Kontrol
(Acetobacter sp) dan khamir (Saccharomyces sp.) yang dapat menfermentasi sukrosa menjadi alkohol maupun asetat. Sadapan dari tandan bunga aren jantan dapat dilakukan setelah tanaman berumur 5-12 tahun. Setiap pohon tanaman aren ini dapat disadap selama 3 tahun dan setiap tahun dapat dilakukan sadap 3-4 tangkai bunga, dan dalam seharinya aren dapat menghasilkan 3-10 liter nira (Halim, 2008).
Kerusakan sel leydig oleh alkohol dapat terjadi karena adanya produksi radikal bebas yang timbul dan terjadi stress oksidatif. Menurut (Haliwell dan Gutteridge, 1999) radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan sel diantaranya melalui reaksi peroksidasi lipid dan kolesterol membran yang mengandung asam lemak tidak jenuh majemuk atau disebut Poly Unsaturated Fatty Acid (PUFA).
Menurut Hayati (2011), peroksidasi lipid pada membran spermatozoa dapat menurunkan permeabilitas membran untuk ion-ion spesifik dan menurukan kelenturan membran. Menurut Sanocka dan Kurpiz (2004), kerusakan spermatozoa yang disebabkan oleh radikal bebas terjadi karena dapat menghambat reaksi akrosom dan kerusakan ekor yang sangat berpengaruh terhadap motilitas spermatozoa. Menurut Aryosetyo (2009), kadar radikal bebas yang tinggi akan dapat merusak membran mitokondria sehingga hilangnya fungsi potensial mitokondria yang mana akan sangat mengganggu motilitas spermatozoa karena energi motilitas spermatozoa disuplai dalam bentuk adenosine trifosfat yang disintesis oleh mitokondria pada badan ekor.
Pada tabel 4.1. Dapat dilihat hasil perhitungan presentase motilitas antara kontrol dan perlakuan (tuak 0,21 ml). Data yang didapatkan dihitung sesuai dengan
kriteria dari WHO, kategori 0 (spermatozoa tidak bergerak sama sekali), kategori 1 (spermatozoa bergerak lambat), kategori 2 (spermatozoa bergerak kedepan dengan kecepatan sedang atau berputar-putar) dan kategori 3 (spermatozoa bergerak cepat lurus kedepan). Presentase jumlah spermatozoa motil ditentukan dengan menjumlahkan kategori 2 dan 3 dibagi dengan banyaknya spermatozoa yang diamati kemudian dikalikan 100%. Apabila spermatozoid yang didapatkan banyak berarti nilai jumlah spermatozoidnya yaitu 200 dan apabila spermatozoidnya sedikit nilai yang dapat ditentukan atau yang dapat dibagi setelah dijumlahkan yaitu 100.
Pada tabel 4.2. Semua data yang didapatkan diuji menggunakan uji One Way Anova dengan SPSS ver. 20. Didapatkan hasil df1 yaitu 3 dan df2 yaitu 4 dengan menggunakan probabilitas 5% (α 0,05) dengan tingkat keyakinan 95%. Dengan kriteria pengujian apabila nilai F hitung < F tabel maka hipotesis dapat diterima. Setelah dianalisis maka didapatkan nilai F hitung 4,838 dan F tabel 9,117. Dari nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa (4,838 < 9,117) nilai F hitung lebih kecil dari pada nilai F tabel berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara perlakuan (kontrol dan tuak 0,21 ml).
Dari Tabel 4.3. Dapat dilihat perbedaan jumlah motilitas dari waktu lama pemberian antar kelompok perlakuan, pada tabel tersebut diketahui bahwa terdapat perbedaan yang begitu signifikan, pada kelompok perlakuan pemberian tuak terhadap mencit hari ke 5 memiliki perbedaan dalam hal motilitas spermatozoa-nya dengan hari ke 20. Kemudian hari ke 10 memiliki perbedaan yang signifikan dalam hal motilitas spermatozoa dengan hari ke 20, hari ke 15 tidak memiliki perbedaan yang
signifikan dengan hari ke 5, hari ke 10 dan hari ke 20, artinya pada hari ke 15 jumlah motilitasnya hampir sama dengan hari ke 5, 10, 20 dan tidak terdapat signifikansi. Kemudian pada hari ke 20 memiliki perbedaan yang signifikan dengan hari ke 5 dan hari ke 10.
