BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2) Prefiks {b ǝ {N}-}
Prefiks ini memiliki enam buah alomorf. Keenam alomorf itu dapat dikelompokkan menjadi dua golongan: (1) alomorf /bə-/ dan /b-/, serta (2) alomorf /bər-/, /br-/, /bə -/, dan /bl-/. Selain alomorf terakhir /bl-/, kedua kelompok alomorf itu saling melengkapi. Kelompok pertama dipakai di depan semua bentuk dasar yang mulai dengan konsonan; sedang kelompok kedua dipakai di depan semua bentuk yang mulai dengan vokal. Alomorf /bl-/ bersifat istimewa, kemunculannya tidak dapat diramalkan.
i. Vokal
62.{internet}+{bǝ{N}-} /berinternet/ „mengerjakan atau menggarap internet‟
63.{interaksi} /berinteraksi/„mengadakan interaksi/hubungan‟ Data nomor 62 diambil dari kalimat,
“Jika tools ini mendeteksi ada access point dan anda bisa langsung bisa menggunakan untuk
berinternet (jika ada jaringan internet nya)”.
Sumber: Sidiq Syamsul Hidayat, dkk, Wireless Hacking Tools dan Tricks. (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), h. 26.
Kata berinternet merupakan hasil afiksasi terhadap leksem internet, yang berasal dari kata bahasa Inggris internet yang memiliki makna „an international
computer network connecting other network and computers from companies‟.217 Kata internet diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi internet. Kata internet merupakan kelas/kategorial kata nomina proses afiksasi ini mengubah kelas/kategorial kata kerja pada kata internet.
Merujuk pada teori yang disampaikan oleh Muhajir, alomorf /bər-/ dan /br-/
dapat bervariasi di depan semua bentuk dasar yang mulai dengan vokal, ….218
Dengan demikian, yang terjadi pada bentuk kata internet menjadi bentuk berinternet merupakan merupakan proses morfofonemik prefiks {bǝ{N}-} + {internet}. Proses pembentukan kata dengan proses morfofonemik yang terjadi melibatkan penambahan afiks sehingga bentuk kata internet menjadi bentuk kata berinternet merupakan jenis perubahan pengekalan fonem.219 Setelah mengalami proses afiksasi dan proses morfofonemik, kata ini memiliki makna „mengerjakan atau menggarap internet‟.220
Data nomor 63 diambil dari kalimat,
“Pemilihan struktur bahasa yang tepat memungkinkan seorang pengguna merasa sedang
berinteraksi secara langsung dengan sistem tanpa adanya seorang instruktur program yang
lebih menguasai penggunaan program tersebut”.
Sumber: Bagus Karuniawan,Sistem Informasi Manajemen dengan Visual Basic 6. (Yogyakarta: ANDI, 2004), h. 87.
Kata berinteraksi merupakan hasil afiksasi terhadap leksem interaksi, yang berasal dari kata bahasa Inggris interaction yang memiliki makna „interaksi‟.221 Kata interaction diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi interaksi yang
memiliki makna „hal saling melakukan aksi, berhubungan, mempengaruhi‟.222
Kata interaksi merupakan kelas/kategorial kata nomina proses afiksasi ini tidak mengubah kelas/kategorial kata nomina pada kata interaksi.
217
Oxford University, op.cit, h. 787. 218
Muhajir, op.cit, h. 52. 219
Abdul Chaer, op. cit, h. 46. 220
Masnur Muslich, op.cit, h. 70. 221
John M. Echols dan Hassan Shadaily, op.cit, h. 323. 222
Merujuk pada teori yang disampaikan oleh Muhajir, alomorf /bər-/ dan /br-/
dapat bervariasi di depan semua bentuk dasar yang mulai dengan vokal, ….223
Dengan demikian, yang terjadi pada bentuk kata interaksi menjadi bentuk
berinteraksi merupakan merupakan proses morfofonemik prefiks {bǝ{N}-} + {interaksi}. Proses pembentukan kata dengan proses morfofonemik yang terjadi
melibatkan penambahan afiks sehingga bentuk kata interaksi menjadi bentuk kata berinteraksi merupakan jenis perubahan pengekalan fonem.224 Setelah mengalami proses afiksasi dan proses morfofonemik, kata ini memiliki makna „mengadakan interaksi/hubungan‟.225
64.{ekstension}+{bǝ{N}-} /berekstension/ „memperpanjangan waktu‟ Data nomor 64 diambil dari kalimat,
“Tambahkan 1 buah combobox untuk memberikan parameter Kota agar menampilkan data
tabel student yang berasal dari kota tertentu dan buat file crystalreport yang berekstension”.
