HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Lereng Bagian 3
4.7 Preferensi dan Mitigasi Pada Lereng Penelitian
Pada lereng penelitian pilihan treatment atau pendukung yang dapat dilakukan berdasarkan metode Rock Structure Rating (RSR) yang dibagi menjadi
57 tiga bagian berdasarkan kondisi lereng dan perhitungan nilai RSR yang telah dibahas sebelumnya, yaitu sebagai berikut:
1. Lereng Bagian 1
Lereng bagian 1 yang memiliki panjang 15 m dan tinggi 10 m dengan kondisi tingkat pelapukan tinggi. Berdasarkan nilai RSR yang didapat, diketahui treatment yang dapat dilakukan yaitu penanaman rockbolts dengan jarak antar rockbolts 3,1 feet maka secara horizontal berjumlah 16 rockbolts dalam satu baris, sedangkan secara vertical berjumlah 11 rockbolts dalam satu baris (Gambar 4.19).
Kemudian penyemprotan shotcrete pada lereng dengan ketebalan 3,3 inci atau 83,8 mm (Gambar 4.20).
Gambar 4.19 Ilustrasi Sketsa Rockbolt Berdiameter 1 inci Dengan Spasi 3,1 feet Pada Lereng Bagian 1
Gambar 4.20 Ilustrasi Sketsa Shotcrete dengan Ketebalan 3,3 inci Pada Lereng Bagian 1
Universitas Islam Riau
58 2. Lereng Bagian 2
Lereng bagian 2 memiliki panjang 6 m dan tinggi 4 m dengan kondisi tingkat pelapukan ringan. Berdasarkan nilai RSR yang didapat, diketahui treatment yang dapat dilakukan yaitu penanaman rockbolts dengan jarak antar rockbolts 3,5 feet maka secara horizontal berjumlah 6 rockbolts dalam satu baris, sedangkan secara vertical berjumlah 4 rockbolts dalam satu baris (Gambar 4.21). Kemudian penyemprotan shotcrete pada lereng dengan ketebalan 2,7 inci atau 68,5 mm (Gambar 4.22).
Gambar 4.21 Ilustrasi Sketsa Rockbolt Berdiameter 1 inci Dengan Spasi 3,5 feet Pada Lereng Bagian 2
Gambar 4.22 Ilustrasi Sketsa Shotcrete dengan Ketebalan 2,7 inci Pada Lereng Bagian 2 Shotcrete pada lereng dengan ketebalan 2,7 inci
59 3. Lereng Bagian 3
Lereng bagian 3 memiliki panjang 27 m dan tinggi 8 m dengan kondisi tingkat pelapukan ringan. Berdasarkan nilai RSR yang didapat, diketahui treatment yang dapat dilakukan yaitu penanaman rockbolts pada lereng bagian 3 dengan jarak antar rockbolts 3,8 feet maka secara horizontal berjumlah 19 rockbolts dalam satu baris, sedangkan secara vertical berjumlah 5 rockbolts dalam satu baris (Gambar 4.23). Kemudian penyemprotan shotcrete pada lereng dengan ketebalan 2,6 inci atau 66 mm (Gambar 4.24).
Gambar 4.23Ilustrasi Sketsa Rockbolt Berdiameter 1 inci Dengan Spasi 3,8 feet Pada Lereng Bagian 3
Gambar 4.24 Ilustrasi Sketsa Shotcrete dengan Ketebalan 2,6 inci Pada Lereng Bagian 3
Kondisi lereng penelitian dibagian sisi kiri lereng telah mengalami longsor.
Pada bagian longsor tersebut terlihat batuan pada bagian dalam lereng telah mengalami pelapukan dan cenderung menuju soil atau tanah. Mitigasi yang dapat
Universitas Islam Riau
60 diberikan pada bagian lereng yang telah mengalami longsor berbeda dengan kondisi lereng batuan yang diteliti. Salah satu contoh mitigasi yang diberikan pada lereng yang telah mengalami longsor yaitu pembuatan tanggul batuan penahan longsor.
Dapat dilihat pada Gambar 4.25.
Gambar 4.25 Mitigasi Longsor dengan Tanggul Batuan Penahan
61 BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari analisis data yang telah dilakukan pada penelitian ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Pada daerah penelitian lereng dibagi menjadi empat scanline yang mempunyai ciri khas di setiap scanline nya. Dari empat scanline tersebut dibagi menjadi 1 bagian lereng yang memiliki pelapukan tinggi berupa sampel tanah menggunakan analisis Atterberg Limits dan 3 bagian lereng menggunakan metode Rock Structure Rating (RSR).
2. Hasil akhir dari analisis Atterberg Limit didapatkan nilai sampel tanah bagian bawah lereng dengan nilai indeks plastisitas nya 51,56% dan bagian atas lereng 49,57%. Kedua bagian tanah pada lereng tersebut yaitu CH (Clay High Plasticity), lempung anorganik dengan plastisitas yang tinggi
3. Dalam analisis Rock Structure Rating (RSR), lereng dibagi menjadi tiga bagian dikarenakan kondisi lereng yang berbeda-beda. Lereng bagian 1 memiliki panjang 15 m dan tinggi 10 m. Treatment yang dapat dilakukan yaitu penanaman rockbolts pada lereng bagian 1 dengan jarak antar rockbolts 3,1 feet maka secara horizontal berjumlah 16 rockbolts dalam satu baris, sedangkan secara vertical berjumlah 11 rockbolts dalam satu baris.
Dan juga penyemprotan shotcrete dengan ketebalan 3,3 inci.
4. Lereng bagian 2 memiliki panjang 6 m dan tinggi 4 m. Treatment yang dapat dilakukan yaitu penanaman rockbolts pada lereng bagian 2 dengan jarak antar rockbolts 3,5 feet maka secara horizontal berjumlah 6 rockbolts dalam satu baris, sedangkan secara vertical berjumlah 4 rockbolts dalam satu baris.
Dan penyemprotan shotcrete dengan ketebalan 2,7 inci.
5. Lereng bagian 3 memiliki panjang 27 m dan tinggi 8 m. Penanaman rockbolts pada lereng bagian 3 dengan jarak antar rockbolts 3,8 feet maka secara horizontal berjumlah 19 rockbolts dalam satu baris, sedangkan secara
Universitas Islam Riau
62 vertical berjumlah 5 rockbolts dalam satu baris. Dan penyemprotan shotcrete dengan ketebalan 2,6 inci.
6. Mitigasi lain yang dapat dilakukan dari lereng penelitian yaitu pembuatan tanggul batuan penahan longsor lereng yang telah mengalami pelapukan yang tinggi atau sudah menjadi tanah.
5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan peneliti pada penelitian ini yaitu agar masyarakat tidak melakukan penambangan batu di lereng karena dapat menyebabkan longsor. Jalan lintas Riau – Sumbar merupakan jalan pusat perekonomian yang apabila terjadi longsor akan berdampak naiknya harga bahan makanan, serta terputusnya hubungan dari kedua provinsi ini. Dan juga pemerintah harus menindaklanjuti masyarakat yang melakukan penambangan batuan di badan lereng secara besar-besaran.
63 DAFTAR PUSTAKA
Atteberg, A. (1911), Uber Die Physikalishe Bodenuntersuchung Und Uber Die Plastizitatder Tone, Int. Mitt.Boden,Vol .1.
Bieniawski, Z. T., 1989. Engineering Rock Mass Classification. Mining and Mineral Resources Research Institute. The Pennsylvania State University.
Bowles, E.J. 1989. Sifat-sifat Fisis dan Geoteknik Tanah. PT. Erlangga. Jakarta.
Casagrande, A. (1948), Classification and Identifications to Soil Mechanics, ASCE Choanji, T. (2016). Slope Analysis Based On SRTM Digital Elevation Model Data:
Study Case On Rokan IV Koto Area And Surrounding. Journal of Dynamics, 1(2), 71–75.