Adanya perbedaan yang begitu signifikan pada hari ke 5 dan hari ke 20, pada hari ke 10 dan ke 20, pada hari ke 15 dan ke 10 pada tabel 4.3. dikarenakan range antara hari tersebut yang begitu terlampau jauh. Hal ini membuktikan bahwa semakin lama pemberian tuak atau semakin lama seseorang dalam mengkonsumsi alkohol maka dapat menurunkan kualitas spermatozoa terutama motilitasnya. Perbedaan antara penelitian kali ini dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Ilyas terletak pada hari lama waktu pemberiannya, penelitian yang dilakukan oleh Ilyas begitu terlihat jelas menurunnya kualitas spermatozoa mencit pada uji viabilitas, morfologi dan rasio testis/berat badan mencit, Ilyas menjalankan penelitiannya dengan range waktu pemberian 10 hari yaitu 20, 30, 40, 50 dan 60 hari sedangkan pada penelitian kali ini peneliti memperluas uji dari kualitas spermatozoa mencit yang tidak dilakukan oleh Ilyas yaitu pada uji motilitasnya dengan range waktu pemberian tuak 5 hari yaitu 5, 10, 15 dan 20 hari. Jadi pada penelitian kali ini tidak mendapat hasil yang begitu signifikan dikarenakan range waktu pemberiannya yang begitu dekat yaitu dengan range 5 hari. Pada penelitian kali ini tidak dilakukan uji viabilitas karena uji viabilitas dapat dilakukan apabila motilitas kurang dari 50% sedangkan pada penelitian kali ini motilitas spermatozoa pada mencit yang diberikan tuak hanya
70% pada hari ke 20, hal ini mungkin dikarenakan range waktu pemberian yang begitu dekat yaitu dengan range tiap 5 hari waktu pemberian tuak.
Penelitian ini tidak dilanjutkan lebih lama dikarenakan semakin lama pemberian tuak dengan metode Force feeding dengan menggunakan kanula akan merusak kerongkongan mencit dan bisa menyebabkan kematian pada mencit.
Panjaitan (2003) menyatakan bahwa etanol mempunyai efek toksik pada tubuh baik secara langsung maupun tidak langsung. Metabolisme alkohol didalam pembuluh darah dan mengganggu sistem hormonal yang dikenal dengan poros hipotalamus-hipofisis-testis. Dimulai dari menurunnya tingkat hormon LHRH di hipotalamus dan LH di hipofisis sampai kepada menurunnya aktifitas sel leydig dalam menghasilkan testosteron. Akibatnya kadar testosteron dalam testis menjadi berkurang. Rendahnya testosteron intratestikular dapat menyebabkan gangguan terhadap pembentukan spermatozoa sehingga meningkatkan kerusakan morfologi spermatozoa dan akhirnya menurunkan jumlah spermatozoa yang hidup. Kekurangan jumlah spermatozoa menyebabkan kecilnya kemungkinan untuk dapat memiliki turunan ketika dikawinkan dengan mencit betina. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa paparan akut dan kronik alkohol berhubungan dengan rendahnya kadar LHRH hipotalamus dan LH hipofisis.
Seperti yang dilihat pada Grafik 4.1. presentase motilitas antara pelakuan dan kontrol terlihat jauh berbeda terutama pada hari ke 20. Pada hari ke 5 tingkat motilitas kontrol yaitu 92,5% sedangkan yang diberi tuak yaitu 92%. Pada hari ke 10 motilitas kontrol 95% dan spermatozoa mencit yang diberi perlakuan (tuak) yaitu
89,5%. Pada hari ke 15 mencapai 99% dan yang diberi tuak 81,5%. Pada hari ke 20 motilitas kontrol yaitu 98,5 dan yang diberi perlakuan yaitu 70%.
Reaksi antara etanol dan H2O2 dan radikal reaktif spesies yang lain akan
menghasilkan radikal hidroksietil yang merupakan oksidan kuat. Radikan hidroksietil dapat mengoksidasi lipid dan protein sel hepar sehingga terjadi kerusakan jaringan tubuh. Sumber dari radikal bebas itu adalah xianthin oxidase dan NADPH sebab penghambatan enzim tersebut dapat menurunkan radikal bebas pada tikus yang diberikan etanol. Peningkatan radikal bebas akibat pemberian alkohol juga terjadi melalui mekanisme enzim inducer. Alkohol akan menginduksi sitokrom P 450 dapat meningkatkan radikal bebas secara langsung dengan membentuk radikal superoksid maupun secara tidak langsung melalui NADPH.