Sumber: Widodo Budiarto, Visual Basic.NET 2005. (Yogyakarta: ANDI, 2006), h. 100.
Kata berekstension merupakan hasil afiksasi terhadap leksem ekstension, yang berasal dari kata bahasa Inggris exstension yang memiliki makna „perpanjangan waktu, perluasan‟.226
Kata exstention diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi ekstensi. Penggunaan kata ekstension tidak tepat karena dalam bahasa Indonesia tidak terdapat kata yang berakhiran –on seharusnya menggunakan kata ekstensi. Kata ekstension merupakan kelas/kategorial kata nomina proses afiksasi ini tidak mengubah kelas/kategorial kata nomina pada kata ekstension.
Merujuk pada teori yang disampaikan oleh Muhajir, alomorf /bər-/ dan /br-/
dapat bervariasi di depan semua bentuk dasar yang mulai dengan vokal, ….227
Dengan demikian, yang terjadi pada bentuk kata ekstension menjadi bentuk
berekstension merupakan merupakan proses morfofonemik prefiks {bǝ{N}-}
223
Muhajir, op.cit, h. 52. 224
Abdul Chaer, op. cit, h. 46. 225
Departemen Pendidikan Nasional, op.cit, h. 542. 226
John M. Echols dan Hassan Shadaily, op.cit, h. 226. 227
+ {ekstension}. Proses pembentukan kata dengan proses morfofonemik yang terjadi melibatkan penambahan afiks sehingga bentuk kata ekstension menjadi bentuk kata berekstension merupakan jenis perubahan pengekalan fonem.228 Setelah mengalami proses afiksasi dan proses morfofonemik, kata ini memiliki makna „mengerjakan perpanjangan waktu.229
65.{arsir} + {bǝ{N}-} /berarsir/ „mempunyai garis-garis sejajar‟ 66.{asosiasi} + /berasosiasi/ „bergabung, berhubungan‟ Data nomor 65 diambil dari kalimat,
“Klik pada kotak berarsir akan menggerakan isi dari window satu halaman”.
Sumber: Steve Potts dan Clayton Walnum. Dasar-dasar Pemrograman Borland C++. (Yogyakarta: ANDI, 2003), h. 7.
Kata berarsir merupakan hasil afiksasi terhadap leksem arsir yang memiliki makna „menarik garis-garis sejajar atau silang-menyilang‟.230
Kata arsir merupakan kelas/kategorial kata verba proses afiksasi ini mengubah kelas/kategorial kata nomina pada kata arsir.
Merujuk pada teori yang disampaikan oleh Muhajir, alomorf /bər-/ dan /br-/
dapat bervariasi di depan semua bentuk dasar yang mulai dengan vokal, ….231
Dengan demikian, yang terjadi pada bentuk kata arsir menjadi bentuk berarsir merupakan merupakan proses morfofonemik prefiks {bǝ {N}-} + {arsir}. Proses pembentukan kata dengan proses morfofonemik yang terjadi melibatkan penambahan afiks sehingga bentuk kata arsir menjadi bentuk kata berarsir merupakan jenis perubahan pengekalan fonem.232 Setelah mengalami proses
228
Abdul Chaer, op. cit, h. 46. 229
Masnur Muslich, op.cit, h. 70. 230
Departemen Pendidikan Nasional, op.cit, h. 730. 231
Muhajir, op.cit, h. 52. 232
afiksasi dan proses morfofonemik, kata ini memiliki makna „mempunyai garis
-garis sejajar‟.233
Data nomor 66 diambil dari kalimat,
“Pada contoh di atas getc memilih sebuah argument yang menunjuk pada stream yang
berasosiasi dengan piranti input standard, keyboard. Getc membaca character dari keyboard dan menyimpan nilai integer character pada variable char_in. printf() digunakan untuk
mencetak pesan dan character yang dimasukkan”.
Sumber: Steve Potts dan Clayton Walnum. Dasar-dasar Pemrograman Borland C++. (Yogyakarta: ANDI, 2003), h. 28.
Kata berasosiasi merupakan hasil afiksasi terhadap leksem asosiasi, yang berasal dari kata bahasa Inggris association yang memiliki makna „perkumpulan, persatuan‟.234
Kata berasosiasi merupakan hasil afiksasi terhadap leksem asosiasi, yang memiliki makna „persatuan antara rekan usaha, perkumpulan orang yang mempunyai kepentingan bersama‟.235
Kata association diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi asosiasi. Kata asosiasi merupakan kelas/kategorial kata nomina proses afiksasi ini mengubah kelas/kategorial kata kerja pada kata asosiasi.