Choanji, T., Yuskar, Y., Putra, D. B. E., Cahyaningsih, C., & Sakti, W. (2018).
Clustering Slope Stability from Using Drone DEM Lineament Extraction And Rock Mass Rating In Pangkalan Koto Baru , West Sumatra , Indonesia.
Journal of Applied Geospatial Information (JAGI), 2(2), 124–129.
Das, B.M. 1995. Mekanika Tanah (Prinsip-Prinsip Rekaya Geoteknis). Jilid I.
Terjemahan Erlangga, Jakarta.
Hardiyatmo, H.C. Mekanika Tanah I. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum. 1992 Irfan, T.Y dan Dearman, W.R., 1978. Engineering classification and index
properties of a weathered granite. Bull.Int. Assoc. Eng. Geol., 17: 79-90.
ISRM, 1981. Comission on classification of rock and rock masses, Basic geothecnical description of rock masses. Int. J. Rock Mech. Min. Sci. Geomech.
Abstr., 18: 85-110
Iswanto & Raharja. 2009. Sistem Peringatan Dini Tanah Longsor Berbasis ATMEGA8535. Jurnal Informatika. Yogyakarta.
Universitas Islam Riau
64 Kausarian, H., Shamsudin, A. R., & Yuskar, Y. (2014). Geotechnical and Rock
Mass Characterization Using Seismic Refraction Method at Kajang Rock Quarry, Semenyih, Selango r Darul Ehsan. And Authors Pages, 13, 12.
Korach, T & Sarajar, A.N. 2014. Analisis Kestabilan Lereng dengan Metode Jambu (Studi Kasus: Kawasan Citraland). Jurnal Sipil Statik. Vol 2/No. 1, (22-28) ISSN: 2337-6732, Januari 2014
Putra, D. B. E., & Choanji, T. 2016. Preliminary Analysis of Slope Stability in Kuok and Surrounding Areas. Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology, 1(1), 41–44.
Putra, D. B. E., Yuskar, Y., Cahyaningsih, C., & Khairani, S. (2017). ROCK MASS CLASSIFICATION SYSTEM USING ROCK MASS RATING (RMR) OF A CUT SLOPE IN RIAU–WEST SUMATRA ROAD. PROCEEDNG ICoSET, 8, 106.
Santosa, Budi dkk. 1998. Dasar Mekanika Tanah. Penerbit Gunadarma.
Silitonga P.H. & Kastowo, 1995: Peta Geologi Lembar Solok, Sumatera, Peta Geologi bersistem Sumtera, PPPG, Bandung.
Sustriani, Yunita. 2012. Pengaruh Struktur Kekar Terhadap Kestabilan Lefreng Dinding Bagian Barat Daya dan Timur Laut Pada Desain Fase 6 Tambang Batu Hijau PT Newmont Nusa Tenggara.
Wickham, G.E.; Tiedemann, H.R.; Skinner, E.H. (1972). "Support determination based on geologic predictions". In Lane, K.S.; Garfield, L.A. (eds.). Proc. 1st North American Rapid Excavation & Tunnelling Conference (RETC), Chicago. 1. American Institute of Mining, Metallurgical and Petroleum Engineers (AIME), New York. pp. 43–64.
Wickham, G.E.; Tiedemann, H.R.; Skinner, E.H. (1974). "Ground support prediction model - RSR concept". Proc. 2nd North American Rapid Excavation & Tunnelling Conference (RETC), San Francisco. 1. American Institute of Mining, Metallurgical and Petroleum Engineers (AIME), New York. pp. 691–707
65 Yuskar, Y., & Choanji, T. (2017). Uniqueness Deposit of Sediment on Floodplain
Resulting From Lateral Accretion on Tropical Area: Study Case at Kampar River, Indonesia. Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology, 2(1), 14–19.
Yuskar, Y., Putra, D. B. E., Suryadi, A., Choanji, T., & Cahyaningsih, C. (2017).
Structural Geology Analysis In A Disaster-Prone Of Slope Failure, Merangin Village, Kuok District, Kampar Regency, Riau Province. Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology, 2(4), 249–254.