Menurunnya spermatozoa motil dan meningkatnya yang non motil kemungkinan disebabkan oleh menurunnya kadar testosteron. Akibat menurunnya kadar testosteron akan mengakibatkan terjadinya gangguan proses pematangan spermatozoa dalam epididimis, terutama gangguan proses glikolisis. Menurut Souhoka (2009) proses glikolisis ini akan menghasilkan energi berupa Adenosin Tri Phosphat (ATP). ATP digunakan oleh spermatozoa sebagai sumber energi sehingga dapat tetap motil dan sekaligus untuk mempertahankan daya hidupnya terdapat dua faktor yang mempengaruhi motilitas sperma yaitu faktor endogen dan faktor eksogen. Ketersediaan sumber energi merupakan faktor endogen yang sangat penting. Sumber energi yang digunakan dalam motilitas sperma adalah Adenosin Tri Phosphat (ATP) (Toelihere, 1993).
Radikal bebas yang terkadung pada alkohol dapat menurunkan frekuensi gerakan ekor spermatozoa karena menyebabkan berkurangnya energi pergerakan ekor spermatozoa. Radikal bebas menyebabkan produksi ATP mitokondria rendah. Mitokondria merupakan tempat proses perombakan atau katabolisme untuk menghasilkan energi bagi pergerakan ekor spermatozoa. Alat gerak spermatozoa terletak pada bagian ekor spermatozoa yang disusun oleh aksonema. Aksonema terdiri dari sepasang mikrotubulus sentral dan dikelilingi 9 pasang mikrotubulus disebelah luarnya. Mikrotubulus luar terdiri atas subfibril A dan subfibril B yang disusun oleh protein dinein. Protein dinein sangat berguna dalam motilitas spermatozoa karena mempunyai aktifitas ATP-ase yang dapat menghidrolisis ATP yang dipergunakan sebagai motilitas spermatozoa.
59 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data mengenai pengaruh pemberian tuak terhadap kualitas spermatozoa mencit adalah sebagai berikut:
1. Terdapat pengaruh dan perbedaan yang signifikan pemberian tuak terhadap motilitas spermatozoid mencit dimana F hitung < F tabel (4,838 < 9,117).
2. Terdapat perbedaan antara kelompok kontrol dan perlakuan pada hari ke 5, 10, 15 dan 20. Dimana perbedaan motilitas yang begitu signifikan diperoleh pada hari ke 20. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama pemberian tuak maka dapat menurunkan motilitasnya.
Saran
Adapun saran yang dikemukakan yaitu disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk melanjutkan penelitian ini dengan meneliti faktor penentu kualitas spermatozoanya seperti viabilitas, morfologi dan berat epididimis mencit Mus musculus serta melihat keturunan F1 & F2 nya.
Issue 28 July 2015.
Adnan. Reproduksi dan Embriologi. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar, 2006.
Adnan. Struktur perkembangan hewan II. Jurusan Biologi FMIPA UNM: Makassar, 2007.
Adelman, M.M., Eilen, M.C. Atlas of sperm morphology. American Society OF Clinical Pathologists: Chicago USA, 1989.
Agus, Pribadi Gutama. Penggunaan Mencit dan Tikus Sebagai Hewan Model Penelitian Nikotin. Bogor: Program Studi Teknologi Produksi Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, 2008.
Amann, P.R.Sperm Production Rates. In The Testis (A.D. Johnson, W. R Gomes and N.L. Vandemark, eds), pp. 455-471. Vol. I. Academic Press New York: London, 1970.
Amalo, P. Multiguna dari akar hingga nira. Media Indonesia, 2008.
Arrrington, L.R. Introductory Laboratory Animal Sciene, The Breeding, Care and Management of Experimental Animal: The Interstate Printers and Publishers. Inc. Danville, 1972.
Bellve, A.R. and O’Brien. The Mammalian Spermatozoon: Structure and Temporal
Assembly. In Mechanism and Control of Animal Fertilization (J.F. Hartman, eds), pp 56-112: Academic Press. Inc, London, 1983.
Campbell, A. Neil, Biologi Edisi kelima Jilid III,Erlangga: Jakarta, 2004.
Clermont, Y. Quantitative analysis of spermatogenesis of rat: a revised model for renewel of spermatogenia. Am. J. Anat. 111:111-127, 1962.
Comhaire, FH., Dhooge W, Mahmoud A, Depuydt, C. (1999). A strategy for the prevention of male infertility. Verh K Acad Geneeskd Belg, 61: 441-452.