Merujuk pada teori yang disampaikan oleh Muhajir, alomorf /bər-/ dan /br-/
dapat bervariasi di depan semua bentuk dasar yang mulai dengan vokal, ….236
Dengan demikian, yang terjadi pada bentuk kata asosiasi menjadi bentuk berasosiasi merupakan merupakan proses morfofonemik prefiks {bǝ{N}-} + {asosiasi}. Proses pembentukan kata dengan proses morfofonemik yang terjadi melibatkan penambahan afiks sehingga bentuk kata asosiasi menjadi bentuk kata berasosiasi merupakan jenis perubahan pengekalan fonem.237 Setelah mengalami proses afiksasi dan proses morfofonemik, kata ini memiliki makna „bergabung,
berhubungan‟.238
233
Masnur Muslich, op.cit, h. 70. 234
John M. Echols dan Hassan Shadaily, op.cit, h. 42. 235
Departemen Pendidikan Nasional, op.cit, h. 99. 236
Muhajir, op.cit, h. 52. 237
Abdul Chaer, op. cit, h. 46. 238
67.{orientasi} /berorientasi/ „melihat-lihat atau meninjau‟ Data nomor 67 diambil dari kalimat,
“Ada 4 prinsip dasar dari pemrograman berorientasi obyek, yaitu abstraksi, enkapsulasi,
modularitas, dan hirarki”.
Sumber: Indra Putra, Membuat Aplikasi Program Nyata dengan Visual Basic 6.0, (Yogyakarta: ANDI, 2004), h. 29.
Kata berorientasi merupakan hasil afiksasi terhadap leksem orientasi, yang berasal dari kata bahasa Inggris orientation yang memiliki makna „orientasi‟.239 Kata berorientasi merupakan hasil afiksasi terhadap leksem orientasi, yang
memiliki makna „peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dsb)‟.240
Kata orientation diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi orientasi. Kata orientasi merupakan kelas/kategorial kata nomina proses afiksasi ini mengubah kelas/kategorial kata kerja pada kata orientasi.
Merujuk pada teori yang disampaikan oleh Muhajir, alomorf /bər-/ dan /br-/ dapat bervariasi di depan semua bentuk dasar yang mulai dengan vokal, ….241 Dengan demikian, yang terjadi pada bentuk kata orientasi menjadi bentuk berorientasi merupakan merupakan proses morfofonemik prefiks {bǝ{N}-} + {orientasi}. Proses pembentukan kata dengan proses morfofonemik yang terjadi melibatkan penambahan afiks sehingga bentuk kata orientasi menjadi bentuk kata berorientasi merupakan jenis perubahan pengekalan fonem.242 Setelah mengalami proses afiksasi dan proses morfofonemik, kata ini memiliki makna „melihat-lihat
atau meninjau‟.243
Dalam kalimat tersebut kata orientasi menyatakan meninjau berdasarkan objeknya.
ii. Konsonan
a. Bilabial /b/, /p/,/m/, dan /w/
Tidak ditemukan proses morfofonemik
239
John M. Echols dan Hassan Shadaily, op.cit, h. 408. 240
Departemen Pendidikan Nasional, op.cit, h. 1023. 241
Muhajir, op.cit, h. 52. 242
Abdul Chaer, op. cit, h. 46. 243
b. Labiodental /v/, /f/
68.{variasi} + {bǝ{N}-} /bervariasi/ „mempunyai varian/macam -macam‟
Data nomor 68 diambil dari kalimat,
“Membuat statistik yang bervariasi”.
Sumber: Sidiq Syamsul Hidayat, dkk, Wireless Hacking Tools dan Tricks. (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), h. 65.
Kata bervariasi merupakan hasil afiksasi terhadap leksem variasi, yang berasal dari kata bahasa Inggris variation yang memiliki makna „perbedaan,
variasi, selingan‟.244
Kata bervariasi merupakan hasil afiksasi terhadap leksem variasi. Kata variation diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi variasi yang memiliki makna „tindakan, keadaan, atau hasil perubahan dari keadaan semula;
perubahan; selingan‟.245 Kata variasi merupakan kelas/kategorial kata nomina
proses afiksasi ini mengubah kelas/kategorial kata kerja pada kata variasi.
