BAB II LANDASAN TEORITIS
D. Prestasi Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya
Kata prestasi belajar terdiri dan dua suku kata yaitu prestasi dan belajar. Kata prestasi
berasal dari bahasa Belanda, yaitu dan kata “prestatie”, kemudian dalam bahasa Indonesia
menjadi “prestasi” yang berarti “hasil usaha”.23 Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia
prestasi adalah “hasil yang telah dicapai dari yang dilakukan”.24 Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia prestasi adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru dan rumusan-rumusan dapat disimpulkan bahwa prestasi hasil yang telah dicapai dalam suatu proses aktivitas yang dapat membawa perubahan tingkah laku pada diri individu, prestasi merupakan hasil yang diperoleh peserta didik dalam kurun waktu tertentu, yang dalam hal ini adalah jangka waktu satu semester yang hasilnya dinyatakan
23 Zainal Arifin, Evaluasi Instruksional; Prinsip, Teknik dan Prosedur, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1990), hal. 2.
dalam bentuk skor atau angka. Besar kecilnya angka yang diperoleh peserta didik yang menunjukkan besar kecilnya hasil usaha yang dilakukan peserta didik tersebut sehingga dan peserta didik itu dapat dilihat kesungguhan siswa dalam belajar.25
Belajar merupakan kegiatan dan kebutuhan bagi setiap orang. Dengan belajar, seseorang akan mengetahui suatu hal yang tidak diketahui sebelumnya. Belajar adalah menemani atau menuntut ilmu. Menurut Zikri Neal Iska belajar atau yang disebut juga dengan learning, adalah perubahan yang secara relatif yang berlangsung lama pada perilaku yang diperoleh dan pengalaman-pengalaman. Belajar merupakan salah satu bentuk perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia, belajar membantu manusia menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungan. Dengan adanya proses belajar inilah manusia bertahan hidup (survived).26
Thomas Staton dalam bukunya yang berjudul cara mengajar dengan hasil yang baik mengemukakan bahwa: belajar dalam arti perkataan selengkapnya, menghendaki
bagian-bagian belajar “sub learning” yang terdiri atas tiga bidang: (1) pengetahuan atau pengertian.
atau semata-mata mengetahui apa yang dilakukan dan bagaimana melakukannya. (2) sikap atau respon emosi seseorang terhadap tugas tertentu (sesuatu tugas yang dihadapinya) (3) keterampilan, atau abilitas untuk mengkoordinir mata, jiwa, dan jasmaniah ke dalam suatu perbuatan yang kompleks, sehingga seseorang pekerja dapat melakukan tugasnya dengan mudah dan tangkas. Secara umum dapat disimpulkan belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan
25 Tim penyusun Kamus Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, (Jakarta Balai Pustaka, 1997), hal. 787.
26
Neni Iska, Psikologi Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan, (Jakarta: Kizi Brother’s, 2008), hal. 79.
interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.27
Sedangkan yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah hasil dan pengukuran serta penilaian usaha belajar. Dengan kata lain, prestasi belajar siswa dapat diartikan sebagai penguasaan siswa terhadap materi pelajaran tertentu yang diperoleh dan hasil tes belajar. Biasanya hasil tes belajar ini dinyatakan dengan angka, huruf atau kalimat dan terdapat dalam setiap periode tertentu. Menurut W.S Winkel prestasi belajar adalah hasil belajar yang diraih oleh seseorang selama dan sesudah ia mengalami proses belajar, prestasi belajar merupakan hasil dan suatu proses belajar, di dalam prestasi hasil belajar menampakkan diri, jadi selama potensi internal tidak diwujudkan dalam suatu bentuk perilaku, sulitlah diperoleh kepastian tentang apa yang telah dipelajari.28
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dalam suatu proses aktivitas yang dapat membawa perubahan tingkah laku pada diri individu.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Minat belajar seseorang tidaklah selalu stabil, melainkan selalu berubah. Olehnya itu perlu diarahkan dan dikembangkan kepada sesuatu pilihan yang telah ditentukan melalui faktor-faktor yang mempengaruhi umat itu:
a. Faktor Internal
1) Fisiologis. Secara umum kondisi fisiologis anak seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan capai, tidak dalam keadaan cacat jasmani, seperti kakinya atau tangannya dan sebagainya, akan membantu dalam proses dan hasil belajar. 2) Psikologis. Sebagai mana yang diketahui mengenai dasar-dasar psikologi
belajar, di mana setiap manusia atau anak didik pada dasarnya memiliki kondisi
27Sukardi, Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah, (Surabaya: Usaha Nasional, 2006), hal. 15-18.