Falk, H.R. Reproduction. http://www1.br.cc.va.us/murray/Serendipity /Biology/lecture/Human/reproduction.htm. [ 9 Januari 2005 ], 2001. Feichtinger, W. (1999). Environmental Factors And Fertility . Human Reproduction;
6:1170-1175.
Ferial, W. Eddyman. Biologi reproduksi. Makassar: Erlangga, 2013.
Flach dan Paisooksantivatana, Borassus flabillifer linn, Presea Flora Kita. 2009. www.proseanet.org (2 Oktober 2014).
Gadjahnata, K.H.O. Biologi Kedokteran I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi-Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat. Institut Pertanian Bogor: Bogor, 1989.
Gaur, Singh Dushyant. Alcohol Intake and Cigarette Smoking: Impact of Two Major Lifestyle Factors on Male Fertility. Himalayan Institute of Medical Science: Dehradun, 2010.
Ganjar, Pengelolaan plasma nutfah mikroorganisme sebagai asset pemenuhan kebutuhan manusia. Jakarta: Komisi nasional sumber daya genetik, 2007. Gonzales, G.F. Function of seminal vesicles and their role on male infertility. Asian
Journal Of Andrology, 2001.
Guyton, A.C. Fisiologi Manusia dan Mekanisme penyakit EGC: Jakarta, 1995.
Hafez, E.S.E. Semen Evaluation. In Hafez, E.S.E (Ed.). Reproduction in Farm Animals. Lea and Febiger: Philadelphia, 1987.
Hafez, E.S.E. Reproduction and Breeding Techniques for Laboratory Animals. Lea and Febiger: Philadelphia, 1970
Hartono. Histologi Veteriner Jilid II, Organologi. Laboratorium Histologi, Bagian Anatomi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor: Bogor, 1988.
infertility.ClinObstet Gynecol; 43: 821-9.
Ibrahim, Batool. Effect of Alcohol on Human Sperm Parameters in Vitro. University of Babylon: Iraq, 2013.
Inglis, J.K. Introduction to Laboratory Animal Sciene and Technology: Pergamon Press Ltd. Oxford, 1980.
Jalaluddin, Imam. Tafsir Jalalain. Bandung: Sinar baru algesindo, 2009. Jasin, Maskoeri. Zoologi Vertebrata. Surabaya: Sinar wijaya, 1992.
Jensen, Kold Tina. Alcohol and Male Reproductive Health: a Cross-Sectional Study of 8344 Healthy Men From Europe and the USA. Advanced Access Publication: USA, 2014.
Jensen, Kold Tina. Habitual Alcohol consumption associated with reduced semen quality and change in reproductive hormones; a cross-sectional study among 1221 young Danish men. Advanced Access Publication: USA, 2014.
Lane, D.R. Visceral System. In Jone’s Animal Nursing (D.R Lane, eds), pp. 77-80.
3rd Ed. Pergamon Press: London, 1980.
Marimbi, Hanum. Biologi Reproduksi. Yogyakarta: Nuha Medika, 2010. Malole, M.B.M dan C.S.U. Pramono. Penggunaan Hewan – hewan Percobaan
di Laboratorium. Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor: Bogor, 1989.
Mangaratua, Perlindungan Silitonga Fransius. Penampilan Reproduksi Mencit (Mus musculus) Yang Diberi Daun Torbangun (Coleus amboinicus lour) dan Taraf Sop Daun Torbangun Kering, Bogor: Program Studi Teknologi Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, 2008.
Mardanung, Setijono Marcellino. Mencit (Mus musculus) sebagai hewan percobaan. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan Isntitut Pertanian Bogor, 1985.
Muchtadi, D. Petunjuk Laboratorium Evaluasi Nilai Gizi Pangan. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor, 1998.
Muhammad Ali Ash-shabuni, Rawai’ul Bayan: Tafsir ayat-ayat hukum (Semarang : CV. Asy-syifa, 1994), hlm. 434.
Muliani, Hirawati. Pertumbuhan Mencit (Mus musculus) Setelah Pemberian Biji Jarak Pagar (Jatropha curcas). Laboratorium Biologi dan Struktur Fungsi Hewan FMIPA Undip, 2011.
Munawaroh, E. Upaya konservasi dan budidaya lontar pleh masyarakat melolo di kabupaten Sumba Timur Nusa Tenggara Timur, LIPI: UPT Balai Pengembangan Kebun Raya, 1999.
Nalbandov, A.V. Fisiologi reproduksi pada mamalia dan unggas. UI-Press: Jakarta, 1990.
