• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.4. Komoditas Vanili

5.4.3. Preferensi lokasi lahan

Variabel lokasi lahan vanili untuk tiap parameter terdapat dalam Tabel 11.

Variabel lokasi lahan vanili dalam parameter jarak lahan dari jalan (y1) dan jarak lahan dari pemukiman (y2) juga ditentukan berdasarkan wawancara terhadap responden, sedangkan variabel dalam parameter kelerengan lahan (y3) dan arah lereng lahan (y4) ditentukan berdasarkan pustaka. Perbedaan variabel dalam parameter jarak lahan dari pemukiman antara komoditas kopi dan vanili disebabkan oleh kondisi geografis lokasi dan budaya masyarakat. Lokasi lahan kopi di BKPH Kalibaru terletak cukup jauh dari pemukiman, dibandingkan dengan lokasi lahan vanili di RPH Sroyo BKPH Rogojampi.

Tabel 10 Variabel dalam parameter lokasi lahan vanili di BKPH Rogojampi

Parameter Variabel Skor rata- rata

Jarak lahan dari jalan (y1)

0,1 km (y11) 5,000 0,2 km (y12) 4,000 0,5 km (y13) 3,233 1 km (y14) 2,933

Jarak lahan dari pemukiman (y2)

0,2 km (y21) 5,000

Rata- rata preferensi tiap parameter lokasi lahan vanili digambarkan dalam kurva preferensi. Kurva preferensi ini juga menggambarkan tingkat preferensi tiap variabel. Tingkat preferensi merupakan perbandingan total skor tiap variabel dengan nilai total skor maksimal suatu variabel dalam satu parameter yang sama.

1

Jarak Lahan dari Jalan (km )

Tingkat Preferensi

Gambar 11 Kurva preferensi jarak lahan vanili dari jalan

36

. Pada Gambar 13 dan 14, terlihat bahwa semakin jauh jarak lahan tingkat preferensi variabel semakin kecil. Variabel jarak terdekat memiliki tingkat preferensi 1 atau paling diinginkan oleh responden dalam pengelolaan lahan vanili. Semakin jauh jarak lahan dari jalan dan pemukiman, nilai preferensinya semakin kecil atau tidak diinginkan. Hal ini terjadi karena akan dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai lokasi lahan vanili yang jauh dan meningkatkan biaya pengangkutan hasil panen.

Jarak Lahan dari Pem ukim an (km )

Tingkat Preferensi

Gambar 12 Kurva preferensi jarak lahan vanili dari pemukiman

1

Datar Landai Agak Curam Curam * Sangat Curam *

Ke las Lereng

Tingkat Preferensi

Parameter jarak dari jalan memiliki selang nilai preferensi diinginkan antara 0,59 sampai 1 dan tidak diinginkan nilai kurang dari 0,59. Parameter jarak dari pemukiman memiliki selang nilai preferensi diinginkan antara 0,6 sampai 1 dan tidak diinginkan nilai preferensi kurang dari 0,6. Hal ini berarti jika suatu lokasi memiliki jarak dari jalan lebih dari 1 km dan jarak dari pemukiman lebih dari 1,5 km, maka lokasi tersebut tidak diinginkan oleh responden.

Gambar 13 Kurva preferensi kelerengan lahan komoditas vanili

1

0.85

0.67

0.40 0.43

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1

Datar Timur Laut Tenggara Barat Daya * Barat Laut * Arah Lereng Lahan

Tingkat Preferensi

Gambar 14 Kurva preferensi arah lereng lahan komoditas vanili

Parameter kelerengan lahan memiliki selang tingkat preferensi diinginkan antara 0,61 sampai 1. Variabel kelerengan lahan dengan tingkat preferensi kurang dari 0,61 atau tidak diinginkan oleh responden adalah kelerengan curam dan sangat curam. Parameter arah lereng lahan memiliki selang tingkat preferensi diinginkan antara 0,67 sampai 1 dan variabel dengan nilai preferensi kurang dari 0,61 atau tidak diinginkan adalah arah lereng lahan barat daya dan barat laut.

Seperti pada komoditas kopi, kelerengan lahan dan arah lereng lahan dengan tingkat preferensi tertinggi untuk lokasi lahan vanili adalah lahan datar. Lahan yang datar lebih mudah dikelola misalnya tidak perlu dibuat guludan untuk mengurangi resiko erosi. Arah lereng yang disukai responden setelah datar berurutan adalah timur laut dan tenggara. Menurut responden, tanaman vanili yang ditanam pada lahan dengan lereng menghadap timur akan produktif dibandingkan vanili yang ditanam pada lahan menghadap barat. Selain itu variabel timur laut memiliki preferensi lebih tinggi daripada tenggara karena berdasarkan pengalaman responden vanili yang di lahan dengan aspek timur laut memiliki produktivitas yang lebih tinggi.

Variabel yang digunakan dalam menentukan skor komposit minimal dan maksimal ditentukan berdasarkan wawancara. Semua variabel dalam parameter jarak dari jalan (y1) dan jarak dari pemukiman (y2) digunakan dalam model. Sedangkan parameter kelerengan lahan (y3) dan aspek (y4) dibatasi sampai variabel kelerengan lahan agak curam (y33) dan arah lereng tenggara (y43). Variabel- variabel yang tidak

38

dinginkan responden yaitu variabel kelerengan curam (y34) dan sangat curam (y35) serta aspek barat daya (y44) dan barat laut (y45) diberi skor rata- rata 0.

5.4.4. Klasifikasi Tingkat Preferensi

Penentuan kelas preferensi lokasi lahan vanili sama seperti penentuan kelas preferensi lokasi lahan kopi. Skor komposit maksimal model sebesar 5 terdiri dari variabel jarak dari jalan 0,1 km (y11), jarak dari pemukiman 0,2 km (y21), kelerengan lahan datar (y31) dan aspek datar (y41). Skor komposit minimal model sebesar 3,048 terdiri dari variabel minimal yang diinginkan oleh responden, yaitu jarak dari jalan 1 km (x14), jarak dari pemukiman 1,5 km (x24), kelerengan agak curam (x33) dan aspek tenggara (x43) Anak petak yang memiliki skor komposit kurang dari skor komposit minimal masuk ke dalam kelas preferensi tidak diinginkan.

Tabel 11 Kelas preferensi lokasi lahan vanili di BKPH Rogojampi

Kelas Preferensi Skor Komposit Sangat Diinginkan 4,349 – 5,000 Diinginkan 3,699 – 4,349 Cukup Diinginkan 3,048 – 3,699 Tidak Diinginkan < 3,048

Tabel 12 Hasil pemodelan komoditas vanili di BKPH Rogojampi

Kelas Preferensi Jumlah

Anak Petak Luas (Ha) Persentase Luas (%) Sangat Diinginkan 12 9,958 0,93

Diinginkan 73 155,397 14,54 Cukup Diinginkan 6 32,808 3,07

Tidak Diinginkan 2 870,247 81,45

Hasil klasifikasi skor komposit tiap anak petak di BKPH Rogojampi untuk lokasi lahan vanili terdapat dalam Tabel 13. Terdapat 2 anak petak yang masuk dalam kelas tidak diinginkan yaitu bagian dari petak 74 dan 1D. Dua lokasi ini juga tidak digunakan untuk budidaya vanili. Keduanya merupakan bagian dari kawasan hutan lindung seluas 81,45% wilayah BKPH Rogojampi dengan kelerengan lahan rata- rata curam dan sangat curam. Walaupun aspek di areal ini cukup bervariasi, namun karena

tingkat kepentingan parameter kelerengan lahan lebih tinggi maka parameter aspek tidak berpengaruh nyata dalam penentuan kelas preferensi. Dari segi aksesibilitas lahan, kedua anak petak ini memiliki aksesibilitas yang cukup rendah dari jalan dan pemukiman.

Hanya terdapat satu anak petak dengan kelas preferensi sangat diinginkan yang telah ditanami vanili yaitu anak petak 20F. Anak petak ini memiliki aksesibilitas yang cukup tinggi dari jalan dan pemukiman serta kelerengan datar dan landai.

Walaupun memiliki bermacam- macam aspek, tetapi anak petak ini termasuk dalam kelas preferensi sangat diinginkan. Hal ini disebabkan tingkat kepentingan aspek hanya sebesar 14,3%, sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap skor komposit lokasi lahan vanili.

Lahan- lahan yang digunakan untuk budidaya vanili di RPH Sroyo sebagian besar merupakan lahan bekas penjarahan pada masa reformasi. Lahan- lahan tersebut memiliki kelas hutan TKL dengan jenis tanaman pinus (BKPH Rogojampi termasuk kelas perusahaan damar). Sebagian besar lokasi lahan vanili saat ini masuk dalam kelas preferensi diinginkan yaitu anak petak 12B, 14B, 18D, 20B, 19A, 19C dan 20I.

Sedangkan dari 6 anak petak yang termasuk kelas preferensi cukup diinginkan, terdapat 1 anak petak yaitu 21E yang saat ini digunakan untuk budidaya vanili. Anak petak 21E memiliki aksesibilitas yang cukup tinggi dengan kelerengan lahan datar, landai dan agak curam.

BAB VI

Dokumen terkait