Merujuk pada teori yang disampaikan oleh Muhajir, alomorf /bə-/ dipakai di
depan semua konsonan, kecuali /l/ dan /r/,….246
Dengan demikian, yang terjadi pada bentuk kata variasi menjadi bentuk bervariasi merupakan merupakan proses morfofonemik prefiks {bǝ {N}-} + {variasi}. Proses pembentukan kata dengan proses morfofonemik yang terjadi melibatkan penambahan afiks sehingga bentuk kata variasi menjadi bentuk kata bervariasi merupakan jenis perubahan pengekalan fonem.247 Setelah mengalami proses afiksasi dan proses morfofonemik, kata ini memiliki makna „mempunyai variasi‟ atau memiliki varian atau macam-macam.248
c. Apikoalveolar /d/, /t/, /n/, /r/
244
John M. Echols dan Hassan Shadaily, op.cit, h. 627. 245
Departemen Pendidikan Nasional, op.cit, h. 1605. 246
Muhajir, op.cit, h. 52. 247
Abdul Chaer, op. cit, h. 46. 248
69.{notasi} + {bǝ{N}-} /bernotasi/ „mempunyai sistem lambang (tanda)‟
Data nomor 69 diambil dari kalimat,
“Klik ganda elemen bernotasi Use Case Diagram hingga diagram window menjadi aktif”.
Sumber: Julius Hermawan, Analisa-Desain dan Pemrograman Berorientasi Obyek dengan UML dan Visual Basic.NET. (Yogyakarta: ANDI, 2004), h. 40.
Kata bernotasi merupakan hasil afiksasi terhadap leksem notasi, yang berasal dari kata bahasa Inggris notation yang memiliki makna „angka-angka; cara
menulis; catatan‟.249
Kata bernotasi merupakan hasil afiksasi terhadap leksem notasi, yang memiliki makna „seperangkat atau sistem lambang (tentang tanda) yang menggambarkan bilangan (tentang aljabar), nada-nada (tentang musik), dan
ujaran (tentang fonetik)‟.250 Kata notation diserap ke dalam bahasa Indonesia
menjadi notasi. Kata notasi merupakan kelas/kategorial kata nomina proses afiksasi ini tidak mengubah kelas/kategorial kata nomina pada kata notasi.
Merujuk pada teori yang disampaikan oleh Muhajir, alomorf /bə-/ dipakai di depan semua konsonan, kecuali /l/ dan /r/,….251
Dengan demikian, yang terjadi pada bentuk kata notasi menjadi bentuk bernotasi merupakan merupakan proses morfofonemik prefiks {bǝ{N}-} + {notasi}. Proses pembentukan kata dengan proses morfofonemik yang terjadi melibatkan penambahan afiks sehingga bentuk kata notasi menjadi bentuk kata bernotasi merupakan jenis perubahan pengekalan fonem.252 Setelah mengalami proses afiksasi dan proses morfofonemik, kata ini memiliki makna „mempunyai seperangkat atau sistem lambang (tanda)‟.
d. Laminoalveolar /z/, /y/
Tidak ditemukan proses morfofonemik
249
John M. Echols dan Hassan Shadaily, op.cit, h. 397. 250
Departemen Pendidikan Nasional, op.cit, h. 1008. 251
Muhajir, op.cit, h. 52. 252
e. Laminoplanatal /ñ/, /j/, /c/, /s/
Tidak ditemukan proses morfofonemik
f. Dorsovelar /g/, /k/, /ŋ/, /x/
70.{koneksi} + {bǝ{N}-} /berkoneksi/ „menghubungkan‟ 71.{kolaborasi} /berkolaborasi/ „bekerja sama‟ 72.{kontribusi} /berkontribusi/ „mempunyai andil‟ Data nomor 72 diambil dari kalimat,
“Sehingga memudahkan kita untuk berkoneksi dari satu jaringan WiFi ke jaringan WiFi
yang lain”.
Sumber: Sidiq Syamsul Hidayat, dkk, Wireless Hacking Tools dan Tricks. (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), h. 36.
Kata berkoneksi merupakan hasil afiksasi terhadap leksem koneksi, yang berasal dari kata bahasa Inggris connect yang memiliki makna „menyambungkan,
menghubungkan‟.253
Kata connect diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi koneksi. Kata koneksi merupakan kelas/kategorial kata nomina proses afiksasi ini mengubah kelas/kategorial kata kerja pada kata koneksi.
Merujuk pada teori yang disampaikan oleh Muhajir, alomorf /bə-/ dipakai di
depan semua konsonan, kecuali /l/ dan /r/,….254
Dengan demikian, yang terjadi pada bentuk kata koneksi menjadi bentuk berkoneksi merupakan merupakan proses morfofonemik prefiks {bǝ{N}-} + {koneksi}. Proses pembentukan kata dengan proses morfofonemik yang terjadi melibatkan penambahan afiks sehingga bentuk kata koneksi menjadi bentuk kata berkoneksi merupakan jenis perubahan pengekalan fonem.255 Setelah mengalami proses afiksasi dan proses morfofonemik, kata ini memiliki makna „menghubungkan‟.
253
John M. Echols dan Hassan Shadaily, op.cit, h. 139. 254
Muhajir, op.cit, h. 52. 255
Data nomor 71 diambil dari kalimat,
“Trend aplikasi web canggih saat ini menggunakan XML Web Services (atau singkatnya Web
Services) agar dapat saling berkolaborasi antara berbagai sistem”.
Sumber: Widodo Budiarto, Visual Basic.NET 2005. (Yogyakarta: ANDI, 2006), h. 129.
Kata berkolaborasi merupakan hasil afiksasi terhadap leksem kolaborasi, yang berasal dari kata bahasa Inggris collaboration yang memiliki makna
„kerjasama, kolaborasi‟.256
Kata berkolaborasi merupakan hasil afiksasi terhadap leksem kolaborasi, yang memiliki makna „perbuatan kerja sama‟.257
Kata collaboration diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kolaborasi. Kata kolaborasi merupakan kelas/kategorial kata nomina proses afiksasi ini mengubah kelas/kategorial kata kerja pada kata kolaborasi.
Merujuk pada teori yang disampaikan oleh Muhajir, alomorf /bə-/ dipakai di
depan semua konsonan, kecuali /l/ dan /r/,….258
Dengan demikian, yang terjadi pada bentuk kata kolaborasi menjadi bentuk berkolaborasi merupakan merupakan proses morfofonemik prefiks {bǝ{N}-} + {kolaborasi}. Proses pembentukan kata dengan proses morfofonemik yang terjadi melibatkan penambahan afiks sehingga bentuk kata kolaborasi menjadi bentuk kata berkolaborasi merupakan jenis perubahan pengekalan fonem.259 Setelah mengalami proses afiksasi dan proses morfofonemik, kata ini memiliki makna „bekerja sama‟.260
Data nomor 72 diambil dari kalimat,
“Dengan melakukan hal ini anda berkontribusi ke database sistem operasi yang dikenali
Nmap dan karenanya ia akan lebih akurat”.
Sumber: Sidiq Syamsul Hidayat, dkk, Wireless Hacking Tools dan Tricks. (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), h. 83.
Kata berkontribusi merupakan hasil afiksasi terhadap leksem kontribusi, yang berasal dari kata bahasa Inggris contribution yang memiliki makna „sumbangan,
256
John M. Echols dan Hassan Shadaily, op.cit, h. 124. 257
Departemen Pendidikan Nasional, op.cit, h. 738. 258
Muhajir, op.cit, h. 52. 259
Abdul Chaer, op. cit, h. 46. 260
iuran‟.261
Kata berkontribusi merupakan hasil afiksasi terhadap leksem kontribusi, yang memiliki makna „uang iuran, sumbangan‟.262
Kata contribution diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kontribusi. Kata kontribusi merupakan kelas/kategorial kata nomina proses afiksasi ini mengubah kelas/kategorial kata kerja pada kata kontribusi.
Merujuk pada teori yang disampaikan oleh Muhajir, alomorf /bə-/ dipakai di
depan semua konsonan, kecuali /l/ dan /r/,….263
Dengan demikian, yang terjadi pada bentuk kata kontribusi menjadi bentuk berkontribusi merupakan merupakan proses morfofonemik prefiks {bǝ{N}-} + {kontribusi}. Proses pembentukan kata dengan proses morfofonemik yang terjadi melibatkan penambahan afiks sehingga bentuk kata kontribusi menjadi bentuk kata berkontribusi merupakan jenis perubahan pengekalan fonem.264 Setelah mengalami proses afiksasi dan proses morfofonemik, kata ini memiliki makna „mempunyai andil; mempunyai sumbangan‟.265
Fonem /ŋ/
Tidak ditemukan proses morfofonemik fonem /ŋ/ Fonem /x/
Tidak ditemukan proses morfofonemik fonem /x/
g. Uvular
Tidak ditemukan proses morfofonemik
h. Laringal /h/
Tidak ditemukan proses morfofonemik fonem /h/
i. Glotal /?/
261
John M. Echols dan Hassan Shadaily, op.cit, h. 145. 262
Departemen Pendidikan Nasional, op.cit, h. 752. 263
Muhajir, op.cit, h. 52. 264
Abdul Chaer, op. cit, h. 46. 265
Tidak ditemukan proses morfofonemik fonem /?/