psikologis yang berbeda-beda (terutama dalam hal kadar bukan dalam hal jenis), maka sudah tentu perbedaan-perbedaan itu sangat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Seperti minat yang rendah, tentu hasilnya akan lain jika dibandingkan dengan anak yang belajar dengan minat yang tinggi. Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas perolehan pembelajaran siswa. Di antaranya adalah tingkat intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa dan motivasi siswa.29
a) Intelegensi. Tingkat kecerdasan merupakan wadah bagi kemungkinan tercapainya hasil belajar yang diharapkan. Jika tingkat kecerdasan rendah, maka hasil belajar yang dicapai akan rendah pula. Flelen mengemukakan bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan. Sehingga tidak diragukan lagi bahwa tingkat kecerdasan siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.
b) Sikap Siswa. Sikap merupakan gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi dengan cara relatif tetap terhadap objek, baik secara positif maupun negatif. Sikap siswa yang positif terutama kepada guru dan mata pelajaran yang diterima merupakan tanda yang baik bagi proses belajar siswa. Sebaliknya, sikap negatif yang diiringi dengan kebencian terhadap guru dan mata pelajarannya menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut, sehingga prestasi belajar yang dicapai siswa akan kurang memuaskan.
c) Bakat Siswa. Sebagaimana halnya intelegensi, bakat juga merupakan wadah untuk mencapai hash belajar tertentu. Secara umum bakat merupakan
kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Bakat juga diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Peserta didik yang kurang atau tidak berbakat untuk suatu kegiatan belajar tertentu akan mengalami kesulitan dalam belajar.
d) Minat Siswa. Minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa. Siswa yang menaruh minat besar terhadap bidang studi tertentu akan memusatkan perhatiannya lebih banyak dan pada siswa lain, sehingga memungkinkan siswa tersebut untuk belajar lebih giat dan pada akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan.
e) Motivasi Siswa. Tanpa motivasi yang besar, peserta didik akan banyak mengalami kesulitan dalam belajar, karena motivasi merupakan faktor pendorong kegiatan belajar. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dan dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Adapun motivasi ekstrinsik adalah hal keadaan yang datang dan luar individu siswa yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Motivasi yang dipandang lebih esensial adalah motivasi intrinsik karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain.30
b. Faktor Eksternal
1) Keluarga. Keadaan keluarga juga sangat mempengaruhi minat belajar anak, seperti dorongan dan perhatian orang tua terhadap belajar, perceraian, ekonomi
orang tua, banyak saudara, kekerasan dalam rumah tangga.
2) Lingkungan. Kondisi lingkungan juga mempengaruhi minat belajar siswa, seperti letak sekolah terlalu jauh dan rumah, tempat keramaian dan sebagainya. 3) Bahan Pelajaran dan Sikap Guru. Faktor yang dapat membangkitkan dan
merangsang minat adalah faktor bahan pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, akan sering dipelajari oleh siswa yang bersangkutan. Dan sebaliknya bahan pelajaran yang tidak menarik minat siswa tentu akan dikesampingkan oleh siswa, sebagaimana telah disinyalir oleh Muhibbin bahwa minat mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tank baginya.
4) Teman Pergaulan. Melalui pergaulan seseorang akan dapat terpengaruh arah minatnya oleh teman-temannya, khususnya teman akrabnya. Khusus bagi remaja, pengaruh teman ini sangat besar karena dalam pergaulan itulah mereka memupuk pribadi dan melakukan aktivitas bersama-sama untuk mengurangi ketegangan dan keguncangan yang mereka alami.
5) Cita-cita. Setiap manusia memiliki cita-cita di dalam hidupnya, termasuk para siswa. Cita-cita juga mempengaruhi minat belajar siswa, bahkan cita-cita juga dapat dikatakan sebagai perwujudan dan minat seseorang dalam prospek kehidupan di masa yang akan datang. Cita-cita ini senantiasa dikejar dan diperjuangkan, bahkan tidak jarang meskipun mendapat rintangan, seseorang tetap berusaha untuk mencapainya.
6) Bakat. Melalui bakat seseorang akan memiliki minat. ini dapat dibuktikan dengan contoh: bila seseorang sejak kecil memiliki bakat menyanyi, secara
tidak langsung ia akan memiliki minat dalam hal menyanyi. Jika ia dipaksakan untuk menyukai sesuatu yang lain, kemungkinan ia akan membencinya atau merupakan suatu beban bagi dirinya. Oleh karena itu, dalam memberikan pilihan baik sekolah maupun aktivitas lainnya sebaiknya disesuaikan dengan bakat dimiliki.
7) Hobi. Bagi setiap orang hobi merupakan salah satu hal yang menyebabkan timbulnya minat. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki hobi terhadap matematika maka secara tidak langsung dalam dirinya timbul minat untuk menekuni ilmu matematika, begitupun dengan hobi yang lainnya. Dengan demikian, faktor hobi tidak bisa dipisahkan dan faktor minat.
8) Media Massa. Apa yang ditampilkan di media massa, baik media cetak ataupun media elektronik, dapat menarik dan merangsang khalayak untuk memperhatikan dan menirunya. Pengaruh tersebut menyangkut istilah, gaya hidup, nilai-nilai, dan juga perilaku sehari-hari. Minat khalayak dapat terarah pada apa yang dilihat, didengar, atau diperoleh dan media massa.31