun 1983−1984. Pada tahun 1992, ditemukan anakan
Metrosideros polymorpha dan setelah 20 tahun spesies Metrosideros polymorpha
dikenal sebagai tanaman asli pulau tersebut. Selanjutnya, tanaman ini tumbuh
bersama-sama dengan Trema orientalis, Melochia umbellata, Psidium
cattleianum, dan Falcataria moluccana (Mueller and Dombois 2008)
- 0,0634x + 3,5438, dengan y adalah umur
tanaman dan x adalah nilai LBDS. Berdasarkan persamaan ini, kestabilan tegakan
Tabel 4 Hasil verifikasi model estimasi umur harapan pencapaian keberhasilan reforestasi di areal revegetasi PT INCO Tahun 2008
Model R2 *) SA*) SR*) RMSE*) e*) χ2 hitung
χ *) 2 tabe*) Polinomial 75 -0,124 8,875 20,747 7,900 10,496 16,919 Power 62 0,004 13,223 25,724 5,933 11,629 16,919 Eksponensial 71 -0,097 9,341 22,772 7,506 6,946 16,919
Keterangan : *) R2 : koefisien determinasi, SA : simpangan agregat, SR : simpangan rata-rata, RMSE : Root Mean Square Error, e : bias, dan χ2
Tabel 5 Hasil nilai rangking dari verifikasi model estimasi umur harapan pencapaian keberhasilan reforestasi di areal revegetasi PT INCO Tahun 2008
hitung : uji beda nyata (Khi Kuadrat)
Model R2*) SA*) SR*) RMSE*) e*) Jumlah
Polinomial 4 1 4 4 2 15
Power 1 4 1 2 4 12
Eksponensial 2 3 3 3 3 14
Keterangan : *) R2 : koefisien determinasi, SA : simpangan agregat, SR : simpangan rata-rata, RMSE : Root Mean Square Error, dan e : bias.
Tabel 6 Nilai LBDS dugaan berdasarkan model*)
Umur (Tahun)
pada setiap umur tanaman di areal revegetasi PT INCO Tahun 2008
Umur (puluhan) (Tahun)
(Satuan) 0 10 20 30 40 50 60 70 Nilai LBDS (m2 ha-1) 0 0 89 150 200 239 267 282 287 1 24 95 156 205 242 269 283 287 2 31 102 161 209 246 271 284 286 3 39 108 167 213 249 273 285 286 4 46 115 172 217 252 274 285 284 5 54 121 177 221 254 276 286 284 6 61 127 182 225 257 277 287 284 7 68 133 187 229 260 279 287 284 8 68 139 191 232 262 280 287 284 9 82 145 196 236 264 281 287 284 Keterangan : *)Umur = 0,0011x2 - 0,0634 LBDS + 3,5438
Gambar 8 Kestabilan tegakan menurut umur (tahun) dan LBDS (m2 ha-1) di areal revegetasi PT INCO tahun 2008