Ombakkuta. Anatomi dan fungsi reproduksi hewan jantan. http://one.indoskripsi.com/click/241/0-57k.
Panjaitan, R. G. P. Bahaya Gagal Hamil yang Diakibatkan Minuman Beralkohol (Disertasi). Institut Pertanian Bogor, 2003.
Partodiharjo, S. Ilmu Reproduksi Hewan. Penerbit Mutiara: Jakarta, 1980.
Parindra, Nori. Penampilan Reproduksi Mencit Putih (Mus musculus) dengan Penambahan Kunyit (Curcuma domestica) Dalam Pakan. Bogor: Program Studi Teknologi Produksi Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, 2007.
Pineda, M. H. The Biology of Sex. In Veterinary Endocrinology and Reproduction (L. E. Mc. Donald and M. H. Pineda, eds), pp. 242-245. 4th Ed. Lea and Febiger, Philadelphia, 1989.
Chromatin Dispersion Test and ROS. D.Y. Patil University: India, 2015. Rukmana. Ganyong Budidaya dan Pasca Panen. Yogyakarta: Kanisius, 1998.
Salisbury, G.W. and N.L. Van Demark. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta, 1985.
Sastrapradja, S., J.P. Mogea, H.M. Sangat dan J.J. Afrastini. Palem Indonesia. Lembaga Nasional LIPI. Jakarta: Balai Pustaka. 1978.
Saono, S dan T. Basuki. The amylolytic, lipolytic dan proteolytic activities of yeast and micelial molds from ragi and some Indonesia foods. Annales Bogoriensis. VI: 207-209, 1978.
Sen, D.C, ethanol fermentation. Biomass handbook: gordon dan breach science publishers, 1989.
Siti Khomariah. “Kajian Kadar Etnaol Nira Siwalan Menggunakan Metode
Kromatografi Gas”. Skripsi. Malang: Fakultas Sains dan Teknologi UIN
Maulana Malik Ibrahim Malan, 2010.
Simon & Shutter. Sexual FAQs – Sperm Cell or Spermatozoa. http://coolnurse.com/sperm-cell.htm-17k, 2007.
Soeharso, P. Beberapa Aspek Biokimia Plasma Semen dan Spermatozoa dalam Proses Reproduksi, Kesuburan dan Seks Pria dalam Perkawinan. Penerbit Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia: Jakarta, 1985.
Somala, Lala. Sifat Reproduksi Mencit (Mus musculus) Betina yang Mendapat Pakan Tambahan Kemangi (Ocimum basilicum) kering. Bogor: Program Studi Teknologi Produksi Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, 2006.
Suardi. Performa Mencit Putih (Mus musculus) dengan Penambahan Ekstrak Kunyit (Curcuma domestica) dalam Air Minum. Bogor: Program Studi Teknologi Produksi Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, 2006.
1985.
Wischnitzer, S. Anatomy of The Cat: Atlas and Dissection Guide for Comparative Anatomy. 2nd Edition. W.H. Freeman and Company: San Francisco, 1967.
Pembedahan hari ke 5: MOTILITAS RUMUS: HASIL: Mencit I Mencit II Kontrol
RUMUS: Mencit I: Mencit II : Kontrol : TAHAP KE III PEMBEDAHAN HARI KE 15 MOTILITAS RUMUS:
Mencit II : Kontrol: TAHAP KE IV PEMBEDAHAN HARI KE 20 MOTILITAS RUMUS: Mencit I: Mencit II: Kontrol:
1993 adalah anak dari pasangan Alm. Muhammad Saleh Tumengkol dan Nuraeni Gaffar. Penulis menempuh pendidikan taman kanak-kanak di TK Aisyah Ambon kemudian setelah menamatkan TK selama 1 tahun, penulis melanjutkan pendidikannya ke jenjang SD di SD Balang-balang, Sinjai Barat selama 1 tahun kemudian menyelesaikan 5 tahun Sekolah Dasar selanjutnya di SDN Mannuruki, Makassar. Setelah tamat dari Sekolah Dasar, penulis melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMPN 26 Makassar selama 3 tahun. Pada tahun 2007 penulis melanjutkan pendidikannya dijenjang Sekolah Menengah Akhir (SMA) di Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar selama 3 tahun dengan mengambil jurusan IPA. Setelah lulus dari MAN 1 Makassar pada tahun 2010 penulis tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Kemudian pada tahun 2011 penulis melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Negeri Makassar dengan melulusi ujian tes tertulis SNMPTN jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi.